Part 4 - Mencintai Satya?

1329 Words
Saat ini kamar tempat Satya dirawat dipenuhi oleh banyak orang. Mulai dari kedua orang tuanya, Dira, hingga ke teman-teman kampusnya. Hari ini Dirga tidak bisa bergabung karena jadwal pekerjaannya. "Ini beneran lo mau pulang, Sat? Emang lo nggak betah di sini?" goda Robi sambil terkekeh. "Lo yang gantiin gue deh di sini, Rob. Gue ikhlas bayarin tagihan kamarnya!" sahut Satya. "Ih, gue nggak mau! Gue takut kalau malam nanti ada hantu nyamperin gue. Ini kan rumah sakit, takut ah gue!" Robi memegang kedua lengannya berlagak ketakutan. Semua orang yang mendengar jawaban Robi langsung tertawa lepas. Di usianya yang sudah bukan anak kecil lagi, masih saja dia takut dengan hal seperti itu. Tetapi memang tidak bisa dipungkiri jika masih banyak orang dewasa yang takut dengan hantu. "Ra, bantu aku dong," pinta Satya sambil mengulurkan tangannya yang tidak digips. Diraih uluran tangan Satya sambil tersenyum simpul. Senyum yang pastinya membuat hati Satya langsung berbunga-bunga. "Ehem! Ya elah, Sat, lo kan tinggal jalan aja kemari pake segala minta tolong sama Dira sih!" seru Irham menggoda temannya itu. Satya tak mau kalah. "Cemburu aja sih! Biarin aja kenapa, kan gue kangen sama Dira. Iya 'kan, Ra?" kepala Satya melirik pelan ke arah Dira. Sayangnya, Dira tidak terlalu menanggapi ucapan teman-teman Satya. Lebih tepatnya Dira tidak mau mendengarkannya. Friska, teman baik Dira yang juga berada di dalam sana, memperhatikan wajah Dira yang tampak sedikit tertekan. Friska seolah bisa menebak keterpaksaan Dira berada di sana. Gadis itu pun berjalan mendekat ke Dira. "Ra, kamu nggak apa-apa?" bisik Friska. Walau sudah berusaha berbisik agar tidak terdengar yang lain, tetapi Satya yang berada di samping Dira masih bisa mendengarnya. "Memangnya Dira kenapa?" balik Satya bertanya pada Friska. Dira yang menjawab, "Aku nggak apa-apa kok, cuma sedikit kurang tidur aja." "Tuh, Sat. Dira sampai nggak bisa tidur karena mikirin lo!" celetuk Robi dan membuat teman-teman yang lainnya bersorak, "Ciyeee …." Satya tersenyum lebar. Wajahnya memerah karena malu dengan sorakan semua temannya. Sementara Dira hanya tersenyum tipis sambil menundukkan kepalanya, tanpa terlihat sama sekali jika dia merasa senang. "Sudah selesai semua nih, Sat. Yuk kita pulang!" seru Ibu Diana, mamanya Satya. "Ra, tuntun dong …," pinta Satya dengan manja. Tentunya hal tersebut membuat teman-teman Satya kembali menggodanya. Miko mengulurkan tangannya pada Irham sambil meniru cara Satya berbicara barusan. "Irham, tuntun dong …." "Ehem, Robi tuntun aku juga dong …," pinta Dastan ikut-ikutan. "Kok lo semua pada ngeledekin gue sih! Awas nanti kalau tangan gue udah sembuh, gue jitak kalian satu-satu!" Satya merasa kesal karena semua teman-teman menggodanya. Dira tidak mau memperdulikan semua ucapan teman-teman Satya. Gadis itu kemudian memegang lengan Satya lalu berkata, "Ayo aku bantu." "Aiihh … sini aku bantu," celetuk Robi sambil meniru Dira dan memegang lengan Dastan sambil menatap Satya dengan wajah menggoda. Satya yang kini sedang dibantu Dira tidak bisa membalas celetukan Robi. Satya hanya memincingkan kedua matanya pada satu per satu temannya. Di dalam hatinya Satya semakin bertekad membalas teman-temannya tersebut jika gips di salah satu tangannya sudah dilepas. Dia akan membalas sikap teman-temannya yang membuat dirinya malu di hadapan Dira. Dira, Satya dan Friska berada di satu mobil yang sama dengan kedua orang tua Satya. Sementara yang lainnya mengendarai motor mereka masing-masing mengikuti di belakang. Di dalam mobil, Dira sangat jarang berbicara. Dia lebih seperti pendengar setia yang hanya mendengarkan percakapan antara orang tua dan anak. Sesekali Satya memang melontarkan pertanyaan untuk Dira, tetapi hanya dijawabnya dengan anggukkan, gelengan atau bahkan hanya tersenyum simpul. Sesampainya di tempat tinggal Satya, mereka semua mengiringi Satya sampai ke kamarnya. Namun, tiba-tiba Robi menyeletuk, "Duh, gue laper deh. Pada mau beli makan nggak?" "Wah, boleh tuh, Rob! Pesen delivery aja, kita kan juga baru banget sampai!" seru Miko. Robi langsung menyenggol Miko dengan sikunya. "Ah, lo mah nggak bisa baca situasi!" "Tau lo, Miko. Kita pengertian dikit lah sama temen," timpal Irham sambil melirikkan matanya ke arah Satya. "Oohh … iya gue ngerti!" Miko berseru lantang saat pemikirannya sudah satu frekuensi dengan yang lain. "Ayo deh kita cari makan di luar! Friska, lo ikut kita ya. Tenang aja, kita bakal jagain kok," ajak Miko. "Aku juga ikutan?" Friska menunjuk dirinya. "Iya ikutlah, masa nggak sih! Bisa gagal nanti pelepasan rindunya si Satya!" seru Robi. Semuanya langsung bergegas keluar kamar meninggalkan Satya dan Dira. "Woy! Beliin gue sama Dira makanan juga ya!" teriak Satya saat semuanya sudah keluar pintu. Kini tinggalah Satya dan Dira berdua saja di dalam kamar. Tak akan pernah terlintas di benak Satya untuk melakukan sesuatu yang kelewat batas. Karena saat ini Satya hanya ingin mengembalikan senyum Dira dan memastikan perasaannya lagi. "Ra, kamu haus nggak? Mau minum?" tanya Satya. "Nggak kok, aku nggak haus," jawab Dira. "Oh, ya sudah kalau gitu." Setelah itu suasana di antara mereka jadi hening. Satya duduk di sisi ranjang, sedangkan Dira duduk di kursi di depannya. Mereka hanya mengedarkan pandangan ke setiap sudut kamar karena merasa canggung satu sama lain. Mata Satya kemudian melirik lagi ke arah Dira. Menatap paras imut gadis itu sambil menyunggingkan senyuman. Dira menyadari hal tersebut lalu bertanya pada Satya, "Kamu ngelihatin aku?" "Iya, Ra. Ketahuan ya? Hehehe …," kekeh Satya. "Ada yang aneh di muka aku?" tanya Dira lagi. "Ada, Ra." "Apanya yang aneh?" "Senyum ceria kamu nggak pernah ada lagi di wajah kamu yang imut dan cantik," lirih Satya. Dira tertegun sejenak, lalu dia memalingkan wajahnya agar Satya tidak lagi memperhatikannya. "Kamu terpaksa ya masih sama aku?" Satya memberanikan diri menanyakan hal tersebut. Satya ingin Dira lebih jujur akan perasaannya pada Satya. Kepala Dira kembali menoleh pada Satya. Dilihatnya tatapan pemuda itu tampak sendu karena tak lagi melihat keceriaan Dira. "A-aku …" "Kamu terpaksa ya, Ra? Kalau memang kamu terpaksa sebaiknya aku mundur saja. Aku nggak mau kamu nggak bahagia sama aku," ujar Satya. "Bukan begitu, tapi aku …" Dira tampak sedikit kesulitan mengatakan yang sebenarnya. Satya tersenyum simpul. "Aku selalu sayang sama kamu, Ra. Selama ini aku selalu meminta kesempatan sama kamu agar kamu terus jadi pacar aku. Tapi kalau pada akhirnya kamu merasa tertekan dan nggak bahagia, untuk apa aku paksain perasaan kamu." Mata Dira langsung berkaca-kaca. Dira sebenarnya gadis yang ceria, tetapi dia memang cengeng dan mudah menangis. Karena kejadian waktu itu saat seorang pemuda bernama Hiro harus pergi meninggalkannya di dunia ini, Dira tak lagi seceria dulu. Keceriaan Dira yang perlahan memudar itulah yang sangat dirindukan oleh Satya. "Sat …," panggil Dira lirih. Satya pun menjawab, "Iya, Ra." "Maafin aku ya, karena aku masih nggak bisa tegas dengan perasaan aku." Satya kembali menyunggingkan senyum di wajahnya. "Nggak apa-apa, Ra." "Kita tetap pacaran seperti sebelumnya. Aku akan tetap nemenin kamu sampai kita berdua dan juga teman-teman lainnya lulus dari kampus kita," ujar Dira. "Iya, aku ngerti kok. Kita pu … eh? Kamu bilang apa?" "Kita nggak putus, Sat. Kita tetap pacaran," jawab Dira. Satya langsung bangkit berdiri di hadapan Dira dengan raut wajah senang bercampur tak percaya. "Kita masih pacaran, Ra?" tanyanya memastikan. Dira mengangguk dan menjawab, "Iya, Sat." "Beneran, Ra???" "Iya, Satya." "YESS!! YEESS!!" Satya bersorak kegirangan sambil menarik ke belakang satu tangannya yang terkepal. Melihat Satya yang begitu senang dengan keputusan Dira untuk tetap berpacaran, Dira bisa tersenyum lebar. Mungkin masih sulit untuk benar-benar menghapus perasaan yang lama. Tetapi bukan tidak mungkin untuk menumbuhkan perasaan yang baru. Semoga aku bisa mencintai Satya sepenuh hati nantinya. Dira bergumam di dalam hatinya. Tiba-tiba Satya menarik tangan Dira untuk ikut berdiri. "Ra, kita tetap pacaran 'kan?" Sekali lagi Satya menanyakan hal tersebut. "Masih kok, Sat," jawab Dira lembut. "Kalau begitu … boleh kan?" Dira mengernyitkan dahinya. "Boleh apa?" Tatapan mata Satya bergerak turun ke arah bibir Dira. Perlahan Satya memajukan wajahnya sambil sedikit membungkukkan tubuhnya. Mata Dira sempat membesar untuk beberapa saat, tetapi kemudian Dira memutuskan untuk tidak menolak dan memejamkan kedua matanya. Bibir Satya bersentuhan dengan bibir lembut Dira. Seperti ada kelegaan di hati Satya karena Dira tidak menolak ciumannya. Hanya saja Satya tidak mengetahui jika kedua tangan Dira terkepal untuk menahan dirinya agar tidak mendorong tubuh Satya agar menyingkir dari hadapannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD