Sebelum lanjut membaca, pastikan kalian sudah tap tanda love dan follow akun aku ya :)
***
Dira mengenakan kemeja lengan kerut bermotif bunga-bunga dan dipadupadankan dengan rok rempel selutut berwarna hitam. Rambut panjang sepunggungnya dia kuncir seperti ekor kuda. Kemudian dia memakai make up tipis di wajahnya, juga lipstick berwarna merah muda pada bibirnya.
"Mau kemana kamu, Ra?" tanya Dirga yang kebetulan melihatnya saat membawakan roti dan s**u untuk sarapan.
"Dira ada panggilan interview, Mas. Di kantor penerbit majalah," jawab Dira yang langsung menolehkan kepalanya ke arah Dirga.
Dirga melangkah masuk ke dalam kamar Dira. Meletakkan roti dan s**u di lantai tepat di samping tempat tidur Dira. Kemudian Dirga pun duduk di sana menunggu Dira selesai berdandan.
"Kamu interview di kantor penerbit majalah mana, Ra? Kapan ngelamarnya?" tanya Dirga.
"Kalau Dira sebut namanya juga Mas Dirga nggak akan tahu. Majalahnya membahas semua tentang Jepang, Mas. Mulai dari animasi, musik, kebudayaan, sampai ada sedikit pembelajaran bahasanya juga," jawab Dira.
"Terus kamu di sana melamar jadi apa?"
Dira yang sudah selesai merapikan dirinya di depan cermin langsung memutar tubuhnya dan ikut duduk di lantai bersama dengan Dirga.
"Dira melamar jadi translator, Mas. Karena nanti sumber untuk artikel di majalahnya berasal dari Jepang sana. Kalau memang diterima, tugasku nanti menerjemahkan semua artikel ke bahasa Indonesia." Dira memberikan jawaban atas pertanyaan Dirga barusan.barusan.
“Wah … hebat itu, Ra! Mas nggak nyangka adik Mas satu ini bakal jadi orang hebat kayak gitu!” Dirga memuji sang adik sambil mengusap pucuk kepalanya. “Ya sudah isi perutmu dulu, Ra. Biar nanti fokus interviewnya,” tambahnya.
Dirga membukakan kemasan roti yang dibawanya tadi lalu diberikannya ke tangan Dira. Dirga setia menemani Dira menyantap sarapannya sambil berbincang ringan dengan adiknya itu. Diperhatikannya raut wajah Dira yang sudah mulai kembali ceria seperti dulu, saat segala trauma belum melanda.
“Ra,” panggil Dirga.
“Hmm …,” jawab Dira.
“Hari ini Mas Dirga mau ketemu Satya untuk melihat tempat yang nantinya kita akan buka kedai kopi bersama,” ucap Dirga memberi tahu Dira.
“Hmm … iya, Mas.” Dira memberikan jawaban singkat pada sang kakak.
Setelah empat bulan berlalu sejak hari kelulusan di mana Dira mengakhiri hubungannya dengan Satya, gadis itu benar-benar menarik dirinya dari lingkungan pertemanannya. Tidak hanya meninggalkan Satya, Dira juga meninggalkan Friska dan tema-teman yang lainnya. Menghapus nomor mereka dari ponselnya bahkan Dira juga memilih untuk mengganti nomor baru.
Semua itu Dira lakukan karena dia benar-benar ingin menjalani kehidupannya secara normal. Melupakan semua yang berhubungan dengan dirinya di masa lalu, juga yang berhubungan dengan trauma yang sempat membuat mentalnya tidak stabil.
Pada waktu itu Dirga pernah bertanya mengapa Dira harus sampai sejauh ini. Lalu pada waktu itu Dira menjawab, “Karena aku tidak mau menyakiti mereka dengan sikapku yang tidak bisa melupakan trauma itu. Aku juga tidak mau mereka menghakimiku karena aku memilih untuk meninggalkan Satya dan ingin menjalani segala kehidupanku dengan normal.”
Pada waktu itu Dirga tidak mau semakin memberikan tekanan pada sang adik untuk menasihatinya. Bagi Dirga, biarlah sementara Dira memilih jalan hidupnya dulu. Jika memang kondisi Dira sudah membaik, maka Dirga akan mulai mendekatkan Dira kembali dengan semua teman-temannya, termasuk dengan Satya.
Dira sudah menghabiskan roti dan juga susunya. “Mas, Dira berangkat sekarang ya!” kata gadis itu dengan bersemangat.
Dira dan Dirga bangkit bersamaan dan melangkah keluar dari kamar Dira. Dirga mengantarkan Dira sampai depan pintu rumahnya.
“Benar nggak mau Mas antar, Ra?” tanya Dirga.
Dira menjawab, “Nggak usah, Mas. Dira sudah pesan ojek kok.”
Sebuah motor matic berhenti tepat di depan rumah Dirga dan Dira lalu membunyikan klakson. Tin … tin ….
“Mba Indira Maheswari?” tanya si abang ojek tersebut.
“Tuh, sudah datang kan jemputan aku. Kalau begitu aku berangkat dulu ya, Mas. Doain aku keterima ya, Mas.” Dira melangkahkan kaki menghampiri ojek yang menjemputnya sambil melambaikan tangannya pada sang kakak.
Dirga tetap setia menunggu Dira menaiki ojek hingga dibawa pergi dan menghilang dari pandangannya. Kemudian setelah itu Dirga masuk kembali ke dalam rumahnya. Dia pun harus bersiap-siap untuk bertemu dengan Satya. Karena kedua pemuda itu sedang membangun bisnis kedai kopi mereka bersama.
Sebagai pemuda yang sangat simpel dan sederhana, Dirga tidak butuh waktu lama untuk membersihkan diri dan berpakaian. Dia juga tidak perlu terlalu banyak menyemprotkan parfum ke seluruh tubuhnya. Cukup beberapa kali saja di pakaiannya.
Setelah merasa dia sudah siap, Dirga langsung bergegas keluar dari rumahnya menuju ke motor yang diparkirkan di teras rumahnya. Dirga mengenakan jaket denimnya terlebih dahulu sebelum menaiki motornya tersebut. Dirga memutar kunci untuk menghidupkan mesin motornya. Sambil menunggu mesin motornya dipanaskan sebentar, Dirga berkirim sebentar pada Satya mengatakan jika dia akan tiba dalam waktu dua puluh menit dari sekarang. Pesan terkirim. Dirga memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya lalu memakai helmnya. Barulah kemudian dia menarik gas di tangan kanannya, melajukan motornya dengan kecepatan sedang menuju ke tempat dimana saat ini Satya berada.
Setelah motornya melintasi jalanan Jakarta, Dirga akhirnya tiba di sebuah ruko dua lantai dengan dinding dicat berwarna putih. Bagian luar ruko tersebut sedang dipasang kanopi berwarna ungu pastel.
“Mas Dirga!” seru Satya dari ambang pintu. Pemuda itu juga melambaikan tangannya pada Dirga.
Dirga membalas lambaian tangan Satya lalu menghampirinya. Kemudian Satya langsung melihat Dirga masuk ke dalam ruko dua lantai tersebut.
“Gimana tempatnya, Mas? Cocok kan untuk kedai kopi kita?” tanya Satya seraya melebarkan kedua tangannya ke kiri dan kanan.
Dirga melempar pandangannya ke setiap lantai satu ruko tersebut. Kemudian benaknya membayangkan jika nanti kedai kopinya benar-benar beroperasi disana. Dimana posisi bar untuk membuat kopi, dimana letak kasirnya, dimana juga nanti disediakan beberapa kursi di depan bar, semua sudah terbayangkan di dalam benak Dirga.
“Cocok, Sat tempatnya. Di lantai atas nanti niatnya mau dijadikan apa?” tanya Dirga.
“Lantai atas nanti untuk ruang ganti pekerja saja, Mas. Mereka juga bisa istirahat di sana. Sekalian nanti buat untuk ruangan administrasi di atas sana. Jadi kalau kita datang untuk mengecek bagian administrasi atau cash flow kita bisa punya ruang privasi tanpa harus mengganggu yang bekerja atau pengunjung,” Satya menjelaskan.
Dirga mengangguk-anggukkan kepalanya setuju dengan usulan Satya tersebut. Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk menyewa ruko tersebut selama satu tahun penuh. Karena merintis sebuah bisnis bukanlah hal yang mudah atau dalam waktu cepat. Jadi kedua pemuda itu menargetkan satu tahun untuk bisa merintis hingga nanti bisnis mereka berjalan stabil. Mereka berdua juga akan menginvestasikan sejumlah uang sebagai modal bersama.
Satya dan Dirga cukup lama berada di ruko tersebut. Mereka mulai membincangkan tentang perlengkapan apa saja yang harus mereka beli untuk mengisi ruko tersebut. Namun, di sela-sela perbincangan mereka tentang hal tersebut Satya juga mulai menanyakan kabar Dira.
“Mas, Dira apa kabar?” tanya Satya pada Dirga.
“Kabar baik, Sat. Dia hari ini ada interview kerja di kantor penerbit majalah,” jawab Dirga.
“Apa dia suka menanyakan aku, Mas?” Satya penuh harap.
Dirga tersenyum simpul, lalu dia menepuk pelan lengan Satya. “Kalau memang kamu rindu, kenapa kamu nggak datang saja ke rumah?”
“Nggak, Mas. Aku nggak mau ganggu dia dulu. Aku sudah janji mau membiarkan Dira menyusun masa depannya. Kalau aku tiba-tiba datang juga belum tentu dia mau menemuiku kan?” Satya tampak pesimis. Hatinya berkata rindu, tetapi raganya belum mampu untuk bertemu.
“Kalian berdua ini lucu. Sebelumnya Dira yang ingin menemani kamu sampai lulus. Memastikan kamu lulus dengan baik. Sekarang kamu yang ingin memastikan Dira menyusun masa depannya.”
Satya tidak lagi membalas ucapan Dirga. Pemuda itu kini menyibukkan dirinya menghitung biaya yang dibutuhkan untuk merenovasi ruko tersebut menjadi sebuah kedai kopi yang sangat nyaman untuk anak muda.
Selang beberapa menit kemudian ponsel Satya berdering. Dia segera mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Lalu dia juga langsung menggeser tombol hijau di layarnya untuk menerima panggilan yang masuk tersebut.
“Halo, Vanka!” sapa Satya pada seseorang yang meneleponnya.
Kemudian terjadi perbincangan singkat antara Satya dengan seseorang yang dia panggil Vanka melalui telepon. Dirga berusaha untuk tidak mencuri dengar, tetapi karena dia duduk tepat di depan Satya maka dia bisa mendengar jelas semua yang dibincangan antara Satya dengan Vanka. Hanya suara Vanka yang tredengar samar-samar karena dia berada di seberang telepon sana.
Dalam perbincangan antara Satya dengan Vanka, Dirga mendengar mereka seperti sedang mengatur waktu untuk bertemu. Namun, Satya sendiri masih tampak ogah-ogahan dan sebisa mungkin menolak ajakan untuk bertemu.
“Sudah ya, Van. Coba lihat malam Minggu nanti aku sibuk atau tidak. Karena aku juga mau rekaman dengan teman-teman band,” pungkas Satya seraya mengakhiri panggilan teleponnya.
“Siapa itu, Sat?” Dirga memberanikan diri menanyakan hal tersebut pada Satya.
Namun, Satya berusaha mengelak dan membahas hal yang lainnya. “Mas, gimana kalau nanti bagian bar kita kita d******i sama furniture dari kayu?”
“Boleh, Sat,” jawab Dirga yang tahu Satya menghindari pertanyaannya sebelumnya.
Saat malam menjelang, Dirga pun kembali ke rumahnya. Dari luar pintu masuk ke rumahnya tercium aroma sedap yang membuat perutnya terasa semakin lapar. Dirga membuka pintu dan masuk ke dalam rumahnya.
“Ra, Mas Dirga pulang nih!” seru pemuda itu.
Dirga kemudian melempar bo-kongnya ke kursi dan mencari posisi yang nyaman untuk sedikit menyandarkan punggungnya.
“Selamat datang, Mas! Ini aku sudah buatkan rawon untuk Mas Dirga makan malam.” Dira yang tiba-tiba muncul langsung meletakkan sepiring nasi putih hangat dengan semangkuk rawon yang baru saja matang. Asap panas dari rawon tersebut sampai terlihat ke udara.
Dirga mengernyitkan dahinya. Dia tidak percaya jika adiknya itu memasak makanan untuknya. Karena selama ini Dirga yang selalu memasak untuk mereka berdua.
“Mas? Kok bengong? Nggak mau makan?” tanya Dira.
“Bukan, Ra. Ini kamu beneran masak? Ada angin apa kamu masak untuk Mas Dirga?” balik Dirga bertanya.
Dira segera meletakkan bo-kongnya di sebelah Dirga. Mendekatkan bibirnya ke telinga Dirga lalu berbisik, “Dira diterima kerja, Mas.”
Sontak Dirga menolehkan kepalanya cepat pada Dira dan menatap adiknya itu dengan kedua mata yang membesar. “Kamu diterima kerja?”
“Iya, Mas.”
“Waahh …!! Selamat ya kamu sudah diterima kerja jadi penerjemah, Ra! Mas Dirga senang banget!” seru Dirga dengan raut wajah yang sangat bahagia.
Dirga pun menarik tubuh sang adik masuk ke dalam pelukannya. Dibelainya kepala sang adik, diciumnya juga pucuk kepala adiknya itu.
“Kamu sudah makin dewasa, Ra. Kalau orang tua kita masih ada pasti mereka juga bangga dengan kamu, Ra,” ucap Dirga yang tampak bangga dengan sang adik.
Dira mendorong tubuh sang kakak, melepaskan dirinya dari pelukan kakaknya itu. Kemudian Dira menggenggam kedua tangan sang kakak dengan erat.
“Mas Dirga, makasih ya sudah mengurus Dira sejak kedua orang tua kita sudah nggak ada. Makasih juga sudah selalu menemani Dira di masa-masa sulit Dira, mensupport Dira hingga Dira bisa lulus jadi sarjana, sampai sekarang Dira sudahditerima kerja. Mas Dirga itu segalanya buat Dira.” Air mata Dira langsung mengalir dari sudut matanya. Meluapkan segala rasa terima kasihnya pada sang kakak.
Dirga kembali menarik tubuh adiknya ke dalam pelukannya. “Ra, ini adalah awal yang baru untuk kamu. Mas Dirga akan selalu menemani kamu sampai saatnya kamu benar-benar bisa hidup mandiri.”
“Iya, Mas. Makasih ya,” lirih Dira.
“Satu lagi. Mas Dirga mau di awal kehidupan kamu yang baru ini, kamu juga harus mulai untuk membuka diri kamu lagi pada teman-teman lama kamu. Karena kamu berjuang bersama mereka, tidak hanya seorang diri, Ra. Kalian lulus bersama. Jadi cobalah buka diri kamu lagi,” pinta Dirga dengan nada tulus pada sang adik.
Dira bungkam. Segala sesuatu yang berhubungan dengan masa lalunya ingin dia kubur. Namun, sang kakak mengingatkannya lagi tentang semua teman-temannya. Dira pun kembali mengingat Satya, pemuda yang selalu membuatnya merasa bersalah karena terus-menerus membohongi perasaannya.
Akankah Dira mau membuka dirinya lagi untuk semua teman-temannya, dan juga untuk Satya?
____________________
Hai readers tercinta, jangan lupa tulis komentar kalian banyak-banyak ya, hehehe :)
Follow juga akun media sosialku;
FB : Aya Warsita
IG : aya_ayawars