Bab 7

1272 Words
“Kamu telat, Azhar,” komentar Arrow kala laki-laki itu memasuki rumah megah yang merupakan pusat operasi perusahaan Arrow. Bagi mereka yang mengenal perusahaan besar sebagai gedung pencakar langit para korporat, rumah ini tentu saja sebuah pemandangan yang jauh berbeda. “Maaf, ada masalah di rumah,” balas Azhar datar. Arrow paham apa yang dimaksud ‘masalah’. Bukan masalah lebih tepatnya di kamus Arrow. Dia tidak senaif itu untuk menelan mentah-mentah alasan Azhar, namun ini bukan waktu terbaik untuk membicarakannya. Arrow tidak ingin mempermasalahkan hal itu, dan langsung meminta Azhar ke tempat duduknya. “Tahap satu dari pengembangan ZLTS kedua. Ini akan menarik sebenarnya. Kamu tidak meminta Rahima ataupun Affa dariku?” tanya Arrow santai, seraya membaca dokumen-dokumen yang akan dibicarakan dengan pihak-pihak yang disewa untuk proyek kepentingan negara ini. “Rahasia dan bersifat death penalty,” jawab Azhar datar, “dan dua orang itu masih sibuk dengan proyek terkait sistem keuangan untuk proses penilangan otomatis toh,” lanjut Azhar. Arrow menganggukkan kepalanya. “Sama-sama death penalty kalau aku membandingkan ZLTS dengan itu. Ah, mereka juga sudah berusaha keras sih,” komentar Arrow sekenanya. Azhar hanya menganggukkan kepala setuju. Dua proyek itu sama-sama memiliki krusial tersendiri. Sekilas memang tumpang tindih, tapi fungsi ZLTS dan e-Tilang terbaru itu jauh berbeda. ZLTS seharusnya lebih pantas disebut pengintai internet modern, yang bisa mengawasi seluruh warga di negeri pertiwi ini dalam akses mereka. Kalau dikatakan, resminya, proyek ini seharusnya dipegang kominfo. Namun, karena sifat tender nya yang dimenangkan oleh Azhar secara terbuka, sekarang semuanya diurus oleh Azhar. Para cecunguk di pemerintah itu hanya menunggu hasil jadi, tanpa menyadari implikasi tidak mengawasi proyek segila ini. Azhar tersenyum sinis jika mengingat hal tersebut. “Mereka datang,” komentar Azhar kala beberapa orang mulai memasuki ruangan. Arrow menutup dokumen itu dan menyerahkannya kepada Azhar. Azhar lalu memulai presentasi pada hari itu, membicarakan tentang detail dari proyek itu, dan sifat kerahasiaan serta hukuman mati bagi pembocornya. Semua menganggukkan kepala mengerti kala pertemuan itu selesai. Setelah para kontrakan itu keluar, Azhar menghela nafas berat. “Menyebalkan. Ini kenapa aku benci kontrak kala aku sendiri yang turun tangan,” komentarku ketus. Arrow hanya tertawa. “Tapi kan posisimu memang untuk hal seperti itu. Maaf ya, saya kan CKO,” ucap Arrow yang membuat Azhar menyorot tajam rivalnya itu. “MANTAN YA. MANTAN,” balas Azhar ketus. Arrow tertawa. “Iya iya. Mantan CKO. Chief Knowledge Officer,” komentar Arrow santai. Arrow lalu melihat ke arloji yang dia kenakan. Jam menunjukkan angka 1 di sana. “Zuhur,” komentar Arrow seraya berjalan keluar ruangan. Azhar hanya berdehem sementara dia sudah sibuk dengan ponsel yang entah kapan dia mulai pakai. “Duluan saja,” balas Azhar. Arrow hanya menggelengkan kepala lalu keluar ruangan. Arrow pun meninggalkan ruangan itu. “Dasar k*****t,” keluh Azhar pelan. Dia melihat informasi tentang Citra dari jaringan ZLTS yang masih belum sepenuhnya tuntas ini. Mungkin jika dua bocah itu dilibatkan, maka ZLTS bisa benar-benar mencapai level selanjutnya. Arrow sendiri tidak ingin terlibat langsung lagi, dan Azhar yakin motifnya bukan masalah dia menjadi CEO atau semacam alasan lemah seperti itu. Arrow lebih cerdik daripada yang dia tampilkan. Azhar merenungkan pilihan yang dia miliki. Masih belum memungkinkan baginya untuk menyingkirkan Arrow, tapi dia perlu mulai menarik dua bocah di tangan Arrow kepadanya. Affa dan Rahima adalah aset terbaik yang pernah dia lihat, dan orang-orang FTEI semua tahu kualitas mereka dalam bekerja. Dia bisa saja sebenarnya membuntuskan kepala Arrow dengan sniper, namun itu akan berakhir merugikan bagi Azhar. Tidak ada jaminan apa yang dipersiapkan b*****h itu jika nyawanya sampai melayang. Bahkan, Azhar sampai sekarang tidak tahu persis kehidupan pribadi Arrow. Kalau menurut data pemerintahan, Arrow berusia 27 tahun, terdaftar sebagai wiraswasta. Registrasi perusahaan yang dia punya di Indonesia hanyalah Arrow X Solutions. Kekayaan resmi yang tercatat adalah 2.1 T. Dibandingkan dengan dirinya, yang mencapai 925T. Kalau sumber utamanya adalah dari perusahaan, dia akan tertawa, karena sumber utama harta Azhar adalah saham yang dia pegang dan ditangani anak buahnya. “Tidak mungkin dia hanya memiliki 2.1T,” gumam Azhar. Laki-laki itu kembali merenung. Dia ingin segera pulang dan bermain dengan mainan favoritnya. Sayang sekali hari ini dia tidak bisa membawa asistennya, karena Arrow sangat selektif dengan tamu-tamunya. Atau kalau dia memfrase ulang kalimat halus Arrow, maka jelas motifnya. “Aku tidak ingin kamu bermain dengan wanita murahanmu di sini,” gumam Azhar kesal. Dia bosan. Dia butuh pelampiasan! Pintu terbuka, dan Arrow telah kembali. “Oh, maaf lama. Mau makan siang dulu?” tanya Arrow dengan nada santai. “Memangnya mau makan apa?” tanya Azhar datar. Arrow tampak memilih opsinya. “Aku biasanya makan gado-gado dekat sini, tapi kalau mau yang lain, aku terbuka,” jawab Arrow santai. Arrow lalu berjalan ke kursinya lagi. “Terserah terserah. Kek cewek PMS aja,” sindir Azhar. Arrow hanya terkekeh, seakan menerima ejekan itu dengan tenang. “Gadis favoritmu lagi PMS?” tanya Arrow seenaknya. Azhar mengepal tangannya. Mulut b*****h satu itu perlu diberi pelajaran. “Shaburi,” komentar Arrow yang membuat Azhar linglung. Apa? Shaburi? “Restoran sushi. Kamu suka kan?” tanya Arrow lagi santai, “sama seperti dulu pas aku dan Kay masih di perusahaan,” lanjutnya. Azhar mencoba mengingat kembali, membersihkan semua murka untuk menggampar Arrow. “Boleh. Siapa yang setir?” tanya Azhar dengan nada datar, menutupi emosinya yang masih belum sepenuhnya stabil. Arrow mengeluarkan kunci mobilnya. “Gantian. Sekarang giliranku menyetir,” jawab Arrow seraya melemparkan kunci itu ke udara sebelum menangkapnya. Dia tersenyum puas. “Heh, perlu waktu bagiku untuk belajar itu,” komentar Arrow. Dia pun berdiri dari kursinya, dan berjalan keluar. Azhar mengikuti. “Harus ku akui kemarin itu sebuah kesuksesan besar, launching di Hasna AT,” komentar Arrow kala mobil CRV hitam kilat itu melaju di jalan tol. Restoran yang mereka tuju memang ada di ibukota, namun favorit Arrow adalah yang berada di kota hujan. “Rasanya sama, tapi kamu rela lewat tol demi di kota hujan?” tanya Azhar heran. Arrow tertawa. “Jawab dulu dong pujianku tadi. Aku tersinggung nih,” jawab Arrow dengan gaya sok tersakiti. Azhar benar-benar ingin menggampar orang sok narsis ini. “Ya. Sukses sekali,” jawab Azhar malas. Dia jengah berurusan dengan k*****t ini. “Nah. Ada dua alasan, Azhar-san,” balas Arrow dengan nada sedikit jejepangan, “satu adalah kota hujan, dua adalah sedikit lebih murah,” jawabnya. Azhar memutar bola mata, kesal. Jadi satu setengah jam tol karena berada di kota hujan? “t***l!” maki Azhar kesal seraya menunjuk ke arah Arrow. Hanya kekehan yang menjadi balasan. “Ayolah. Dulu Kay juga sering mengajak kita semua ke sana dan kamu tidak protes,” bela Arrow atas pilihannya. Ugh, Azhar ingin sekali menghabisi dia. “DULU. D-U-L-U,” balas Azhar kesal. Azhar tidak bisa membantah fakta bahwa sebelum dia memilih menikah 3 tahun lalu dengan Halima, Kaynara adalah orang yang sangat dia puja. Sayang, perempuan itu sangat career-oriented dan tidak terlalu memikirkan masalah pernikahan hingga Azhar lelah membuat wanita itu peka. Ada saja wanita seperti itu. Pertemuan tidak sengajanya dengan Citra sekitar 3,5 tahun lalu yang menjadi titik baliknya. “Daydreaming?” tanya Arrow. Azhar yang mendengar suara Arrow langsung kembali ke kenyataan. Oh, bayangan masa lalu indah itu langsung sirna sebelum sepenuhnya terbentuk. Arrow! “Heh!” tegur Azhar kesal. Arrow hanya terkekeh. “Nikmati saja daydreaming-mu. Kamu gak mati kalo tidur di sekitarku, kecuali udah deadline nya,” balas Arrow yang diikuti dengan gelak tawa. Azhar hanya bisa ngedumel kesal. “Jangan terlalu cepat juga. Aku ingin nikmati daydreaming ku. Kalau cepat sampai kan langsung bubar,” balas Azhar. Arrow hanya tertawa, lalu menganggukkan kepalanya. Azhar menutup mata.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD