Wanita Munafik

1053 Words
Nathan terbangun dengan kepalanya yang terasa pusing, ketika pria itu membuka selimutnya ia tampak terkejut ketika melihat tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang pun. Ingatan Nathan pun kembali berputar saat tanpa sengaja ia menjamah tubuh Alana dengan kasar saat dipengaruhi oleh alkohol. ”Astaga, apa yang aku lakukan? Kenapa aku begitu ceroboh sekali tapi biarlah memang itu bukan alasanku menikahinya?” gumam Nathan yang sempat merasa bersalah tapi ia sendiri tidak keberatan karena memang tujuannya menikah hanya untuk bersenang-senang dalam membalaskan dendamnya. Pria itu pun beranjak dari tempat tidurnya lalu bergegas untuk segera berangkat ke kantor. Nathan pun kembali mengingat betapa teganya ia menyebutkan nama istrinya setelah melakukan menjamah tubuh wanita itu. Ia juga ingat kalau sebelum itu ia sempat mencium parfum kesukaan Clarissa yang ada di tubuh Alana. Sementara semalam setelah malam nahas itu, Alana langsung bangkit dari tempat tidur Nathan walau dalam keadaan tertatih karena rasa sakit pada area kewanitannya. Dengan susah payah ia berjalan menuju kamarnya dengan piyamanya yang sudah di robek paksa oleh pria kejam tersebut. Alana langsung membersihkan dirinya di bawah kucuran air shower hangat karena malam itu terasa dingin baginya. Selain itu Alana merasa jijik dengan tubuhnya yang sudah ternodai dengan perbuatan keji pria yang telah menikah dengannya. Wanita itu masih ingat semua yang sudah dilakukan Nathan termasuk ketika Nathan menyebutkan nama mendiang istrinya. Hatinya terasa hancur tapi bukan karena kecewa dengan pria itu melainkan Alana merasa dirinya sudah sepadan dengan wanita jalang yang menjajahkan tubuhnya, hanya saja saat ini bedanya Alana hanya ingin mempertanggung jawabkan rasa bersalahnya. “Alana, kuatkan dirimu karena semua ini kamu lakukan demi ayah serta rasa bersalah yang selalu menghantui dirimu,” gumam Alana sambil memeluk dirinya di bawah kucuran air. Ia berusaha menyemangati dirinya karena tidak mungkin bagi dirinya mengatakan apa yang terjadi dengannya hari ini kepada sang ayah. Alana tidak ingin ayahnya merasa bersalah karena sudah merelakan putrinya tersebut kepada pria yang nyanya benar-benar salah. Sekitar pukul tujuh Alana keluar dari kamarnya karena ia berencana ingin membuatkan sarapan sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai seorang istri. Walau ada pelayan tapi ia tidak ingin dicap sebagai istri yang malas oleh semua orang yang tinggal di sana termasuk keluarga Nathan. “Loh Ibu Alana, kenapa ke dapur? Apa Ibu memerlukan sesuatu?” tanya seorang pelayan yang menyadari kehadiran Alana yang baru saja memasuki area dapur. “Tidak usah repot-repot karena saya ingin membuatkan sarapan untuk suami saya, Oh ya biasanya Nathan sarapan apa ya?” jawab Alana sekaligus bertanya tentang menu sarapan yang biasa dinikmati oleh Nathan karena memang ia tidak mengetahui selera pria itu apalagi tentang segala kebiasannya. “Biasanya Bapak Nathan akan sarapan dengan nasi goreng denga telur tanpa garam tapi setelah Ibu Clarissa tidak ada beliau akan sarapan di rumah utama bersama keluarganya atau sarapan di kantor, Bu,” jelas pelayan tersebut. “Tapi mungkin mulai hari ini Pak Nathan akan kembali sarapan di paviliun karena sudah ada Ibu Alana,” tambah pelayan itu sambil tersenyum yang membuat Alana yakin kalau pria itu akan sarapan bersamanya karena yang ia tahu pasti Nathan tidak akan mengajaknya ke rumah utama. “Kalau begitu saya akan memasak makanan yang biasa dimakan Nathan ya jadi saya harap kamu bisa membantu saya,” kata Alana yang bersemangat ingin membuatkan sarapan untuk mereka. Beberapa menit kemudian ketika Alana baru saja meletakkan dua piring berisi nasi goreng dengan telur tanpa garam tersebut, ia melihat Nathan yang baru saja turun dari lantai atas. “Nat, ayo kita sarapan,” ajak Alana tapi tidak disambut baik dengan oleh wajah Nathan yang selalu terlihat jutek dan sangat dingin. “Saya akan makan di rumah utama jadi kamu makan saja sendiri,” balas Nathan yang langsung pergi meninggalkan Alana. Alana tentu sedih karena ia sudah mempersiapkan semuanya untuk pria itu tapi sama sekali tidak dihargai. Mungkin setelah ini Alana harus sadar kalau posisinya di tempat ini hanya sebagai boneka pemuas atau rahim yang sedang disewakan saja. “Oh ya, semalam aku sempat mencium aroma parfum kesukaan mendiang istriku. Apa kau masuk ke dalam kamarku lagi dan menggunakan parfum itu?” tanya Nathan yang sudah berbalik ke arah Alana. Alana menggelengkan kepalanya. “Tidak tapi aku memang sempat menggunakan parfum yang ada di kamar tamu, aku pikir memang itu sengaja disediakan untukku,” jawab Alana. “Kalau begitu jangan pernah lagi pakai parfum itu dan ingat jangan pernah masuk apalagi sampai semua barang miik mendiang istriku,” peringat Nathan yang membuat Alana menganggukkan kepalanya. “Oh ya, aku sudah mentransfer beberapa uang ke rekeningmu sebagai jasa tubuhmu yang aku pakai semalam...” “Apakah sekarang aku ini memang benar-benar wanita jalang yang menjajahkan tubuhnya kepada pria kejam itu?” Alana mengangkat kepalanya lalu menatap Nathan yang masih bergeming. “Tapi aku tidak membutuhkan uang itu, aku menikahimu karena benar-benar ingin bertanggung jawab atas—“ “Kau tidak usah munafik, aku rasa kau membutuhkan uang itu untuk bersenang-senang seperti wanita lainnya jadi nikmati saja karena aku sudah berusaha berbaik hati denganmu,” potong Nathan dengan senyumnya yang mengejek. Sungguh saat ini Nathan benar-benar sudah menyamai Alana dengan wanita jalang yang pernah ia temui. Hati Alana terasa sangat sakit hingga sesak sekali rasanya untuk bernafas tapi ia tidak boleh kalah atau pun sampai menangis di hadapan pria itu. Alana tidak ingin terlihat lemah apalagi kalah. Nathan pun pergi ke rumah utama setelah berhasil membuat wajah Alana memerah karena merasa kesal dengan semua ucapannya, tapi hal itu terasa sangat menyenangkan baginya. Alana duduk di meja makan lalu mulai memakan sarapannya dengan menghilangkan segala rasa kesal dan sakit hatinya. Sebisa mungkin ia berusaha menghilangkan rasa itu di dalam dirinya dan bersikap seperti tidak pernah terjadi hal apa pun. “Kalau begitu, aku akan menggunakan uang ini untuk kembali memperbaiki citra buruk tentang restoran ayah yang sudah dirusak oleh Nathan,” kata Nayla yang bersikap seolah tidak tahu malu. Toh anggap saja uang yang Nathan berikan sebagai rasa tanggung jawabnya karena sudah merusak nama baik restoran milik ayah dan mendiang ibu angkatnya. “Setelah sarapan aku akan pergi rumah atau ke restoran ayah pasti beliau akan senang sekali bisa melihatku dalam keadaan yang ba—“ “Baik? Apakah aku benar-benar dalam keadaan baik?” Nayla tersenyum seperti orang gila setelah kebingungan untuk mengartikan konotasi dari kata baik itu sendiri karena hatinya saja saat ini sedang menangis dan terasa perih. Apakah itu masih dibilang baik-baik saja?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD