Sebelum lanjut membaca, pastikan kalian sudah tap tanda love dan follow akun aku ya :)
***
“Sat, lama nunggu?” Putra menepuk bahu Satya yang duduk di atas motor di pinggir jalan.
“Nggak kok,” jawab Satya.
Putra sengaja meminta Satya untuk menunggunya di ujung jalan dekat kampus karena ada hal yang Putra rasa harus dibicarakan dengan Satya. Hal tersebut tentu saja menyangkut tentang perasaan Satya pada Dira.
“Kita ke perpustakaan kampus aja gimana? Kayaknya jam segini juga masih ada orang deh di kampus,” ajak Putra.
Satya mengangguk menyetujui ajakan Putra lalu bersiap melajukan motornya menuju kampus.
Suasana kampus sore itu masih cukup ramai dengan para mahasiswa dan mahasiswi yang tingkat awal yang baru saja menyelesaikan kelas terakhir mereka pada hari itu. Putra membawa Satya menuju satu ruangan yang sudah diyakini tidak akan banyak orang di sana. Perpustakaan.
“Ayo kita ngobrol di dalam, Sat,” ajak Putra saat membuka pintu perpustakaan.
“Ngapain kita ke sini? Kan bisa ngobrol di luar.” Satya tampak sedikit enggan masuk ke dalam sana.
“Gue mau kasih tau lo tempat favoritnya Dira.” Jawaban Putra langsung mengubah niatan Satya yang awalnya menolak.
Putra masuk terlebih dahulu ke dalam perpustakaan. Sementara Satya masih menimbang-nimbang apakah harus mengikuti Putra atau tidak. Jika menyangkut Dira sepertinya Satya tidak bisa menolaknya.
Pada akhirnya Satya menyusul Putra masuk ke dalam perpustakaan. Satya sempat berhenti beberapa detik setelah melewati pintu. Dia menolehkan kepalanya ke arah kanan dan melihat Putra yang belok ke balik rak buku.
Saat Satya mengikutinya, ternyata Putra duduk di kursi yang berada di pojok perpustakaan. Satya baru teringat jika di tempat tersebut Dira sering menghabiskan waktu sendirian. Membaca banyak buku atau hanya sekedar melamun saja. Karena letak kursi yang terhalang oleh rak buku sehingga orang yang duduk di sana merasa sangat nyaman.
“Sat, sini! Duduk di sini,” panggil Putra sambil menepuk-nepuk kursi kosong di sebelahnya.
Satya menuruti permintaan Putra lalu duduk di sebelahnya. Pandangan Satya mengarah lurus menatap rak buku yang berdiri tegak menghalangi tempat mereka duduk saat ini.
“Di sana ….” Putra menunjuk rak buku yang sedang Satya pandangi. “Banyak buku yang udah Dira baca. Gue tau dari Friska, karena kadang-kadang Friska nemenin Dira sampai perpustakaan tutup,” sambungnya.
“Terus maksud lo apa?” tanya Satya yang masih tidak mengerti maksud Putra mengajaknya ke perpustakaan dan memberitahunya tentang hal tersebut.
“Lo coba cek deh tiap buku yang ada di rak itu dulu. Kalau lo mau sih lo bisa cek semua buku yang ada di semua rak di sini, liat di halaman paling belakang yang ada kartu untuk pembaca. Habis itu kalau lo masih nggak ngerti juga, lo baru boleh tanya sama gue.” Putra mau Satya untuk mengeceknya terlebih dahulu.
Tidak lagi bisa membantah, Satya kemudian beranjak dari tempatnya dan memeriksa satu per satu buku yang ada di rak yang ada di hadapan mereka. Satya mulai mengambilnya dari buku tebal yang membahas tentang sejarah Jepang. Di halaman paling belakang, Satya melihat kartu pembaca dan tertulis nama Dira yang sudah meminjam buku tersebut sebanyak dua kali.
Kemudian Satya mengambil buku yang lebih tipis, tetapi sama-sama membahas tentang sejarah Jepang. Pada halaman paling belakang, Satya melihat lagi nama Dira sempat meminjam buku tersebut. Satya terus memeriksa satu per satu semua buku yang tersusun di sana. Hampir semuanya pernah dipinjam oleh Dira.
Merasa masih belum menemukan jawaban dari maksud Putra mengajaknya ke perpustakaan, Satya mulai berpindah ke rak buku yang lain dan memeriksa kembali satu per satu buku yang tersusun di sana. Nama Dira banyak tercantum di hampir setiap buku.
“Apa maksudnya sih, Put? Sumpah gue masih nggak ngerti. Lo mau kasih tau gue kalau Dira rajin baca buku?” Satya masih belum menemukan jawaban dari teka-teki yang dibuat oleh Putra.
Putra pun menjawab, “Salah satunya itu.”
“Terus? Ada lagi?” tanya Satya.
“Lo nggak kepikiran kenapa Dira rajin baca buku?” Putra balik bertanya.
Satya terdiam. Dia meletakan buku terakhir yang diperiksanya lalu kembali ke tempat duduknya.
“Sat, lo nggak bisa lihat seberapa keras Dira belajar untuk bisa mendapatkan nilai yang sempurna?” tanya Putra saat Satya sudah duduk di sebelahnya.
Satya menolehkan kepalanya pada Putra. Dia juga mengernyitkan dahinya karena masih tidak mengerti maksud ucapan Putra.
“Lo masih nggak ngerti juga ya, Sat?” Satya menjawab pertanyaan tersebut dengan sebuah gelengan kepala.
“Dira punya cita-cita yang mau dia kejar setelah lulus nanti. Dia mau dapat nilai sempurna karena walaupun dia nggak ngelanjutin kuliah, dia bisa dapat pekerjaan yang bagus biar nggak lagi ngerepotin Dirga. Terus, masa lo tiba-tiba ngomong kalau mau nikahin dia! Bukannya salah, niat lo bagus kok, gue dukung. Tapi coba liat dulu posisi Dira yang mencoba bangkit dari trauma dan berusaha keras sampai sebegitunya. Masa lo tega hancurin semuanya dan biarin dia teta terpuruk dalam trauma masa lalunya.” Panjang lebar putra memberitahukan semuanya pada Satya. Berusaha menyadarkan Satya jika dia tidak boleh terlalu memaksakan keinginannya pada Dira.
Jantung Satya seperti tertusuk sesuatu yang tajam tapi tidak terlihat, dan membuatnya menjadi sedikit sesak.
“Gue tahu kok, lo takut Dira kabur dari lo. Tapi apa lo nggak mikir, kalau semakin lo maksa dia, malah dia bisa semakin jauh dari lo?” Putra kembali berusaha mengingatkan Satya tentang hal tersebut.
“Gue ….” Satya mulai angkat bicara. “Takut kalau Dira akan ninggalin gue setelah kelulusan nanti. Karena gue sendiri sadar Dira masih mau jadi cewek gue karena dia takut terjadi apa-apa sama gue. Sama seperti cowok yang meninggal waktu itu saat nyelamatin Dira di hari kelulusannya.”
Putra tertegun mendengar ucapan Satya. Awalnya Putra tidak pernah menduga jika Satya akan memikirkan hal itu, tapi ternyata dugaannya salah. Justru Satya sangat memikirkan hal tersbeut.
“Put, menurut lo sekarang apa yang harus gue lakuin?” Satya meminta pendapat dari Putra.
Kemudian Putra menepuk bahu Satya dan berkata, “Jangan terlalu memaksa Dira. Biarin dia kejar cita-citanya dulu. Jodoh itu nggak akan kemana kok. Pembuktian perasaan lo juga nggak selalu harus dengan memaksa nikah kok.”
“Jadi gue harus diam saja? Mundur?” Satya tampak tidak bisa menerima hal tersebut.
Putra menjawab, “Gue nggak minta lo mundur, gue cuma mau lo jangan lagi terlalu memaksa Dira. Bukannya kalau kita mendukung pasangan kita juga tanda kalau kita cinta sama dia ya?”
Setelah perdebatan kecil antara Putra dan Satya, pada akhirnya Satya menerima masukan dari Putra untuk tidak lagi membahas masalah pernikahan di hadapan Dira. Satya mulai mengerti jika gadisnya itu masih butuh waktu untuk bisa berdiri di kedua kakinya sendiri tanpa memberatkan kakanya, dan juga sampai Dira benar-benar tidak dibayang-bayangi lagi oleh masa lalu yang sempat mengguncang mentalnya.
Berhubung waktu sudah petang, perpustakaan pun segera ditutup, Satya dan Putra keluar dari perpustakaan dan melangkahkan kaki mereka menuju ke parkiran motor. Mereka berdua akan pulang ke rumah masing-masing.
Sepanjang perjalanan Satya terus memikirkan ucapan Putra. Meski berat, tetapi hati Satya sudah memutuskan untuk mendukung semua rencana Dira setelah lulus tanpa lagi memaksakan kehendaknya pada Dira.
Sesampainya di rumah, ayah Satya yang seorang dokter keluar dari ruang praktek yang masih menyatu dengan rumah mereka. Namun, dia keluar dari ruang praktek bersama dengan seorang gadis muda yang mengenakan jas dokter.
“Satya! Kamu baru pulang?” tanya Dokter Hardi, ayahnya Satya.
Satya menghentikan langkahnya sebelum menaiki tangga. “Iya,” jawab Satya sambil menoleh sedikit ke arah sang papa.
“Sat, sini dulu sebentar,” panggil sang papa. “Papa mau kenalkan kamu dengan Jovanka,” sambungnya.
Tidak terbesit apapun dalam benak Satya, pemuda itu menuruti sang papa dan menghampirinya. Gadis bernama Jovanka itu mengulurkan tangannya saat Satya sudah berada di depan Doktre Hardi dan dirinya.
“Hai, aku Jovanka. Kamu boleh panggil aku Vanka,” kata gadis tersebut mengenalkan dirinya.
Uluran tangan Jovanka disambut dengan baik oleh Satya. “Satya,” balasnya singkat.
“Vanka, putra saya ini nantinya akan lulus sebagai sarjana Tekhnik. Dia tidak meneruskan profesi saya. Makanya nanti kamu yang meneruskan profesi saya ini ya, hahaha ….” Dokter Hardi tampak membubuhkan sedikit candaan dalam ucapannya.
Akan tetapi, Jovanka menanggapinya dengan serius. Dia langsung menatap Satya dengan cara yang berbeda karena mengira Dokter Hardi akan menjodohkannya dengan putranya itu.
“Pa, sudah deh jangan banyak bercanda. Nanti malah jadi salah paham,” kata Satya mencoba menghentikan sang papa.
“Kamu capek banget ya, Sat. Mama kamu sedang menyiapkan makanan di meja makan. Gimana kalau kita makan malam bareng-bareng sama Jovanka juga?” Dokter Hardi memberikan tawaran yang langsung membuat Jovanka tersenyum lebar.
“Aku sudah kenyang, Pa. Tadi makan sama teman sebelum pulang.” Satya bermaksud menghindarinya dengan sedikit berbohong.
Tidak, dia tidak sepenuhnya berbohong. Dia memang makan bersama Dira, Friska dan Putra siang tadi, bukan sebelum dia kembali ke rumahnya.
“Kamu yakin, Sat?” tanya Dokter Hardi.
“Yakin, Pa. Sudah dulu ya, aku mau istirahat di kamar,” tukas Satya yang kemudian langsung menaiki anak tangga meninggalkan sang papa dan Jovanka yang kini menatapnya dengan sedikit rasa kecewa.
Jovanka pun akhirnya berpamitan pada dokter Hardi. Dia akan kembali lagi esok hari untuk menemui dokter Hardi.
Jovanka Zemira, adalah mahasiswi kedokteran yang ingin mengambil spesialisasi kedokteran jiwa dan nantinya menjadi seorang psikiater seperti Dokter Hardi. Oleh karena itu Jovanka ingin belajar sekaligus praktik di tempat Dokter Hardi untuk menambah pengalamannya lebih dulu. Itu pun karena keinginan Jovanka sendiri, bukan karena dia sedang meanjutkan spesialisasinya. Jovanka masih harus menyelesaikan S1-nya terlebih dahulu sebelum mengampil spesialisasi.
Di dalam kamarnya Satya merenung dalam posisi berbaring di atas tempat tidurnya. Dia memikirkan kembali ucapan Putra di perpustakaan.
“Apa aku akan kehilangan kamu kalau aku tidak mengikatmu, Ra?” tanya Satya pada atap kamarnya.
“Nggak, nggak bisa begitu!” Satya kemudian bangkit dan mengambil ponsel dari saku celananya.
Satya berusaha mencari nomor telepon di ponselnya tersebut. Mas Dirga, nama yang tertera di layar ponselnya sekarang yang langsung dia hubungi.
“Halo, Sat,” kata Dirga saat menerima panggilan masuk dari Satya.
“Mas, ada yang aku mau omongin. Kita bisa ketemu?” pinta Satya dengan menggebu-gebu.
Apakah yang akan dibicarakan oleh Satya dan Dirga? Apakah menyangkut tentang Dira?