~Part 4 (Bukan Penghianatan)

2169 Words
Sesuatu yang terjadi atas dirimu itu bukanlah sebuah kebetulan, melainkan salah satu skenario Tuhan untukmu. *** Arumi duduk terdiam di dalam mobil Lamborghini yang melaju dengan kecepatan sedang. Tepat hari ini Arumi sudah resmi menyandang status seorang istri dari Farhan Abqary. Arumi menikah dengan Farhan di rumah sakit tempat Ibu Sarah di rawat. Tiga hari lalu Farhan meminta Arumi untuk bersedia menikah dengannya agar Farhan tidak di coret dari daftar ahli waris keluarganya. Orang tua Farhan meminta Arumi menjadi menantunya agar dia dapat merubah Farhan menjadi sosok yang mandiri, menghargai jerih payah orang lain, bukan menghamburkan uang orang tua. Karena orang tua Farhan tau, Arumi adalah wanita baik-baik yang tidak memandang harta, tidak seperti kebanyakan wanita yang mendekati Farhan hanya karena harta. "Ayo, turun." Ucap Farhan membanting keras pintu mobil, hal itu membuat Arumi kaget. "Kaget? Kamu tidak memiliki penyakit jantung kan?" Ucap Farhan yang di balas dengan gelengan oleh Arumi. "Ini rumah siapa, Mas?" Tanya Arumi heran. "Mas? Lo bilang gue dengan sebutan Mas?" Ucap Farhan terlihat tidak suka. "Iya, mulai hari ini kamu kan suami saya. Jadi saya akan memanggil kamu dengan sebut Mas. Satu lagi ubah cara bicara kamu jangan pake lo, gue. Kamu, aku, atau saya juga boleh." Ucap Arumi tersenyum. "Heh, lo mikir gak ini pernikahan bukan keinginan gue. Pernikahan ini seharusnya tidak ada. Jadi lo jangan banyak atur hidup gue." Farhan mendelik ke arah Arumi. "Iya, saya tau. Tapi pernikahan ini sah. Jadi sekarang bakti saya untuk kamu. Saya tidak akan banyak menuntut apapun juga dari kamu. Cuman saya tegaskan pernikahan kita ini sah." Ucap Arumi sebelum akhirnya diam. "Terserah lah. Terserah lo. Ayo masuk." Ucap Farhan mendahului Arumi. "Ini rumah siapa?" Arumi masih heran. "Rumah gue sama lo. Ini rumah pemberian nyokap dan bokap gue. Jadi lo nurut saja gak perlu banyak tanya." Farhan membawa koper masuk yang di ikuti Arumi dari belakang. "Kamar kita ada di atas." Sambung Farhan. "Ka---kamar?" Arumi merasa tidak yakin. "Iya, kamar lo sama gue. Tapi, lo jangan mikir aneh. Kita akan tidur di kamar berbeda. Nih bawa barang lo. Gue di kamar sebelah kiri, lo kamar sebelah kanan. Paham!" Farhan berlalu meninggalkan Arumi sebelum sempat ia menjawab kata-kata Farhan. Disinilah Arumi sekarang, di sebuah kamar yang kini menjadi kamarnya. Dia tidak mengira jika kebaikannya menolong seseorang membuatnya terjebak pada sebuah pernikahan dadakan. Menikah dengan seseorang yang sama sekali tidak pernah menyukainya membuat Arumi harus melakukan semua dari nol. Tidak ada sebuah malam pertama yang indah layaknya yang di harapkan banyak orang. Tidak ada senyum indah yang mengembang di hari pernikahan layaknya yang banyak di ceritakan. Banyak yang beranggapan bahwa di hari pernikahan dunia seolah terasa milik berdua. Jangankan hal itu yang Arumi rasa, cinta pun tidak tumbuh sama sekali dalam hari Arumi dan Farhan. Arumi mengingat sosok Raihan, pria yang memberikan Arumi sebuah janji manis yang tidak kunjung memberikan kepastian, tidak ada komunikasi sama sekali diantara mereka. "Maaf jika kelak kamu merasa aku telah mengingkari perkataan ku, Mas Raihan." Arumi mendengar suara wanita dari ruangan bawah. Dia keluar dan melihat sebuah pemandangan yang menjijikkan. Farhan sedang berpelukan dengan seorang wanita di ruang tamu. Hari ini adalah malam pernikahan mereka namun Farhan membawa seorang wanita ke rumah mereka. "Kamu jangan khwatir Alifia, aku tidak mungkin mencintai dia. Aku kan cuma mencintai kamu seorang." Farhan mencium kening Alifia. Alifia Marshanda adalah kekasih Farhan. Mereka menjalin hubungan sejak enam bulan lalu, Alifia yang berprofesi sebagai model ketika itu tidak sengaja bertemu dengan Farhan yang menolongnya dari para penjahat. Semenjak kejadian itu, Farhan dan Alifia menjalin kedekatan. Arumi melihat dan mendengar semua yang di katakan Farhan. Seharusnya malam ini adalah malam paling bahagia untuknya, namun ternyata pernikahan dengan cara di paksa tidak membuat kenyataan akan lebih baik. Arumi hanya diam dan masuk ke kamarnya dengan perasaan hati yang hancur. Bintangku belum menampakan wujudnya malam ini, dia hanya bersembunyi di balik gelapnya malam tanpa berniat menyapaku walau dengan kata 'hallo'. Biarkan saja bintang ku kini bersembunyi dalam gelapnya malam, aku akan menunggu hingga dia menampakan wujudnya dan menyapaku dengan segala keindahannya, meski aku tidak pernah tau kapan bintangku itu akan datang. Kata yang Arumi tulis di buku Diary nya itu seolah menjadi teman hatinya yang hancur malam ini. Arumi masih saja terjaga sampai larut malam. Hatinya yang gelisah membuat tidurnya tidak terasa nyaman. *** Assalamualaikum Wr.Wb Tidak banyak kata yang dapat aku lontarkan selain ucapan selamat atas kesuksesan yang kamu raih. Percayalah dengan kata takdir, semua yang telah Allah gariskan untukmu tidak akan pernah melewatkan mu. Percayalah tidak ada suatu keberhasilan tanpa sebuah kerja keras. Gelar yang kamu sandang hari ini merupakan bukti kuasa Tuhan yang di barengi dengan kerja keras serta do'a orang-orang yang menyayangimu terutama orang tua. Aku memberikan Al-Qur'an dengan Tasbih ini untukmu. Aku tau kamu pun memiliknya di rumah, namun aku ingin memberikan ini untuk mu. Jika kamu sedang dilanda musibah, kebingungan kepahitan hidup bacalah Al-Qur'an niscaya hatimu akan terasa tentram. Jika kamu merindukan orang-orang yang kamu sayang ketika kau jauh diperantauan, gunakan tasbih ini untuk berdzikir kepada Allah, sebut nama-nama Allah yang baik dan Agung, niscaya hatimu akan terasa damai. Raihan tersenyum membaca isi dari secarik kertas yang ada dalam kota berwarna biru yang Arumi berikan dulu ketika dia pamit untuk pergi melanjutkan pendidikannya di Turki. Raihan merasa lelahnya hilang seketika ketika dia membaca setiap bait tulisan yang Arumi buat. Membaca tulisan itu Raihan terasa melihat wajah Arumi yang cantik dan polos tanpa balutan makeup di wajahnya. Kepribadian Arumi yang sederhana membuat Raihan terpikat dalam pesona Arumi. "Aku pulang hari ini Arumi. Pendidikan ku di sini sudah selesai. Tunggu Aku pulang." Raihan menyelesaikan pendidikannya lebih awal dari yang di targetkan. Raihan merasa bahagian akhirnya dia dapat menyelesaikan semuanya lebih cepat. Dia akan segera pulang ke tanah kelahiran demi menjemput sang pujaan yang telah lama menantinya pulang. "Aku akan memberikan kejutan buat kamu, Arumi." Raihan merasa tidak sabar untuk segera melihat wajah berseri Arumi yang menyambutnya pulang. "Kak Raihan!" Teriakan seseorang mengalihkan pandangannya Raihan. "Aku kangeeeeeen." Dengan berhambur memeluk Raihan. "Dek, kamu sudah lama?" Balas Raihan dengan memeluk Natalia, adik perempuan satu-satunya yang Raihan miliki. "Aku sudah lama menunggu. Tuh bunda sama ayah." Ucap Natalia menunjuk pada dua orang yang berdiri tersenyum menunggu kedatangan Raihan di bandara. "Ayah, Bunda. Raihan kangen sekali sama kalian." Ucap Raihan langsung memeluk orang tuanya. "Kami juga sangat merindukan jagoan kami ini." Ucap Ayahnya Raihan yang dibalas gelak tawa oleh semua orang. Rindu hadir ketika jarak menjadi pemisah antara dua hati yang berjauhan. Rindu tidak segan datang meski hati hancur di terpa badai. Rindu tidak pernah usai sampai waktu menghapuskan jarak menjadi sebuah pertemuan. *** Hari ini pagi ku terasa sangat berbeda. Suasana hatiku terasa tidak penuh makna. Pagi ku cerah namun hatiku tidak merasakan kehangatan yang dia berikan. Akankah pagi ku dapat memberikan hangat seperti halnya dulu? Ataukah dia hanya akan bersinar terang tanpa memberikan ruang untuk aku menikmati secercah cahayanya? Pagi-pagi sekali Arumi sudah berkutat dengan barang-barang di dapur. Dia masak, menyiapkan sarapan pagi untuk dirinya dan Farhan. Bukan hanya Arumi dan Farhan, mungkin akan ada seseorang yang ikut di meja makan itu selain mereka berdua, yaitu kekasih suaminya. Arumi tidak yakin dirinya akan mampu berada di tengah mereka, menyaksikan kemesraan suaminya dengan kekasihnya itu. Arumi menepis jauh bayangan buruk yang menghantuinya, sampai akhirnya Farhan datang dengan pakaian yang nampak telah rapi. Farhan menghampiri Arumi di dapur lalu duduk menyaksikan Arumi yang menyiapkan makanan di meja makan. "Alifia, masakan kamu wangi sekali sayang." Ucap Farhan belum menyadari bahwa yang ada hanyalah Arumi. Sampai suara piring jatuh menyadarkan Farhan. "So--sorry, Arumi." Ucap Farhan menyadari kesalahannya. "Tidak apa-apa. Mana pacar kamu, mari sekalian sarapan bareng." Ucap Arumi dengan membereskan pecahan piring dilantai. "Pacar?" Tanya Farhan. "Iya, semalam dia di sini bersama kamu bukan?" Ucap Arumi dengan wajah datar. "Kamu melihatnya?" Tanya Farhan tanpa berdosa. "Bagaimana tidak, bukankah di rumah sebesar ini cuman ada kamu dan aku. Ketika ada orang ketiga masuk mana mungkin aku tidak tahu." Ucap Arumi dengan mengambilkan nasi untuk Farhan. "Kamu cemburu?" Ucap Farhan tersenyum sinis. "Kalau iya, kenapa? Kita itu suami istri Mas. Meski pernikahan kita ini hanya terpaksa tapi tidak pantas jika kamu b******u mesra di hadapan istri sah kamu sendiri." Ucap Arumi masih dengan wajah datarnya. "Kenapa kamu cemburu. Bukankah kamu tidak mencintai aku?" Farhan beralih memandang Arumi. "Cemburu tidak akan hadir tanpa cinta. Wanita itu dapat dengan mudah membuka hati meski dengan ucapan ijab kabul yang berawal dari paksaan." Ucap Arumi sedikit tersenyum. "Hahaha, terserah. Yang pasti kamu jangan pernah berharap cinta dari seorang Farhan. Karena orang seperti kamu tidak pantas bersanding dengan orang terpandang seperti saya. PAHAM." Teriakan Farhan sedikit mengusik hati Arumi. Ucapannya membuat Arumi harus membendung Air mata. Ini adalah resiko yang mesti Arumi hadapi ketika dia memutuskan menyetujui pernikahan itu. Bukankah Arumi sudah memikirkan semuanya dari awal? Bukankah dia tau resiko apa yang akan dia hadapi ketika memutuskan menikah dengan Farhan? Maka dari itu pahit manis harus Arumi telan dengan kelapangan hati. "Oh iya, Mas nanti aku izin keluar ya untuk----." Ucapan Arumi tiba-tiba di potong Farhan. "Syuuuut, kamu gak perlu acting jadi istri berbakti kalau di depan saya. Kalau di depan orang tua saya baru kamu harus berakting biar mereka percaya kalau pernikahan kita itu baik-baik saja." Ucap Farhan dengan melanjutkan makannya. "Satu lagi, kamu mau kemana saja terserah. Dengan siapa saja, terserah. Jangan sekali-kali kamu izin dulu sama saya. Terserah kamu Arumi Indah Gumilar yang berharap balasan cinta dari saya." Farhan tertawa tanpa melihat ke arah Arumi yang tidak percaya akan ucapannya. Arumi baru menyadari bahwa Farhan hanya main-main dengan pernikahan ini. Arumi hanya di buat alat agar Farhan tidak di coret dari daftar ahli waris keluarga mereka. *** Di manapun kelembutan itu berada, ia akan menghiasi tempat itu. Demikian halnya bila ia dicabut dari suatu tempat, ia akan mengotorinya. Kelembutan tutur kata, senyuman tulus di bibir, dan sapaan-sapaan hangat yang terpuji saat bersua merupakan hiasan-hiasan yang selalu dikenakan oleh orang-orang mulia. Di antara manusia terdapat orang-orang "istimewa" yang membuat banyak kepala tunduk hormat menyambut kedatangannya, banyak massa berjubel ingin melihat mukanya, banyak hati bersimpati padanya dan banyak jiwa memujanya. Dan mereka itu tak lain adalah orang-orang yang banyak dicintai dan dibicarakan manusia dikarenakan kedermawanan dan kelobaannya, kejujurannya dalam berjual beli, dan keramahan dan sopan santunnya dalam bergaul. Isi buku yang berjudul La Tahzan ini membuat Arumi benar-benar terpesona. Isinya selalu menguatkan Arumi. tidak pernah bosan Arumi membaca berulang kali buku tersebut. Arumi berjalan cepat agar ia segera sampai di rumah. Sore ini Arumi baru selesai mengajar di sekolah SMP Negeri. Arumi berjalan cepat agar ketika suaminya pulang Arumi sudah sampai di rumah. Gerimis hujan membuat Arumi menghentikan langkah kakinya. Dia menyukai suasana ini. Rintik hujan selalu menyejukkan hatinya. "Suka hujan?" Suara seseorang tidak mengalihkan pandangan Arumi. Dia hanya fokus menutup mata dan menikmati setiap tetesan hujan. "Tentu." Jawabnya singkat. "Alasannya?" "Karena hujan memberikan arti yang sangat dalam. Dia mengajarkan kita jangan pernah berhenti dan berputus asa meski telah terjatuh berulang kali, tapi tetaplah bangun untuk meraih hari esok yang lebih baik. Karena hujan tau kapan dia harus kembali menjadi awan." Ucap Arumi. "Seperti aku, yang kembali untuk memenuhi janji yang sempat terputus oleh jarak." Ucapan itu membuat Arumi mengalihkan pandangannya. "M--mas Raihan." Arumi tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Ini tidak mungkin. Ini pasti hanya halusinasi ku saja." Ucap Arumi dengan menggelengkan kepala. "Ini benar saya Arumi, Raihan." Gelak tawa Raihan pecah ketika melihat tingkah Arumi. "Pe---permisi!" Arumi mempercepat langkahnya meninggalkan Raihan. "Arumi, tunggu!" Raihan mengejar Arumi. Dia tidak mengerti kenapa Arumi menjauh melihatnya. "Arumi, aku kembali. Aku kembali untuk memenuhi janji kita." Ucapan Raihan membuat Arumi menghentikan langkahnya. "Aku tidak bisa." Arumi merasakan sesuatu mengganjal dalam d**a. "Kenapa? Aku sudah bicara sama ayah dan bunda untuk menjemput kamu hari ini. Kita bertemu mereka. Ayolah jangan bercanda." Raihan mendekat ke arah Arumi. "Stop di sana, Mas." Arumi mulai menangis. "Ada apa dengan kamu, Arumi?" Raihan benar-benar merasa aneh. "Ak--aku sudah menikah, Mas. Kita tidak mungkin melanjutkan janji kita." Arumi tidak kuasa menahan air matanya. "Aku menikah dengan Farhan satu minggu lalu." Ucap Arumi di sela tangisannya. "Ini tidak mungkin, Arumi. Kita sudah berjanji untuk saling menunggu. Tapi, sekarang kenapa kamu yang berkhianat." Raihan mengacak rambutnya kasar. "Maaf, Mas. Tapi situasi ini yang mem----" "Stop. Saya tidak mau lagi mendengar apapun dari kamu. Kamu sudah mengkhianati kepercayaan saya, Arumi. Saya kira kamu akan menunggu saya. Tapi ternyata penilaian saya terhadap kamu itu semua salah. Saya kecewa sama kamu." "Mas, dengarkan aku dulu." "Tidak perlu, kamu tidak perlu menjelaskan apapun lagi. Mulai hari ini anggap saja bahwa kita tidak pernah saling mengenal." Ucapan Raihan bagaikan Sambaran petir untuk Arumi. Dia tidak mengira bahwa semuanya akan berakhir dengan seperti ini. Arumi menangis keras di bawah guyuran hujan. Kejadian demi kejadian yang terus menimpanya, membuat sakit di d**a semakin bertambah. Arumi harus menambah tenaga untuk lebih kuat lagi menopang semuanya. "Ya Allah, kenapa semua ini terus terjadi. Kenapa? Aku sudah cukup lelah dengan semua keadaan ini. Sampai kapan kepedihan ini akan berakhir." Arumi terus menangis dan berteriak di bawah guyuran hujan. Tanpa dia sadari bahwa ada sepasang mata yang mengawasinya dari jauh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD