Sebelum lanjut membaca, pastikan kalian sudah tap tanda love dan follow akun aku ya :)
***
“Ra …. Kamu mau kan nunggu aku sampai aku siap melamar kamu di hadapan Mas Dirga?” Satya menanyakan kesediaan Dira.
Bagaimana ini? Apa yang harus aku jawab? Apa mungkin jika aku bilang kalau aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini?
“Gimana ya, Sat? Mungkin sebaiknya kita bicarain itu lain kali saja,” jawab Dira.
“Memangnya kenapa, Ra? Kamu nggak mau ya?”
“Bukan begitu, usia kita masih terlalu muda untuk membicarakan maslaah lamaran, Sat.” Dira berusaha memberikan alasan yang tidak akan menyakitihati Satya.
Namun, Satya tak hendak menyerah. “Banyak kok yang nikah di usia yang lebih muda dari kita, Ra. Lagipula aku nggak mau melamar kamu dalam waktu dekat, aku hanya meminta kesediaan kamu menungguku sampai aku benar-benar siap.”
“Kita bicarain ini nanti lagi ya, Sat. Jujur, aku belum kepikiran sampai sejauh itu,” balas Dira.
Pada akhirnya Satya memutuskan untuk tidak melanjutkan lagi pembicaraan tersebut. Mungkin apa yang Dira katakan itu benar, mereka masih terlalu muda untuk membahas tentang pernikahan. Walau sebenarnya Satya hanya meminta Dira untuk menunggunya bukan untuk menikah saat itu juga.
Sepanjang sisa perjalanan hening hadir di antara Satya dan Dira. Tidak satupun dari mereka yang membuka suara. Sampai motor yang dikendarai oleh Satya berhenti tepat di depan rumah Dira.
“Sudah sampai, Ra. Aku mau mampir dulu boleh nggak?” tanya Satya pada Dira yang baru saja turun dari motornya.
Dira merasa jika dia butuh istirahat seorang diri. Jadi dengan sangat terpaksa Dira harus menolak permintaan Satya. “Maafin aku, Sat. Tapi kayaknya aku mau istirahat deh. Besok aja kita ketemu lagi pas bimbingan ya.”
“Oh, ya sudah kalau begitu. Aku langsung pamit pulang saja ya. Salam buat Mas Dirga.”
Kemudian Satya kembali melajukan sepeda motornya pergi dari hadapan Dira. Dira pun hanya bisa melihat Satya beserta sepeda motornya yang semakin jauh lalu menghilang dari pandangan.
Dari jendela rumah, Dirga sudah melihat kepulangan Dira. Pemuda itu langsung keluar dan menyambut kepulangan sang adik.
“Hai, Ra! Selamat datang kembali di rumah,” sambut Dirga.
“Tadaima (aku pulang),” ucap Dira menggunakan baha Jepang saat melewati pintu masuk.
Dirga pun berusaha membalasnya dengan bahasa yang sama. “O … o … oka apa Ra jawabnya?” Sayangnya dia tidak benar-benar mengerti bagaimana menjawbanya.
“Okaeri, Mas!” seru Dira. (Okaeri = selamat datang, yang digunakan untuk menyambut kepulangan anggota keluarga)
“Hahaha … ya mana Mas ngerti, Ra. Mas nggak belajar bahasa Jepang kayak kamu,” jelas Dirga.
Dira langsung menuju ke kamarnya diikuti oleh sang kakak. Saat hendak menutup pintu, tubuh Dirga yang lebih tinggi dan besar menghalangi gadis mungil itu.
“Kenapa mau ditutup pintunya?” tanya Dirga. Dia masih ingin banyak berbincang dengan adik tercintanya.
“Mas Dirga mau apa memangnya? Dira mau istirahat, Mas.”
“Yah … Mas Dirga nggak punya teman ngobrol dong! Si Satya tumben nggak mampir dulu ke sini.”
Dira menghela nafas sejenak lalu berkata, “Satya juga lagi skripsi. Nggak boleh banyak main. Dia juga harus ngerjain tugas skripsinya, Mas! Mas Dirga sana gih ke kamar sendiri. Dira mau istirahat.”
“Jadi Mas Dirga diusir nih, Ra?”
“Iya!” jawab Dira dengan mantap. “Sudah gih sana! Dira mau istirahat!” Dira kemudian mendorong tubuh sang kakak agar tidak menghalangi pintu kamar. Lalu dengan sedikit tenaga Dira menutup pintu kamarnya dan langsung menguncinya.
Di depan pintu kamar tersebut Dirga tampak menggaruk kepala belakangnya karena bingung dengan sikap adiknya yang belakangan mulai lebih sering menyendiri. Dirga hanya mengkhawatirkan kondisi mental sang adik yang pernah terganggu karena kematian pemuda itu. Tetapi kali ini Dirga berusaha berpikir positif, mungkin adiknya lebih ingin menyendiri karena sedang stress menghadapi skripsi.
“Mending aku buatin makan aja deh untuk Dira, siapa tahu moodnya bisa balik lagi,” gumam Dirga.
Sebagai kakak yang baik, Dirga memutuskan memasak makanan untuk sang adik. Dia memang tidak sepandai para chef dalam memasak, tetapi jika hanya memasak makanan yang mudah Dirga mampu melakukannya.
Setelah Dirga berada di dapur, dia melihat isi di dalam kulkas yang berada di sana. Bahan masakan apa saja yang tersisa di dalam sana.
“Spaghetti masih belum dibuka, hmm … ada sosis dan kornet sisa sedikit, ada bawang bombay jug, nah keju dan s**u masih ada juga. Kalau begitu mari kita buat spaghetti carbonara buat Dira.”
Pertama Dirga harus mencari ketersediaan bawang putih di dapurnya. Beruntungnya dia masih menemukan satu suing besar bawang putih. Dia mencincang bawang putih hingga halus lalu ditinggalkan sejenak untuk merebus spaghetti.
Sambil menunggu spaghetti yang dia rebus sampai kematangan yang pas, Dirga memotong bawang bombay dan sosis, dia juga mamarut keju kemudian ditempatkan di sebuah mangkuk yang berbeda dengan bawang bombay dan sosis.
Melihat dari caranya menyiapkan segala bahan makanan sepertinya Dirga sudah cukup terlatih, Ya, dia terlatih sejak tinggal berdua dengan sang adik dan harus merawatnya dengan baik.
Spaghetti yang direbus akhirnya matang. Dirga pun meniriskannya dan meletakkannya di sebuah piring besar. Kemudian Dirga mengganti panci yang tadi merebus spaghetti dengan sebuah wajan berukuran sedang. Dengan sedikit margarin Dirga menumis bawang purih yang sudah dicincang hingga harum lalu memasukkan kornet, sosis dan bawang bombay secara bersamaan.
Setelah diaduk-aduk hingga matang barulah dia menuangkan s**u ke wajan tersebut dan mengaduk-aduk kembali hingga mendidih. Kemudian Dirga memasukkan keju parut, lalu diaduk kembali hingga sedikit mengental. Barulah dia memasukkan spaghetti ke dalam wajan dan siaduk rata dengan api kecil.
Sungguh, Dirga benar-benar terampil dalam memasak. Mungkin suatu saat jika dia mempunyai kesempatan dia bisa belajar untuk menjadi chef terbaik.
“Taraa … spaghetti carbonara ala Dirga dengan dibubuhi bumbu dan cinta,” kata Dirga yang berlagak seperti seorang chef dalam mengenalkan masakannya. Namun, kemudian Dirga bergidik karena merinding dengan sikapnya sendiri.
Dibawanya sepiring spaghetti carbonara yang dimasaknya sendiri ke kamar sang adik. Diketuknya beberapa kali hingga sang adik membukakan pintu kamarnya dari dalam.
“Mas Dirga ada apa lagi sih? Dira baru juga berapa menit tidur,” keluh Dira karena kepalanya merasa pusing.
“Jangan marah-marah dulu, ini makan dulu mumpung baru matang.” Dirga menunjukkan sepiring spaghetti carbonara ke hadapan Dira.
Kedua mata Dira langsung berbinar-binar melihat spaghetti yang tampak lezat di depan matanya itu. Harum creamy-nya juga bisa tercium oleh hidung Dira.
“Ini buat Dira, Mas? Makasih ya! Mas Dirga memang baik!” Dira langsung menyambar piring yang diberikan oleh Dirga dan membawanya masuk ke dalam kamar.
Dirga pun ikut masuk ke dalam kamar Dira dan menemani sang adik menikmati makanan yang dia buatkan tadi.
Sluurrrppp!
Dira menyeruput spaghetti yang disuap ke dalam mulutnya hingga saus carbonara tersisa di sekitar bibirnya.
“Gimana, Ra? Enak?” tanya Dirga.
“Ueennaakk, Mas! Ternyata kakak Dira yang satu ini sudah jago masak,” jawab Dira memberi pujian.
Seperti biasa, sepasang kakak dan adik ini duduk berdampingan di lantai di samping ranjang Dira. Hal seperti ini memang selalu mereka lakukan jika ingin berbincang atau makan bersama-sama.
Dirga tampak menyunggingkan senyum saat melihat sang adik yang menikmati spaghetti buatannya dengan raut wajah yang sangat gembira. Bisa dibilang Dira sudah jarang menunjukkan raut wajah seperti itu. Dirga pun merindukannya.
“Gimana tadi bimbingan skripsinya, Ra? Lancar?” Dirga mulai menanyakan tentang perkembangan skripsi Dira.
Dira mengangguk menjawab pertanyaan Dirga. Dia masih terlalu sibuk menikmati spaghetti carbonara yang teramat nikmat itu.
“Terus kira-kira kapan jadwal sidang kamu?” tanya Dirga lagi.
Dira berusaha mengunyah dengan cepat makanan yang ada di dalam mulutnya lalu menelannya. Kemudian Dira menjawab pertanyaan sang kakak. “Masih belum tahu, Mas. Harus selesai sampai bab empat nanti baru dapat jadwal sidangnya, Mas.”
“Ribet gitu ya, Ra? Mas kira sudah kayak bikin bahan presentasi semasa SMA gitu, Ra. Tinggal bikin, serahin ke dosen, terus presentasiin deh.’
“Ya … mirip-mirip sih. Tetapi kalau ini kita punya dosen pembimbing untuk memeriksa hasil skripsi kita setiap bab dan dibimbing sampai hasilnya bagus sebelum nanti kita sidang di hadapan dosen-dosen lainnya lagi.” Dira mencoba menjelaskan agar sang kakak lebih mengerti dengan skripsi.
“Lalu setelah sidang kamu wisuda kan ya?”
“Iya, Mas.”
“Kamu mau lanjut kuliah S2 dimana, Ra? Biar Mas siapin lagi dananya kalau tabungan di rekening Mas Dirga kurang,” celetuk Dirga.
Kegiatan Dira pun terhenti untuk beberapa saat. Namun, kemudian dia memutuskan untuk melanjutkan makannya sampai spaghetti di piringnya habis tak tersisa. Dirga pun dengan sabar menunggu sang adik tanpa banyak bertanya lagi.
Spaghetti sudah habis disantap, Dirga pun sudah mencuci piring dan peralatan masaknya. Kini Dirga dan Dira duduk saling berhadapan di lantai.
“Mas, Dira boleh ya kalau nggak lanjut kuliah S2,” pinta Dira.
“Kenapa memangnya? Mas mau kamu mendapat pendidikan yang tinggi dan juga terbaik, Ra.” Dirga ingin memastikan jika dia bisa memberikan pendidikan yang tinggi untuk sang adik.
Dira menggelengkan kepalanya. “Dira nggak mau lanjut kuliah, Mas. Dira mau langsung cari kerja aja. Kasihan Mas Dirga kalau harus membiayai kuliah Dira lagi. Mas Dirga juga butuh biaya untuk masa depan Mas Dirga.”
Ternyata selain Dirga yang sangat memikirkan sang adik, Dira pun sama sangat memikirkan kakaknya. Dirga tersenyum, lalu menarik tubuh Dira agar masuk ke dalam pelukan hangatnya.
“Jangan mikirin Mas Dirga. Selama kamu bahagia, sebagai kakak tentunya Mas juga bahagia, Ra. Kalau kamu mau lanjut ke jenjang S2, kamu nggak perlu ragu untuk bilang ke Mas Dirga.” Dirga mengatakan hal tersebut sambil mengusap kepala sang adik.
“Mas … Dira tuh banyak ngerepotin Mas Dirga ya?” tanya Dira dari dalam lubuk hatinya.
“Hush!” Dirga mendorong tubuh sang adik. “Ngomong apa sih kamu ini, Ra! Mana ada adik yang merepotkan kakaknya sendiri.” Dirga pun membantah ucapan sang adik.
“Dira serius loh, Mas. Selama ini kan Mas Dirga yang selalu merawat Dira, membiayai pendidikan Dira. Bahkan saat kondisi kejiwaan Dira lagi nggak stabil aja Mas Dirga dengan sabar menghadapi Dira. Dira itu udah banyak nyusahin Mas Dirga. Makanya sekarang Dira mau Mas Driga mulai menyusun masa depan Mas Dirga sendiri. Dira juga udah dewasa dan harus bisa apa-apa sendiri.” Dengan kedua mata yang berlinang Dira mengungkapkan semua itu pada sang kakak.
Dirga sendiri tidak pernah banyak menuntut pada sang adik walau dia sudah memenuhi segala kebutuhan adiknya. Tetapi yang Dirga inginkan hanya sang adik bahagia. Ya, hanya itu saja.
Dirga menarik kepala Dira lalu mengecup kening adiknya lama. “Kalau kamu nggak mau lanjut S2 sekarang nggak apa-apa, Ra. Tetapi jangan sungkan bilang sama Mas Dirga kalau nanti kamu sudah kepikiran mau lanjut S2,” ujarnya kemudian.
Dira mengangguk lalu kembali memeluk sang kakak dengan manja.
Bisa dibilang Dira sangat beruntung memiliki Dirga sebagai seorang kakak yang juga bisa dijadikan sebagai teman curhat yang baik. Banyak hal tentunya ingin Dira lakukan untuk sang kakak sebagai balasan karena sudah berjuang dengan baik untuk memenuhi segala kebutuhan Dira.
____________________
Duuhh Dirga tuh kakak idaman banget sih. Jadi pengen punya kakak kayak Dirga deh, hehehe ...
Tulis komentar kalian yaa guys :))