Sebelum lanjut membaca, pastikan kalian sudah tap tanda love dan follow akun aku ya :)
***
Setelah tidak mendapat jawaban yang diinginkannya dari Dira kemarin, Satya mulai menginterospeksi dirinya sendiri. Dia terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri apakah memikirkan pernikahan di usianya yang sekarang masih terlalu cepat? Tetapi apa boleh buat, Satya sudah terlanjur mencintai Dira dan tidak ingin jika gadis itu dimiliki oleh lelaki lain.
Hari berganti dengan hari. Satya tidak lagi membahas apapaun tentang niat untuk menikahi Dira. Dia tidak mau mendapat penolakan untuk yang kesekian kalinya dari Dira. Daripada nantinya Dira menjadi kesal karena terus-menerus mendengar pernyataan Satya tentang menjadikan Dira istrinya kelak, alangkah baiknya jika Satya memendam semuanya terlebih dahulu untuk saat ini. Dia akan meniti masa depannya sampai sudah tepat waktunya untuk melamar Dira langsung di hadapan Dirga.
Jadwal sidang skripsi Dira semakin dekat. Gadis itu pun sudah tidak mempunyai banyak waktu untuk sekedar duduk bersama di studio. Dira tiba-tiba menjadi orang yang sangat serius. Dia mengejar nilai sempurna saat sidang nanti.
Semua yang Dira lakukan sampai seperti ini tidak hanya untuk dirinya sendiri. Tetapi juga untuk kakaknya dan juga seseorang yang sudah tenang di syurga sana.
“Aku harus buktiin sama Kak Hiro kalau aku bisa mendapat nilai sempurna saat sidang skripsi nanti,” cetus Dira saat menatap dirinya di depan cermin.
“Dira! Kamu belum siap? Ada Satya nih, Ra!” seru Dirga dari balik pintu kamar Dira.
Dira pun balas berseru, “Sebentar, Mas. Dira keluar sekarang!”
Dira menghela nafas satu kali sehingga bahunya terlihat naik untuk sesaat. Kemudian Dira berjalan mendekat ke arah pintu. Dibukanya pintu kamar lalu dilangkahkan kakinya keluar. Dirga terus mendampingi snag adik sampai ke ruang tamu.
Hari ini adalah hari penentuan apakah skripsi yang dibuat oleh Dira sudah bisa diterima secara keseluruhan atau tidak, sekaligus hari dimana Dira akan mengetahui jadwal untuk sidang skripsinya.
“Ayo kita ke kampus, Ra,” ucap Satya seraya bangkit dari tempat duduknya.
Dira memutar tubuhnya menghadap Dirga. “Mas, Dira berangkat dulu ya,” kata Dira kemudian.
Setelah itu Dira dan Satya berangkat ke kampus bersama-sama. Satya selalu melontakan kata-kata yang menyemangati Dira. Tanggapan yang diberikan oleh Dira juga cukup baik. Mereka berdua tampak sesekali saling berbalas candaan di atas motor, juga tertawa bersama. Hal tersebut membuat Dira tidak terlalu tegang untuk menghadap dosen pembimbingnya nanti.
Saat sudah berada di kampus, Satya menunggu gadisnya yang sedang bertemu dengan dosen pembimbingnya. Satya memilih perpustakaan yang kebetulan sedang sepi, dan memilih kursi yang berada di paling pojok.
Hampir satu jam menunggu akhirnya Dira menunjukkan batang hidungnya sambil berlari ke arah Satya. “Satya! Skripsiku sudah diterima, dan aku akan sidang lusa.” Terdengar Dira sangat senang memberitahu Satya tentang hal tersebut.
“Lusa? Kok cepat banget, Ra? Yakin kamu sidang lusa?” Satya tampak tidak mempercayai jadwal sidang Dira yang terlalu cepat.
Namun, kemudian Dira menjelaskan jika dosen pembimbingnya ingin dia cepat-cepat menjalani sidang skripsi. Sang dosen ikut tidak sabar untuk meluluskan Dira.
“Kamu hebat ya, Ra. Lusa sudah langsung sidang. Aku saja masih harus revisi bab empat. Banyak yang dicoret-coret sama dosen pembimbingku, Ra.” Walau bibir Satya tersenyum, Dira masih bisa melihat kesedihan dari sorot matanya.
“Sat, kamu hanya perlu lebih fokus saja. Untuk sementara sebaiknya kamu libur dari kegiatan band dulu. Kurang nongkrong-nongkrong sama teman-teman kamu.” Dira memberikan saran yang memang seharusnya sudah Satya lakukan sejak lama.
Secara refleks tangan Satya membelai pipi mulus Dira. Akan tetapi tiba-tiba Dira menepis tangan Satya seolah dia tak mau disentuh.
"Eh, anu … maaf aku tidak sengaja." Dira terbata meminta maaf pada Satya.
Meski membuat Satya tersentak, akan tetapi Satya tidak langsung menjadikan hal tersebut sebuah masalah. Dia hanya mencoba memahami jika dia seharusnya tidak refleks ingin menyentuh Dira.
"Ra, kita makan dulu di kafe ya. Sudah siang, kamu pasti lapar," ajak Satya.
Sesaat setelah Satya menyelesaikan kalimat ajakannya tersebut, cacing-cacing dalam perut Dira langsung berbunyi menyuarakan dukungannya terhadap ajakan Satya. Bahkan suaranya hingga terdengar ke telinga Satya sehingga membuat pemuda itu tertawa.
"Perut kamu sudah keroncongan gitu. Ayo kita isi perut kamu dulu," ajak Satya sekali lagi.
Tidak bisa mengelak lagi, Dira pun menerima ajakan Satya untuk mengisi perutnya di sebuah kafe yang tidak terlalu jauh dari kampus. Mereka sebenarnya bisa saja makan di kantin kampus, tetapi Satya ingin suasana berbeda. Toh sebentar lagi juga mereka semua sudah lulus dari sana dan akan sangat sulit menikmati suasana kantin. Jadi daripada harus mengenang atau menyimpannya dalam memori, Satya memilih untuk melupakan suasana kantin di kampusnya perlahan-lahan.
Sementara itu, Friska yang juga baru saja menyelesaikan bimbingan skripsinya berlari keluar gedung fakultas sastra menuju ke gerbang kampus. Seorang pria menaiki sepeda motor sudah menunggunya di sana.
"Putra, maaf ya aku lama. Hosh … hosh … hosh …." Nafas Friska tersengal akibat berlarian.
"Nggak apa-apa kok. Ya sudah naik yuk. Aku mau ajak kamu makan di kafe yang ada di dekat kampus." Putra mengajak Friska untuk makan siang di kafe.
"Oke. Kebetulan aku juga sudah lapar banget!" jawab Friska dengan mantap.
Tanpa Friska tahu, Dira dan Satya juga memilih tempat yang sama untuk makan siang. Mereka berempat berpapasan di parkiran motor ketika Satya dan Dira baru saja turun dari motornya.
"Dira!" seru Friska memanggil nama sahabatnya.
Dira menoleh ke sumber suara. "Loh, Friska!" balas Dira kemudian.
Friska yang baru turun dari motor Putra langsung menghampiri Dira. Namun, Satya menunjukkan raut wajah kecewa karena sepertinya makan siang kali ini tidak hanya dirinya berdua dengan Dira.
"Kalian mau makan di sini juga? Kita satu meja aja kalau begitu!" seru Friska penuh semangat.
Tentunya Dira tidak akan menolak, karena dia dan Friska adalah teman baik. "Oke, boleh banget!"
Pada akhirnya Satya lagi yang harus menahan dirinya. Penyesalan tiba-tiba menyelimuti hati Satya. Jika tahu seperti ini, mungkin sebaiknya tadi Satya mengajak Dira makan di kantin kampus. Tetapi sepertinya sama saja, karena nanti akan ada pengganggu yang lainnya; anggota band Furizu.
Satya, Dira, Friska dan Putra duduk berpasangan di dua buah kursi panjang dengan sebuah meja berbentuk persegi panjang yang berada di tengah-tengah mereka.
"Ra, gimana skripsi kamu? Nggak ada revisi lagi kan?" tanya Friska.
Dira mengangguk mantap. "Sudah nggak ada revisi dong! Lusa aku sidang."
"Lusa??? Waahh teman aku satu ini emang hebat!" Friska mencubit kedua pipi Dira memberinya pujian.
Cubitan Friska di pipi Dira tidak membuatnya kesakitan, tetapi malah membuatnya tertawa senang. Tawa yang sangat jarang Dira tunjukkan di hadapan Satya.
"Kamu cantik kalau tertawa gitu, Ra," celetuk Satya.
Dira mendadak diam dan memasang raut wajah datar.
"Kamu apaan sih, Sat! Lagian aku sama Dira kan emang sering bercanda kayak gitu. Kamu nggak lagi cemburu sama aku kan?" tanya Friska heran.
Satya menggelengkan kepala dan menjawab, "Nggak cemburu, Fris. Masa aku cemburu sama kamu yang jelas-jelas cewek sih!"
"Terus kenapa tadi ngomongnya kayak gitu?" Friska merasa butuh penjelasan dari Satya.
"Aku cuma kangen aja lihat Dira tertawa tanpa benan kayak tadi. Karena sepertiny setelah aku keluar dari rumah sakit karena kecelakaan waktu itu sikap Dira jadi berubah," jawab Satya.
Kali ini Friska ikut terbungkam. Kedua matanya melirik ke arah Dira yang tampak menundukkan kepalanya.
"Entah mungkin Dira memang terpaksa atau nggak tetap bersamaku, tetapi hanya satu hal yang bisa aku pastikan. Selamanya, seumur hidupku, aku hanya akan memilih Dira dan akan terus berusaha membuat Dira benar-benar jatuh cinta padaku."
Satya mengatakan semua itu dengan lugas dengan tatapan yang lurus menatap pada Friska di depannya. Sementara Dira yang duduk sambil menundukkan kepala di sebelah Satya hanya bisa meremas lututnya menahan semua beban yang bersiap untuk meledak.
Tidak mudah sebenarnya menjadi deorang Dira. Mungkin dilihatnya Dira seperti mempermainkan perasaan Satya karena tidak memiliki perasaan serius pada pemuda itu. Tetapi masa lalu Dira yang ditinggalkan oleh lelaki yang pernah sangat dia sukai karena kecelakaan di depan matanya sendiri setelah acara wisuda baru saja selesai, membuat Dira harus menyembuhkan trauma mendalam di dirinya. Bahkan mentalnya juga pernah benar-benar terganggu dan sulit untuk stabil.
Ketakutan dalam diri Dira muncul kembali saat Satya kecelakaan. Seperti tidak ingin mengulangi kejadian yang sama, Dira memutuskan untuk tetap bersama dengan Satya sebagai kekasihnya hingga mereka semua lulus bersama dan bisa menentukan jalan hidup mereka setelahnya.
"Sat …," lirih Dira memanggil nama Satya.
Satya pun menolehkan kepalanya. "Iya, Ra?" sahut Satya.
"Tolong jangan lagi bahas tentang hal itu," pinta Dira lirih.
"Kenapa?"
"Karena … karena … aku tidak mau mendengar jika kamu tetap ingin bersamaku."
Satya menggenggam salah satu tangan Dira yang meremas lututnya. Dari cara Satya mengenggam tangan Dira dengan erat, Satya ingin menunjukkan rasa cintanya pada Dira lewat sentuhan telapak tangannya.
"Aku janji, Ra. Aku tidak akan lagi membahas tentang perasaanku atau tentang menikahimu. Tetapi suatu saat nanti aku pasti akan datang melamarmu di depan Mas Dirga, Ra." Satya mengatakannya dengan tegas.
Putra yang sedari tadi hanya diam saja akhirnya angkat bicara. Hatinya tergerak oleh keseriusan Satya. "Sat, kita bahas ini nanti saja lagi. Hanya antara kamu dan saya. Kita kan sama-sama lelaki jadi lebih enak kalau mau sharing. Kasihan itu Dira jadi diem aja begitu."
Satya mengangguk mengiyakan Putra. Lagipula sesaat kemudian makanan yang dipesan datang di diletakkan di atas meja. Mereka semua kemudian makan dalam suasana hening. Hanya terdengar denting alat makan yang menyentuh piring.
Sepertinya aku harus mengatakannya lebih cepat pada Satya sebelum semuanya terlambat. Jangan sampai Satya jadi semakin berharap dengan pernikahan.