4

1536 Words
"Namanya Lilian, dia lulusan Peguruan tinggi A jurusan Hukum. Lulus Cumlaude, sekarang kerja di salah satu Firma besar yang selalu nanganin kasus para pejabat dan artis." Orlando otomatis mengurut dahinya. Dia baru saja sampai rumah lima belas menit yang lalu dan mamanya yang cantik dan terhormat itu langsung membacakan vonis mati untuknya. Dia menatap Kencana dengan tampang memelas tapi sama sekali tidak membuat mamanya itu kasihan atau iba padanya. "Minggu ini kamu ketemu dia, ya!" titah Kencana tidak mau dibantah. "Dan sendirian! Jangan ajak Anika apalagi Azalea," lanjut Kencana saat melihat putranya akan membuka mulut. Orlando langsung menutup mulutnya rapat-rapat dan menelan bulat-bulat ucapannya yang sudah lebih dulu diucapkan oleh mamanya. Dia memang berniat memaksa Anika atau membawa Azalea ke pertemuan itu, jaga-jaga kalau sampai dia merasa tidak sreg dengan pilihan mamanya. Lagipula, Orlando sangsi jika wanita itu akan mau dengannya. Menilik dari prestasi apa yang dipunyai gadis itu, pasti dia akan lebih tertarik untuk menjalin hubungan dengan pejabat pemerintah atau dengan pengacara yang selevel dengannya. Bukan dengan pengusaha kelas kacang yang masih kembang kempis kalau job sepi seperti Orlando. Tapi biarlah kali ini Orlando juga menuruti permintaan mamanya. Daripada ia akan terus disebut anak durhaka karena menolak permintaan Nyonya Kalan yang terhormat. Maka dengan patuh, Orlando menganggukan dan mengiyakan perintah Kencana yang langsung membuat wanita paruh baya itu tersenyum senang. "Gitu dong, nurut kalau disuruh orangtua," ujar Kencana enteng seakan-akan ia hanya menyuruh Orlando untuk membeli terasi di warung. Orlando hanya bisa menghela nafas pasrah. Entah sudah keberapa kali mamanya menyodorkan daftar wanita yang digadang-gadang untuk menjadi pasangan hidup Orlando. Padahal setiap pertemuan selalu berakhir tidak berlanjut karena si wanita yang mengeluh Orlando terlalu pasif atau Orlando yang mengeluh kalau si wanita terlalu glamor dan berlebihan. Tapi tetap saja, mamanya tidak pernah menyerah. Kencana terus menerus mencarikan wanita-wanita yang mau disodorkan untuk Orlando. "Kencan lagi, Bang?" Orlando mendengkus saat pertanyan itu meluncur dari adik bungsunya. "Engga usah ngeledek ya kamu," sungut Orlando. Orin malah tertawa puas dan semakin mendekat ke arah abangnya. Sedangkan Kencana sudah berlalu saat ayahnya tadi datang. "Harusnya Abang cari pacar sendiri, biar engga di jodoh-jodohin sama Mama. Atau nikah aja sama Kak Anika, biar Azalea tinggal disini," ucap Orin santai. Orlando menjitak dahi adiknya sampai gadis itu mengaduh. "Jangan sembarangan kalau ngomong, nanti kalau Anika denger dia bisa ke GR an," kata Orlando. Orin merengut kesal lalu membalas dengan memukul lengan kakaknya itu. "Biarin Kak Anika GR. Aku curiga, jangan-jangan Abang masih jomblo sampai sekarang karena Abang sebenernya suka sama Kak Anika tapi bingung mau ngomongnya. Iya kan?" Orin merasa bahaa kesimpulannya itu masuk akal. Tapi Orlando menganggp bahwa ucapan adiknya itu adalah hal yang gila. Memangnya hidup Orlando sekurang kerjaan itu sampai rela menjomblo hanya karena menyukai Anika? Serius Anika? Yang kalau putus cinta bukannya nangis tapi malah ngamuk ke semua orang di sekitarnya? Hih, amit-amit kalau sampai Orlando jatuh cinta pada wanita bar-bar itu. ~ "Haacchoo" Tiara memandang anaknya ngeri. Sedari tadi Anika terus-menerus bersin sampai hidungnya memerah. "Cuci muka sana, Ka. Merah banget muka kamu," saran Tiara. Anika mengangguk lemah. Dia juga heran kenapa sejak tadi dirinya terus menerus bersin padahal sebelumnya ia baik-baik saja. Anika berjalan gontai menuju kamar mandi yang ada di sebelah dapur di toko kue nya. Ia membasuh wajahnya dan membersihkan hidungnya. Anika memicingkan mata di depan cermin, dia curiga kalau saat ini ada manusia-manusia jahil yang sedang membicarakannya sehingga Anika jadi bersin-bersin tidak karuan seperti itu. Tapi siapa orang kurang kerjaan yang memilih membicarakan Anika di belakang? Belum sempat ia menduga sang pelaku, Anika sudah lebih dulu dikagetkan dengan panggilan Mamanya. "Ka, ada Faris di depan," ujar Bundanya dari luar. Anika mengerutkan alisnya bingung. Dia mengingat-ingat hari apa sekarang, dan kerutannya hilang saat sadar bahwa hari ini adalah hari Jumat. Ia bergegas keluar dan menemui mantan suaminya. Faris terlihat rapi seperti biasa. Dari dulu, mantan suami yang juga ketua BEM umum di kampusnya dulu itu terkenal tampan dan selalu berpenampilan rapi. Bahkan meski sudah berkegiatan seharian, Faris akan tampak seperti baru akan berangkat ke kampus. Hal yang kemudian Anika ketahui setelah menikah adalah Faris selalu membawa-bawa sisir dan gel rambut kemana-mana. Lelaki itu tersenyum lebar saat mendapatinya keluar dari dapur toko yang sempit. Anika sontak menoleh ke arah Bundanya yang sedang sibuk melayani pelanggan. Anika tahu bahwa Bundanya itu tidak lagi menyukai Faris semenjak pria itu diketahui berselingkuh dengan wanita bayaran. Bahkan Tiara sempat melarang Faris untuk bertemu dengan Azalea, tapi Anika memberi pengertian bahwa bagaimanapun bejatnya Faris dia tetap ayah biologis Azalea. "Aku mau minta ijin buat jemput Lea," ujar Faris saat Anika sudah ada di hadapannya. Anika mengangguk, padahal Faris bisa meneleponnya saja jika memang ingin meminta ijin. "Perlu aku ambilin bajunya di rumah?" tanya Anika. Faris menggeleng masih dengan senyum menawan di wajahnya. "Engga usah, bajunya masih banyak di rumah." Rumah yang di maksud Faris jelas adalah rumah lelaki itu. Rumah yang pernah ditempati oleh Anika dan Faris saat baru menikah dulu sampai saat Anika mengetahui perbuatan b***t mantan suaminya itu. "Oke," jawab Anika singkat dan berniat berlalu dari hadapan pria itu saat tiba-tiba Faris bersuara. "Aku mau ngajak kamu sama Lea jalan-jalan besok, kamu bisa?" tanya Faris dengan nada penuh harap. Anika menatap mantan suaminya itu datar. "Engga bisa, aku sibuk," katanya lalu benar-benar berlalu dari hadapan Faris. Dia tidak pernah melarang Azalea bertemu dengan Faris karena seperti yang ia bilang pada Bundanya, apapun yang terjadi pada mereka Faris tetaplah ayah biologis Azalea. Tapi berbeda jika itu berhubungan dengan dirinya. Semenjak ketuk palu terdengar di pengadilan, bahkan jauh sebelum Anika menggugat cerai Faris di pengadilan tepatnya saat ia mengetahui bahwa Faris telah berkhianat, segala macam ikatan anatara dirinya dan Faris sudah putus sepenuhnya. Jadi tidak ada kewajiban bagi Anika untuk menuruti permintaan lelaki itu sekalipun demi Azalea. Karena Anika masih bisa membahagiakan Azalea dengan caranya sendiri, tanpa melibatkan Faris di dalamnya. Mungkin, Anika bisa mengganti oprtion Faris dengan Orlando. Itu jauh lebih baik menurutnya. ** "Gue bete," Orlando hanya melirik sekilas ke arah Anika yang memasang wajah masam. Lalu ia kembali menyusun lego di hadapanya bersama Azalea. "Om, yang ini harusnya pakai yang biru, bukan merah," protes Azalea pada Orlando. Orlando mengangguk dan menganti bagian legonya sesuai ucapan Azalea. "Rolade, lo denger engga sih kalau gue BT?" kesal Anika, dia menarik-narik hodie yang dikenakan oleh Orlando. "Denger, terus gue musti gimana?" tanya Orlando tanpa menoleh ke arah Anika. Anika berdecak pelan dan memilih menuju dapur, membantu Kencana menyiapkan makan malam. "Anak tante nyebelin," adunya. Kencana melirik ke arah wanita yang sudah bertahan selama lebih dari satu dekade menjadi sahabat putranya. "Udah dari dulu, masa kamu baru tahu sekarang," balas Kencana. Anika tertawa mendengar jawaban Kencana, ia membantu Kencana memindahkan lauk yang sudah di masak ke meja makan. "Hari minggu, Olan Tante suruh kencan sama anak temen Tante," beritahu Kencana. Anika langsung menoleh semangat, "Beneran, Tan? Sama siapa kali ini?" tanya Anika antusias. Kencana mengulum senyum, "Pengacara, Ka. Anaknya baik, santun lagi. Keterlaluan kalau sampai Olan nolak," ujar Kencana geram. Anika terkekeh kecil, "Kalaupun Olan engga nolak, kalau ceweknya nolak gimana, Tan? Olan kan aneh," Anika berucap santai seakan-akan dia tidak sedang berbicara dengan wanita yang telah melahirkan seseorang yang ia sebut aneh tadi. Kencana tampak terdiam dia kemudian malah berujar menyetujui ucapan Anika, "Iya juga ya, belum tentu ada perempuan yang sanggung punya suami yang begitu ketemu bantal langsung teler," Anika tertawa terbahak mendengar penuturan Kencana, ia bahkan semakin tertawa saat Orlando menoleh penasaran ke arah mereka. "Nanti kalau sampai umur tiga puluh lima dia masih belum nikah juga, Tante nikahin sama kamu aja lah, Ka," Ucap Kencana enteng. Tawa Anika langsung terhenti begitu mendengar perkataan Kencana. Ia lalu memasang wajah sedih yang dibuat-buat. "Masa Anika yang cantik dan cemerlang, shinning, simerring, splendid ini dijadiin ban serep sih, Tan," protesnya. Kencana tertawa, "Ya daripada kamu dikejar-kejar sama mantan suamimu yang otaknya isinya s**********n doang itu, ya mending sama anak Tante," Anika yang mendengar mantan suaminya dikatai otak s**********n justru tertawa lepas sampai ia harus menghapus airmata yang muncul di sudut matanya. Dia tidak pernah menyangka bahwa kelakuan mantan suaminya yang dulu sangat menyakitinya itu, kini saat dibicarakan kembali sudah tidak terasa apapun. Bahkan menjadi hal yang sangat menggelikan saat Kencana menjadikannya lelucon. "Tamu engga sopan, di rumah orang malah ketawa ngakak," sungut Orlando yang kini duduk di meja makan. Anika mencibir dan mengambilkan nasi untuk Azalea yang sudah didudukan oleh Orlando. "Dari sepuluh tahun yang lalu, Tante sama Om udah nyuruh gue enggap rumah ini sebagai rumah gue sendiri," bela Anika percaya diri. Orlando tersenyum mengejek ke arah Anika yang duduk di hadapannya. "Lo engga ngerti kalimat basa-basi demi kesopan santunan, ya?" tanya Orlando sarkas. Anika menatap Orlando dengan sengit, "Itu bukan kalimat basa-basi karena Tante sama Om engga ngomong itu cuma sekali," debat Anika geram. "Itu karena nyokap bokap gue engga tega ngusir lo yang keseringan bolak balik kesini," Cecar Orlando tidak mau kalah. "Tapi---" "Kalian mau diam, apa terpaksa Mama nikahin kalian sekarang juga?!" Orlando dan Anika kompak membungkamm mulutnya saat Nyonya Danuga Kalan kembali menjatuhkan vonis mati. Sedangkan Orin dan papanya justru tertawa melihat dua manusia yang tadi berdebat tiba-tiba diam. **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD