Sebelum lanjut membaca, pastikan kalian sudah tap tanda love dan follow akun aku ya :)
***
Dua orang pemuda kini duduk bersebelahan di sebuah warung kopi. Mereka adalah Satya dan Dirga. Mereka berada di sana karena Dirga memenuhi ajakan Satya untuk bertemu malam itu juga.
“Wah, bubur kacang hijaunya mantap ini. Masih panas, Sat!” seru Dirga saat pelayan warung kopi meletakkan mangkuk berisi bubur kacang hijau pesanannya. “Kamu benar tidak mau? Mie instan atau roti bakar gitu? Masa kamu cuma minum es kopi saja sih, Sat,” lanjut Dirga menawarkan makanan pada Satya.
Namun, Satya menggelengkan kepalanya menolak tawaran Dirga. “Makasih, Mas. Aku tidak lapar.”
“Sayang banget kalau kamu tidak merasakan lezatnya mie instan buatan si abang itu,” tunjuk Dirga menggunakan dagunya. “Bang! Buatin mie instan rebus untuk teman saya ini ya!” seru Dirga pada penjaga warung kopi tersebut.
“Loh? Nggak usah, Mas. Beneran aku nggak lapar.” Satya berusaha menolaknya lagi.
“Kamu harus makan kalau mau ngobrol sama aku, Sat,” paksa Dirga.
Mau tidak mau, lapar tidak lapar, Satya memang harus menuruti perkataan Dirga agar dia bisa mengatakan maksud dan tujuannya bertemu dengan pemuda itu. Ada hal penting yang ingin Satya pinta pada Dirga.
Tidak menunggu lama akhirnya mie instan rebus yang dipesan oleh Dirga untuk Satya pun diletakkan di atas meja. Tetapi Satya masih harus menunggu beberapa saat agar panasnya sedikit berkurang dan dia bisa langsung melahapnya dengan cepat.
Sementara itu bubur kacang hijau di mangkuk Dirga sudah habis tak tersisa. Dia mendorong mangkuk tersebut lalu menarik gelas berisi es teh manis dan meminumnya menggunakan sedotan.
Dirga bersabar menunggu Satya menghabiskan makanannya sebelum dia menanyakan lagi apa tujuan Satya mengajaknya bertemu. Diperhatikan oleh Dirga pemuda yang sedang menyantap mie instan rebus dengan lahap penuh nikmat. Dirga bisa langsung menebak jika sebenarnya perut Satya sudah lapar, hanya saja dia menahannya karena mungkin ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
Tidak sampai sepuluh menit Satya menghabiskan mie instan hingga ke kuahnya, juga menghabiskan es kopi yang masih lebih dari setengah gelas.
“Enak kan, Sat?” tanya Dirga.
“Iya, Mas. Enak,” jawab Satya.
“Makan di saat kita lapar itu emang paling nikmat ya. Mie instan di warung kopi aja rasanya sudah seperti masakan seorang chef di restoran mewah. Hahaha ….” Dirga tertawa sebari menepuk bahu Satya.
Malu karena ketahuan lapar, Satya hanya bisa menggaruk kepala belakangnya yang sebenarnya tidak gatal.
“Oke. Sekarang kamu bilang kenapa kamu ajak Mas Dirga untuk ketemu?” tanya Dirga pada Satya.
Satya menegakkan tubuhnya. Lalu dia sedikit menyerongkan tubuhnya menghadap ke arah Dirga.
“Mas, ini tentang Dira.” Satya mulai angkat bicara.
Mendengar nama sang adik keluar dari bibir Satya, Dirga langsung menolehkan kepalanya dengan dahi sedikit mengernyit.
“Dira?” tanya Dirga.
“Iya, Mas,” jawab Satya. “Aku berniat serius dengan Dira sampai ke jenjang pernikahan,” tambahnya.
Dirga terdiam. Dia tidak langsung memberikan jawaban. Dia juga tidak menertawakan niat dari Satya yang menurutnya masih sangat muda untuk memikirkan pernikahan. Dirga malah melipat kedua tangannya di atas meja dengan memasang raut wajah serius.
“Apa kamu yakin ingin menikahi adikku?” tanya Dirga dengan nada suara beratnya.
Satya pun menjawab dengan mantap, “Yakin, Mas.”
“Kenapa kamu mau menikah dengan dia?” tanya Dirga lagi.
Satya kembali menjawab dengan mantap, “Karena aku sudah terlalu cinta sama dia, Mas. AKu nggak mau kalau sampai Dira nggak jadi pasangan hidupku. Bisa gila kalau aku melihat Dira sama yang lain.”
Dirga mulai mengerti situasi Satya saat ini. Yang Satya bilang itu adalah cinta menurut Dirga itu hanyalah sebuah obsesi. Dirga tahu betapa sulit bagi Satya untuk bisa mendapatkan hati Dira. Namun, Dirga juga sangat memahami sang adik yang pastinya belum mau terikat karena masih ingin meniti masa depannya.
“Sebaiknya kamu fokus dengan masa depan kamu dulu, Sat. Jika Dira jodoh kamu, maka dia akan tetap menjadi milikmu,” ujar Dirga.
“Walaupun dia bukan jodoh aku, maka akan kubuat dia tetap menjadi jodohku dengan menunjukkan keseriusanku. Oleh karena itu aku mau Mas Dirga membantuku.” Satya benar-benar serius dengan tekadnya itu.
“Membantu apa?”
“Tolong jaga Dira, Mas. Pastikan jika tidak ada lelaki lain yang mendekati dia. Aku dan Dira akan sama-sama menyusun masa depan kami berdua. Beri aku waktu dua sampai tiga tahun lagi, dan aku akan datang untuk melamar Dira di hadapan Mas Dirga.” Sorot mata Satya membara. Tidak ditemukan sedikit pun celah dari raut wajahnya jika dia sedang main-main.
Dirga tidak mau mengecewakan anak muda yang berniat serius dengan adiknya. Tetapi Dirga juga tidak mau membuat janji yang nanti akan sulit untuk ditepati. Baginya sang adik tidak boleh sampai merasa terpaksa untuk menerima keseriusan Satya. Sudah cukup Dirga melihat Dira diselimuti trauma dan banyak memaksakan diri untuk menjalani hubungan yang sebenarnya dia sendiri tidak nyaman menjalaninya.
“Hal ini biar Mas Dirga bicarakan lagi dengan Dira ya. Mas akan bantu untuk memberi pengertian, tetapi Mas nggak mau sampai harus memaksa dia,” ucap Dirga.
“Saya hanya mau Mas Dirga menjaga Dira saja. Jaga dia agar tidak ada lelaki lain yang mencoba mendekati dia.”
“Mas, Mengerti, Sat. Tetapi Mas juga harus memberitahu Dira kenapa Mas sampai menjaganya seperti itu. Jangan sampai ada salah paham di akhirnya nanti,” jelas Dirga.
Satya mengangguk lalu menundukkan kepalanya. Hatinya masih belum merasa puas. Hatinya masih takut jika nanti Dira menolak dan memilih untuk tidak bersama dengan Satya.
Akan tetapi Satya mencoba mengerti dengan keputusan Dirga. Satya pun mencoba menerimanya dengan lapang d**a. Dia mencoba menanamkan di dalam hati dan pikirannya kata-kata yang sudah beberapa kali dia dengar; Jika memang berjodoh, maka Dira akan tetap menjadi milik Satya.
***
Beberapa bulan kemudian ….
Di sebuah aula yang sangat luas, kini seluruh mahasiswa dan mahasiswi berdiri berjajar di depan kursi mereka masing-masing dengan mengenakan pakaian toga mereka. Barisan setiap fakultas dipisahkan hanya dengan memberi jarak sekitar satu meter pada kursi mereka. Itu artinya Sata dan Dira tidak berada di satu berisan yang sama.
Satu per satu nama dipanggil naik ke panggung untuk dipindahkan tali yang berada di atas topi toga mereka sekaligus menerima sertifikat kelulusan mereka dari para rektor. Saat nama Dira dipanggil dan dinobatkan sebagai mahasiswi terbaik tahun ini, Satya dan kawan-kawannya langsung berdiri dan memberikan tepuk tangan paling kencang di antara mahasiswa yang lainnya. Di belakang sana Dirga tampak tersenyum dengan penuh kebanggaan melihat sang adik yang kini berdiri di atas panggung menerima sertifikat kelulusannya.
Dirga melangkah mau saat Dira sudah kembali ke kursinya.
“Ra! Dira!” Panggil Dirga yang berdiri di belakang tali yang membatasi tempat untuk para mahasiswa dengan tempat untuk keluarga yang hadir di sana.
Dira menoleh ke belakang saat mendengar suara sang kakak yang sudah sangat dia hafal. “Loh, Mas Dirga!” balas Dira.
Kemudian sambil membawa sertifikat kelulusannya Dira menghampiri Dirga yang menunggunya. Mata Dira sedikit menyipit saat memperhatikanb gelagat aneh yang ditunjukkan sang kakak. Kedua tangan kakaknya disembunyikan di balik tubuhnya seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
Saat Dira sudah berdiri tepat di hadapannya, Dirga langsung menunjukkan sebuah buket bunga yang sangat indah dari balik tubuhnya.
“Untuk kamu, Ra. Selamat atas kelulusanmu ya,” kata Dirga pada sang adik.
“Wah … bagus banget bunganya. Mas Dirga beli dimana?” Kedua mata Dira tidak bisa lepas dari buket bunga yang diberikan oleh Dirga.
“Ada deh pokoknya. Masa Mas Dirga kasih tahu kamu dimana beli bunganya. Nanti ketahuan sama kamu kalau harganya murah, Ra. Hehehe …,” jawab Dirga terkekeh.
Sesaat kemudian dari arah samping sebuah buket bunga lainnya disodorkan ke arah Dira sehingga gadis itu menoleh dengan cepat.
“Selamat atas kelulusan kamu ya, Ra,” ucap Satya yang ternyata memberikan buket bunga tersebut pada Dira.
Dira menerima buket bunga pemberian Satya dengan senyum simpul dan berkata dengan lembut, “Makasih, Sat.”
“Aku bangga punya kekasih seperti kamu, Ra. Dapat predikat terbaik lagi,” puji Satya.
Namun, sayangnya pujian itu tidak membuat Dira lantas merasa senang. Justru Dira merasa sangat bersalah, karena setelah ini dia harus melakukan hal yang sudah lama dia niatkan.
Setelah acara kelulusan selesai, dan seluruh mahasiswa dan juga mahasiswi berhampuran keluar, Dira menarik tangan Satya dan membawanya ke tempat yang agak sepi. Di tempat itulah Dira akan mengatakan pada Satya tentang perasaan yang sebenarnya.
“Ra, kenapa kamu narik aku ke sini?” tanya Satya pada gadis itu.
“Ada yang mau aku bicarain sama kamu,” jawab Dira.
“Apa itu, Ra? Kenapa harus ngumpat-ngumpat begini?” Satya mulai penasaran.
Kemudian Dira menarik nafas dalam dan menghembuskannya dengan perlahan. Dia meraih kedua tangan Satya dan menggenggamnya dengan erat. Dira pun berusaha untuk bisa menatap dalam-dalam ke mata Satya.
“Sat, kita kan sudah lulus. Setelah ini kamu harus ngejar masa depan kamu, karena aku juga mau mengejar masa depan aku,” ucap Dira sambil mengeratkan genggamannya di tangan Satya.
Satya pun membalas ucapan Dira, “Iya, Ra. Kita akan kejar masa depan kita sama-sama. Aku nggak mau lanjut S2. Aku akan tetap melanjutkan channel YouTube untuk band-ku dan juga memulai bisnis dengan Mas Dirga.”
Telapak tangan Dira muai berkeringat. Dia sangat gugup untuk mengatakan hal yang sudah lama ingin dia lakukan.
“Sat …,” lirih Dira.
“Iya, Ra …,” sahut Satya.
“Mulai sekarang, kita kejar masa depan kita masing-masing ya. Maafin aku, karena aku nggak bisa lagi nemenin kamu.” Terlontar kalimat perpisahan dari bibir Dira dengan suaranya yang bergetar.
Tetapi Satya masih belum menyadari kalimat perpisahan tersebut. Satya hanya mengira jika Dira sedang meminta maaf karena nantinya akan mulai fokus bekerja.
“Jangan khawatir, Ra. Aku akan baik-baik saja. Selama masih ada kamu yang menyemangatiku, maka aku akan bersemangat mengejar masa depanku.”
“Maafin aku, Sat.” Tiba-tiba Dira melepaskan genggaman tangannya. “Aku nggak bisa lagi menemani kamu. Aku … aku … ingin kita putus,” sambung Dira.
Kilat seolah menyambar bergantian di sekitar Satya. Sementara saat ini Satya mematung, mencoba mencerna kembali ucapan Dira barusan.
“Ra …,” lirih Satya.
Namun, Dira tidak mau lagi meneruskan percakapannya dengan pemuda itu. Dira langsung berlari meninggalkan Satya yang hatinya kini hancur berkeping-keping. Satya hanya bisa melihat Dira berlalu dan semakin jauh. Tubuhnya menjadi lemas, tetapi dia masih bisa berdiri dengan kedua kakinya.
“Dira …. Kenapa kamu tega sama aku, Ra?” tanya Satya pada Dira yang sudah tidak terlihat lagi dari pandangannya.
Dira pun menahan air matanya agar tidak tumpah. Dia berlari menghampiri sang kakak dan langsung menarik tangan kakaknya itu untuk segera pergi dari sana. Dira tidak ingin lagi segala kenangan dan trauma terus hinggap dalam hatinya. Dira ingin memulai kehidupannya yang baru. Kehidupan yang terlepas dari segala kenangan tentang masa kuliahnya dan juga dari trauma yang masih terus menghantuinya.
____________________
Dear pembaca tercinta, jangan lupa tulis komentar kalian banyak-banyak ya, hehehe :)
Follow juga akun media sosialku;
FB : Aya Warsita
IG : aya_ayawars