~Part 5 (Qodarullah)

2179 Words
Jangan pernah bergantung kepada siapapun di dunia ini, Karena bayanganmu saja tak pernah setia mendampingi kala gelap mulai menyapa. *** Takdirku berada di genggaman Tuhan. Bukan berdasarkan kehendak ku apalagi kehendak orang lain. Takdirku berada di genggaman Tuhan. Apa yang Dia kehendaki tak bisa aku pungkiri lagi. Jika takdir sudah berada di genggaman Tuhan, lantas mengapa diri masih bersedih hati? Takdirku berada di genggaman Tuhan, hanya tinggal menanti kapan waktu akan berganti. Arumi menutup buku diary berwarna biru itu, dan menyimpan ke dalam laci lemari. Tiga bulan berlalu, pernikahannya dengan Farhan tak kunjung menampakkan kebahagiaan. Namun Arumi merasakan kian hari Farhan mulai terbiasa dengan kehadirannya. Farhan mulai menyadari jika Arumi kini berada satu atap dengannya. Meski ego Farhan tetap tinggi, dia masih tidak menghargai perasaan Arumi sebagai istri. Bahkan sampai detik ini jangankan nafkah batin, nafkah lahir pun tak pernah Farhan berikan. 'Mungkin belum' Selalu saja kata itu yang membuat Arumi beralasan untuk tetap memilih berbakti kepada Farhan yang kini berstatus suaminya itu. Bukan tidak sakit. Hanya saja Arumi meyakini keajaiban itu akan datang dan membawanya pada sebuah kebahagiaan yang ia harapkan. Namun Arumi sendiri tidak tahu sampai kapan ia akan menunggu dan terus menunggu. Tok tok tok Ketukan keras seseorang mengetuk pintu membuat Arumi berlari. Dia berharap suaminya yang mengetuk pintu. Harapannya tidak sia-sia, karena yang mengetuk itu Farhan. Arumi melihat ada yang aneh dari Farhan, wajah pucat pakaian berantakan membuat Arumi khawatir melihat keadaan suaminya tersebut. "Astaghfirullah, Mas. Kamu kenapa?" Tidak ada jawaban dari Farhan, dia hanya terlihat lemas dan pucat. Arumi memapah Farhan menuju kamarnya. Dia merasa panik degan kondisi Farhan yang seperti ini. "Ya Allah, Mas. Badan kamu panas sekali." Farhan demam tinggi. Arumi mencoba membaringkan tubuh Farhan di atas tempat tidur. Dengan telaten Arumi sedikit membersihkan badan Farhan dan mengganti pakaiannya. Farhan hanya dia tidak berkata apapun. Arumi berlari ke dapur untuk mengambil Air untuk mengompres Farhan. Arumi membawa kotak obat yang disediakan di rumah mereka. "Mas, makan dulu ya! Biar setelah ini kamu minum obatnya. Supaya suhu badannya turun." Ucap Arumi dengan menyuapi Farhan. Arumi mengambil obat penurun panas, namun obat tersebut tidak ada. Arumi berinisiatif membeli obat terlebih dahulu ke apotek terdekat. "Hujan." Gumam Arumi dengan menatap langit dari jendela kamar. "Mas, kamu tunggu sebentar ya, aku pamit untuk beli obat dulu." Ucap Arumi yang tidak dibalas apapun oleh Farhan. Arumi membawa payung untuk menuju apotek terdekat. Tidak ada taksi atau tukang ojek yang mangkal, semua sudah pada sepi. Arumi melirik jam di pergelangan tangan kanannya. "Pukul sepuluh lewat, pantas saja." Gumamnya. Arumi tidak bisa menyetir mobil, dia hanya bisa mengendarai motor matic, itu juga ketika dia masih kuliah sering diajarkan oleh Tasya, sahabatnya. Tapi di rumahnya sekarang tidak ada motor, yang ada hanya mobil mewah milik Farhan. Arumi terus berjalan di bawah derasnya hujan. Dia tidak yakin jika ada apotek yang masih buka di jam segini dengan kondisi malam yang hujan deras. Akhirnya sebuah senyum terlukis jelas di wajah cantik Arumi ketika dia melihat ada apotek yang masih buka. Hujan tidak kunjung reda. Arumi mempercepat langkahnya Agara ia segera sampai di rumah. Namun, tiba-tiba sebuah motor yang membawa dua orang penumpang menghadangnya. "Kalian." Arumi kaget melihat kedua orang itu, dia mengingat bahwa orang tersebut adalah orang yang sama ketika merampok mertuanya dulu. "Haha, kamu masih ingat ternyata. Dia adalah orang yang telah menakuti kita dengan suara sirine polisi." Ucap seseorang kepada temannya. "Mau apa kalian?" Ucap Arumi mulai panik. 'Arumi jangan panik!' ucapnya dalam hati. "Kalau kalian mendekat, saya akan berteriak." Ancam Arumi. "Saya juga bisa menelepon polisi saat ini juga." Sambungnya. "Lakukan saja. Kami tidak takut." Ucap Seseorang dengan melempar payung yang di bawa Arumi. Perampok itu mengambil paksa tas yang di bawa Arumi. Arumi tidak peduli jika uang dan handphonenya di ambil para perampok itu. Tapi di dalam tas yang ia bawa ada obat untuk suaminya yang sedang sakit. Arumi hanya mempertahankan itu. Kedua perampok itu tidak segan memukul wajah Arumi hingga ia jatuh tersungkur. Tanpa Arumi duga, ada seseorang yang membantunya dan melawan kedua perampok tersebut. "Ini milik anda?" Ucap penolong itu. "Mas Raihan!" Ucap Arumi tidak percaya. "Arumi." Raihan mengatakan nama Arumi bersamaan. Dia tidak menyangka bahwa orang yang dia tolong adalah Arumi. Wanita yang pernah mengusik hatinya. "Terimakasih banyak, Mas." Ucap Arumi yang dibalas anggukan oleh Raihan. "Kalau begitu saya pamit. Assalamualaikum." Arumi berjalan dengan kaki yang terluka serta memar di wajahnya. "Wa'alaikumussalam. Eh, Arumi tunggu!" Raihan mengejar Arumi. "Biar saya antar kamu ke rumah ka---kalian." Ucapnya terasa berat mengatakan itu semua. "Tidak perlu, Mas. Terimakasih!" Penolakan Arumi membuat Raihan menggelengkan kepalanya. "Ayolah, ini situasinya berbeda. Bagaimana kalau mereka balik lagi. Ini sudah larut malam." Akhirnya Arumi menyetujui ajakan Raihan. "Kamu kenapa sendiri malam begini. Suami kamu kemana?" "Hmm, dia sakit. Ini saya habis dari apotek." Jawaban Arumi cukup membuat Raihan tidak ingin bertanya lebih banyak lagi. 'Takdirku ada di genggaman Tuhan. Apa kamu tidak ditakdirkan untukku, Arumi? Apa kau hanya sebatas lewat dan menyapa tanpa menetap dalam takdirku?' Raihan hanya berucap dan berkecamuk dalam hatinya. Tidak ada sesuatu yang terjadi di bumi merupakan kebetulan, melainkan semua adalah kehendak Tuhan. Lembaran catatan telah tersimpan, setiap perkara telah di tentukan dan takdir telah di putuskan. *** Farhan mendengar suara mobil berhenti di depan rumahnya. Dia mencoba bangun meski kepalanya terasa sangat berat. Dia mencoba mengintip dari balik tirai jendela kamarnya. "Cuih, menjijikan. Arumi pulang larut malam bersama seorang laki-laki. Suami sakit, dia lebih memilih pacaran. Farhan meremas tirai dengan erat. Farhan kembali berbaring dengan suasana hati yang memanas. Farhan cukup menyadari bahwa dia tidak menyukai Arumi tapi dia tidak menyukai melihat Arumi harus bersama pria lain. "Jika ada Alifia, aku pasti akan merasa lebih di perhatikan." Farhan tidak menyadari jika Arumi mendengar perkataannya dari balik pintu. Arumi berjalan masuk tanpa memperlihatkan kekecewaannya terhadap Farhan. Meski dalam keadaan sakit sekali pun, Farhan tetap memikirkan Alifia. Tanpa dia tahu seperti apa pengorbanan Arumi. "Mas, ayo diminum dulu obatnya. Biar nanti kamu bangun panasnya sudah turun." Ucap Arumi dengan telaten mengurus Farhan. 'Jika aku bukan yang kamu harapkan ada disini menemani kamu meski dalam keadaan sakit sekalipun aku tidak masalah, Mas. Tapi tidakkah kamu sedikit saja membuka hati untuk sekedar melirik aku. Bukan untuk meminta kamu, hanya saja cukup kamu menganggap bahwa aku ini ada.' Arumi berkata dalam hati di sela-sela membantu Farhan minum obat. 'Aku Tahu, tidak ada takdir Tuhan yang keliru. Begitu juga dengan aku, hatiku tidak pernah keliru ketika aku merasa bahwa aku sudah terperangkap dalam pernikahan paksaan ini, Mas. Cinta ini tumbuh kian hari semakin bertambah, tapi aku tahu kamu tidak mungkin atau tidak akan pernah sedikitpun memahami itu.' Arumi terus berkutat terbenam dalam pikirannya. "Kamu barusan pulang bersama siapa, Arumi?" Ucap Farhan menepis tangan Arumi yang sedang mengompresnya. "Mas Raihan, tadi-----" "Raihan? Pacar kamu? Sejak kapan?" Farhan memotong ucapan Arumi yang belum sempat menjelaskan apapun. "Dia bukan pacar aku, Mas." Arumi membalas tanpa memberi penjelasan, karena menurutnya penjelasan itu tidak akan pernah bermakna untuk Raihan. "Bukan pacar! Tapi pria idaman. Kamu pasti masih sangat mencintainya, kan?" Farhan mendelik pada Arumi. "Aku hanya pernah mengagumi, tanpa ingin dicintai. Kagum dan cinta itu beda, Mas." Arumi tidak ingin panjang lebar membahasnya sekarang. Karena menurutnya kesembuhan Farhan sekarang lebih penting. "Halah, jangan munafik. Aku lihat tadi kamu pulang sama dia, kok. Kamu juga terlihat bahagia. Jadi kalau sama saya kamu tidak perlu sok alim, padahal sebenarnya lo bermain di belakang dengan Raihan." Farhan meninggikan suaranya. Arumi sangat tidak suka di bentak. Tapi setelah kehidupannya bersama Farhan, dia merasa disini mentalnya di tantang. Kini dia sudah terbiasa dengan nada tinggi Farhan, atau bahkan k********r yang sering Farhan lontarkan kepadanya. "Menjijikkan! Berlagak polos, padahal munafik." Farhan melempar kasar air kompresan, membuat Arumi tidak dapat berkomentar apapun lagi. 'Serendah itu aku dalam pandangan mu? Tidakkah kamu berpikir bahwa kata-katamu itu membuat aku sakit?' Arumi tidak ingin berkomentar apapun lagi, karena Arumi tau sekuat apapun dia menjelaskan kenyataan yang ada, Farhan tidak pernah mencabut ucapannya. Dia akan tetap dengan pendiriannya, meski kenyataan yang ada berkata 'tidak' sekalipun. Bintangku begitu jauh di sana. Dia tidak dapat aku gapai meski dengan seribu tangan. Bintangku nampak berkelip, namun awan hitam di langit nampak ingin menutupnya dari pandangan. Ingin sekali rasanya aku dapat menggapai bintangku. Meski aku tau akan sulit untukku, meraihnya. Arumi tidak lepas dari buku diary kesayangannya. Dia melihat Farhan sedikit tenang dan tertidur dengan pulas. Arumi masih terjaga menunggu Farhan sampai larut malam. Dia tidak berani meninggalkan Farhan dalam keadaan sakit. Tidak ada sesuatu yang dapat membahagiakan jiwa, menyucikannya, membuatnya bahagia, dan mengusir kegundahan dari dalam hati selain keimanan yang benar kepada Rabb semesta alam. saatnya hati menerima dengan tulus ikhlas dan beriman. Banyak pengalaman sepanjang sejarah dalam hidup membuktikan banyak kenyataan, menyadarkan akal bahwa berharap kepada selain Tuhan itu adalah kesedihan. *** Dingin pagi seakan menggelitik Farhan dalam tidurnya, membuat dia terusik untuk memejamkan mata kembali. Rasanya angin seolah melarangnya untuk tidur kembali. Kondisinya sudah membaik, badannya nampak segar kembali. Farhan bangun dan beranjak dari tidurnya. Dia dikagetkan dengan sebuah pemandangan yang tanpa dia duga. Arumi tidur di kursi kamarnya semalaman. "Apa dia menghawatirkan aku?" Gumamnya pelan takut sang pemilik nama mendengarnya. Farhan mengernyitkan keningnya ketika melihat Arumi tidur dengan gelas. Dia mendekat kearah Arumi dan mendekatkan wajahnya pada wajah Arumi. Dia melihat lebam di bagian pipi Arumi. "Dia kenapa?" Gumamnya kembali. Farhan melihat wajah Arumi yang tenang dan menyejukkan. Dia menyadari jika istri di atasnya kertasnya itu memang cantik, selain itu Arumi memiliki kelebihan lain. Dia cerdas, pintar masak dan masih banyak lagi yang mungkin tidak Farhan ketahui. Arumi cocok mendapatkan panggilan istri berbakti. Tapi ego Farhan yang tinggi seolah kenyataan yang ada tidak pernah dia lihat. Termasuk ketulusan Arumi. "Apa dia sakit?" Masih dengan bergumam. "Arumi, bangun." Farhan mengguncang tubuh Arumi. Dia merasa badan Arumi panas. Seperti demam. Bahkan baju yang Arumi kenakan terasa setengah basah. "Arumi bangun. Kalau kamu mau tidur jangan di kamar saya." Teriakan Farhan sontak membuat Arumi kaget. "Mas, kamu sudah bangun. Apa yang sakit?" Arumi mengecek suhu tubuh Farhan. Arumi memeluk Farhan, dia bahagia melihat suaminya yang baik-baik saja. "Lepaskan!" Farhan berteriak. "Ma---maaf, Mas." Arumi melepaskan pelukan itu. "Kenapa kamu masih diam disini? Cepat keluar!" Tidak tahu apa yang membuat Farhan selalu emosi kepada Arumi. Dia menyadari Arumi sangat baik, tapi tiap kali melihat wajah itu amarah Farhan selalu memuncak. Arumi keluar dari kamar Farhan tanpa berkata apapun. Dia merasa tubuhnya benar-benar tidak enak. Bekas pukulan diwajahnya semalam begitu sangat terasa. Bahkan luka di kaki Arumi akibat semalam terasa semakin sakit. Banyak bintang di langit yang bertebaran, namun kenapa hanya bintangku yang nampak paling terang. Aku bisa saja memilih bintang yang berkelip dengan cahaya tidak begitu terang. Tapi hatiku sudah terpikat dengan bintangku. Meski aku tahu, cahaya terangnya bukan di maksudkan untukku. Arumi membaringkan badannya di atas tempat tidur. Mungkin dengan sedikit rebahan akan membuat tubuhnya terasa enakan. Dia menutup matanya perlahan agar bisa terpejam namun teriakan Farhan membuat Arumi tidak dapat terpejam. *** Langkah seseorang terhenti di depan rumah megah yang ada di depan pandangannya saat ini. Seorang pria dengan memakai kaca mata hitam melangkahkan kaki mendekat kearah rumah itu. Tok tok tok Ketukan pintu tidak membuat pemilik rumah segera membukanya. Pria itu nampak melirik ke kanan, dia menemukan sesuatu yang dia cari. Bel. "Sebentar!" Kini sang pemilik rumah nampak mengeluarkan suara, meski tidak kunjung membuka pintu. Selang beberapa waktu pintu itu perlahan terbuka fan menampakan sosok Farhan yang memakai setelah rumahan. "Raihan!" Teriak Farhan gembira. 'kamu selingkuhan istri saya.' ucap Farhan dalam hati. "Tidakkah anda menyuruh saya masuk, tuan?" Raihan tertawa setelah berkata seperti itu di balas dengan gelak tawa dari Farhan. Raihan duduk santai mencari seseorang yang ingin dia lihat di pagi hari ini. "Kamu tahu rumah saya dari mana?" Ucap Farhan. "Istri kamu, Arumi." Ucap Raihan tenang. "Hallo gue gak salah dengar. Siapa, Arumi? Dia pembantu saya." Tanpa Farhan sadar jika Arumi memperhatikan mereka dari kejauhan. "Apa, pembantu?" "Ya, dia pembantu gue." Ucap Farhan meyakinkan. Raihan mengepalkan tangannya, dia tidak mengira jika Farhan akan berkata seperti itu. Dia mempercayai Arumi, jika Arumi tidak berkata dusta tentang pernikahannya dengan Farhan. Lantas kenapa Farhan tidak mengakui Arumi. 'Suami seperti ini yang kamu pilih, Arumi.' Raihan tidak habis pikir dengan keputusan yang Arumi ambil. "Saya kira dia istri kamu. Tadinya saya kesini mau minta maaf sama kamu, karena semalam saya mengantar Arumi pulang. Karena dia semalam habis membeli obat di apotek untuk kamu. Tapi di jalan dia di rampok." Ucapan Raihan membuat Farhan sedikit tersentak. "Jadi kalau kamu bukan suaminya, tidak masalah dong jika saya ingin dekat dengan dia?" Raihan berkata dengan mantap. "Gua gak suka dan gue gak akan izinin itu." Ucap Farhan. "Kenapa? Bukankah dia hanya seorang pembantu? Kenapa kamu melarang saya?" Raihan tertawa. "Ya, gue gak suka saja kalau kamu dekat dengan pembantu. Sudahlah jangan dibahas." Ucap Farhan tidak ingin membahas lebih panjang lagi. 'Jadi semalam kamu tidak pacaran, Arumi? Tapi kamu membeli obat untuk saya!" Sambung Farhan dalam hati. 'Saya telah salah sangka.' Pergaulan bebas antara laki-laki dan perempuan merupakan serangan mematikan bagi jiwa dan ancaman yang membahayakan keamanan dan kedamaian diri. Melakukan hal itu berarti seseorang telah bergaul dengan setan-setan pembisik, penebar kabar bohong, peramal bencana dan petaka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD