“YEAAYY!!” Satya bersorak dengan lantang sambil mengangkat kedua tangannya. “Lihat tangan gue udah nggak pakai gips lagi!” sambungnya.
Setelah beberapa kali bolak-balik memeriksakan kondisi tangannya ke rumah sakit dalam waktu dua bulan ini, Satya akhirnya bisa melepaskan gips yang dipasang di tangannya. Kondisi tulangnya sudah tersambung sempurna. Satya sudah tidak perlu lagi merasakan kesusahan saat beraktivitas dengan satu tangannya.
“Sat, kalau sudah dilepas gitu nanti nggak bakal disuapin Dira lagi dong!” celetuk Irham.
“Eh, lo benar juga, Ham! Masa gue harus pasang gips lagi sih!” sahut Satya.
Kemudian Robi yang duduk di samping Satya membisikkan sebuah ide di telinga temannya itu. “Gimana ide gue, Sat?” tanya Robi kemudian.
“Tapi dimana gue beli perban?” balik Satya bertanya.
“Perban? buat apaan emangnya?” Dastan penasaran mengapa Satya membutuhkah perban.
Robi terkekeh lalu membisikkan idenya tadi pada Dastan. “Hahaha … yang benar aja sih lo, Rob! Gila benar ide lo itu. Niat banget ngibulin Dira kayak gitu!” Dastan tertawa setelah mengetahui ide Robi.
“Bukan gila! Demi teman kita biar langgeng hubungannya sama Dira. Iya kan? Iya kan?” Robi meminta pembelaan dari teman-teman lainnya.
Miko memukul lengan Robi. “Iya kan, iya kan gimana coba? Gue aja belum tahu idenya apaan!” seru Miko.
“Oh iya juga ya,” Robi menepuk dahinya.
Kemudian Robi mengajak semua teman-temannya membentuk sebuah lingkaran kecil. Merapatkan tubuh mereka masing-masing lalu membisikkan ide yang dia cetuskan.
“Hah? Pura-pura masih sakit??? Beli perban di apotek???” Secara serempak Miko dan Irham terkejut.
“Siapa yang bisa masang perban di antara kita?” timpal Irham.
“Itu sih gampang! Tinggal digulung-gulung aja di tangannya Satya, selesai deh,” jawab Robi dengan entengnya.
Mata mereka semua kemudian tertuju ke atu arah. Menatap Satya menunggu keputusan yang akan diambilnya. Apa dia akan mengikuti ide yang diberikan oleh Robi atau tidak.
“Kenapa jadi pada ngelihatin gue sih?” tanya Satya.
“Menurut lo gimana?” balik Dastan bertanya.
Satya mengendikkan kedua bahunya dan pergi ke tempatnya. Robi mengikuti di belakang Satya sambil terus membujuk temannya tersebut agar mengikuti idenya.
“Gue beliin deh perbannya, lo mau kan? Masa nanti gue nggak lihat lagi lo disuapin sama Dira sih,” kata Robi membujuk Satya.
“Kalau ketahuan gimana?” Satya mengkhawatirkan hal tersebut.
“Tenang, Sat. Nggak bakal ketahuan kok,” jawab Robi dengan sangat yakin.
Mata Satya menatap keempat temannya satu per satu. Dia juga tidak mau perhatian Dira langsung pudar jika mengetahui tangan Satya sudah benar-benar pulih. Dia masih ingin menikmati rasanya dimanjakan oleh gadis yang sangat dia cintai.
“Gimana?” tanya Robi lagi.
“Ya sudah deh, tapi lo yang ke apotek beliin perbannya ya!” Satya menyetujuinya.
Dengan raut wajah senang dan senyum sumringahnya Robi berlari keluar kelas mencari apotek terdekat dari kampusnya. Sebenarnya dia sangat takut jika hubungan Satya dan Dira akan kandas begitu kondisi tangan Satya sudah baik-baik saja. Karena Robi adalah orang yang sangat mengetahui perjuangan Satya untuk mendapatkan gadis itu.
Tak lama kemudian Robi kembali dengan membawa barang-barang yang dibutuhkan untuk membalut kembali tangan Satya. Dia juga melakukan eksekusi langsung pada tangan Satya sebelum nanti Dira datang mencarinya.
“Nah, selesai kan,” ucap Robi setelah melakukan pekerjaannya membalut tangan Satya.
“Beneran nih ya gue nggak bakal ketahuan?” Satya kembali memastikan.
“Percaya sama gue, Sat. Dira nggak bakal curiga. Kalau dia tanya kenapa tangan lo jadi nggak pakai gips lagi, bilang aja gipsnya sudah dilepas, tapi masih harus pakai perban. Udah, gitu aja.” Robi memberikan instruksi pada Satya agar dirinya tidak bingung saat ditanyakan oleh Dira nanti.
Tepat setelah Robi mengucapkan hal tersebut, Dira memunculkan batang hidungnya dari depan pintu kelas.
“Sat, kamu nggak mau ke kantin?” tanya Dira dari depan kelas tanpa masuk ke dalamnya.
Satya melirikkan matanya pada Robi. Pemuda itu tampak sangat khawatir jika harus ketahuan. Tetapi Robi meyakinkan temannya itu dengan menepuk punggungnya serta mendorongnya maju untuk menghampiri Dira.
Melihat sesuatu yang berbeda dari tangan Satya, Dira langsung mengernyitkan dahinya dan bertanya, "Sat, tangan kamu nggak pakai gips lagi?"
Pertanyaan tersebut sesuai dengan yang Robi katakan tadi. Satya pun menjawab, "Iya, Ra. Sudah dilepas. Sekarang pakai perban aja."
"Kalau begitu tangan kamu sembuh?"
"Hmm … kalau itu sih belum, Ra. I-ini masih diperban," jawab Satya terbata.
Untungnya Dira mempercayainya begitu saja tanpa banyak bertanya lagi. Satya bisa menghela napas lega.
Mereka berdua kini berjalan menuju ke kantin. Di dalam kelas tadi Robi beserta tiga orang lainnya tampak merayakan keberhasilan mereka dengan saling melakukan 'tos'.
Satya sengaja berjalan di belakang Dira untuk sedikit meredakan kekhawatirannya. Beruntungnya lagi Dira tidak banyak bicara apalagi sampai menoleh ke belakang, jadi Satya tidak perlu melihat wajah Dira dan menunjukkan kekhawatirannya.
Sesampainya di kantin, suasana di sana tampak ramai dengan mahasiswa dan mahasiswi yang tampak kelaparan.
"Kita nggak kebagian tempat deh kayaknya. Gimana dong?" tanya Dira.
"Eh, gimana ya? Ya sudah nggak usah makan aja deh," jawab Satya.
"Memang kamu nggak lapar? Atau sebentar deh aku beli roti aja buat ganjal perut. Kamu tunggu di sini ya." Dira pun langsung meninggalkan Satya untuk membeli roti.
Satya memperhatikan tubuh mungil Dira yang menerobos kerumunan mahasiswa dan mahasiswi agar bisa sampai ke depan kedai yang menjual roti. Namun, tiba-tiba dari arah samping seorang mahasiswa berlari dengan cepat dan menabrak Dira hingga terjatuh duduk.
“DIRA!” teriak Satya seraya berlari menghampiri Dira.
Mahasiswa yang menabrak Dira tadi mengulurkan tangannya untuk membantu gadis itu berdiri sambil terus mengucapkan kata maaf dari bibirnya. Tetapi Satya datang lalu menghempaskan tangan mahasiswa tersebut dan memakinya.
“Kalau jalan pakai mata dong! Nggak lihat apa ada orang di depan lo?! Lagi ramai begini kenapa pakai lari-larian sih!”
“Maaf, maaf, gue nggak sengaja. Beneran. Gue ngejar kelas selanjutnya karena dosennya mau buru-buru pulang,” ucap mahasiswa tersebut.
“Sat, udah nggak apa-apa sih. Aku juga yang jalannya nggak lihat-lihat. Sudah ya. Maafin aku juga ya.” Dira ikut meminta maaf karena merasa tidak sepenuhnya kesalahan ada pada mahasiswa tadi.
“Tuh. lo dengar kan! Untung cewek gue ini orangnya baik, jadi gue nggak nonjok lo!” Satya membawa tangannya yang terkepal ke samping wajahnya seolah ingin meninju mahasiswa di depannya tersebut.
Sayangnya hal tersebut membuat Dira menyadari jika tangan yang terbalut perban itu sudah pulih dan bisa digerakkan dengan mudah.
“Sudah sana pergi!” Satya mengibaskan tangannya mengusir mahasiswa tadi.
Keributan kecil barusan membuat orang-orang yang berada di kantin sempat memperhatikan mereka. Tetapi setelah mahasiswa tadi pergi semua mata juga langsung berpaling ke arah lain. Mereka kembali sibuk dengan urusan mereka sebelumnya.
“Ayo, Ra. Aku antar beli rotinya,” ajak Satya. Dia tidak mau gadisnya itu sampai tertabrak orang lain lagi.
“Sat, tunggu deh.” Dira menarik tangan Satya yang terbalut perban. “Ini udah sembuh ya?” tanyanya kemudian.
Kedua bola mata Satya melebar setelah menyadari kecerobohannya tadi. Dira jadi mengetahui jika Satya berbohong.
“Kamu bohong ya sama aku?” tambah Dira bertanya.
“I-ini … ini … aku bisa jelasin kok, Ra,” jawab Satya terbata.
Wajah imut Dira kini terlihat sangat menakutkan dalam pandangan Satya. Tatapan matanya juga lurus meminta penjelasan.
Satya menggaruk kepalanya sambil menyengir seperti kuda. Sepertinya kali ini dia akan mendapatkan omelan yang tak henti-henti dari gadis di depannya itu. Bahkan mungkin dia akan mendapat omelan yang lebih panjang lagi seperti kereta oleh Dirga, kakaknya Dira.
Dira membawa Satya ke taman belakang kampus. Mereka berdua kini berdiri berhadapan dengan Dira yang melipat kedua tangannya di depan dadanya.
"Aku bisa jelasin, Ra," lirih Satya.
"Mau jelasin apa? Kamu udah bohongin aku, Sat. Jangan-jangan tangan kamu itu sembuhnya udah lama," terka Dira.
Satya menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Nggak, Ra. Sumpah," bantah Satya. "Baru dibuka hari ini gips di tanganku. Cuma …."
"Cuma apa?" Dira tak sabar menunggu kelanjutan kalimat Satya.
"Cuma aku takut kalau aku sudah sembuh, kamu malah ngejauh dariku," kata Satya melanjutkan kalimatnya.
Seketika bibir Dira terkatup. Gadis itu terdiam dan tak bisa membalas ucapan Satya.
"Ra, kamu mau maafin aku kan? Aku janji nggak akan bohong-bohong lagi sama kamu," Satya memohon pada gadis di hadapannya.
Bingung harus menjawab apa, Dira menganggukkan kepalanya pelan. Dia memaafkan Satya. Dia sudah berjanji dengan dirinya sendiri jika akan menemani Satya hingga mereka lulus nanti.
"Makasih, Ra," ucap Satya selanjutnya.
Kemudian Satya membuka balutan perban perlahan-lahan dari tangannya. Terlihat jelas terdapat luka di tangan Satya bekas jahitan operasi. Walau tangan Satya sudah baik-baik saja, tetapi luka bekas jahitan akan tetap berada di sana.
Tatapan mata Dira berubah sendu saat luka bekas operasi tersebut sudah tidak tertutupi lagi. Rasa bersalah mulai menghampirinya lagi. Entah sampai kapan perasaan itu akan hinggap di hati Dira. Apakah sampai hubungannya dengan Satya berakhir?