“Heh, bukan tipikal seorang Affad Azhar untuk telat meeting. Ini pertama kalinya,” komentar Fath saat Azhar memasuki ruang rapat. Ada beberapa orang lain yang juga hadir bersama Fath, yang merupakan anak buah laki-laki itu.
“Maaf, ada urusan lain sehingga saya telat, Tuan-Tuan dan Nyonya-Nyonya,” ucap Azhar. Beberapa anak buah Fath tampak heran, namun mencoba memaklumi. Lagipula, di depan mereka adalah seorang CEO yang baru saja kehilangan istrinya. Terlihat tegar saja seperti sekarang tentu adalah beban berat bagi seorang Azhar. Di samping Azhar ada seorang wanita yang merupakan asistennya. Dia menyerahkan sekumpulan berkas kepada Azhar sebelum Azhar memerintahkannya keluar.
Azhar mulai menjelaskan situasi proyek yang mereka pinta. Dia menjelaskan apa saja kendala yang sedang terjadi, dan juga sudah sejauh mana perkembangannya. Setiap dari anak buah Fath mewakili satu proyek antara Azhar dan Fath, dan Fath mempersilahkan mereka apakah laporan progress Azhar dapat diterima oleh mereka.
Sejauh pertemuan itu berjalan, Azhar berhasil meyakinkan semua anak buah Fath. Laki-laki yang menjadi kepala kliennya itu sendiri terlihat biasa saja selama pertemuan. Fath sendiri berpikir dia perlu memberikan lebih banyak kredit dengan kemampuan perusahaan Azhar.
“Bisa aku lihat bahwasanya kamu sangat mampu, Azhar,” komentar Fath santai. Dia lalu melihat ke arah anak buahnya, “sepertinya kita semua sepakat semua sesuai ekspektasi?”
Semua anak buah Fath menganggukkan kepala. Azhar bernafas lega mendengarnya. Jujur saja, kehilangan Fath sebagai klien bukanlah hal bagus, mengingat dia punya banyak proyek besar pula. Namun, Fath sendiri adalah ancaman bagi Azhar. Bisnis memang dilematis.
“Terima kasih, Tuan-Tuan, Nyonya-Nyonya,” syukur Azhar. Anak buah Fath semua memberikan apresiasi mereka. Lalu, Fath pun mengatakan bahwasanya mereka sudah cukup lama berbincang, dan waktu Zuhur nyaris habis. Dia pun mengatakan bahwasanya sudah cukup dari mereka dan berpamitan. Setelah itu, dia pun melihat ke arah asistennya.
“Saya minta seluruh berkas untuk segera diurus. Apakah ada pesan dari Arrow saat pertemuan?”
Asisten itu menganggukkan kepalanya. Dia lalu mengeluarkan sebuah lembaran kertas. Azhar membaca isi kertas itu.
‘Setelah Ashar.’
Azhar menggelengkan kepalanya kesal. Ashar hanyalah lima belas menit dari sekarang. Laki-laki itu mengeluh kesal. Dia mengambil remote kecil lalu menekan satu tombol, lalu dia meletakkan remote itu.
“Dasar b******k itu,” gumam Azhar. Pria itu melirik ke arah asistennya. Untuk saat ini, asistennya itu akan mencukupi.
***
“Kamu telat,” komentar Arrow dengan wajah kesal. Azhar hanya tersenyum. Tidak perlu bagi Arrow untuk dijelaskan apa yang sebenarnya terjadi, karena Azhar yakin laki-laki itu tahu terlalu banyak. Azhar sangat yakin laki-laki di hadapannya itu sudah tahu kenapa sebenarnya dia telat.
“Oke, terserahlah,” simpul Arrow. Dia pun memutuskan untuk tidak membicarakannya. Ada pekerjaan ke salah satu desa yang harus dilaksanakan segera. Dan dia ingin ini segera selesai. Bersama Arrow adalah mimpi buruk yang nyata bagi seorang Azhar.
Mereka berdua berangkat menuju desa yang merupakan tanah kelahiran salah satu anak buah Azhar. Ya, anak buah Azhar yang dimaksud adalah Shadox, alias Yahya. Tujuan depan mereka untuk datang ke tempat itu adalah sama: membangun lebih lanjut desa itu. Namun, ada beberapa hal yang berbeda pikiran antara seorang Azhar dan seorang Arrow.
“Kamu terlihat banyak pikiran, Azhar,” komentar Arrow sementara Azhar berfokus menyetir mengantarkan mereka ke desa itu. Ada beberapa pembangunan yang perlu diperiksa kondisinya saat ini. Azhar hanya berdehem, namun tidak langsung menjawab pernyataan Arrow.
“Tidak. Hanya susah saja untuk menikmati hari setelah hari itu,” komentar Azhar datar. Arrow tersenyum saja mendengarnya. Laki-laki dengan nama panggilan aneh itu lalu mengeluarkan sebuah buku kecil.
“Menarik,” komentar Arrow, “biar aku baca laporan dulu. Aku mau cek apa yang ditulis oleh anak buahku untuk bagian pengembangan sisiku.” Dia membolak-balikkan halaman buku kecil itu. Tampaknya, Arrow terlalu terokupasi dengan buku itu. Arrow lalu berkomentar lagi beberapa saat setelahnya.
“Bicara tentang pembangunan, bagaimana proyek rahasiamu? Apakah berjalan lancar?” tanya Arrow santai. Azhar langsung berpikir, apa yang dimaksud Arrow dengan proyek rahasia. Dia sangat waspada dengan laki-laki itu, dan berusaha untuk tidak membocorkan informasi yang bisa membahayakan dirinya.
Tidak mendapat jawaban dari seorang Azhar, Arrow mengambil ponselnya, dan dia menekan beberapa tombol. Azhar, menyadari apa yang ingin Arrow lakukan, segera berhenti di tempat terdekat, dimana sinyal terlalu minim di area itu.
“Jangan pikir aku tidak tahu apa rencanamu,” komentar Azhar. Arrow tersenyum. Dia tetap sibuk mengetikkan tombol di ponselnya. Setelah enam tombol, dia pun menutup ponselnya.
“Sudah sudah, tidak perlu khawatir. Aku sudah pastikan pembicaraan ini tidak terlacak,” ucap Arrow dengan santai. Wajah Azhar menjadi tegang.
“Oke, mari kita bicara sekarang, penjahat,” lanjut Arrow dengan senyuman sinisnya. Azhar hanya membalas dengan wajah tajam.
‘Sialan!’ gumamnya. Azhar mencoba melukiskan sebuah senyuman.
“Apa yang mau kamu ketahui, seorang pelarian negara?” tanya Azhar balik. Tidak ada ketakutan di wajah Arrow. Azhar tahu, rivalnya ini tidak bisa dibuat ketakutan oleh sebuah statement sederhana. Arrow tidak segan menumbalkan banyak hal untuk mencapai puncak, seperti dirinya. Namun, perbedaan mereka terletak pada hal-hal yang sekilas trivial, tapi justru menjadi penting kala mereka mencapai topik yang sulit. Misalnya, sekarang.
“Huh. Bahasanya sangat tak elok. Aku kira, hanya seorang Arrow yang sulit menempatkan mulutnya,” jawab Arrow. Laki-laki itu mulai melihat catatannya.
“Enaknya aku mulai dari mana ya, Azhar?” tanya Arrow. Azhar masih memikirkan, apa yang sebenarnya direncanakan oleh Arrow. Laki-laki itu tahu terlalu banyak. Berbahaya, tapi krusial.
“Aku punya informasi yang akan sangat menyenangkan sebagai sebuah skandal besar negeri ini. Cuma, sangat disayangkan jika seorang CEO dari EduTech harus jatuh terlalu cepat. Itu akan merugikanku di negeri ini, mengingat CEO tersebut juga rekan publikku. Ayo, aku ingin informasi pengoperasian seluruh lingkaran hitam yang kamu pegang, Azhar,” ucap Arrow dengan cukup banyak dramatisir. Azhar tahu, skandal yang Arrow maksud adalah tentang hubungan gelapnya dengan Citra. Apalagi, informasi ini akan sangat panas di telinga orang-orang yang menunggu kesempatan menjatuhkannya.
“Apa untungnya jika aku membocorkan modal besar operasiku di negeri pertiwi kepada seorang pengkhianat negara sepertimu?” tanya Azhar mencoba mendapatkan leverage dari rivalnya yang tidak mengenal permisi itu. Arrow tampak mempertimbangkan opsinya.
“Aku bisa saja bocorkan langsung kepada rival-rivalmu sih. Beberapa rivalmu akan menggunakan semuanya untuk mendobrakkan tiranimu,” jawab Arrow tampak berpikir, “jadi, aku tawarkan saja. Kamu mau mereka yang mengobrak-abrik publikmu, atau aku yang mengobrak-abrik di sini saja?” tanya Arrow balik. Azhar menghembuskan nafas kesal.
“Tirani ya?” tanya Azhar. Arrow benar-benar tidak pernah memilah santai kata-katanya. Tapi, ada benarnya tawaran ini. Selama ini, Arrow selalu memiliki informasi lebih banyak dari rival lainnya, tapi dia tidak pernah menghancurkan dirinya dengan bersuara di depan publik, maupun menjual informasi krusial itu kepada rival lainnya. Kalau bahkan boleh dikata, Arrow adalah perisai terbesar yang dia punya. Bahkan, Arrow melebihi perisai lain yang dia miliki sampai sekarang, yang membuat dia ragu untuk membuang Arrow, meskipun berapa kali dia mendapat penekanan dari orang di sekitarnya untuk menyingkirkan b*****h ini.
“Ya, tentu saja. Seseorang yang mengkapitalisasi pendidikan sampai ke titik terkecilnya. Tidak ada permisi dalam aksinya. Tidak hanya itu, dia yang mengoperasikan sebuah lingkaran PSK yang menjalar ke dalam seluruh tubuh negeri,” ucap Arrow lagi. Azhar urung membalas, hanya memikirkan kata-kata dalam di benaknya. Akhirnya, Azhar memutuskan untuk mengambil probabilitas yang ada. Lebih baik satu orang saja di sini yang tahu, tanpa ada yang lainnya terlibat.
“Baiklah. Kamu dapat sebuah kesepakatan, b*****t. Pastikan kamu dengarkan ini dengan sangat baik menggunakan telingamu. Kamu menyesal jika melewati sedikit dariku,” balas Azhar. Arrow tersenyum, lalu Azhar menambahkan.
“Ada satu yang ku minta darimu, dan sebagai balasan, jaminan keamananmu,” ucap Azhar menawarkan. Arrow menaikkan sebelah alisnya.
“Ayolah. Tawaran apa lagi?” tanya Arrow jengah. Azhar tersenyum.
“Kamu tahu kan aku suka menghancurkan siapa saja yang mengancamku, ‘kan? Aku ingin bantuanmu jika ada rivalku yang lain menjadi ancaman yang berbahaya bagiku,” tawar Azhar. Arrow tampak memikirkan tawaran itu.
“Tambahkan aku dalam whitelist ZLTS, dan kamu punya kesepakatan,” balas Arrow menawar balik. Azhar jengah dengan rivalnya yang satu ini. Rival yang bisa menumbangkan semua yang telah dia bangun dalam sekejap. Namun, dengan berat hati dia terima tawaran rivalnya itu.
“Deal. Daftar putih ZLTS baru yang kamu tidak terlibat lagi dalam pengembangannya itu akan tetap meletakkan namamu. Kamu punya proteksi dariku,” balas Azhar.
“Deal. Rahasiamu tidak akan menyebar kemana pun. Jika kamu perlu menyingkirkan rival lain dalam proses mengamankan posisi klasemenmu, aku akan menjadi bayanganmu yang menebas lawan-lawanmu,” balas Arrow.
Dua rival itu berjabat tangan, mengunci kesepakatan mereka yang rumit. Sebuah kontrak kesepakatan yang tidak ada yang tahu, selain dua orang itu.