“Halo, Sat! Kamu dimana?” suara Dira terdengar dari seberang telepon. Hati Satya sedikit merasa lega karena bisa kembali mendengar suara Dira.
“Aku, aku masih di kampus, di studio musik!” jawab Satya.
“Pulang nanti bisa mampir ke rumah? Ada yang mau aku bicarain!”
“Pulang nanti? Iya, bisa! Memang kamu mau bicarain apa?” Satya penasaran.
“Nanti aja di rumah.”
“Ya udah kalau gitu, Ra! Aku juga gak ada kelas lagi. Kalau gitu aku kesana sekarang ya!”
“Iya, hati-hati di jalan!”
Kemudian Dira mengakhiri panggilan teleponnya. Satya tersenyum simpul mendengar Dira memintanya untuk hati-hati di jalan. Setidaknya itu membuktikan jika masih ada sedikit perhatian yang diberikan oleh Dira.
“Bro! Gue duluan ya! Mau ke rumah Dira nih!” Satya bangkit dari kursi dan melangkah terburu-buru.
“Woy, hati-hati Sat!” seru Miko.
“Sukses ya, Sat!” tambah Irham.
Dengan cepat Satya melangkahkan kakinya menuju ke parkiran motor. Dia tidak boleh terlalu lama sampai ke rumah Dira. Dia harus segera memperbaiki hubungannya dengan Dira.
Dia menaiki motornya lalu mengenakan helm terlebih dahulu sebelum menyalakan motornya. Setelah memastikan helmnya terpasang dengan benar barulah dia menyalakan motornya dan langsung melajukannya melewati gerbang kampus.
Satya menarik gas di tangannya agar dia bisa melajukan motornya lebih cepat lagi. Dira sedang menunggunya. Satya tak akan membiarkan gadis yang dicintainya itu menunggunya terlalu lama.
“Sabar ya, Ra! Aku akan cepat sampai ke rumah kamu!” gumamnya seraya menambah kecepatan motornya.
Satya menyunggingkan senyum di balik helm yang digunakannya. Dia membayangkan dirinya akan memeluk Dira dan berbaikan seperti sebelumnya. Dia akan mengakui kesalahannya dan berjanji akan merubah dirinya menjadi seperti yang Dira mau.
Namun karena terlalu asyik membayangkan hal tersebut, Satya sampai tidak memperhatikan lampu lalu lintas yang sudah berubah menjadi merah. Motornya tetap melaju menerobos garis batas di jalan.
Tiiinnnn!! Tiba-tiba dari arah yang berlawanan sebuah mobil sedan melaju sedikit kencang, membunyikan klason agar Satya menyingkir dari jalannya. Wuuussshhh!! Telat satu detik saja maka Satya dan motor yang dikendarainya akan bertabrakan dengan mobil tersebut.
“Woy!! Kalo nyetir pakai mata dong!!” Satya memaki mobil yang hampir menabraknya tadi. Mobil tersebut sudah semakin menjauh.
Satya masih belum menyadari jika sebenarnya dirinyalah yang sudah salah. Dia menerobos lampu merah sehingga mobil lain hendak bertabrakan dengannya.
Satya kembali menarik gas yang ada di tangannya dan tetap melajukan motornya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Dia masih belum kapok karena hampir tabrakan tadi. Yang terpenting bagi Satya saat ini adalah dia ingin secepatnya bertatap muka dengan Dira. Sudah, itu saja, tidak memikirkan hal lain lagi.
Dia mengendarai motornya layaknya seorang pembalap. Menyalip kendaraan yang ada di depannya dengan gaya pembalap, memiringkan tubuhnya ke kanan dan kiri saat menyalip dan berbelok. Hingga tiba-tiba ban depan motornya selip dan membuatnya kehilangan kendali.
Motor yang dikendarai Satya menabrak mobil yang ada di depannya hingga dia terlempar jauh ke depan. Tubuh Satya terseret hingga beberapa meter lalu kepalanya membentur trotoar. Satya pun langsung tidak sadarkan diri saat itu juga.
Beberapa kendaraan yang berada di tempat kejadian berhenti untuk membantu Satya. Beberapa orang menyingkirkan motor Satya yang tergeletak di tengah jalan. Kondisi motornya rusak parah. Bagian badan motornya hancur, spionnya kanannya pecah dan yang kirinya terlempar entah kemana. Bisa dibayangkan bagaimana kencangnya motor Satya menghantam mobil di depannya.
“Ini bocahnya gimana? Kita apain?” tanya seorang bapak yang masih menggunakan helm di kepalanya. Dia bingung harus berbuat apa pada tubuh Satya yang tergeletak dengan kepala yang membentur trotoar. Untungnya Satya menggunakan helm dengan benar, jadi kemungkinan luka yang didapat di kepalanya tidak terlalu parah.
“Panggil ambulans! Panggil ambulans!” seru seorang pemuda yang tadinya sedang berjalan kaki dan tidak sengaja melihat kecelakaan tersebut.
Seorang wanita paruh baya mengenakan kerudung berwarna cokelat muda langsung mengambil ponsel dari dalam tas miliknya. Wanita tersebut juga menghentikan perjalanannya karena melihat ada kecelakaan di jalan. Dia menghubungi ambulans dari ponselnya agar segera datang dan menolong Satya.
“Sebaiknya kita pindahin dulu tubuh lelaki ini ke sana! Sambil nunggu ambulans datang!” kata Bapak tadi sambil menunjuk ke arah yang dimaksud.
“Jangan, Pak! Jangan! Kepalanya kan terbentur, takutnya kalau kita pindahin malah makin parah! Kita tungguin aja sampai ambulans datang!” seorang pemuda lainnya mencegah sang Bapak yang ingin memindahkan tubuh Satya.
Akhirnya Bapak tadi pun setuju dan mengikuti arahan dari si pemuda yang mencegahnya. Sambil menunggu ambulans datang, beberapa orang dengan sukarela menjaga Satya agar tidak ada yang mengusiknya. Ada juga yang membantu di jalan untuk mengatur lalu lintas. Beberapa orang lainnya kembali melanjutkan perjalanan mereka karena sudah dikejar oleh waktu.
Tidak terlalu lama menunggu akhirnya ambulans pun datang dan mengangkut tubuh Satya ke rumah sakit. Si Bapak tadi ikut mengawal ambulans sampai ke rumah sakit. Dia juga yang membantu pihak rumah sakit untuk menghubungi keluarga Satya.
Untung saja si Bapak tadi bisa menemukan kartu identitas Satya dari dalam tasnya. Tas tersebut sempat ikut terlempar, namun ada orang baik yang mengembalikannya dan meletakannya di samping tubuh Satya saat tergeletak. Ada ponsel, dompet beserta isinya, juga kartu identitas di dalamnya.
Sedikit lancang si Bapak berani membuka ponsel Satya yang beruntungnya tidak rusak karena kecelakaan tadi. Si Bapak mencari kontak seseorang yang mungkin bisa dia hubungi. Di panggilan terakhir ponsel Satya ada nama Dira tertera disana.
Tuutt.. Tuutt.. “Halo, Sat? Kamu sudah dimana?” tanya Dira sesaat menerima panggilan telepon tersebut.
“Halo, Mbak! Maaf saya mau kasih kabar kalau pemilik ponsel ini baru saja kecelakaan! Sekarang orangnya ada di rumah sakit, di ruang gawat Darurat!”
“Hah? Apa? Bapak gak bercanda kan?”
“Saya gak bercanda Mbak! Sekarang orangnya di ruang gawat darurat! Oh iya, Mbak saudaranya bukan? Tolong kasih tahu orang tuanya ya!”
“Bapak serius? Beneran ini Pak? Kok Satya bisa kecelakaan?” Dira masih tidak percaya dengan apa yang disampaikan oleh si Bapak tadi.
“Mbak kalau gak percaya boleh kesini, Mbak! Saya di rumah sakit, saya akan nungguin pihak keluarganya datang! Karena ini tas sama isinya masih sama saya!”
Ponsel Dira telepas dari genggamannya. Mata Dira berkaca-kaca membayangkan apa yang telah menimpa Satya.
“Enggak! Enggak! Jangan lagi!” Dira menggelengkan kepalanya. Masih sangat sulit dia menerima kabar kecelakaan tersebut.
“Maass.. Mas Dirgaa!!” Dira berteriak memanggil kakaknya.
Dirga pun langsung menghampiri Dira di kamarnya setelah mendengar panggilan dari adiknya tersebut.
“Kenapa, Ra? Kok kamu teriak-teriak gitu manggil Mas Dirga?”
“Mas, Satya Mas..” suara Dira mulai bergetar. Matanya yang berkaca-kaca kini mulai meneteskan air mata.
“Satya? Kenapa Satya?”
“Satya kecelakaan Mas.. Satya, Mas.. Dia kecelakaan..”
Tangis Dira langsung pecah seketika. Dirga berusaha menenangkan sang adik. Dia mencoba memeluk sang adik dan memintanya untuk tidak menangis. Namun Dira tidak bisa lagi menahan tangisnya.
Ingatan Dira langsung kembali pada saat dimana lelaki yang pernah dia cintai kecelakaan dan akhirnya meninggalkan dirinya. Seperti de javu, kini kejadian yang sama menimpa Satya. Dira tidak mau jika Satya harus meninggalkannya juga.
Dirga langsung menghubungi orang tua Satya, kebetulan dia menyimpan nomor ayahnya Satya karena Dira sempat beberapa kali berkonsultasi dengan beliau. Orang tua Satya tentu langsung menuju ke rumah sakit untuk melihat kondisi putranya.
“Ra, kita mau ke rumah sakit gak? Ayahnya Satya udah menuju kesana? Kamu mau ikut Mas Dirga kesana?” ajak Dirga.
“Dira gak tahu, Mas! Dira takuutt..” Air mata Dira terus mengalir dan sulit untuk dihentikan.
“Ya sudah kalau gitu kamu tunggu di rumah saja ya, biar Mas Dirga yang lihat keadaan Satya terlebih dulu, besok baru kamu yang jenguk ya!” pinta Dirga pada sang adik.
Dirga sangat tahu kondisi mental Dira saat ini. Mentalnya sungguh sangat mudah terguncang dan sensitif setelah kehilangan Hiro, lelaki yang sempat dia cintai. Dirga tidak ingin mental sang adik kembali terpuruk seperti dulu.
Dira pun menuruti pemrintaan Dirga untuk berdiam di rumah. Dirga dengan berat melangkahkan kakinya meninggalkan sang adik di kamar. Dia tahu setelah dia menutup pintu kamar maka Dira akan menangis lebih terisak untuk melampiaskan rasa takut sekaligus rasa bersalahnya.