Bersama dengan keempat pemuda lainnya kini Friska memesan makanan di salah satu rumah makan padang yang letaknya tidak jauh dari rumah Satya. Mereka berlima sengaja memesan untuk makan di tempat. Agar waktu berduaan Satya dengan Dira menjadi sedikit lebih lama.
“Fris, itu daun singkongnya nggak dimakan? Boleh buat gue nggak?” celetuk Robi yang melihat daun singkong di piring Friska yang masih utuh.
Dengan tangannya Friska menyomot daun singkong tersebut dan memindahkannya ke piring Robi. “Nih, buat kamu. Sayang juga kan kalau kebuang.”
Melihat hal tersebut Dastan langsung menyambar setengah dari daun singkong yang diberikan Friska, dan memindahkan ke atas piringnya. Robi pun menggerutu, “Ah, lo mah gitu! Itu kan daun singkong punya gue, kenapa lo main embat aja!”
Sambil tertawa Irham menengahi. “Sudah, sudah! Nih makan sisa daun singkong punya gue. Biar pada nggak berebutan.” Diberikan daun singkong yang sudah tersisa sedikit ke piring Robi.
Melihat kelakuan teman-teman Satya yang bertengkar hanya karena daun singkong membuat Friska geleng-geleng kepala. Padahal jika mereka masih ingin memakan daun singkong, mereka bisa memesannya lagi.
Namun, sebagai mahasiswa yang tidak terlahir dari kalangan keluarga yang kaya raya seperti Satya tentunya mereka memgang prinsip hidup hemat. Jika mereka harus membayar lagi nantinya tentu saja mereka tidak akan melakukannya.
“Eh, ngomong-ngomong si Satya sama Dira nggak jadi putus ‘kan ya?” tanya Dastan di sela-sela kegiatan mereka mengunyah makanan.
Miko menjawab, “Kayaknya sih nggak jadi deh. Itu buktinya mereka baik-baik aja ‘kan!”
“Tapi gue nggak habis pikir sampai segitu cintanya si Satya sama Dira. Sampai rela kecelakaan begitu,” timpal Irham.
“Hus! Kecelakaan kok rela sih. Lagian siapa sih yang rela atau bersedia kecelakaan? Namanya kecelakaan ya diluar kendali kita. Nggak bisa diprediksi juga kita bakal kecelakaan apa nggak,” sahut Robi yang kini mengambil segelas es teh manis di hadapannya untuk melegakan tenggorokannya.
“Eh, tapi si Dira bukannya masih susah move on dari cowok yang udah meninggal waktu itu?” tanya Irham menambahi.
Mendengar hal tersebut Friska langsung menghentikan tanganya yang sudah siap menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Mata Friska perlahan melirik tajam ke arah Irham karena pertanyaanyang dia lontarkan barusan.
Keempat pemuda itu kemudian menoleh serentak pada Friska. Memberikan pandangan menuntut agar gadis itu bisa menjelaskan pada mereka tentang Dira dan lelaki yang sudah tiada itu.
“Fris, lo pasti tahu gimana sebenarnya perasaan Dira. Dia tuh sebenarnya serius sama Satya atau masih nyimpan perasaan sama si cowok itu sih?” Dastan mewakili ketiga temannya menanyakan hal tersebut.
“Lo pasti tahu dong, Fris. Karena lo sama Dira kan sahabatan dekat banget. Dira juga pasti sering cerita sama lo,” timpal Irham.
Merasa tersudutkan, Friska akhirnya angkat bicara. “Aku sama Dira emang deket banget. Sahabatan juga udah lama banget. Tapi kalau urusan perasaan si Dira itu udah tertutup sama aku. Lagian kenapa juga sih kalian ribet ngurusin hubungan Dira sama Satya? Biarin aja mereka ngejalanin hubungan mereka tanpa harus kita gerecokin.”
Jawaban yang diberikan Friska masih belum memuaskan keempat pemuda tersebut. Kini giliran Robi yang melontarkan pertanyaannya pada Friska. “Tapi gimana kalau nyatanya Dira itu nggak serius sama Satya? Emang lo nggak kasihan lihat Satya udah kecelakaan gini tapi masih nggak diseriusin juga?”
“Sekarang gini, apa kalian nggak prihatin kalau misalnya Dira harus nerima Satya hanya karena kasihan? Aku bukan bilang itu perasaan Dira yang sebenarnya ya. Tapi aku cuma nggak mau nantinya mereka berdua malah jadi saing membenci karena udah maksain perasaan masing-masing.” Friska berusaha membuka pikiran keempat pemuda yang ada di sana. Baginya tidak harus bersama jika ingin mendapatkan bahagia.
“Iya juga sih!” seru Robi. “Udah deh kita nggak usah ikut campur. Kalau emang Satya curhat dan butuh solusi, ya kita bantu. Tapi jangan sampai kita terlalu ikut campur hubungan mereka,” tambahnya.
Sempat terdiam sejenak, tetapi kemudian semuanya setuju untuk menahan diri mereka atas rasa keingintahuan hubungan antara Satya dan Dira. memang hanya itu yang bisa mereka lakukan sebagai teman yang baik.
Setelah mereka semua sudah selesai, mereka memesankan dua bungkus nasi padang untuk Satya dan Dira. Jangan tanya siapa yang membayar karena keempat pemuda itu sangatlah hemat.
Mereka berlima kemudian berjalan kaki kembali ke tempat tinggal Satya. Rumah tersebut sudah seperti tempat tinggal sendiri bagi keempat teman Satya. Sehingga saat masuk ke dalam rumah tersebut, tanpa merasa sungkan mereka langsung berlarian menuju ke kamar Satya.
“Woy, Sat! Nih gue beliin nasi padang buat lo sama Dira,” ucap Robi dengan lantang saat masuk ke kamar Satya.
Friska yang merasa mengeluarkan uang untuk dua bungkus nasi tersebut langsung mengerutkan dahinya ke arah Robi. Di dalam hatinya Friska ingin menggerutu, Enak saja ini orang bilang dia yang beli. Jelas-jelas aku yang bayar!
Diberikan dua bungkus nasi tersebut pada Dira. Lalu Satya memasang raut wajah memohon seperti anak kecil dan meminta Dira untuk menyuapinya.
“Ra, suapin …,” pinta Satya dengan nada suara dibuat manja.
“Bukannya tangan kamu yang satunya baik-baik aja? Aku ambilin sendok aja ya,” balas Dira.
“Aku maunya disuapin dari tangan kamu, Ra. Hehehe ....” Satya terkekeh.
Dira menghela nafas sejenak kemudian menuruti permintaan Satya. Friska yang mengenal Dira sejak lama merasakan keanehan dari sikap Dira yang tidak menolak sedikit pun permintaan Satya. Biasanya gadis itu akan berseru lantang mengucapkan penolakannya terlebih dulu, mengajak berdebat dan barulah menurut karena terpaksa.
“Ya ampun so sweet banget sih kalian berdua. Kalau begitu kita pulang duluan aja deh!” seru Miko mengajak teman-teman lainnya segera pulang.
Namun, dengan cepat Dira mencegah Friska agar tidak ikut pulang. “Fris! Kamu tungguin aku ya.”
Friska mengangguk. “Iya, Ra. Aku tungguin kamu kok,” jawabnya.
Friska tahu jika Dira sedang memikirkan banyak hal dan merasa sedikit tertekan jika berada di dalam kamar tersebut hanya berdua saja. Friska akan menunggu Dira sampai dia selesai menyuapi Satya. Friska akan tetap menemani sahabatnya itu.
Keempat teman Satya benar-benar berpamitan pulang. Kini hanya tinggal Satya, Dira dan Friska yang ada di dalam kamar.
Dengan penuh kesabaran Dira menyuapi Satya. Menyeka sisa bumbu di sudut mulut Satya, lalu menyupainya lagi dengan tangannya. Sesekali Dira menyunggingkan senyum simpul pada Satya, yang kemudian dibalas oleh Satya dengan senyuman penuh cinta.
Memperhatikan pemandangan tersebut membuat Friska yakin jika sahabatnya terpaksa melakukan semua itu. Mungkin karena memang belum bisa move on dari cinta masa lalunya, atau mungkin karena Dira merasa bersalah atas kecelakaan yang menimpa Satya. Sehingga meninggalkan luka yang cukup serius di beberapa bagian tubuh Satya.
Setelah menyelesaikan tugasnya menyuapi Satya, Dira berpamitan pada kekasihnya itu untuk pulang. Dia berjanji jika besok dia akan datang mengunjunginya lagi sepulang kuliah.
Dira dan Friska menggunakan taksi online untuk mengantarkan mereka berdua pulang. Mereka memasukkan alamat rumah Dira sebagai alamat tujuan. Lalu nantinya Friska akan meminta Putra, kekasihnya untuk menjemputnya di sana.
Dalam perjalanan pulang mereka, tiba-tiba Dira mengungkapkan isi hati yang sebenarnya. Friska sudah berjanji jika tidak akan mencampuri lagi urusan percintaan Dira. Jadi walau penasaran sekalipun Friska tidak akan bertanya-tanya pada Dira. Tetapi kini Dira yang terlebih dahulu mengungkapkan isi hatinya.
“Fris, menurut kamu apa nggak masalah kalau aku terpaksa terus menjadi kekasih Satya?” Dira menanyakan hal tersebut pada Friska.
“Terpaksa, Ra?”
Dira mengangguk membenarkan. Kemudian Dira lanjut berkata, “Aku terpaksa menjalani hubungan ini sama Satya, Fris.”
“Kenapa, Ra? Kalau memang terpaksa ya sebaiknya kalian akhiri aja hubungan kalian.” Friska menyarankan hal tersebut agar tidak ada yang tersakiti baik Dira maupun Satya.
Akan tetapi Dira tidak bisa melakukan hal tersebut. Dia mengungkapkan alasannya pada Friska. “Aku nggak bisa, Fris. Karena aku, Satya jadi kecelakaan. Untungnya dia masih hidup dan keadaannya sudah membaik. Aku … aku jadi teringat sama Kak Hiro, yang juga kecelakaan karenaku dan akhirnya sekarang dia sudah nggak ada di dunia ini.”
Bibir Friska mengatup. Jika membahas tentang lelaki itu, tentunya Dira belum bisa melupakan kejadian yang menimpa lelaki itu hingga harus kehilangan nyawanya. Dira orang yang sangat merasa bersalah atas kehilangan tersebut.
“Jadi kamu takut kalau Satya akan bernasib sama dengan Hiro Senpai?” tanya Friska yang dijawab dengan sebuah anggukan pelan oleh Dira.
“Sekarang menurut kamu baiknya gimana, Ra? Jangan sampai kamu terus maksain perasaan kamu hanya untuk menyenangkan hati Satya. Itu namanya kamu ngorbanin perasaan kamu,” papar Friska.
Gadis bertubuh mungil di samping Friska tersebut hanya bisa mengendikkan bahu dengan raut wajah muram. Dia belum bisa memutuskan apa yang sebaiknya dia lakukan. Dia juga sudah mengatakan pada Satya jika dia akan tetap menjadi kekasihnya.
“Mungkin aku masih harus bersabar sedikit lagi sampai lulus,” ucap Dira.
“Sampai lulus? Kamu yakin? Masih ada satu setengah tahun lagi loh, Ra, kalau nunggu lulus.”
“Mudah-mudahan yakin, Fris. Seenggaknya aku bisa mastiin kalau Satya bisa lulus dan melanjutkan cita-citanya,” jawab Dira.
Friska menghela napas lalu merangkul sahabat baiknya itu. sepertinya urusan percintaan Dira menjadi rumit setelah gadis itu kehilangan sosok lelaki itu.
Memastikan Satya lulus dan bisa melanjutkan cita-citanya? Apakah itu menjadihal yang mungkin dilakukan oleh Dira? Itu artinya dia akan terus memaksakan perasaannya tanpa memikirkan kebahagiaan hatinya.