Part 7 - Merindukan Dira Yang Dulu

1533 Words
Sebelum lanjut membaca, pastikan kalian sudah tap tanda love dan follow aku ya :)) *** Bersamamu adalah sebuah keharusan untukku Bukan karena rasa cinta yang sudah membuncah Tetapi karena rasa bersalah yang membelenggu - Indira Maheswari – *** Dira duduk di kursi taman belakang kampus sembari mendengarkan musik dari earphone yang terpasang di kedua telinganya. Ujung kabel earphone tersebut menancap di ponsel milik Dira yang saat ini diletakkan di sebelahnya. Matanya terpejam dan kepalanya bergoyang ke kiri dan kanan mengikuti alunan musik yang sedang didengarkannya. Kemudian tiba-tiba kedua mata Dira terbuka saat teringat jika sebelumnya dia juga pernah melihat seseorang melakukan hal yang sama sepertinya. Menikmati musik dengan cara dan di tempat yang sama seperti saat ini. “Tuh kan. Keinget lagi deh sama dia,” lirih Dira yang kemudian melepaskan earphone dari telinganya. Dira mematikan musik di ponselnya, mencabut ujung kabel earphone yang tertancap di sana, lalu menggulung earphone miliknya dan memasukkannya ke dalam tas ransel berwarna hitam. Sementara ponselnya dia masukkan ke saku celana sebelah kiri setelah dia bangkit berdiri. Dira kemudian melangkahkan kakinya sambil menikmati hembusan angin sepoi-sepoi yang menerpanya. Dari belakang, Satya berlari menghampiri gadisnya itu. “Dira!” seru Satya saat menghampirinya. Mendengar suara Satya yang menyerukan namanya Dira pun menolehkan kepalanya ke belakang. Dilihatnya Satya yang berlari sambil melambaikan tangannya. “Hosh … hosh … hosh …. Untung aku lihat kamu dari sana, Ra.” Dengan nafas tersengal Satya menunjuk ke arah kedatangannya barusan. “Kamu kenapa nyariin aku? Bukannya kamu masih ada kelas?” tanya Dira penasaran. “Aku mau mastiin kalau kamu benaran udah gak marah lagi sama aku masalah yang kemarin,” jelas Satya. Pemuda itu sangat takut jika Dira marah atas kebohongan yang dia buat sehingga membuat gadis itu meninggalkannya. Namun, pandangan Dira langsung mengarah pada luka jahitan di tangan Satya. Pemuda itu mengenakan T-shirt dengan lengan pendek sehingga bekas lukanya tidak tertutup dan bisa dilihat dengan jelas. “Aku sudah nggak marah. Kemarin aku hanya kesal karena kamu sudah berbohong sama aku.” Dira memberi penjelasan tentang sikapnya kemarin. “Lain kali jangan kayak gitu lagi ya!” tegas Dira memperingati Satya. Satya mengangguk dengan mantap. “Tapi kamu nggak akan mutusin aku lagi kan, Ra?” Dia pun berusaha memastikan. Dira menyunggingkan senyum simpul lalu mengangguk pelan. Satya yang bahagia karena hubungannya dengan Dira masih akan baik-baik saja langsung menarik tubuh gadis mungil itu dan memeluknya erat. “Aku janji nggak akan ngelakuin hal konyol kayak kemarin lagi, Ra! Aku juga janji akan selalu bikin kamu senang. Jujur, Ra, aku kangen kamu yang dulu. Kamu yang selalu ceria dan jejingkrakan.” Satya meluapkan kerinduannya pada Dira yang dia kenal dulu. Satya tidak berlama-lama memeluk Dira karena dia merasa tidak enak hati jika nanti ada yang melihatnya. Mereka masih berada di dalam wilayah kampus yang memungkinkan ada mahasiswa atau dosen yang melintas di tempat mereka. “Hari ini kamu pulang sendiri nggak apa-apa ya, karena aku masih ada kelas. Nanti juga aku dan teman-teman mau mampir ke studio dulu. Kita mau coba buka channel di Youtube untuk promosiin band kita,” ujar Satya. “Iya, Sat. Kamu jangan terlalu lelah, kamu kan masih harus banyak istirahat.” Dira menunjukkan perhatiannya pada Satya. “Jangan khawatir, Ra. Aku kan kuat, hehehe,” jawab Satya terkekeh. Kemudian Satya langsung berlari kembali ke arah kedatangannya tadi, meninggalkan Dira yang masih mematung menatap punggung Satya hingga menghilang dari pandangannya. “Iya, kamu benar. Kamu memang kuat, Sat. Kamu bahkan masih bisa selamat dari kecelakaan waktu itu. Tidak seperti dia yang pergi terlalu cepat,” gumam Dira lirih. Bayangan pemuda yang sudah tidak berada lagi di dunia ini memang masih sangat melekat dalam ingatan Dira. Bahkan perasaan untuknya pun masih sama seperti sebelumnya. Bukan Dira bermaksud mengasihani Satya yang sudah sangat mencintainya, tetapi Dira masih bersama dengan Satya sampai saat ini juga karena dia mempunyai rasa bersalah pada pemuda itu. Kecelakaan yang menimpa Satya sebelumnya seperti membuat ketakutan akan kehilangan seseorang lagi dalam hidupnya muncul ke permukaan. Setidaknya, biarkan aku memastikan jika Satya tetap hidup hingga hari kelulusan nanti, ucap Dira dalam hatinya. Dira pun kemudian melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda tadi. Dia ingin cepat kembali ke rumah agar bisa mengistirahatkan dirinya. *** Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun pun juga berganti dengan tahun. Hubungan antara Satya dengan Dira selalu baik tanpa ada masalah besar yang hadir di antara mereka. Walau masih belum kembali ceria seperti Dira yang Satya kenal dulu, tetapi setidaknya Dira selalu menunjukkan senyum pada Satya saat mereka bersama. Dira benar-benar membuat Satya menjadi serius dalam menempuh pendidikannya. Dira dan semua orang terdekat Satya sudah sangat mengetahui jika dia suka membolos sebelum bertemu dengan Dira. Bahkan beberapa kali Satya harus mendapatkan nilai IP yang rendah yang membuat kedua orang tuanya harus menepuk dahi mereka. Tetapi Satya yang sekarang sudah berbeda. IP yang dia dapatkan di tiap semester cukuplah baik. Kedua orang tuanya sampai mengucapkan terima kasih yang sebsar-besarnya pada Dira karena sudah membawa perubahan yang baik untuk Satya. “Haduh … gue pusing sama skripsi, Sat!” keluh Robi yang kemudian terduduk lesu di samping Satya di studio band. Di dalam studio tersebut tidak hanya ada Satya dan Robi, tetapi juga Dira, Friska, dan tiga orang teman Satya lainnya. Mereka semua sering menyempatkan diri berkumpul di studio band sesaat setelah bimbingan skripsi berakhir. “Apanya yang dipusingin sih, Rob? Kamu aja nggak pernah belajar,” celetuk Friska dengan nada sedikit mengejek. Tubuh Robi yang tadinya lesu langsung menegak dan menghadap ke arah Friska. “Kamu ya, Fris! Pacar kamu tuh ngajarin kamu biar nggak usah ngejek orang nggak sih?” sungut Robi sambil menunjuk ke arah Friska. Bukannya takut, Friska dan yang lainnya malah tertawa menanggapi Robi yang tampak seperti orang tersulur emosi. Namun, semua orang tahu jika dia tidak benar-benar marah pada Friska. Tetapi di antara semua orang yang sedang menertawai Robi, hanya ada satu orang yang hanya tersenyum simpul dan tetap fokus pada kegiatannya membaca sebuah buku tebal. Orang itu adalah Dira. Sepertinya buku tersebut dijadikan referensi untuk bahan skripsinya. “Ra, kamu sendiri gimana bimbingan hari ini?” tanya Satya dengan lembut. Dira menolehkan kepalanya dan menjawab, “Nggak ada masalah kok. Ini udah masuk bab tiga.” “Setelah lulus, kamu mau lanjut S2 atau mau kerja?” tanya Satya lagi. “Hmm … sepertinya aku akan langsung cari kerja. Kasihan Mas Dirga kalau harus biayai kuliah S2-ku.” Tiba-tiba Dastan menginterupsi. “Lo sendiri mau lanjut S2 atau udah kita fokus ngeband aja gitu?” “Anak teknik emang nggak mau kerja di perusahaan-perusahaan besar gitu?” sahut Friska. “Maunya sih gitu, tapi nilai gue kayaknya nggak masuk deh ini.” Memasang raut wajah sedih Robi menjawab pertanyaan Friska. Kemudian terdengar dering ponsel Dira dari dalam tas ranselnya. Dira kemudian merogoh tas ranselnya dan mengeluarkan ponsel dari dalamnya. Dari layar ponselnya bisa terlihat jika Dirga menghubunginya. Dengan cepat Dira menerima panggilan telepon dari kakaknya itu. “Halo, Mas?” “Kamu dimana, Ra?” tanya Dirga. Dira menjawab, “Aku masih di studio, Mas. Ada apa?” “Mas jemput kamu ya, Ra. Mas udah pulang nih.” Dirga menawarkan jemputan pada Dira. Samar-samar Satya yang duduk di sebelah Dira masih bisa mendengar penawaran Dirga di seberang telepon sana. Satya pun langsung berteriak di tempatnya, “Nggak usah, Mas. Dira pulang sama saya!” “Itu si Satya ya, Ra? Udah berani dia teriak-teriak gitu sama Mas Dirga?” Dirga terdengar kesal dengan sikap Satya tadi. “Hihihi … jangan dimarahin, Mas. Anak orang itu,” celetuk Dira dihiasi tawa kecil dari bibirnya. Setelah sekian lama akhirnya Satya bisa melihat lagi Dira yang tertawa sama seperti yang dulu. Tetapi itu bukan karena Satya, melainkan karena Dirga. “Ra, kita pulang yuk!” ajak Satya setelah Dira mengakhiri panggilan teleponnya. Dira mengangguk dan menuruti ajakan Satya. Dia melambaikan tangannya saat berpamitan pada teman-teman lainnya yang berada di studio. Dengan motor sport baru pemberian orang tuanya Satya mengantarkan Dira pulang ke rumah. Di dalam perjalanan mata Satya sesekali melirik ke belakang melalui kaca spion motornya. Satya bisa meihat jika gadis yang duduk di belakangnya kini tidak lepas melempar pandangannya ke arah langit. “Ra, kamu lihatin apa sih?” tanya Satya penasaran. “Aku lagi lihat langit aja. Sudah sore, tetapi kok masih terang banget ya,” jawab Dira. “Ra, setelah lulus nanti kamu masih akan tetap jadi pacarku kan?” “Kenapa kamu tanya begitu?” Dira tampak terkejut. “Karena kali ini tujuanku ingin menjadikan kamu pendamping hidupku, Ra. Aku mau menjadikan kamu istriku kelak,” jawab Satya dengan mantap dan tanpa terlihat keraguan sedikit pun. Sementara di belakangnya kini Dira menundukkan kepalanya dan tergugu. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri jika akan bersama dengan Satya hingga kelulusan tiba. Tetapi setelah sekian lama menjalin hubungan dengan Satya, Dira masih belum bisa mencintai pemuda itu. Perasaan untuk pemuda yang sudah tiada masih tidak mau menyingkir dari sudut hatinya. “Ra …. Kamu mau kan nunggu aku sampai aku siap melamar kamu di hadapan Mas Dirga?” Satya menanyakan kesediaan Dira. Bagaimana ini? Apa yang harus aku jawab? Apa mungkin jika aku bilang kalau aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini? Apakah jawaban yang akan Dira berikan pada Satya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD