bc

Sebelum Kita Benar-Benar Menjadi Asing

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
BE
bxg
city
like
intro-logo
Blurb

Ada orang-orang yang datang ke hidup kita bukan untuk tinggal selamanya.Mereka datang ketika kita sedang merasa sendirian, menggenggam tangan kita ketika dunia terasa terlalu berat, lalu perlahan membuat kita percaya bahwa mungkin, kali ini, kita akan baik-baik saja.Begitu juga dengan Nara dan Raka.Mereka bertemu tanpa rencana. Awalnya cuma dua orang asing yang saling bertukar cerita, lalu menjadi dua orang yang hampir setiap hari saling mencari. Raka adalah tempat Nara pulang ketika rumah terasa terlalu sepi. Sedangkan Nara adalah alasan Raka percaya bahwa setelah semua luka yang pernah dia lewati, masih ada seseorang yang bisa menerimanya apa adanya.Mereka punya banyak rencana.Tentang rumah kecil.Tentang hari-hari sederhana.Tentang tua bersama.Tentang kata selamanya yang dulu terdengar begitu mudah untuk dipercaya.Sampai suatu hari, hidup meminta mereka membayar harga dari semua kebahagiaan yang pernah mereka rasakan.Bukan karena mereka berhenti saling mencintai.Justru karena mereka masih saling mencintai, perpisahan itu menjadi jauh lebih menyakitkan.Dan bertahun-tahun kemudian, Nara masih menyimpan satu pesan yang tidak pernah sempat ia kirim.Satu kalimat yang mungkin, kalau saja dikirim lebih cepat, akan mengubah seluruh cerita mereka.“Aku nggak pernah menyesal pernah mencintaimu. Aku cuma menyesal, kenapa waktu kita bersama ternyata jauh lebih sedikit daripada waktu yang harus kuhabiskan untuk merindukanmu.”Karena ternyata, tidak semua orang yang kita cintai ditakdirkan untuk menjadi akhir dari cerita.Ada yang hanya menjadi bagian paling indah dari sebuah perjalanan.Dan ada yang pergi...tetapi meninggalkan dirinya di dalam hati kita, jauh lebih lama daripada yang pernah kita bayangkan.

chap-preview
Free preview
Bab satu — Orang Asing yang Datang Terlambat
Hujan turun sejak sore. Bukan hujan yang deras sampai membuat jalanan banjir. Cuma hujan kecil yang jatuh pelan-pelan, seolah langit juga sedang nggak punya tenaga untuk menangis lebih keras. Nara duduk sendirian di bangku halte, tangan Nara memegang gelas kopi yang dari tadi sudah nggak hangat lagi. Orang-orang datang dan pergi. Ada yang dijemput, ada yang menunggu seseorang, ada juga yang seperti Nara —menunggu, tapi bahkan nggak tahu sebenarnya sedang menunggu siapa. Kadang hidup memang lucu. Kita bisa menghabiskan waktu bertahun-tahun mencari seseorang yang bahkan belum kita kenal. Lalu ketika orang itu akhirnya datang, kita justru nggak tahu kalau dia adalah orang yang selama ini kita tunggu. Nara menatap jalanan yang basah. Sampai seseorang duduk di samping Nara. “Boleh duduk?” Nara menoleh. Seorang pria berdiri sambil menunjuk kursi kosong di sebelah Nara. Nara mengangguk kecil. “Silakan.” Dia duduk. Beberapa detik kami diam. Aneh. Dua orang asing duduk berdampingan dalam suasana yang begitu sunyi, tapi rasanya nggak terlalu canggung. Mungkin karena suara hujan terlalu ramai untuk membuat kami merasa benar-benar sendirian. “Kamu sering nunggu di sini?” Nara menoleh lagi. “Kenapa?” “Nggak tahu. Kayaknya kamu kelihatan seperti orang yang sering menunggu.” Nara tertawa kecil. “Emang kelihatan?” “Kelihatan.” Nara mengangkat alis. “Dari mana?” Dia menatap gelas kopi di tangan Nara. “Dari cara kamu lihat jalan.” Nara ikut melihat jalan. “Memangnya kenapa dengan cara aku lihat jalan?” “Kayak kamu berharap seseorang datang.” Nara terdiam. Entah kenapa, kalimat sederhana dari orang asing itu berhasil menyentuh sesuatu yang selama ini Nara sembunyikan. Nara tersenyum tipis. “Kalau aku bilang memang iya?” Dia ikut tersenyum. “Berarti semoga orangnya datang.” Nara nggak tahu kenapa. Tapi malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku berharap seseorang benar-benar datang. Bukan karena Nara sedang menunggunya. Tapi karena ada seseorang di sebelahku yang membuat penantian terasa sedikit lebih ringan. Dan Nara belum tahu... kalau orang asing yang duduk di sebelahku malam itu, suatu hari nanti akan menjadi seseorang yang paling sulit untuk Nara lupakan. Karena terkadang, orang yang paling kita sayangi justru datang ketika kita sedang nggak siap untuk kehilangan siapa-siapa lagi. ------------------------------------------ Sejak malam itu, Nara nggak pernah lagi melihat halte yang sama dengan cara yang sama. Bukan karena tempatnya berubah. Bangkunya masih sama, lampu jalannya masih sering berkedip dan bahkan penjual gorengan di seberang jalan masih selalu berteriak menawarkan dagangannya setiap sore. Yang berubah cuma Nara. Karena sekarang, setiap kali hujan turun, entah kenapa Nara selalu teringat pada seseorang yang bahkan belum kukenal namanya. Lucu, ya? Seseorang bisa tinggal di kepala kita bahkan sebelum dia benar-benar tinggal di hidup kita. Tiga hari setelah pertemuan itu, Nara kembali ke halte. Bukan karena ada urusan. Nara cuma pulang lebih sore. Setidaknya itu alasan yang kuberikan pada diri Nara sendiri. Padahal jauh di dalam hati, ada sedikit harapan kalau dia akan datang lagi. Nara duduk di bangku yang sama. Lima menit, Sepuluh menit, Dua puluh menit, Nggak ada siapa-siapa. Nara menghela napas, “B***h,” gumamnya pelan. Nara bahkan nggak tahu namanya, tapi Nara sudah berharap dia datang. Mungkin memang begini cara rindu dimulai, bukan dengan perasaan besar. Kadang, cuma dari sebuah percakapan singkat yang terus teringat bahkan setelah orangnya pergi. Nara hampir berdiri ketika suara seseorang terdengar dari belakang. “Kamu ternyata masih di sini.” Nara membeku, Nara menoleh, Dia. pria yang tiga hari lalu duduk di sebelah Nara, dia tersenyum sambil membawa dua gelas minuman. “Kirain kamu nggak datang lagi.” Nara mencoba menyembunyikan senyum. “Kenapa kamu pikir aku bakal datang?” Dia duduk di samping Nara. “Nggak tahu.” Dia menyerahkan satu gelas kepada Nara. “Kayaknya kamu memang suka tempat ini.” Nara menerima minuman itu. “Terima kasih.” “Sama-sama.” Kami kembali diam, tapi kali ini diamnya terasa berbeda tidak canggung dan tidak terasa asing. Seolah-olah tiga hari yang lalu bukan pertemuan pertama kami. “Aku Raka.” Nara menoleh. “Raka?” “Iya.” Dia tersenyum. “Kamu?” Nara menyebutkan nama nya. Dia mengulangnya pelan, seolah ingin memastikan dia nggak salah mendengar. Lalu dia tersenyum. “Bagus.” “Apanya?” “Namanya.” Nara memutar mata. “Gombal.” “Bukan.” “Terus?” “Jujur.” Nara tertawa kecil. Untuk pertama kalinya, Nara melihat senyumnya lebih jelas. Dan entah kenapa, ada sesuatu dari senyum itu yang terasa hangat. Sejak hari itu, Raka mulai sering datang ke halte. Kadang kami cuma ngobrol lima belas menit. Kadang sampai satu jam. Kadang dia datang dengan cerita tentang pekerjaannya. Kadang Nara yang bercerita tentang hal-hal kecil dalam hidup Nara. Tentang makanan yang tidak Nara sukai. Tentang lagu yang sering Nara dengarkan. Tentang mimpi-mimpi yang bahkan belum pernah Nara ceritakan kepada orang lain. Dan Raka selalu mendengarkan. Nggak pernah memotong. Nggak pernah bilang cerita Nara terlalu sepele. Dia cuma mendengarkan. Mungkin itu yang membuat Nara nyaman. Karena ternyata, didengarkan dengan sungguh-sungguh adalah salah satu bentuk kasih sayang yang paling sederhana. Hari-hari berlalu, Halte itu perlahan menjadi tempat mereka. Bukan tempat yang istimewa bagi orang lain. Tapi bagi mereka, tempat itu menyimpan terlalu banyak cerita. Suatu sore, Nara bertanya, “Rak.” “Hm?” “Kenapa kamu selalu datang ke sini?” Dia terdiam sebentar. Kemudian melihat jalan di depan mereka. “Karena dulu aku sering menunggu seseorang di sini.” Nara menatapnya. “Siapa?” “Orang yang nggak pernah datang.” Nara nggak bertanya lagi. Ada sesuatu dalam suaranya yang membuat Nara tahu bahwa pertanyaan berikutnya mungkin akan terlalu jauh. Raka tersenyum kecil. “Makanya sekarang aku nggak mau menunggu orang yang nggak datang.” “Terus kamu nunggu siapa sekarang?” Raka menoleh kepada Nara. Tatapannya membuat jantung Nara berdebar tanpa alasan yang jelas. “Kamu.” Nara tertawa gugup. “Jangan bercanda.” “Aku serius.” Nara menunduk, berusaha menyembunyikan wajah Nara yang mulai terasa panas. Raka tertawa kecil. “Kenapa malu?” “Nggak malu.” “Bohong.” “Berisik.” Dia tertawa. Dan sore itu, Nara mulai menyadari sesuatu. Nara tidak lagi datang ke halte karena ingin bertemu seseorang. Nara datang karena ingin bertemu Raka. Ada perbedaan besar di antara keduanya. Yang pertama adalah penantian. Yang kedua adalah kerinduan. Dan tanpa Nara sadari, Nara sudah mulai merindukan seseorang yang awalnya bahkan tidak Nara kenal. ------------------------------------------ Malamnya, ponsel Nara berbunyi. Raka: Udah sampai rumah? Nara tersenyum melihat pesannya. Nara: Udah. Kamu? Beberapa detik kemudian, balasannya masuk. Raka: Udah juga. Lalu muncul satu pesan lagi. Raka: Besok datang lagi, ya. Nara menatap layar cukup lama. Kemudian membalas. Nara: Kalau kamu datang. Jawabannya hanya satu kalimat. Raka: Kalau kamu ada, aku pasti datang. Nara nggak tahu kenapa kalimat sederhana itu terasa begitu berarti. Mungkin karena ada masa dalam hidup seseorang ketika kita cuma ingin diyakinkan bahwa keberadaan kita memang ditunggu. Nara meletakkan ponsel di d**a. Tersenyum sendiri. Saat itu Nara belum tahu... bahwa suatu hari nanti, Nara akan sangat merindukan satu pesan sederhana dari Raka. Pesan yang dulu datang hampir setiap malam. Pesan yang nantinya akan menjadi salah satu hal paling mahal untuk Nara kenang. Karena kita sering baru sadar betapa berharganya sebuah kebiasaan setelah kebiasaan itu berhenti dilakukan. ------------------------------------------ Setelah hari itu, ada sesuatu yang berubah. Bukan sesuatu yang besar. Tidak ada pengakuan cinta, tidak ada janji akan bersama selamanya, dan bahkan mereka belum pernah menyebut hubungan mereka sebagai apa. Tapi Raka mulai menjadi bagian dari hari-hari Nara. Pagi-pagi, ada pesannya. Siang, dia kadang bertanya sudah makan atau belum. Sore, kalau hujan turun, dia hampir selalu mengirim foto langit dari tempatnya. Dan malam... malam adalah waktu kami paling sering bercerita. Tentang apa saja. Hal-hal penting. Hal-hal nggak penting. Sampai hal-hal yang sebenarnya nggak perlu diceritakan pun jadi terasa layak dibicarakan kalau dengannya. Suatu malam, nara sedang mengerjakan tugas ketika ponsel Nara berbunyi. Raka: Belum tidur? Nara: Belum. Lagi ngerjain tugas. Raka: Susah? Nara: Banget. Raka: Mau aku temenin? Nara tersenyum. Nara: Emang kamu bisa bantu? Raka: Nggak bisa. Nara langsung tertawa. Nara: Terus ngapain? Raka: Ya nemenin aja. Kan nggak semua masalah harus diselesaikan. Kadang cuma perlu ditemani. Nara berhenti mengetik. Kalimat itu sederhana. Tapi entah kenapa, nara menyimpannya di hati. Mungkin karena selama ini Nara terlalu terbiasa menyelesaikan semuanya sendiri. Nara kira menjadi kuat berarti nggak boleh bergantung kepada siapa pun. Ternyata Nara salah. Kadang, menjadi kuat bukan berarti selalu sanggup berdiri sendiri. Kadang, menjadi kuat berarti berani mengakui bahwa kita juga ingin seseorang duduk di samping kita ketika hidup terasa berat. Malam itu mereka melakukan panggilan suara. Raka nggak banyak bicara. Dia cuma ada. Sesekali Nara mengeluh tentang tugas. Sesekali dia tertawa. Kadang mereka sama-sama diam. Aneh, tapi diam bersamanya nggak pernah terasa kosong. “Rak.” “Hm?” “Kalau suatu hari aku pergi jauh, kamu bakal lupa aku?” Dia terdiam. “Kenapa nanya begitu?” “Nggak tahu. Kepikiran aja.” “Kalau kamu pergi jauh, aku mungkin bakal kangen.” “Terus?” “Ya tetap ingat.” “Segitunya?” “Iya.” Nara tertawa kecil. “Jangan janji kalau nggak yakin.” “Aku nggak janji.” “Terus?” “Aku cuma bilang apa yang kurasa sekarang.” Nara terdiam. Jawaban itu justru terasa lebih jujur daripada sebuah janji. Karena janji kadang dibuat untuk masa depan yang belum tentu bisa kita kendalikan. Sedangkan perasaan adalah sesuatu yang sedang kita rasakan hari ini. Dan mungkin... cinta memang seharusnya dimulai dari kejujuran kecil seperti itu. ------------------------------------------ Beberapa minggu kemudian, Nara dan Raka mulai sering berjalan bersama sepulang kerja. Nggak ada tujuan khusus. Kadang cuma membeli makanan. Kadang duduk di taman. Kadang berjalan tanpa bicara. Suatu sore, mereka berhenti di sebuah toko kecil. Nara melihat sebuah gantungan kunci berbentuk bulan. “Lucu.” Raka melihat benda yang kutunjuk. “Kamu suka?” Nara mengangguk. Dia mengambilnya. “Berapa?” “Jangan.” Nara langsung menahan tangannya. “Aku cuma bilang lucu, bukan minta.” Dia tersenyum. “Aku tahu.” “Terus?” “Kadang seseorang menunjukkan sesuatu yang dia suka bukan karena ingin memilikinya.” Nara menatapnya bingung. “Terus kenapa?” “Supaya orang di sebelahnya tahu apa yang membuat dia bahagia.” Nara terdiam. Raka membeli gantungan kunci itu. Kemudian memberikannya kepada Nara. “Ini.” Nara menerimanya. “Terima kasih.” Dia mengangkat bahu. “Kecil kok.” Nara menatap gantungan kunci itu. Memang kecil. Harganya juga mungkin nggak seberapa. Tapi aku tahu, suatu hari nanti benda kecil ini mungkin akan menjadi sesuatu yang sangat sulit untuk kulepaskan. Karena manusia memang seperti itu. Kita nggak selalu menyimpan sesuatu karena benda itu mahal. Kita menyimpannya karena ada seseorang di balik benda tersebut. ------------------------------------------ Hari-hari terus berjalan. Sampai akhirnya Nara sadar bahwa Raka bukan lagi seseorang yang kebetulan hadir. Dia sudah menjadi seseorang yang kucari. Kalau ada cerita lucu, Nara ingin menceritakannya kepada Raka. Kalau Nara sedih, aku ingin mendengar suaranya. Kalau Nara melihat sesuatu yang indah, aku ingin menunjukkan kepadanya. Dan ketika ponsel Nara nggak berbunyi seharian... Nara mulai merasa ada sesuatu yang kurang. Suatu malam, Raka bertanya, “Kalau aku nggak ada, kamu bakal gimana?” Nara tertawa. “Kenapa pertanyaannya aneh terus?” “Jawab aja.” Nara berpikir sebentar. “Mungkin aku bakal tetap hidup seperti biasa.” “Cuma itu?” “Iya.” Dia tertawa pelan. “Jahat.” “Memangnya harus gimana?” “Harusnya bilang bakal nyariin aku.” Nara tersenyum. “Kalau kamu hilang, aku cari.” “Kalau nggak ketemu?” Nara menatap layar ponsel. “Ya aku tunggu.” Raka diam cukup lama. Kemudian dia berkata, “Jangan terlalu lama menunggu seseorang.” Nara mengerutkan kening. “Kenapa?” “Karena menunggu itu melelahkan.” Nara nggak tahu kenapa. Malam itu, kalimatnya terasa sedikit berbeda. Seperti ada sesuatu yang sedang Raka sembunyikan. Tapi Nara tidak bertanya. Nara memilih percaya bahwa besok akan tetap sama. Raka akan tetap mengirim pesan. Nara akan tetap datang ke halte. mereka akan tetap berbicara. Dan semuanya akan baik-baik saja. Bukankah begitu seharusnya? Sayangnya, hidup nggak pernah bertanya kepada kita sebelum mengubah sebuah cerita. Dan terkadang, hari yang kita kira biasa saja ternyata adalah hari terakhir sebelum semuanya nggak pernah benar-benar sama lagi.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Yüzbaşının Cerrahı

read
795.7K
bc

The Messenger

read
108.8K
bc

The Billionaire’s Intern

read
931.8K
bc

The Silver Wolf

read
306.9K
bc

Inferno Demon Riders MC: My Five Obsessed Bullies

read
1.0M
bc

Chosen, just to be Rejected

read
774.4K
bc

The MC President's Forsaken Wife

read
71.2K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook