Sebuah Candu

1145 Words
Sesampainya di ruang makan yang ada di rumah utama, Nathan langsung duduk di tempatnya seperti biasanya yang berada di dekat Azka. Seorang pelayan pun langsung menyiapkan sarapan miliknya. “Kak, di mana istrimu? Apakah kau tidak mengajaknya sarapan?” tanya Azka yang menyadari kalau Alana benar-benar tidak mengikuti Nathan sampai ke rumah utama. “Dia ada di paviliun utama, lagi pula apa kau tidak ingat kalau Papa dan Mama melarangnya untuk ada di rumah utama?” jawab Nathan sambil mengingatkan kepada sang adik tentang larangan yang diberikan oleh kedua orang tuanya kemarin. Brahma sempat berdeham hingga membuat kakak beradik itu sama-sama terdiam sampai tidak berani berkutik. Keduanya benar-benar takut jika harus melanjutkan obrolan mereka kembali terlebih saat sedang sarapan seperti ini, bisa-bisa mereka hanya akan kenyang dengan mendengar omelan dari Brahma. “Azka, sebaiknya kau lanjutkan saja sarapanmu dan kau tidak perlu terlalu peduli dengan wanita itu,” tambah Rina dengan sorot matanya yang tajam, seakan menunjukkan rasa tidak sukanya jika kedua putra mereka membahas tentang wanita yang sudah menghilangkan nyawa menantu dan calon cucunya. Azka menganggukkan kepalanya sambil menelan salivanya secara susah payah. Entah mengapa di rumah ini hanya Azka yang tidak menunjukkan rasa benci atau marahnya kepada Alana, padahal sebelumnya jelas-jelas pria itu merasa sangat kehilangan sosok kakak iparnya tersebut. “Pak Nathan....” panggil Radit lagi ketika sang bos tidak merespon ucapannya barusan saat ia sedang menjelaskan serta menanyakan seputar pekerjaan. Nathan yang tersadar dari lamunannya menoleh ke arah Radit. “Maaf tadi kamu bicara tentang hal apa ya, Radit?” tanya Nathan agar Radit kembali mengulangi ucapannya barusan. Sungguh pikiran Nathan tiba-tiba saja kembali mengingat permainan panasnya dengan Alana semalam. Walau cenderung kasar saat ia melakukannya tapi Nathan sangat menikmatinya dan entah mengapa saat ini ingin sekali menyentuh wanita itu lagi serta mengulanginya kembali. Apakah Nathan sudah terhiptotis dengan pesona Alana? Ataukah ini balasan atas apa yang Nathan lakukan kepada Alana? Entahlah saat ini saja Nathan sangat bingung tapi ia selalu menepisnya dengan hal lain seperti mungkin ia sudah selama beberapa bulan ini tidak melakukan hubungan badan dengan siapa pun termasuk ketika Clarissa masih hidup, ia tidak berani menyakiti Clarissa dan calon anak mereka. “Apa Pak Nathan sedang sakit? Atau terpengaruh minuman beralkohol sisa semalam?” tanya Radit yang juga ingin tahu pennyebab sang bos yang terlihat tidak fokus seperti biasanya. “Tidak tapi mungkin saja aku memang masih terpengaruh dengan minuman itu, sudahlah sesampainya di kantor nanti kau belikan aku obat untuk penghilang pengar agar siang ini aku bisa kembali fokus saat menghadapi para invetor,” jawab Nathan sambil memberikan perintah kepada Radit. “Baik, Pak.” Mungkin benar saja apa yang dibilang Radit kalau dirinya memang berada dalam pengaruh alkohol hingga dirinya harus kembali teringat saat bersama Alana di atas ranjang semalam. Tapi kalau pun rasanya itu benar, bukankah akan lebih mudah bagi Nathan membalaskan dendamnya kepada Alana. Lagi pula sejak mereka menikah, Alana sudah menjadi miliknya dan dapat kapan saja ia panggil ataupun ia pergunakan di manapun pria itu mau. Ingat semua ini Nathan lakukan hanya untuk sebuah dendam semata bukan hal lain. Sekitar tiga puluh menit kemudian Nathan sampai di lobi kantor Eliot Company. Tentunya seluruh karyawan dari berbagai devisi sudah menyambutnya dengan membungkukkan tubuhnya ketika pria itu lewat di depan mereka. Elliot Company bisa dibilang perusahaan yang sudah lama berdiri dan selalu menang bersaing dalam urusan bisnis. Nilai sahamnya selalu tinggi atau stabil sehingga banyak investor yang mengantri untuk mengisi slot di perusahaan tersebut. Namun ketika kabar menantu serta calon cucu dari keluarga Elliot meninggal tentu saja nilai sahamnya sempat menurun hanya saja semua itu dengan cepat segera ditangani oleh Nathan yang saat ini menjabat sebagai CEO di perusahaan tersebut. Di perusahaan tersebut juga ada Azka yang bekerja di sana sebagai wakil direksi. Keduanya memang dipaksa untuk ikut andil dalam menangani perusahaan yang sudah secara turun temurun diwariskan dari generasi sebelumnya hingga saat ini. Sekitar pukul satu Nathan memutuskan untuk segera pergi meninggalkan area kantor karena memang kepalanya sejak tadi terasa sangat pusing bahkan mungkin sebentar lagi ia akan benar-benar gila hingga tidak bisa kembali fokus bekerja. “Radit, sekarang juga cepat carikan aku seorang jalang yang mampu melayaniku di atas tempat tidur tapi ingat aku tidak ingin sembarang wanita yang kau pilih untuk hal itu,” titah Nathan ketika mereka sudah berada di dalam mobil. “Tapi Pak, bukannya sudah ada Ibu Alana yang akan—“ Nathan membuang nafas kasar. “Tidak bisakah kau lakukan saja perintahku tanpa mengatakan hal apa pun?” Nathan memang sejak tadi merindukan tubuh Alana, entah sihir apa yang dipergunakan Alana hingga Nathan seperti saat ini. Namun yang jelas saat ini Nathan tidak ingin menggunakan tubuh itu melainkan ia ingin melakukannya dengan tubuh lain sebagai pembuktian. “Baik, Pak Nathan.” “Aku beri kau waktu selama tiga puluh menit,” tambah Nathan yang merasa dirinya sudah tidak waras. ”Kenapa aku seperti ini? Apakah benar ini semua karena wanita itu? Atau mungkin parfum yang biasa digunakan oleh Clarissa?” “Radit, setelah kau mengantarku sampai ke hotel. Segera kembali ke paviliunku dan ambilkan parfum yang berada di kamar Alana, kau tahu kan parfum yang biasa digunakan oleh Clarissa?” kata Nathan lagi yang teringat kalau sebelumnya ia sempat mencium aroma parfum tersebut diakhir pergulatannya semalam. Radit pun menjawab perintah Nathan dengan menganggukkan kepalanya sebagai tanda kalau ia mengerti serta paham perintah dari Nathan tersebut. Sesampainya di kamar hotel Nathan langsung masuk ke dalam kamar mandi dan merendam tubuhnya di dalam air dingin dengan sedikit busa sabun. Saat kepalanya kembali bersandar pada kepala bathtub dengan kedua matanya yang terpejam. Bayangan akan Alana serta beberapa potong adengan tiba-tiba saja muncul sehingga ia kembali menginginkan hal tersebut. “Astaga, apa yang sebenarnya terjadi dengan diriku? Apakah wanita itu menggunakan ilmu sihir untuk membalas perbuatanku semalam sehingga kini tubuhnya terasa seperti sebuah candu hingga aku selalu menginginkannya? Tapi jika kulihat kembali wajah itu rasanya aku—“ Ucapan Nathan belum selesai kala ponselnya berdering dan saat melihat namanya yang tertera di sana Nathan segera menjawab panggilan tersebut. “Ada apa kau menghubungiku?” “Papa saat ini sedang ada di kantor, Kak.” “Lalu, apa hubungannya denganku?” tanya Nathan bingung kenapa tidak langsung saja sang papa menghubunginya? “Papa hanya menanyakan keberadaanmu saat ini karena aku sudah lebih dulu kembali ke kantor daripada kau, apakah kau sedang bersama istirmu itu?” tebak Azka. “Tidak, saat ini aku sedang menemui temanku yang baru kembali dari luar kota dan mungkin saja akan kembali sekitar satu sampai dua jam tapi setelah ini Radit akan kembali ke kantor untuk menangani pekerjaanku atau mungkin selama aku pergi kau bisa menanganinya sebentar,” dusta Nathan yang tidak mungkin mengatakan kebenarannya kepada Azka saat ini. “Baiklah, kalau begitu akan aku sampaikan kepada Papa,” kata Azka lalu mengakhiri panggilan telepon mereka. Nathan pun meletakkan kembali ponselnya lalu menenggelamkan seluruh tubuhnya di dalam air.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD