Part 13 - Rindu Tertahan

1588 Words
Sebelum lanjut membaca, pastikan kalian sudah tap tanda love dan follow akun aku ya :) *** Jika keadaan membuatku tak bisa memilikimu, maka biarkanlah aku tetap memuja dan menyimpan rasa untukmu. – Satya Pradipta *** Hari pertama menjadi staff penerjemah di sebuah kantor penerbitan majalah yang memberikan segala informasi tentang Jepang, membuat Dira menjadi sangat gugup. Dia datang sangat pagi ke kantor karena tidak mau telat di hari pertamanya bekerja. Bahkan hanya ada cleaning service, office girl dan office boy yang sedang membersihkan seluruh ruangan dan merapikan meja seluruh karyawan di kantor tersebut saat Dira tiba di sana. Dira memilih untuk menunggu para pegawai lainnya di kursi yang berada di samping meja resepsionis. Seorang office girl menyuguhkan secangkir teh manis hangat untuk Dira. “Silahkan diminum, Mba,” kata seorang wanita berpakaian office girl saat meletakkan secangkir teh untuk Dira. Dira membalas, “Terima kasih ya.” “Kenapa pagi sekali datangnya, Mba? Kantor masuk jam delapan nanti. Ini masih jam setengah tujuh kurang,” tanya office girl tersebut. “Saya grogi, Mba. Saya kira tadi saya bangun kesiangan dan akan telat sampai ke sini. Ternyata saya malah kepagian,” jawab Dira terkekeh. Kemudian office girl tersebut meninggalkan Dira untuk melanjutkan kembali pekerjaannya. Untuk menghabiskan waktu dan menunggu pegawai lainnya datang Dira memilih untuk memainkan ponsel pintarnya. Dia membuka satu aplikasi media sosial yang membagikan foto-foto para penggunanya. Entah kenapa tiba-tiba saja Dira menekan kolom pencarian dan mengetikkan nama Satya di sana. Alam bawah sadar Dira menuntutnya untuk merindukan pemuda itu. Digulirkan ke atas halaman akun media sosial Satya. Dira menyunggingkan senyum di wajahnya saat melihat foto Satya dan semua teman-teman band Furizu berdiri di atas sebuah panggung sambil saling merangkul satu sama lain. Sepertinya foto itu diambil di sebuah festival kebudayaan Jepang, karena Dira bia melihat huruf hiragana, katakana dan juga kanji di banner yang terpasang sebagai latar belakang panggung. “Kangen juga ya main-main ke festival kebudayaan gitu,” gumam Dira. Sudah puas melihat foto-foto terbaru Satya yang baru dia lihat, jemari Dira menggeser layar pada akun media sosial Satya dan menemukan foto-foto yang ditandai oleh orang lain. Gerakan jemari Dira terhenti. Matanya menatap lurus ke layar ponselnya. Detak jantung Dira pun perlahan menjadi lebih cepat. Sebuah foto yang ditandai oleh akun dari seorang wanita dimana di dalam foto tersebut wanita yang Dira tidak tahu siapa tampak merangkul lengan Satya dan tersenyum bahagia. Dengan cepat Dira langsung menutup aplikasi media sosial di ponsel pintarnya. Memasukkannya kembali ke dalam tas. Setelah itu Dira menyambar cangkir berisi teh manis yang ada di meja sebelah kursi yang didudukinya lalu menenggaknya sampai habis. Sebisa mungkin detak jantungnya harus kembali normal, tidak boleh cepat seperti sekarang. "Satya berhak bahagia," lirihnya setelah menghabiskan secangkir teh manis hangat. Ternyata di tempat lain, di dalam kamar yang nyaman, Satya juga sedang melihat-lihat foto-foto Dira di akun media sosialnya. Namun, raut wajahnya tampak sendu saat matanya melihat foto terbaru Dira yang tersenyum lebar bersama dengan Dirga dengan caption yang tertulis "Mulai besok sudah bukan anak kecil lagi yang minta jajan sama Mas Dirga." "Sungguh, aku rindu kamu." Satya pun menyatakan kerinduannya dengan lirih. Dua insan yang sama-sama merindu kini hanya bisa menahan perasaan itu demi meyakinkan diri jika orang-orang yang mereka rindukan bahagia tanpa kehadiran mereka di sisinya. "Satya … kok kamu belum mandi sih? Sebentar lagi Jovanka datang loh!" Terdengar dari arah pintu seruan Ibu Diana yang tidak lain tidak bukan adalah mamanya Satya. Mengetahui mamanya datang reaksi yang diberikan oleh Satya hanya menolehkan kepala ke arah sang mama lalu menyunggingkan senyum tipis. Kemudian Satya kembali pada apa yang sedang ia lakukan sebelumnya. Melihat-lihat foto Dira. "Bujangan kok nggak cepat-cepat mandi mau disamperin sama cewek! Ayo dong, Sat, buruan mandi sana!" titah sang mama dengan nada merajuk. "Ma, si Jovanka datang juga bukan untuk ketemu sama aku. Dia kan mau ketemu sama papa. Mau jadi asistennya papa kan?" sangkal Satya. Namun, dengan cepat Ibu Diana membalas, "Ya … kan sekalian ketemu kamu juga, Sat! Sudah deh jangan ngebantah, cepat mandi!" Satya tidak ingin mendengar ocehan sang mama lebih lama lagi. Oleh karena itu dia menganggukkan kepalanya dan beranjak dari tempat tidurnya menuruti perintah sang mama. Satya melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi yang kebetulan masih berada di dalam kamarnya tersebut. Akan tetapi dia melupakan sesuatu. Dia lupa jika membiarkan ponselnya dalam keadaan menyala di tempat tidurnya. Saat itu Ibu Diana secara tidak sengaja melihat ke ponsel Satya yang masih menyala, dia melihat foto Dira dari akun media sosial terpampang jelas di layar ponselnya. Apakah Ibu Diana marah atau kecewa dengan putranya karena masih mencari tahu tentang Dira? Tidak. Dia sama sekali tidak marah ataupun kecewa pada putranya itu. Ibu Diana malah merasa prihatin dengan kisah cinta antara Satya dan Dira. Padahal Ibu Diana sangat berterima kasih pada gadis itu karena sudah mampu mengubah Satya menjadi anak yang penurut. Mau bagaimana lagi? Manusia tidak punya kuasa untuk mengubah takdir yang sudah ditentukan oleh Tuhan. Sebagai seorang ibu tentunya Ibu Diana tidak sampai hati membiarkan putranya berlama-lama bersedih karena putus cinta. Oleh karena itu dia berusaha mencomblangi Satya dengan Jovanka yang juga dia kenal sebagai gadis baik-baik. *** "Jadi kamu yang bernama Indira Maheswari?" tanya seorang wanita yang tampak penuh wibawa. Jika dilihat dari wajahnya, mungkin usianya mendekati empat puluh tahunan. Dira menjawab, "Iya, Bu." "IP kamu tinggi juga ya. Hasil tes sertifikasi bahasa Jepang kamu juga mendekati sempurna." Wanita itu tampak memuji hasil nilai Dira yang dilampirkan di curriculum vitae saat Dira melamar pekerjaan di tempat tersebut. Sebenarnya sudah tidak perlu lagi Dira menunjukkan curriculum vitae, karena dia sudah diterima bekerja di sana. Tetapi wanita yang ternyata adalah kepala divisi penerjemah di perusahaan penerbit tersebut merasa penasaran karena HRD yang mewawancarai Dira membanggakan hasil wawancaranya beserta nilai-nilai Dira di hadapannya. Oleh karena itu kepala divisi tersebut tidak sabar ingin bertemu dengan Dira, dan kesan pertama yang didapat dari Dira sesuai dengan apa yang diucapkan oleh HRD tersebut. "Kamu sudah siap bekerja kan?" tanya wanita tersebut. "Sudah, Bu," jawab Dira. "Bagus kalau begitu. Kebetulan saya baru saja menerima artikel yang harus segera diterjemahkan. Saya mau kamu menerjemahkannya dengan baik. Gunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh pembaca, tetapi tetap pada kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar," titah sang kepala divisi. "Baik, Bu." Kemudian Dira diajak menuju ke sebuah meja lengkap dengan seperangkat komputer di atasnya. Lalu Dira juga diberi pengarahan terlebih dulu dalam menjalankan tugas dan juga tanggung jawabnya. Setelah itu barulah Dira dibiarkan belajar mengerjakan tugasnya sendiri. "Permisi! Aku mau minta artikel yang sudah diterjemahkan untuk edisi minggu ini. Sudah selesai kan?" Seorang pemuda berseru di ambang pintu ruang divisi terjemahan. "Coba cek e-mail dulu deh, Rev! Lagian kamu kan bagian digital promotion ngapain nanya terjemahan sih!" jawab seorang pegawai wanita yang duduk di sebelah Dira. Karena posisi pegawai wanita itu tepat berada di sebelah Dira, secara otomatis mata Revan melihat sosok gadis bertubuh mungil dengan wajah imutnya di sana. Revan pun melangkah masuk, berjalan menghampiri Dira. "Kamu penerjemah baru ya di sini? Kenalin, aku Revan," kata pemuda itu seraya mengulurkan tangannya di samping Dira. Dira yang sedang serius mengerjakan tugas pertamanya harus menoleh ke arah Revan dan menatap pemuda itu dengan tatapan bingung. "Aku Revan, nama kamu siapa?" tanya Revan. Tangannya pun masih terulur menunggu Dira menyambutnya. Mata Dira melihat tangan Revan, lalu dijabatnya tangan tersebut. "Aku Dira," kata Dira memperkenalkan dirinya. Hati Revan tampaknya merasakan getar-getar asmara setelah mendengar suara Dira yang seimut wajahnya. Revan pun mengembangkan senyum di wajahnya. "Maaf," ucap Dira. "Maaf? Kenapa?" Revan tampak kebingungan. "Boleh dilepas tangannya?" Mata Dira melirik tangannya yang digenggam erat oleh Revan. "Eh, maaf." Sedikit kikuk Revan melepaskan tangan Dira. Tampak tidak terlalu tertarik untuk melanjutkan perkenalan lebih lanjut, Dira kembali melanjutkan pekerjaannya. Sementara pandangan Revan tidak bisa luput dari Dira. Kepala divisi terjemahan akhirnya datang dan memberikan sebuah berkas pada Revan. "Nih ambil! Jangan ganggu anak-anak aku ya. Apalagi yang baru. Dia masih penyesuaian, jadi jangan sampai dia nggak betah gara-gara kamu ya!" "Galak amat sih, Bu! Iya tahu kok dia masih penyesuaian. Kali aja kan saya bisa bantu dia menyesuaikan gitu," cetus Revan. Sang kepala divisi langsung memincingkan matanya pada Revan seolah menolak usulan Revan barusan. "Sudah sana kamu balik ke divisi kamu! Jangan ganggu anak-anak aku!" Kepala divisi tampak mengusir Revan. Revan pun menuruti perintah wanita si kepala divisi. Namun, sebelum benar-benar keluar dari ruangan tersebut dia menyempatkan diri mengeluarkan ponsel pintarnya dari saku celananya. Lalu dia menunjukkan sesuatu pada sang kepala divisi terjemahan. "Bu, suka sama Furizu band juga kan? Di channel YouTube mereka baru saja rilis lagu baru loh bu. Duh, melow banget lagu mereka. Judulnya Rindu Tertahan." Gerakan jemari Dira yang sedang menari di atas keyboard terhenti seketika. Indera pendengarannya sangat sensitif mendengar nama band yang baru saja disebutkan oleh Revan. Furizu band? Itu kan band-nya Satya, gumam Dira dalam hatinya. Rindu tertahan ya? Apa dia sedang merindukanku? tambahnya di dalam hati lagi. Dira memejamkan kedua matanya saat Revan memperdengarkan lagu terbaru Furizu band dengan speaker yang cukup kencang. Telinganya mendengarkan baik-baik syair dalam lagu terbaru Satya dan teman-temannya. Melody yang mengiringi suara Satya terdengar seperti menyayat hati. Tanpa terasa air mata pun menetes dari sudut mata Dira. Dengan cepat Dira menyeka wajahnya, lalu menarik nafas dalam untuk menahan segala kerinduannya pada orang yang sedang menyanyikan lagu Rindu Tertahan tersebut. Tanpa Dira ketahui, Revan sudah melihat air matanya yang barusan turun. Mulai muncul berbagai pertanyaan dalam benak Revan mengenai Dira yang tiba-tiba menitikkan air mata. Kenapa gadis imut itu menangis ya? batin Revan ikut bertanya-tanya. ____________________ Readers, jangan lupa tulis komentar kalian tentang part kali ini ya :)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD