Part 3 - Tersenyum Palsu

1301 Words
"Kamu mungkin memaksakan hatimu untuk selalu bersamaku, tetapi hatiku yang memaksaku untuk tetap mencintaimu." -Satya Pradipta- *** "Ra, Satya … Satya, Ra …," suara Dirga bergetar saat ingin memberitahu Dira tentang keadaan Satya. Dira memegang lengan sang kakak, merasa khawatir dengan kalimat selanjutnya yang akan dikatakan oleh kakaknya itu. "Mas, Satya gak apa-apa kan? Satya baik-baik aja kan?" Bola mata indah itu kini membesar dan berkaca-kaca. "Satya mening-" "NGGAK!!" Dira berteriak dan terbangun dari mimpi buruknya. Nafasnya terengah-engah, dahinya berkeringat, jemarinya juga gemetar. Gadis itu mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar. Kemudian menarik nafas lega karena yang tadi itu hanyalah mimpi. Diusap wajah imut itu dengan kedua telapak tangannya. "Untung hanya mimpi," katanya dengan perasaan lega. Kemudian terdengar suara ketukan dari pintu kamar Dira. Sang kakak pasti mendengar teriakannya dan langsung bergegas ke kamar Dira. Dirga sangat mengkhawatirkan sang adik sejak kejadian waktu itu. Dira bangkit berdiri lalu melangkah ke arah pintu. Membukakan pintu untuk sang kakak yang terus menerus mengetuk pintu kamar Dira. "Mas Dirga apaan sih berisik banget!" seru Dira saat pintu terbuka. "Kamu kenapa teriak-teriak? Mas datang karena dengar teriakanmu!" "Hmm … nggak apa-apa sih, Mas. Hehehe …," sambil terkekeh Dira menjawab sang kakak. Ditatapnya sang adik hingga kedua matanya sedikit menyipit. "Pasti kamu mimpi buruk lagi kan?" tebak Dirga. Mulut Dira terbungkam. Dia pun menggelengkan kepala tanpa melihat ke wajah sang kakak. "Jangan bohong sama Mas kamu, Ra. Mas yakin kamu mimpi buruk lagi kan?" "Udah deh, Mas. Jangan ngarang begitu. Udah gih sana! Dira mau mandi." Dira akan mengelak sebisa mungkin dari sang kakak. Ditutup pintu kamarnya agar kakaknya itu segera pergi dari sana. Dira masih harus segera bersiap berangkat ke kampus. Selain ke kampus, Dira juga harus mengunjungi Satya yang masih dirawat di rumah sakit. "Satya? Apa aku harus terus membohongi perasaanku ini?" gumam Dira. Sambil terus memikirkan hal itu, Dira mandi dan berpakaian secepat kilat. Sedangkan Dirga membuatkan s**u hangat untuk sang adik. Jadi saat Dira sudah siap, dia bisa meminum s**u itu sebelum berangkat ke kampus. "Mas, Dira berangkat ya!" seru Dira seraya melangkah keluar dari kamarnya. Dirga menarik lengan sang adik agar menghentikan langkahnya. "Mas sudah buatkan s**u hangat, kamu minum dulu," katanya sambil menyodorkan segelas s**u cokelat hangat. "Duh, Dira masih kayak anak kecil aja sih minumnya s**u cokelat!" seru Dira. Diambil gelas dari tangan sang kakak, lalu Dira menenggaknya habis sambil berdiri. Gelas yang sudah kosong itu dikembalikan pada sang kakak. Dirga menggelengkan kepala, tersenyum simpul melihat tingkah sang adik. "Kenapa Mas Dirga senyum-senyum gitu?" tanya Dira. "Lain kali, kalau minum itu duduk ya, jangan berdiri," jawab Dirga yang dibalas oleh Dira dengan sebuah senyum yang menunjukkan barisan gigi depannya. Dilanjutkan kembali langkah kaki Dira menuju pintu. Dia sudah memesan ojek online untuk mengantarnya ke kampus. "Dira!" teriak Dirga. "Nanti sore sepulang Mas kerja kita jenguk Satya lagi ya!" sambungnya. Langkah Dira terhenti sesaat tepat di depan pintu. Gadis itu terdiam, lalu dia mengangguk pelan tanpa menolehkan kepalanya. Dibuka pintu di hadapannya, dan dia melangkah keluar. Kemudian menutup kembali pintunya dengan perlahan. Dirga tahu Dira sedang mencoba bersikap biasa-biasa saja di hadapannya. Dira tidak mau lagi menunjukkan kesedihan apapun di hadapan sang kakak. "Kamu gak bisa berlagak kuat di hadapan Mas Dirga, Ra," ucap Dirga dengan kedua mata memandang lurus ke arah pintu. Saat berada di kampus, Dira selalu ditemani oleh sahabatnya, Friska. Kemana pun Dira pergi, Friska selalu bersamanya. "Ra, rencana hari ini kamu mau kemana pulang kuliah nanti?" tanya Friska yang berjalan berdampingan dengan Dira. Dira mengendikkan bahunya. Kemudian Friska kembali bertanya, "memangnya kamu nggak ke rumah sakit lagi jenguk Satya?" Pada akhirnya Dira angkat bicara. "Mas Dirga sih ngajakin aku, tapi aku masih belum tahu mau ke sana atau nggak." "Memangnya kenapa kamu kok bingung gitu?" Dira menghentikan langkah kakinya, menolehkan kepalanya pada Friska. Ingin rasanya Dira memberitahu Friska jika dia sudah tidak ingin bersama dengan Satya. Namun, hal itu pasti terdengar mengecewakan jika melihat kondisi Satya yang belum lama kecelakaan. "Ra …," tegur Friska. "Maaf, aku jadi bengong," ucap Dira. Mereka berdua kembali melanjutkan langkah kaki mereka menuju kelas. Friska tahu pasti ada yang disembunyikan oleh sahabatnya itu. Pastinya itu menyangkut dirinya dan juga Satya. Namun, Friska tidak mau terlalu menekan Dira untuk memberitahu apa yang sedang dipikirkannya. Biarlah Dira menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya pada Friska, juga pada orang-orang di sekitarnya. Sementara itu di rumah sakit, di ruang perawatan Satya, pemuda yang belum lama kecelakaan itu kini sudah bangkit berdiri penuh semangat karena dokter sudah memperbolehkannya untuk pulang. "Sat, kamu duduk dulu. Kita kan pulangnya masih besok, bukan hari ini!" seru Ibu Diana pada putranya itu. "Kenapa harus nunggu besok sih, Ma? Kenapa gak sekarang aja?" Satya sudah tidak sabar ingin segera terbebas dari ruang perawatannya. Lebih tepatnya, terbebas dari rumah sakit ini. Terbebas? Tapi kan Satya bukan dipenjara. Bagi Satya, rumah sakit ini sudah seperti penjara. Dia tidak bisa kemana-mana. Makanannya saja selalu empat sehat lima sempurna namun rasanya tidak gurih karena tanpa penyedap rasa. Ditambah setiap beberapa jam sekali perawat dan dokter pasti mendatangi ruangannya untuk memeriksa keadaannya. Jika mengharuskannya untuk disuntik, maka Satya harus menahan rasa nyeri di punggung tangannya yang tertancap infus, karena perawat akan menyuntikkan obat dari selang infus tersebut. Sehingga nyeri dan pegal langsung menyerang bagian tangan Satya walau hanya sebentar. Pemuda itu sudah membayangkan ayam goreng krispi di restoran cepat saji, dengan minuman bersoda. Pasti langsung kalap dia memakannya. "Kita harus nunggu hasil pemeriksaan terakhir dulu, Sat. Mama juga gak mau kamu pulang kalau kondisi kamu belum seratus persen membaik," jawab Ibu Diana. "Kalau nunggu seratus persen sih bisa lama lagi, Ma. Nunggu gips di tangan Satya dibuka dulu gitu? Lama, Ma!" "Lagian kamu kenapa sih mau cepat-cepat pulang? Pasti sudah gak sabar mau ketemu si Dira!" Tepat sekali. Tebakan sang mama memang benar-benar tepat. Seperti sudah bisa membaca pikiran putranya yang sedang jatuh cinta. Tersungging senyum lebar di wajah Satya hingga kedua matanya menyipit. Ibu Diana hanya mengusap pipi putranya itu karena merasa gemas. Saat sore tiba, Dira menunggu sang kakak di depan gerbang kampusnya. Dirga mengirim pesan agar adiknya itu tidak kemana-mana dan ikut dengannya ke rumah sakit. Sejujurnya, Dira masih bingung harus bersikap bagaimana di depan Satya. Dia ingin memutuskan hubungannya dengan Satya karena di hati Dira masih terus terukir nama lelaki itu. Lelaki yang kini sudah bahagia di syurga. Tak lama menunggu, Dirga dengan sepeda motornya tiba di hadapan Dira. "Ayo naik, Ra!" seru Dirga meminta sang adik naik ke jok belakang motornya. Dilajukan kembali motor tersebut melintasi jalanan aspal. Kali ini tujuannya adalah rumah sakit. Dirga ingin tahu bagaimana keadaan Satya sekarang. Sesampainya di rumah sakit, Dira berjalan di belakang Dirga dengan kepala menunduk. Menyiapkan dirinya agar bisa memasang senyum palsu di hadapan Satya nantinya. Terdengar seruan Satya saat Dirga membuka pintu kamar rawat Satya. "Hai, Ra! Aku udah nungguin kamu loh!" Dira mengangkat wajahnya lalu menyunggingkan senyum pada Satya. Di dalam ruangan itu juga ada kedua orang tua Satya, Ibu Diana dan Dokter Hardi. "Eh, Dira! Sini masuk. Tante lagi beresin baju-baju Satya nih. Besok dia sudah boleh pulang." Ibu Diana menghampiri Dira dan menuntunnya masuk. Dirga mengikuti di belakang Dira. "Kamu benar sudah boleh pulang, Sat?" tanya Dirga. Dengan penuh semangat Satya menjawab, "benar, Mas!" "Wah, syukur kalau begitu. Gak sampai dua minggu kamu sudah sehat lagi seperti ini!" Ditepuknya punggung Satya dengan pelan. Tatapan mata Satya lembut mengarah pada Dira. "Kan aku udah gak sabar mau antar jemput Dira lagi, Mas!" Perkataan Satya membuat senyum di wajah Dira perlahan memudar. Hanya saja Dira memaksakan kembali senyumnya karena tidak ingin merusak suasana yang sedang senang saat itu. Namun, pudarnya senyum di wajah Dira yang hanya sesaat itu tidak luput dari perhatian Satya. Hati pemuda itu sedikit tergelitik, ingin segera menanyakan bagaimana perasaan Dira mengetahui jika pemuda itu sangat merindukannya. "Ra, kamu gak terpaksa kan terus bersamaku?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD