Setelah menyaksikan hujan yang turun dengan lebat itu, Illeana duduk di sofa dan menghadap kaca tersebut. William di sofa lain yang tak jauh dari gadis itu, memperhatikannya dalam diam. “Awalnya aku ingin menunjukan bintang, makanya aku membawamu ke sini, tapi malah hujan,” kata William menyajikan teh panas untuk Illeana. “Apa salahnya dengan hujan? Aku juga menyukainya,” timpal Illeana. “Aku baru tahu itu,” aku William. Illeana meliriknya sekilas, tersenyum kecil lalu kembali menatap hujan yang membasahi kaca besar itu dengan cahaya yang terbiaskan. Memperhatikan senyuman Illeana, William ikut tersenyum kecil. “Aku hanya tahu kau menyukai bintang,” kata pria itu. Menyudahi perhatiannya terhadap air yang berjatuhan dari langit itu, Illeana mengambil gelas mug yang William saj

