Part 2 - Hati Yang Dipaksakan

1913 Words
Dirga tiba di rumah sakit dan langsung menuju ke ruang gawat darurat. Ternyata disana kedua orang tua Satya sudah tiba terlebih dahulu. Dirga menghampiri mereka untuk menanyakan keadaan Satya. “Dokter Hardi, Tante Diana, gimana keadaan Satya?” tanya Dirga pada ayah Satya yang seorang Dokter Spesialis Kejiwaan dan istrinya. “Satya baru saja dibawa keruang operasi. Tangannya patah, tulang lututnya bergeser, juga ada sedikit pendarahan di kepalanya karena benturan yang sangat keras,” jawab Dokter Hardi, ayahnya Satya. “Tapi dia gak akan kenapa-kenapa kan?” Dirga sangat mengkhawatirkan Satya. “Kita berdoa saja agar operasinya berjalan lancar dan Satya bisa cepat pulih. Satya anak yang kuat kok!” Dokter Hardi menepuk lengan Dirga untuk menenangkan dirinya. Mereka bertiga menunggu sampai operasi selesai. Setelah operasi, Satya di tempatkan di sebuah ruangan sebelum akhirnya nanti dia ditempatkan di ruang rawat. Dirga dan juga kedua orang tua Satya dapat melihat kondisi Satya dari balik jendela kaca. Sekitar satu jam setelahnya, dua orang perawat mendorong tempat tidur Satya dan membawanya ke ruang rawat yang sudah disiapkan. Kedua orang tua Satya dan juga Dirga mengikuti mereka. Mamanya Satya ikut mendorong tempat tidur Satya dan terus menatap wajah putranya tersebut. Keluarga Satya termasuk keluarga yang cukup mapan. Mereka ingin Satya dirawat di sebuah ruangan yang hanya akan dia tempati seorang diri. Tak akan ada pasien lainnya di ruangan tersebut. Ruang rawat yang cukup besar dilengkapi dengan sofa dan juga televisi layar datar menjadi pilihan kedua orang tuanya. Sehingga nantinya orng tua Satya bisa menginap bergantian untuk menemani Satya. “Nak Dirga, terima kasih karena sudah menghubungi saya dan memberi kabar tentang kecelakaan yang dialami Satya.” Ucap Dokter Hardi pada Dirga. “Gak perlu berterima kasih sama saya, Dok! Ada orang yang telepon adik saya dan kasih tahu kalau Satya kecelakaan.” “Iya, saya juga sudah ketemu sama Bapak yang nolongin Satya. Sampaikan juga terima kasih saya pada Dira.” “Pasti, Dok!” jawab Dirga dengan mantap. Setelah cukup lama berada di rumah sakit, Dirga pun memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Dia ingin segera memberi kabar pada Dira jika operasi Satya berhasil dan hanya tinggal menunggu Satya membuka kedua matanya. Mendengar suara motor Dirga dari dalam kamarnya, Dira langsung melompat dari tempat tidur dan berlari keluar kamar menuju pintu masuk rumahnya. Dira langsung membukakan pintu dan melihat Dirga yang baru saja menuruni motornya. “Mas! Mas Dirga! Satya gimana Mas? Dia gak kenapa-kenapa kan?” Dira langsung memberondong sang kakak menanyakan keadaan Satya. “Ra, Mas juga baru sampai! Kita ngobrolnya di dalam saja yuk! Kita ke kamar kamu saja!” “Tapi Satya gimana, Mas?” Dirga tersenyum dan menepuk pucuk kepala Dira. “Satya gak apa-apa kok! Yuk kita masuk, Mas Dirga akan kasih tahu kamu tentang keadaan Satya!” Dirga menuntun sang adik masuk ke dalam rumah mereka. Tampak sekali wajah Dira diselimuti oleh kekhawatiran dan ketakutan. Dirga bisa mengerti hal tersebut, karena ini adalah pengalaman kedua bagi Dira mendapati seseorang yang dekat dengannya mengalami kecelakaan motor. “Dira, kamu udah makan?” “Itu gak penting untuk sekarang, Mas! Yang penting sekarang keadaan Satya!” Dirga duduk di lantai, di samping ranjang Dira. Kemudian dia menarik tangan Dira agar adiknya itu duduk mendampinginya. “Ra, tadi Mas Dirga sempat beli nasi goreng di ujung jalan sana!” Dirga menunjukan kantung plastik transparan berisi dua bungkus nasi goreng. “Tapi Satya gimana Mas?” berulang kali Dira menanyakan kondisi Satya pada sang kakak. “Satya gak apa-apa, Ra! Operasinya berhasil dan tinggal nunggu dia sadar aja!” “Operasi? Sadar? Memang lukanya parah banget Mas?” Kekhawatiran Dira malah semakin menjadi setelah mendengar jika Satya dioperasi dan belum sadarkan diri. “Ra.. Satya gak apa-apa kok! Ayahnya saja bilang kalau dia anak yang kuat! Satya pasti segera sadar!” Dira terdiam, punggungnya bersandar lemas di sisi ranjang. Dirga mengerti dengan apa yang sedang dirasakan oleh sang adik. Dia pun mencoba untuk menenangkan Dira dan mengalihkan pikirannya dengan membicarakan hal apapun.   ***   Keesokan harinya, di ruang perawatan tempat Satya berbaring, Ibu Diana sedang duduk di sofa yang ada di sudut ruangan menunggu putranya tersebut membuka mata. Jemari Satya bergerak pelan. Ibu Diana langsung bangkit dari duduknya dan mendekat ke sisi tempat tidur Satya. Diperhatikan lagi dengan seksama jemari putranya. Jemari tersebut kembali menunjukan pergerakan walau sedikit. “Satya.. Bangun Nak.. Mama disini..” Bisik ibu Diana di telinga Satya. Perlahan-lahan kedua mata Satya mulai terbuka. Ibu Diana tampak bahagia melihat putranya sudah sadarkan diri. “Sat.. Ini Mama sayang..” kata Ibu Diana seraya menggenggam tangan putranya yang tidak diperban. Pandangan Satya langsung menatap ke langit-langit ruang perawatannya. Di dalam otaknya langsung muncul berbagai pertanyaan. Berada dimana dirinya sekarang? Apa yang dia lakukan sekarang? Apa yang sudah terjadi sebelumnya? “Satya.. Ini Mama..” kembali Ibu Diana memanggil nama Satya. Satya ingin menolehkan kepalanya ke arah kanan, namun kepalanya terasa sangat sakit. Kemudian Satya mulai merasakan sakit di bagian tubuhnya yang lain. Tangannya, lututnya, bahkan seluruh tubuhnya kini terasa sangat sakit. “Maa.. Satya dimana?” tanyanya dengan nada suara lemah. “Kamu di rumah sakit, Sat. Kamu kecelakaan kemarin.” “Rumah sakit? Kecelakaan kemarin?” Satya berusaha mengingat kembali apa yang sudah menimpa dirinya. “Kemarin… Satya kan mau… Ah, iya Ma! Satya harus ke rumah Dira!” dengan kondisi tubuh yang masih lemah Satya berusaha bangkit dari posisi berbaringnya. Namun kemudian dia mengaduh kesakitan dan kembali berbaring. “Duuhh sakit Ma…” Satya mengaduh. “Kamu mau apa Sat? Jangan maksain bangun dulu ya, kamu tiduran aja! Kalau kamu ada butuh apa-apa kamu bilang sama Mama aja ya!” titah Ibu Diana pada putranya. “Ma, tolongin Satya telepon Dira dong Ma. Dira pasti nungguin Satya karena kemarin Satyam au ke rumahnya!” dengan suara yang masih lemas dia meminta mamanya untuk menghubungi Dira. “Satya.. Dira udah tahu kok kalau kamu di rumah sakit. Kemarin orang yang nolongin kamu telepon dia, dan kakaknya Dira juga yang hubungi Papa kamu dan bilang kalau kamu kecelakaan dan dibawa ke rumah sakit.” “Jadi, Dira udah tahu Ma?” “Sat, kamu kenapa sih baru sadar udah langsung nanyain Dira? Segitu cintanya kamu sama dia ya?” Satya menarik sudut bibirnya dan membentuk sebuah senyuman. Dia belum bisa mengakui secara langsung pada sang Mama jika dia memang sangat mencintai gadis tersebut. Tetapi tanpa Satya beritahu pun sepertinya Ibu Diana sudah bisa mengetahuinya dengan jelas. Ibu Diana kemudian memanggil perawat yang bertugas agar memberitahu dokter untuk memeriksakan kondisi Satya. Seperti apa yang dikatakan oleh papanya, Satya lelaki yang kuat. Walau hampir selutuh tubuhnya dibalut perban, namun dia bisa sadar dalam waktu cepat. Bahkan detak jantung dan tensi darahnya sudah normal kembali. Dokter pun yakin jika Satya akan pulih dalam waktu cepat. Hari menjelang sore, teman-teman Satya menjenguk Satya di rumah sakit. Mereka mendapat kabar langsung dari Satya. Dengan cepat semua teman-teman Satya meluncur menemuinya di rumah sakit. “Wah, Sat! Kok bisa sih lu kecelakaan gini? Lu ngebut ya bawa motornya?” tanya Robi yang langsung menarik kursi dan duduk di samping tempat tidur Satya. “Iya sih kayaknya dia ngebut ini! Liat aja tangannya patah pakai gips begini! Kepalanya juga diperban gitu! Parah banget kayaknya kecelakaannya!” Dastan menambahkan. “Apaan sih lu semua! Namanya juga kecelakaan, siapa juga yang tahu kalau gue bakal kecelakaan!” suara Satya sudha tidak lemah seperti tadi. Kini dia sudah bisa berbicara dengan nada sedikit tinggi. Namun dia masih sulit untuk bangkit dari posisi berbaringnya. “Anyway, si Dira udah tahu kalau lu kecelakaan? Kemarin lu mau ke rumah dia kan?” tanya Irham. “Dia udah tahu kok! Kata nyokap kemarin justru orang yang nolongin gue itu nelepon Dira duluan, ngasih tahu kalau gue kecelakaan.” “Terus, Dira udah datang jengukin lu?” Miko penasaran. Satya menggelengkan kepalanya. Dira belum juga menjenguknya. Dia tidak mengirimkan pesan pada Dira, dia juga sangat mengerti kejiwaan Dira yang mudah terguncang. Tetapi di lubuk hati Satya, dia ingin Dira segera datang dan mengkhawatirkan kondisinya. “Satya, ada Dira datang mau jenguk kamu nih!” kata Ibu Diana dari arah pintu. Semua mata langsung tertuju ke arah pintu. Mereka terkejut sekaligus tidak percaya jika orang yang sedang mereka bicarakan langsung datang saat itu juga. Senyum lebar langsung terbit di wajah Satya. Akhirnya, orang yang sudah ditunggu-tunggu pun datang. Seperti mengerti situasi keempat temat Satya langsung bangkit dan berpamitan keluar ruangan. Mereka beralasan ingin mencari makanan di luar sana. Ibu Diana juga sama halnya, dia langsung meninggalkan Dira seorang diri untuk menemani Satya. Sebagai seorang ibu, Ibu Diana sama sekali tidak merasa cemburu jika putranya sudah mulai memperhatikan gadis lain. Bagi Ibu Diana yang terpenting adalah putranya bisa merasa bahagia. Dira melangkah perlahan mendekat ke tempat tidur Satya. Pandangan matanya memperhatikan Satya dari ujung kepala hingga ujung kakinya yang tertutup selimut. Tampak air mata tergenang di pelupuk matanya. “Dira.. Kok kamu kayak mau nangis gitu?” karena mengkhawatirkan Dira maka Satya memaksakan dirinya untuk bangkit agar dia bisa segera memeluk Dira. Dengan sigap Dira menahan tubuh Satya agar dia tetap berbaring. Dira melihat Satya sangat kesulitan untuk duduk karena tangan kirinya terbalut gips. Jadi Satya hanya menggunakan tangan kanannya untuk bisa duduk. “Kamu tiduran aja, gak usah maksain bangun!” pinta Dira. “Tapi.. Kamu mau nangis, Ra.. Kamu kenapa?” terdengar dar nada suaranya Satya sangat mengkhawatirkan Dira. “Seharusnya aku yang khawatir sama keadaan kamu, bukan malah kamu yang khawatirin aku gitu, Sat!” ujar Dira. Satya menyunggingkan senyuman di wajahnya lalu berkata, “Karena aku sangat peduli sama kamu, Ra! Aku cinta sama kamu! Kamu segalanya untuk aku saat ini!” Bibir Dira langsung mengatup rapat. Dia tak mampu membalas apa yang baru saja dikatakan oleh Satya. Hatinya tergelitik. Dia seharusnya mengakhiri hubungan dengan lelaki itu, tetapi melihat kesungguhan hati Satya membuat Dira mengurungkan niatnya. Dira juga menganggap kecelakaan yang menimpa Satya adalah kesalahannya. Jika saja Dira tidak meminta Satya untuk datang ke rumahnya, maka kecelakaan tersebut tak akan pernah terjadi. “Ra.. Sini deh!” Satya memanggil Dira dengan lembut dan memintanya mendekat. “Kita udah gak berantem lagi kan? Kita baikan kan?” tanya Satya penuh harap pada gadis yang sedang terdiam bingung harus bersikap bagaimana. “Tapi… Aku…” “Aku janji bakal berubah menjadi seperti apa yang kamu mau, asalkan kamu tetap jadi pacar aku ya!” Tangan kanan Satya meraih salah satu tangan Dira dan menggenggamnya erat. Lewat genggaman tangannya dia ingin menyampaikan perasaannya pada gadis tersebut. Satya benar-benar tulus mencintai Dira. Walau sulit bagi Dira melupakan lelaki yang pernah dia cintai di masa lalunya, tetapi Satya tak akan menyerah dengan mudah. “Iya, Sat.. Kali ini asalkan kamu senang.” Jawab Dira dengan wajah tertunduk. “Beneran, Ra? Kamu masih mau jadi pacar aku?” pertanyaan Satya dijawab dengan sebuah anggukan oleh Dira. “Yeeaayy!! Aduhh!!” Satya berteriak kegirangan sampai lupa jika tangan kirinya sedang dibalut gips, sehingga akhirnya dia mengaduh kesakitan karena hendak mengangkat tangan kirinya itu. Karena perasaan Satya terlalu senang, dia sampai tidak memperhatikan raut wajah Dira yang sedikit tertekan dengan jawaban yang baru dia berikan. Dira terpaksa menerima perasaan Satya lagi, karena Dira merasa sangat bersalah dengan kecelakaan yang menimpa Satya. Dira menyalahkan dirinya atas kejadian tersebut.   ____________________ Haii, boleh tap tanda love dan follow akun author dulu yaa sambil nunggu kelanjutannya ^^ Cerita ini masih akan slow update. Untuk tahu jadwal update selanjutnya kalian bisa follow akun i********: author di aya-ayawars, akun f*******: author di Aya Warsita.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD