Sekitar pukul sebelas Alana sudah berada di restoran milik ayahnya. Namun ketika berada di sana keadaannya masih sama seperti kemarin tidak ada peningkatan dari segi pengunjung yang datang hari ini. Semua ini benar-benar karena ulah Nathan sebelumnya membuat huru-hara di restoran milik sang ayah dan almarhumah ibu angkatnya.
Alana merasa sangat sedih karena ayahnya banyak melamun, mungkin memikirkan perkembangan restoran mereka. Alana pun mendekatkan diri dengan duduk bersama di kursi yang berhadapan dengan sang ayah.
“Ayah kenapa melamun? Apa karena sedang memikirkan tentang perkembangan restoran ini?” tanya Alana membuka obrolan di antara mereka. Putra menoleh ke arah putrinya sambil tersenyum untuk menunjukkan kalau tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan.
“Tidak Ayah hanya sedang melihat kendaraan yang sedang berlalu lalang di jalanan, kalau soal restoran Ayah sudah tidak ingin ambil pusing jika memang harus bertahan mungkin akan Ayah pertahankan tapi kalau tidak sudah saatnya Ayah menikmati hari tua Ayah di rumah sendirian,” jawab Putra yang terdengar sudah sangat pasrah dan berserah.
“Tidak, Alana akan bantu Ayah untuk membuat restoran ini kembali ramai agar Ayah bisa menyibukkan diri seperti dulu karena Alana tahu jika Ayah di rumah pasti akan merasa kesepian serta terkenang dengan Ibu,” kata Alana dengan nada bicaranya yang terdengar sangat bersemangat hingga membuat Putra terkekeh.
“Tapi bagaimana caranya? Ayah sudah tidak tahu harus berbuat apa untuk restoran ini.”
“Alana berpikir kita harus merubah beberapa konsep di restoran agar bisa kembali ramai dan mengundang beberapa influencer agar mempromosikan restoran kita,” jawab Alana yang menjelaskan beberapa rencananya yang memang sudah sempat ia pikirkan sebelumnya.
Putra memegang tangan Alana ketika putrinya terlihat antusias saat menjelaskan rencananya tersebut. sebenarnya ia ingin sekali mewujudkan harapan Alana hanya saja uang yang ia punya saat ini hanya cukup untuk membayar gaji karyawan serta membeli kebutuhan di restoran. Uang yang Putra gunakan saja hasil dari seluruh tabungannya.
“Maafkan Ayah ya, Nak. Sepertinya untuk rencana itu harus kita tunda karena saat ini uang yang ada hanya cukup untuk membayar gaji karyawan dan juga membeli kebutuhan di restoran,” kata Putra dengan berat hati ia harus menyampaikan hal tersebut.
Alana tersenyum seakan mengerti dengan kecemasan yang dirasakan oleh Ayahnya. “Soal uang Ayah tidak usah khawatir karena Alana sudah menyiapkannya.”
Alana mengambil amplop berukuran sedang dari dalam tasnya lalu memberikannya kepada sang ayah. Sebelumnya ke restoran memang Alana sengaja mampir ke bank untuk mengambil uang tunai agar bisa langsung ia berikan kepada sang ayah sebagai modal untuk kembali meramaikan restoran.
“Alana uang dari mana ini? Kau tidak....” Putra menghentikan ucapannya karena ia tidak sampai hati jika menuduh Alana sebagai pencuri.
“Ayah tenang saja uang ini diberikan Nathan sebagai tanda permintaan maafnya kepada kita karena sudah membuat restoran Ayah menjadi seperti ini,” dusta Alana yang sudah jelas kalau Nathan memberikan uang itu sebagai tanda jasa pria itu menggunakan tubuhnya secara paksa semalam.
“Apa? Pria kejam itu yang memberikannya untukmu?” tanya Putra yang benar-benar tidak percaya karena sudah jelas Nathan terlihat sangat angkuh serta suka merendahkan orang lain.
“Iya benar tadinya Nathan ingin datang sendiri ke sini tapi hari ini dia sangat sibuk di kantor jadi Alana mohon Ayah terima ya,” kata Alana dengan nada bicara memohon kepada sang Ayah. Sungguh Alana tidak ingin jika sampai uang ini ditolak oleh Putra.
“Tapi sejak kapan pria itu berubah menjadi baik seperti ini? Apakah ada hal lain yang sudah ia perbuat kepadamu? Atau mungkin pria itu membuat kesepakatan lain denganmu?” selidik Putra yang membuat Alana menelan salivanya secara perlahan.
“Apakah Ayah merasakan ikatan batin denganku sehingga beliau bisa bertanya tentang hal ini?”
“Tidak Ayah,” sanggah Alana.
“Lalu apa maksudnya ini? Apa dia ingin merendahkan kita lebih dari yang kemarin?”
“Tidak Ayah ini benar-benar permintaan maaf dari Nathan, Alana rasa pria itu mendapat sedikit pencerahan hingga ia berubah menjadi lebih baik karena saat mengatakannya wajah Nathan terlihat sangat tulus jadi Alan mohon Ayah tidak lagi berpikir buruk tentangnya sehingga Ayah mau menerima uang ini sebagai permintaan maafnya.”
Rasanya Alana sangat mual ketika harus menyampaikan kebohongan yang baru saja dibuatnya tentang Nathan. Apalagi mengenai wajah yang tulus... hahaha rasanya sangatlah jauh dari kata tersebut pagi ini saja Alana masih bisa mengingatnya dengan baik kalau wajah Nathan layaknya jeruk nipis yang terasa asam.
Putra pun akhirnya luluh dengan ucapan putrinya dan menerima uang tersebut. Dengan begini ia akan mulai mewujudkan mimpi Alana mengenai rencananya yang ingin meramaikan restoran miliknya.
# # #
“Apa seperti ini caramu melayani setiap pria yang sudah menyewamu? Sungguh rasanya sangatlah tidak memuaskan,” keluh Nathan sambil menggunakan kembali bathrobe yang sempat ia gunakan setelah selessai mandi.
Tiga puluh menit sudah ia berusaha melampiaskan hasratnya dengan wanita yang sudah dibayarnya di muka tersebut tapi tetap saja ia tidak bisa merasakan kenikmatan yang sempat ia bayangkan saat bersama dengan Alana semalam. Parfum yang sempat digunakan wanita itu pun tidak mempengaruhi percintaan panas mereka di atas tempat tidur tadi.
“Aku mohon Tuan, biarkan sekali saja aku mencoba untuk memuaskanmu karena jika MAdam tahu aku tidak bisa memuaskan pelanggan apalagi tidak mendapatkan bayaran penuh maka aku akan dihukum oleh Madam,” mohon wanita itu yang segera mendekat serta memeluk kaki Nathan.
“Sudahlah lepaskan, aku benar-benar kehilangan hasratku untuk melakukannya lagi,” kata Nathan sambil berusaha melepaskan kakinya pelukan wanita itu.
“Tapi Tuan....”
“Aku bilang lepaskan lagi pula aku akan tetap membayarmu secara penuh asalkan kau bisa tutup mulut karena sudah berada di ranjang yang sama denganku,” kata Nathan sebelum pria itu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Pria itu tidak menyangka jika ia sudah benar-benar terhipnotis oleh Alana.
Sekitar pukul tujuh malam Nathan sudah kembali ke paviliun dan melihat Alana yang baru saja ingin selesai menata perlengkapan makan malam untuk mererka.
“Nat, kamu sudah pulang? Mau makan bersama atau makan di rumah utama?” tawar Alana ketika melihat Nathan yang baru saja pulang.
“Tidak usah aku ingin langsung istirahat saja di kamar,” jawab Nathan yang langsung meninggalkan Alana menuju kamarnya.
Sesampainya di kamar ia melihat bayangan Alana yang tengah bersiap untuk melayaninya malam kembali seperti kemarin padahal jelas-jelas tadi ia bertemu dengan wanita itu di lantai dasar. Hasratnya pun seketika muncul kembali hingga ingin dilampiaskan.
“Astaga rasanya aku sudah benar-benar semakin gila karena wanita itu! Sampai bayangan tentang dirinya saja sudah berada di atas ranjangku.”