Lampu strobo menembakkan kilatan biru dan merah, menyapu lautan manusia yang berdesakan di lantai dansa. Asap tipis rokok bercampur dengan aroma alkohol, mengambang berat di udara. Dentuman bass menghentak, membuat lantai bergetar, seolah detak jantung klub malam itu mengikuti irama mesin yang tak pernah berhenti. Di sudut bar yang berkilau dengan cahaya neon ungu, Priscila duduk sendirian. Gaun hitamnya membalut tubuh dengan elegan, siluet dingin di tengah hiruk pikuk yang memabukkan. Matanya menatap kosong pada gelas kristal berisi whiskey, jari-jarinya berputar pelan di tepiannya. Wajahnya tetap datar, seolah hingar-bingar di sekitarnya hanyalah kebisingan tanpa arti. Lalu, sebuah bayangan tinggi menghampiri. Aura kuatnya seketika menelan cahaya lampu neon di belakangnya. William Cass

