Galang pranomo

892 Words
setelah menghabiskan waktu bercerita dengan mami yasmin, bI asih tampak sudah menyiapkan makan malam . Sean yg sudah turun dari atas tampak berbeda dengan balutan baju santai terlhat manis sekali. galdis sesekali melirik Sean karna ini pertama kali nya dia melihat Sean dengan balutan baju sehari hari. "kenapa gladis????" "anak mami gantengkan." goda Yasmin yang sedari tadi melihat gladis melirik Sean. "ehhhh enggak mi itu anu tadi ehhh" "hmmmmmm ini ruangan makan jangan ada yang berisik"ucap Sean dengan suara bariton ny. sedangkan Yasmin tersenyum melihat tingkah gladis yang gugup dan malu karna tertangkap basah oleh nya. gladis menuangkan makan kepada sean Sean tampak biasa saja wajah nya datar tanpa ekspresi. mengingat ini pertama kali nya mereka duduk bersama. kami makan dalam diam hanya suara sendok dan garpu yg sedang beradu yg terdengar. setelah makan malam aku mengantar mami ke kamar nya untuk istirahat. sementara Sean sudah dari tadi pergi menuju kamar setelah mendapat telfon tentang pekerjaan nya. "mami istirahat dlu yah kan perjalan mami hari ini cukup panjang." "ia sayang,,gladis juga istirahat yah." "ia mi,,,"aku menutup pintu membiarkan mami beristirahat dengan tenang. sementara aku bingung harus kemana aku masih ragu untuk kembali ke kamar. "bagaimana ini??" nanti kalau aku langsung ke kamar Sean akan marah. "apa dia sudah tidur yah." "apa dia masih bekerja?" "nanti dia bisa terganggu kalo aku langsung ke kamar." gladis memutuskan untuk menghirup udara segar di taman. gladis selalu terpesona dengan keindahan taman dirumah itu. banyak bermacam macam bunga suasana nya begitu segar. aroma bermacam bunga membuat hati nya senang. "bunga bunga disini indah sekali. gladis memetik satu tangkai bunga mawar merah tangan nya tertusuk duri yang melingkari batang mawar. "awwww,,,,," setetes darah terkucur dari jari gladis. dengan cepat dia menghisap jarinya agar dara nya cepat berhenti. gladis menuju kursi yang berada di taman dia membawa mawar yang tadi dipetik nya. "bunga mawar ini begitu indah" "aroma nya begitu wangi" "namun sayang di sekeliling nya banyak duri yang sangat menyakitkan" ucap gladis sambil memandangi mawar tersebut. jam menunjukkan pukul 11 mlm setelah kurasa Sean mungkin saja sudah tidur. perlahan aku membuka hendel pintu kamar. aku tidak melihat Sean diruangan yg luas ini. dengan cepat aku menuju kamar mandi. untuk sekedar menyegarkan badan. setelah mandi aku buru buru tidur agar kalau Sean datang aku dan dia tidak saling bertatap muka. Sean telihat mengotak Atik leptop nya dan sesekali menelisik berkas yg berserakan di meja kerja nya. dia tidak fokus Krn mengingat informasi dari asisten nya tentang Galang flassback... '''"pak saya sudah mengumpulkan semua informasi tentang Galang Rendi memberi kertas informasi. Sean membaca sambil menaikkan sebelah alis nya. nama galang pranomo anak satu satunya dari keluarga pranomo usia 29 tahun pewaris satu satunya kekayaan dari pranomo Sean melihat beberapa gambar Galang dia melempar kasar kertas tersebut. "apalagi yang kau tau tentang dia??" "saat ini dia sedang berada di Eropa pak." "untuk mengurus bisnis orang tuanya." selama ini dia pergi dari rumahnya karena dia tidak ingin melanjutkan bisnis keluarganya ,tapi beberapa bulan yang lalu dia berubah pikiran dan ingin mengurus semua bisnis keluarganya. ""sial"" umpat sean dengan keras. dia mengingat bahwa keluarga pranomo adalah saingan terberat bisnisnya. memang dibandingkan keluarga Adi jayadiningrat kekayaan Pranomo tidak ada apa-apanya. tetapi keluarga pranomo juga mempunyai banyak harta di mana-mana dan merupakan salah satu pesaing berat bisnis nya. flassback selesai..... Sean mengacak kasar rambut nya. "dari mana gladis bisa berkenalan dengan nya.! apa memang sudah pekerjaan nya mencari pria pria kaya." "sialll,,,,wanita itu ingin hidup bahagia Dengan kekasihnya." "jangan harap itu bisa terjadi. aku akan menyiksa nya sampai dia lupa untuk bahagia,,," mengingat potret gladis Dan Galang membuat nya semakin meradang. mengingat potret tersebut melihat penampilannya Galang tampak seperti orang biasa. tidak tampak sedikitpun seperti anak orang kaya. Sean meraih gawai dan menghubungi rendi asisten. dari seberang tampak rendi sedang ingin istirahat. baru saja ingin meletakkan tubuhnya ke kasur nya yang empuk dering telfon berbunyi drtt..drtt. ..drt. . . terdengar dari seberang suara bariton "rendi saya mau sekarang juga kau cari tau lagi informasi tentang galang." saya kan sudah memberikan informasi tadi siang ke bapak sahut Rendi. "itu masih kurang." "saya ingin tau selama ini apa yang dikerjakan Galang dan dimana dia berada." "apa kau paham!!" ucap Sean. baik lah pak". ucap Rendi lesu. "Rendi apa kau ingin di pecat???" "baik lah pak saya akan mencari informasi nya sekarang juga". timpal Rendi dengan tegas . seperti biasanya Sean akan mematikan telefon nya sebelum Rendi selesai berbicara. Rendi hanya bisa memandangi kasur nya yang empuk dari kejauhan. "dasar bos Gilak,,,,,," "apa dia tidak punya jam di rumah nya yang megah itu." gerutu Rendi. sementara Sean yang masih berada di ruangan kerja nya merasa mulai ngantuk. Sean yg sedari tadi berkutak dengan pekerjaan nya memilih istirahat di kamar nya karena jam sudah menunjukkan pukul 12.45 menit. sesampai di kamar dia melihat gladis tertidur pulas. Sean menatap gadis yg sangat dibenci nya itu wajah nya tampak cantik dan imut saat tidur. tapi entah setan apa yg merasukin nya hingga menggangu tidur nyenyak gladis. "heii heii kau...bangunan ayo cepat bangunan,,,,,, enak saya tidur dengan santai di kasur ku." gladis bangun dengan takut dia duduk dan menunduk kan kepalanya. "maaf tuan ,,,tadi saya sangat mengantuk." Sean melempar sebua bantal ke lantai. "itu kau itu cocok nya tidur di lantai." "udah sana jangan pernah menyentuh kasur ku." dengan cepat gladis langsung berpindah tempat dia menangis dalam diam merasakan dingin nya lantai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD