Cila melepaskan cengkeramannya. Tanpa penopang itu, Amanda terjatuh keras ke lantai marmer yang dingin. Suara benturannya menggema singkat, namun cukup untuk membuat seluruh lobi mendadak terdiam. “Ayo, Elara,” ucap Cila datar, seolah tak terjadi apa-apa. Elara menyusul dari belakang. Ia tak berkata sepatah pun, tapi setiap langkahnya penuh kewaspadaan. Mereka berdua sangat sadar, tempat ini, meski tampak tenang dan mewah, sejatinya adalah sarang musuh. Keheningan bukan berarti aman, justru di balik diam itulah bahaya sesungguhnya bersembunyi, menunggu saat yang tepat untuk menyerang. Ting! Pintu lift terbuka. Cila melangkah masuk dan keluar dengan gerakan cepat, dingin, presisi. Ketika ia membuka pintu ruangannya, rasa jengkel langsung merambat naik. Seorang wanita paruh baya duduk
Download by scanning the QR code to get countless free stories and daily updated books


