D&W 13

1640 Words
Chapter 13 Fiona mendesah legah karena saat sampai Sean masih menutup matanya. Fiona segera merbahkan dirinya di samping Sean dan menutup mata. Sean meraba sebelah ranjangnya, dia tersenyum saat menemukan apa yang dia cari. Sean mulai menarik tubuh Fiona kedalam pelukannya. Sean mulai melanjutkan tidurnya yang tertunda karena mencari keberadaan matenya. Matahari mulai tinggi. Sean mulai membuka matanya saat sinar matahari dengan tidak tahu dirinya mengarah kearah wajahnya, membuatnya terbangun. Sean menyerngit saat merasa matenya masih tidur dengan lelap di pelukannya. “Sudah pukul 10 pagi dan tidak biasanya Fiona masih bergelung dengan mimpinya” Sean bingung melihat matenya. Pria itu mengedikkan bahunya dan mulai beranjak bangun untuk membersihkan diri. Sean hari ini harus berada di ruangan kerjanya mengurus pekerjaannya yang kemarin dia telantarkan karena ulah Fiona. *** Fiona mulai membuka matanya saat jarum jam tepat berada di angka 11. Fiona mulai merenggangkan tubuhnya. Saat melihat kearah jam yang berada di dinding Fiona membelalakkan matanya. “Aku tidur cukup lama. Tapi kenapa Sean tidak membangunkanku?” Fiona mulai bermonolog. Fiona bangun dari tidurnya dan mulai membersihkan tubuhnya. Perutnya mulai berdemo minta di isi. Fiona turun dari lantai dua dan menuju kearah ruang makan. Melihat sang Luna yang berjalan kearah meja makan, para omega segera menyiapkan makanan untuk sang Luna. Sebenarnya Fiona tidak terbiasa dengan segala kebutuhannya disiapkan orang lain. Tapi mau apa dikata sekarang dia seorang Luna dan Sean juga memerintahkan para omega untuk menyiapkan segala keperluannya. Saat semua makanan hampir di siapkan di meja makan salah satu omega bertanya, “Apa ada menu yang ingin anda makan, Luna?” “Tidak ada. Ini semua sudah cukup untukku” jawab Fiona Para omega mulai undur diri. Fiona mulai memakan makanannya dengan tenang. Fiona melangkahkan kakinya kearah taman belakang setelah menyelesaikan acara makannya. Sebenarnya Fiona harus ke camp Halfblood ada yang ingin dia tanyakan pada roh Delfi tapi dengan keadaan yang seperti ini Fiona meragukan Sean akan mengijinkannya untuk pergi. Fiona mulai duduk di bangku dekat dengan tanaman Lily. Banyak yang harus dipersiapkan sebelum perang besar terjadi. Hingga membuat kepala Fiona pusing. Di tambah lagi dengan pemberontakan yang dilakukan oleh pengikut Kronos. Fiona menghela nafas kasar. *** Sean menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Sean memijit keningnya, menjadi seorang Raja dari seluruh clan Werewolf bukanlah hal mudah. Kepalanya terasa pecah melihat banyak sekali laporan kerusakan dari berbagai pack. Sean berdiri dan berjalan kearah balkon yang mengarah kearah taman belakang. Dia membutuhkan udara segar. Sean melihat seorang gadis yang duduk sendirian di kursi taman. Sean memfokuskan penglihatannya karena merasa mengenali gadis itu. Sean tahu gadis itu matenya Sean dibuat bingung apa yang dilakukan matenya disana dengan tatapan kosong. ‘Sean ada apa dengan mate kita?’ tanya Allard “Aku juga tidak tahu Al. Sepertinya kemarin dia masih ceria” ‘Kau benar. Kemarin dia dengan semangan membuat kita kelelahan. Tapi ada apa dengannya hari ini?’ “Itu yang membuat aku bingung Al. bahkan tadi pagi dia terlambat bangun. Kau tahu sendirikan mate kita selalu bangun lebih pagi dari kita” ‘Ya kau benar. Sepertinya ada sesuatu yang mengganggu pikirannya’ “Kita tanyakan nanti. Aku harus menyelesaikan tugas yang menggunung itu” ucap Sean dengan melihat kearah tumpukan dokumen di meja kerjanya. ‘Lalu kapan kau akan mempertemukanku dengannya, Sean?’ tanya Allard mendesak Sean “Kau pasti akan bertemu dengannya. Kau tunggu saja. Dasar serigala tidak sabaran” Sean segera memutus mindlink sebelum serigalanya semakin cerewet dan membuat kepalanya semakin pusing. Sean berjalan kearah mejanya dan mulai membaca berbagai keluhan dari pemimpin pack. Jika tidak segera ditangani masalah ini tidak akan selesai dan akan membuatnya semakin pusing. Sean mendongak saat mendengar suara pintu diketuk dan kemudian disusul dengan masuknya sang Beta “Alpha” ucap Kai dengan nada takut “Ada apa Beta?” “Ada p*********n di perbatasan pack. Kali ini orc dan troll yang menyerang. Lalu...” Kai tidak berani meneruskan ucapannya Sean yang merasa ada yang mengganjal dari perkataan Kai, mendesak Kai untuk mengatakannya “Katakan Kai jangan membuatku marah” “Orang pertama yang tahu kedatangan para musuh adalah Luna. Sekarang Luna pergi untuk melawan para orc dan troll. Saya tidak bisa mencegah Luna karena tadi Luna mengunci saya di dalam bola air buatannya Alpha” Sean baru menyadari jika seluruh tubuh Kai basah kuyup. Sean yang mendengar ucapan Kai terkejut hingga tanpa sadar dirinya sudah berdiri dengan tubuh yang tegang. Sean segera berlari keluar yang diikuti oleh Kai dibelakangnya. Saat berada di luar mansion Sean langsung berganti shift dengan Allard. Serigala berukuran lebih besar dari ukuran serigala Alpha lainnya dengan bulu yang hitam legam dengan warna silver di ujungnya terlihat berlari dengan kecepatan penuh. Niatnya nanti saja mempertemukan Allard dan Fiona, malah sekarang mereka akan segera bertemu. Saat Allard sampai dia terkejut dengan matenya yang menghadapi tiga orc sendirian dengan pedang yang tidak berhenti mengayun. Allard terkejut saat ada troll yang akan menyerang dari belakang Fiona. Allard langsung meloncat dan menggigit leher troll itu hingga terdengar erangan kesakitan dari troll itu. Fiona yang mendengar suara geraman dan raungan dari belakangnya menoleh. Fiona terkejut melihat serigala besar dengan mata perak yang bercahaya yang langsung melompat dan menyerang orc yang ada di depannya. Untuk sesaat Fiona terdiam di tengah pertarungan. Dia sungguh dia buat kagum dengan aura dan karisma yang dikeluarkan oleh serigala itu. Kemudian disampingnya berdiri serigala berwarna coklat dengan warna mata hijau emerald. “Anda baik-baik saja Luna?” tanya serigala itu “Kau siapa?” tanya Fiona balik “Saya Kein serigala dari Kai, Beta Silvermoon pack” jawabnya “Ah… Aku baik-baik saja Kein” jawab Fiona kemudian “Saya akan menjaga anda, Luna” “Tidak perlu Kein. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Melawan mereka bukan hal baru bagiku” “Tidak bisa Luna. Ini perintah langsung dari Alpha” tolak Key “Terserah” jawab Fiona. Kemudian menyerang troll di sampingnya “ποιος εισαι, ιμιτηεος? (siapa kau, Demigod?)” ucap salah satu orc “αφτο δεν ειναι κατι σιμαντικο να γνοριζοθμε. Απλα τηυμιτηειτε οτι ειμαι ο απαισιος θεριστις σας (itu bukan hal yang penting untuk di ketahui. Hanya ingat aku adalah malaikat mautmu)” Setelah berbicara seperti itu Fiona mulai menyerang dengan sedikit brutal ke arah orc itu. Allard terlihat menyerngit bingung dengan ucapan mereka. Dia sama sekali tidak tahu Bahasa Yunani. Allard kembali mengalihkan pandangannya kearah musuh. Allard menggeram marah. Berani-beraninya mereka memasuki wilayahnya dan membuat onar. Allard menyerang para orc dan troll dengan membabi buta. Emosinya sudah melambung dan harus segera di tuntaskan. Aarghhh Allard menoleh saat mendengar suara Fiona yang menjerit sakit. Allard dan Sean yang ada ditubuhnya langsung menggeram marah melihat luka sayatan pedang di lengan Fiona. Allard mulai gelap mata. Dia mengaum marah dan mulai tidak terkendali. Para warriornya seketika mundur teratur begitu juga dengan sang Beta yang segera membawa sang Luna menyingkir dari area pertarungan. Allard langsung membabat habis mereka semua. Hingga dalam hitungan menit para musuh pun tumbang. Serigala besar itu berbalik kemudian berjalan kearah Fiona. Ketika berada di hadapan Fiona ekspresi wajahnya terlihat sedih. Fiona maju dengan tangan yang memegangi lengan kirinya. Saat tepat berada di depan serigala besar itu tangan Fiona terulur dan mengelus surai serigala itu yang begitu terasa lembut di telapak tangannya. “Apa kau serigala Sean?” tanya Fiona “Ya, namaku Allard. Senang bertemu denganmu, mate. Sean selalu menunda keinginanku untuk bertemu denganmu” Fiona terkejut mendengar deep voice itu dan terkesan mengintimidasi itu. Suara itu sangat berbeda dengan suara Sean. Meskipun suara Sean juga hampir sama hanya saja suara Sean lebih terkesan hangat. “Bulumu halus, Allard. Kau… Serigala yang gagah” ucap Fiona dengan terkagum Mendengar ucapan matenya mata serigala Allard berbinar. Dia sangat bahagia ketika matenya menyukai dirinya. Dia kira matenya akan takut dengan wujudnya. Karena wujud serigalanya lebih besar dari pada serigala Alpha lainnya. Apalagi warna bulunya yang hitam legam. Ekornya pun bergerak dengan cepat, tanda dia begitu bahagia. Fiona menyerngit bingung saat serigala besar itu menjauh darinya dan berjalan kearah belakang pohon besar. Tak lama muncul sosok Sean dengan wajah yang begitu khawatir. Saat berada di hadapan Fiona terdengar geraman rendah dari Sean. “Kamu terluka mate. Ini yang aku takutkan jika kau ikut bertarung” ucap Sean dingin Fiona yang pertama kali mendengar suara dingin Sean terkejut. Fiona mengelus lengan Sean dan berkata, “tidak apa Sean. Ini hal biasa saat bertarung. Dulu aku sering mendapat luka yang lebih parah dari ini” Fiona mencoba menenangkan Sean “Tapi tetap saja mate. Aku tidak suka melihatmu terluka” Sean mendesah lelah “It’s okay, Sean. Ini akan sembuh sebentar lagi. Aku hanya butuh air dan luka ini akan hilang dari tubuhku” ucap Fiona enteng Sean yang mendengarnya segera menarik Fiona pergi untuk mencari air. Setiap melihat luka itu amarah Sean melambung jadi lebih baik jika luka itu segera menghilang dari tubuh matenya. Saat menemukan danau di dekat perbatasan Sean segera menarik tangan Fiona kearah danau itu. Fiona segera memasukkan ujung jari kirinya kedalam danau itu lalu air itu merambat dari ujung jarinya hingga kearah lukanya. Dalam sekejap luka Fiona menghilang tanpa meninggalkan bekas sama sekali. “Kamu lihat bukan? Lukanya hilang. Jadi kamu tidak perlu terlalu khawatir seperti itu, Sean. Luka seperti ini adalah luka biasa bagi kami para Demigod” Fiona menunjukkan lengannya yang sudah bersih dari luka kearah Sean. “Aku tahu mate. Tapi tetap saja aku khawatir. Seharusnya kamu sudah tahu bagaimana diriku setelah tinggal bersamaku tiga bulan lebih” nada Sean mulai lembut kembali. “Aku tahu dan kamu juga pasti tahu bagaimana kepribadian ku, bukan? Aku bukan gadis yang hidup dalam aturan” jawab Fiona Sean menghela napas. Dia lupa jika Fiona sangat susah diatur. Sean memejamkan matanya untuk meredahkan amarahnya yang tersisa. Setelah Sean merasa amarahnya sudah redah Sean mengajak Fiona kembali ke pack. Sangat berbahaya jika berada di luar terlalu lama. Dia juga ingin tahu bagaimana Fiona bisa tahu jika akan ada serangan. *** To Be Continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD