Cila mengepalkan kedua tangannya di atas meja, matanya menatap layar dengan tatapan penuh ketegangan. Ia menghela napas panjang, lalu mengucapkan dengan suara tegas. “World full of lies…” Sambil menghapus sudut matanya dengan kasar, pandangannya berpindah ke William, penuh harap sekaligus menantang. “Apakah aku… masih bisa masuk ke kantor OGE?” William melangkah mendekat, setiap gerakannya tenang, terukur, seperti predator yang menilai mangsanya. Satu tangan menyelinap ke pinggang Cila, merangkulnya dengan tekanan ringan tapi memikat, seolah menandai wilayah yang tak ingin ia bagi dengan siapa pun. Tatapannya menancap dalam ke mata wanita itu, tajam namun tak menghakimi. Ia menelusuri setiap lapisan emosi yang coba Cila sembunyikan. ketakutan yang samar, kebingungan yang belum terjawab,

