Pagi itu, cahaya matahari menembus jendela tinggi ruang rapat OGE, memantul di permukaan meja panjang berlapis kayu gelap. Udara di dalam ruangan terasa kaku, penuh ketegangan, hanya terdengar dengungan pendingin ruangan dan gesekan kursi saat beberapa direktur menyesuaikan posisi duduk. Di kepala meja, Mike Orlando duduk dengan tenang. Jari-jarinya saling bertaut, pandangannya menusuk ke arah masing-masing direktur seakan menimbang keberanian mereka. Tanpa Priscila hadir, bayangan ancaman wanita itu tetap terasa, seolah memenuhi ruangan. “Selamat pagi,” suara Mike terdengar dingin namun mantap. “Kalian pasti bertanya-tanya bagaimana aku masih bisa bertahan… Semua itu berkat istriku, Marian. Dia menyelamatkanku dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri.” Mike menoleh ke arah pintu masuk da

