Bab 13

1806 Words
“Kak Azhar….” Kalimat itu terpatah. Citra membuka pintu hanya untuk menyaksikan wajah dingin pria yang dia takuti itu. Tubuh tegap pria itu segera berjalan masuk, membuat Citra mundur ketakutan. Klik. Suara pintu yang tertutup, lalu dikunci oleh Azhar, membuat Citra semakin takut. Citra tahu, iparnya yang laknat itu tidak akan menahan diri untuk menghancurkan harga dirinya. “Aku ingin istirahat dulu. Para petinggi itu terkadang cukup bodoh untuk menyadari implikasi kegagalan dari usaha berat ini,” keluh Azhar seraya melewati Citra. Untuk pertama kalinya, Citra tidak dia perhatikan. Apakah sekali ini akhirnya Citra bisa lolos? Pria itu duduk di kasur yang ada di kamar pesawat tersebut. Pikiran pria itu terfokus pada satu hal, yaitu kalimat-kalimat dari rivalnya sebelum pesawat itu berangkat dari tanah air mereka. Kalimat-kalimat sederhana yang untuk Azhar tahu, tentu memiliki makna yang jauh lebih dalam dari yang dia dengar. “Aku sudah ngobrol dengan Pak Perdana Menteri, semoga lancar,” komentar Arrow lagi di depan pintu masuk pesawat. Azhar menyorot tajam ke arah Arrow. “Tenang, it’ll work in your favor, trust me,” ucap Arrow lagi sebelum Azhar menaiki pesawat. Seluruh staff dari Azhar EduTech telah naik, dan hanya Azhar dan Citra yang belum. Azhar menyipitkan matanya, seakan menyangsikan kalimat Arrow. “If you’re that worried, you’ll dead already. Remember the news last night?” tanya Arrow dengan sinis. Azhar menghembuskan nafas berat. “Apa yang sebenarnya diinginkan oleh k*****t itu?” gumam Azhar seraya mengusap keningnya. Pria itu untuk pertama kalinya setelah waktu yang sangat lama, kembali merasakan putus asa. Dia tidak mengerti, kenapa Arrow mau membantunya melawan organisasi yang menaunginya bersamanya kali ini, padahal dia sendiri adalah anggota yang hanya benci atasannya. “Kenapa dia mau membantuku melindungi Citra dari k*****t itu?” gumam Azhar, tidak sepenuhnya menyadari bahwasanya Citra mendengarkan setiap keping kalimat yang dia ucapkan. Citra seakan terkejut mendengar kalimat kakak iparnya itu sendiri, melindungi dirinya? “Apa maksudnya?” gumam Citra perlahan, mencoba memastikan suaranya tidak terdengar oleh kakak iparnya yang sepertinya kehilangan fokusnya itu. Azhar mengambil ponselnya yang sinyalnya telah dipotong. Hanya jaringan wifi yang diberikan oleh pesawat yang boleh digunakan selama belum sampai tempat pendaratan. Dia mengetikkan sebuah pesan di sana, sebuah pesan yang ditujukan kepada k*****t rivalnya itu. Azhar: Apa jaminan bahwasanya semua akan berjalan dengan mulus? Aku tidak tahu apakah kamu benar-benar memberikan favor untukku terkait PM Malaysia. Arrow: Ah, Azhar. Kewaspadaan itu bagus, tapi menjaga teman terlalu dekat itu bukan hal yang baik terkadang. Anyway, aku bilang ke PM kalau dia mitra bisnisku, dan minta proses approval disederhanakan. Simpel. Azhar: Disederhanakan as in? Arrow: Seluruh urusan birokrasinya tidak dibuat ribet. Lagipula, ekspansi ini adalah impian lama kan? Azhar: Kamu masih ingat mimpi-mimpi bertahun silam? Arrow: Bagaimana tidak? Aku itu orang yang hidup di masa lalu, Azhar. Azhar: Dan orang sepertimu tidak bisa bertahan di gelombang perubahan yang drastis ini. Arrow: Bisa, untuk sementara waktu. Azhar hanya bisa tersenyum kecut. Arrow tentu tidak akan memberikan spesifik apapun terkait bantuannya. Belum lagi perkara Zakh. Apa yang sebenarnya Arrow inginkan? Azhar: Dari semua bantuan ini... apa yang kamu pinta? Aku tidak mendengarnya sedikitpun. Arrow: Pertanyaan bagus, my dear detective. Mau ku? Jelas bukan? Aku ingin perlindungan dari organisasimu kala kamu memegang puncak kepemimpinan. Maksudku, aku berpotensi menjadi blacklist kalian, ‘kan? Azhar: Kamu pikir aku akan melakukannya? Arrow: Oh, tentu saja. Kamu dengan mulut manismu pasti bisa merayu atasan tinggimu jauh di sana yang seperti iblis itu. Azhar: Baiklah. Make it count. I want Zakh dead. Arrow: Of course. I always keep my deals. Azhar mengusap kepalanya. Arrow benar-benar memanfaatkan kelemahannya. Sialan! “k*****t itu,” murkanya seraya menggerigi giginya. Citra berusaha menghindarkan diri dari perhatian Azhar yang sedang marah. “Aku akan singkirkan dia kelak secara personal. Sebelum itu, aku masih memerlukan kesepakatan ini... ironi,” keluh Azhar. Dia melihat Arrow mengirimkan sebuah dokumen yang menarik. Arrow: Dokumen ini tentang bosmu, Zakh Reign. Azhar membuka file itu. Dia menemukan informasi yang cukup menarik di sana tentang Zakh, dan menjelaskan keinginan Zakh untuk melihat Fath tewas. Sederhananya, adiknya dipenjarakan karena Fath sewaktu pria itu kuliah dulu. Memang, Fath bisa dikatakan senior satu tingkat daripada Azhar, tapi dia tidak tahu orang daerah yang masuk ke labnya dengan beasiswa itu ternyata pernah membuat orang masuk ke penjara di usia muda. Arrow: I hope you find that amusing. Azhar ingin tertawa. Ternyata, dia dimanfaatkan oleh bosnya sendiri untuk vendetta pribadi. Zakh punya dendam kesumat dengan Fath, dan dia ingin tangannya bersih dengan memanfaatkan organisasi. Sebuah ide masuk di kepalanya. “Aku bisa manfaatkan ini, dan gunakan sebagai pembelaan kemudian hari.” Azhar: Arigatou, Arrow. *** Arrow tersenyum sinis setelah mengirim informasi itu. BB segera menanyakan hal tersebut. “Melihat wajahmu seperti itu, membuatku seperti melihat iblis dalam dirimu, Row,” komentar pria bernama BB itu. Arrow tertawa. “Aku hanya melakukan pekerjaanku. Lagipula, kita punya darah yang harus ditumpahkan. Aku tidak peduli apa Azhar akan benar-benar menjaga bagian dia untuk melindungi kita. Seperti yang ku bilang, kita hanya perlu dia untuk membuat seakan ada justifikasi kita bergerak.” “Bukankah kalau dia telah berkuasa, kita akan segera dilenyapkannya? Bagaimana kita bisa lari ke luar negeri jika kita masuk daftar hitam dia?” “Oh, BB, inilah indahnya permainan seperti ini. Risikonya tidak sederhana, namun selalu worth to take. Dia juga tahu apa yang kita sedang kerjakan kok, dan pada titik terburuk, aku pastikan kalian semua akan selamat dengan seluruh nyawa kalian.” “Tapi, kamu-” “Jangan khawatirkan CEO dari Arrow X Solutions. Aku akan menemukan solusinya. Kita akan menang, apapun yang terjadi selanjutnya.” “Untuk perkara Zakh, siapa yang akan mengurusnya? Melawan orang seperti dia-” “BB, sudah ku bilang, ada hal-hal yang bisa disederhanakan. Aku punya agen terbaik khusus untuk perkara Zakh. Jika di usia belia membunuh kekasihnya adalah hal sederhana, maka di usianya sekarang tentu ini juga sederhana.” “Apa mak-” Seseorang mengetuk pintu ruangan itu. “Hafizh.” “Silahkan masuk.” *** Azhar mengusap wajahnya setelah menyimpan ponsel miliknya. Dia melihat Citra yang sedang menjaga jarak dari dirinya. Citra, menyadari bahwasanya dia telah menjadi perhatian pria k*****t yang dia tidak ingin terlalu dekat dengannya, hanya bisa pasrah. Azhar menepuk kasur di sampingnya, mengundang Citra untuk duduk di sampingnya. Citra hanya diam, tidak memberikan respons terhadap tawaran itu. Azhar menghela nafas berat, dia tidak ingin bermain kasar kali ini. “Baiklah,” ucap Azhar. Citra tampak waspada, seakan khawatir Azhar langsung mencoba untuk menyerangnya. Azhar tidak bergerak, tidak memaksakan sama sekali, membuat Citra bingung. Pria itu pun beranjak dari tempat dia berada, membuat Citra menaikkan kewaspadaannya. Dia tahu dia tidak bisa melawan, namun memperlambat terjadinya peristiwa adalah satu hal yang bisa dia harapkan. Tubuh mungilnya tidak mungkin mengalahkan tubuh kokoh Azhar. “Kamu takut, Citra?” tanya Azhar dari tempat dia berdiri. Citra terkejut mendengar pertanyaan itu. Dia mengelap telinganya di balik jilbab yang dia kenakan, memastikan dia tidak salah mendengar. “Ini Kak Azhar yang menjadi iblis yang aku lihat belakangan ini, ‘kan? Sejak kapan dia bertanya tentang ketakutan?” celetuk Citra pelan. Azhar sepertinya tidak mendengar kalimat itu, dan kembali duduk. “Citra, apa kamu tidak menyukai sentuhanku?” tanya Azhar dengan wajah menatap lantai. “Kita tidak halal, Kak Azhar,” jawab Citra. Dia tidak akan mengakui bahwa sebagaimanapun semuanya salah, sentuhan kakak iparnya itu sangat dia harapkan di antara penyesalannya. Sentuhan yang membuat dia mabuk. Sentuhan yang dia tolak karena kepercayaan, namun tubuhnya rindukan. Dia benar-benar munafik. “Kamu tidak bilang tidak menyukai, apa kamu sebenarnya menyukainya?” tanya Azhar dengan senyuman sinisnya. Citra merasa serba salah, namun akhirnya dia hanya memilih untuk menganggukkan kepalanya. “Begitu ya, kalau begitu akan aku lepaskan perkara kecil yang membuatmu bimbang itu,” jawab Azhar dengan senyumannya, “namun, apakah kamu tidak ingin ku sentuh sampai kita bereskan perkara itu?” tanya Azhar kepada Citra. Citra mencoba menjernihkan pikirannya, apakah ini perangkap kakaknya lagi? “Kakak mencoba menipuku?” tanya Citra secara gamblang, diikuti dengan Citra menutupi mulutnya yang bicara dengan seenaknya itu. Azhar tertawa. “Jujur sekali! Aku tidak ada gunanya menipumu pada titik ini. Aku sudah memilikimu, Citra. Kamu tidak bisa lari,” komentar Azhar dengan santai. Azhar lalu melanjutkan penjelasannya, “Hanya saja, aku ingin membuatmu lebih menikmati kebersamaan kita. Aku bosan memaksamu.” Pengakuan itu mengejutkan Citra. Berarti, dia selama ini dikasih obat sehingga dia bisa dengan mudahnya menerima Kak Azhar? Obat-obat itu membuat pikirannya semakin haus akan sentuhan kakak iparnya sendiri. Lalu, apakah dia benar-benar ingin sentuhan kakak iparnya? Citra tidak tahu jawabannya. Gadis itu terduduk, seakan terkejut mendengar kalimat Azhar. Azhar langsung berdiri mendekatinya, khawatir dengan gadis kesayangannya. Namun, Citra memberikan isyarat untuk Azhar tidak mendekatinya. Azhar pun berhenti, hanya terjarak kecil dengan gadis kesayangannya itu. “Apakah kakak hanya ingin menjadikanku mainan?” tanya Citra pelan, “apakah kakak juga memperlakukan Kak Halima seperti mainan pula?” tanya Citra lagi. Kali ini, intonasi Citra lebih terdengar, dan Azhar merasa tersayat mendengar pertanyaan itu hingga dia tidak memberikan jawaban. “Kakak hanya inginkan aku sebagai mainan kakak, ‘kan!?” tanya Citra dengan intonasi yang cukup tinggi. Persetan seluruh petinggi mendengarnya, yang dia pedulikan adalah emosinya. “Dan dulu Kak Halima hanyalah mainan pula, ya kan Kak!?” tanya Citra lagi, amarah dan air mata memenuhi wajahnya. Azhar harus berterima kasih atas ide salah satu anak buahnya untuk membuat setiap ruangan pesawat menggunakan penghalang yang semaksimal mungkin kedap suara. Jika tidak, ini sudah menjadi kehebohan tersendiri dengan cepat. “Kenapa Kakak menjadikan kami mainan!? Apakah karena kami hanyalah orang tidak berada sehingga-” murka Cita terputus oleh Azhar yang memeluk erat Citra, membuat Citra terkejut. Azhar tidak ingin menangis, dia tidak ingin lemah. Dia benci terlihat lemah. Dia benci tidak berdaya kala temannya mati. Dia benci kala dia tidak bisa menerima Hasna tidak membalas perasaannya. Dan sekarang, dia benci karena melihat gadisnya ini menangis. “Kamu tidak pernah mainan bagiku, Citra. Meskipun aku ingin dirimu karena nafsu, pada akhirnya aku tetap luluh. Tolong, aku akan ceritakan semua pada waktunya,” ucap Azhar tanpa berpikir panjang. Citra hanya bisa terdiam mendengar kalimat Azhar. “Apakah kakak bersungguh-sungguh?” tanya Citra pelan. Air mata masih berlelehan di wajah gadis itu. Azhar memberikan anggukannya. Sebagaimanapun, Citra berhak tahu tentang kakaknya. Cukup sudah jahat dia dengan Halima, tapi dengan Citra? Dia tidak akan sanggup lagi. “Kamu adalah kelemahanku, Citra,” ucap Azhar pelan. Citra hanya terdiam mendengarnya dan merenungi kalimat itu. Citra menyadari, dia memang merindukan sentuhan kakak iparnya sendiri. Dia pun membalas pelukan Azhar. “Apakah kamu benar tidak ingin aku sentuh, Citra?” tanya Azhar lembut, dalam pelukan mereka. Citra ingin membenarkan, namun dia menyerah. “Sentuh aku kak, kali ini aku sudah menyerah. Hanya dua pintaku, perlakukan diriku dengan lembut, dan penuhi janji kakak dengan lamaran,” ucap Citra pelan. Azhar menganggukkan kepalanya pelan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD