Cila mengulurkan tangannya, menyambut Edward dengan senyum tipis. Pria itu membalas tanpa ragu, genggamannya mantap, tatapannya licik terselubung. “Tidak hanya pintar dan jeli… ternyata Nona Priscila juga sangat cantik,” ucap Edward, menekankan kata pintar seolah ingin menguji. Priscila tersenyum kecil, lalu mengangkat alis pura-pura kaget. “Oh? Apakah aku baru saja menyinggung Tuan Edward?” tanyanya dengan nada polos yang dibuat-buat, sorot matanya menyiratkan sesuatu yang lain. Edward lekas menggeleng, kedua tangannya sedikit terangkat. “Oh, tentu saja tidak, Nona.” Suaranya tenang, tapi garis rahangnya menegang. Priscila mencondongkan tubuh sedikit ke depan, suaranya terdengar ringan tapi menusuk. “Tuan tenang saja. Selama ada aku di perusahaan, aku akan pastikan semua tikus-tikus y

