D&W 14

1874 Words
Chapter 14 “Bagaimana kamu tahu jika akan ada serangan hari ini?” tanya Sean saat mereka berada di kamar “Para arwah yang memberitahuku. Saat mereka akan menghampiriku, mereka melihat orc dan troll yang mengarah kearah pack. Jadi mereka bergegas kemari dan memberitahuku. Saat aku akan pergi aku bertemu Betamu yang akan menemuimu. Saat aku mengatakan padanya dan meminta tolong agar dia memberitahumu, Betamu malah menghadangku dan mengatakan untuk pergi bersamamu. Karena aku merasa itu akan terlalu lama jadi aku menguncinya di bola air buatanku. Jadi aku bisa pergi dan mencegah mereka agar tidak masuk ke pack” jelas Fiona Mendengar ucapan matenya membuat Sean menghela napas. Sean kemudian tersadar dengan ucapan matenya. ‘Berbicara dengan arwah. Apa maksudnya? Fiona bisa melihat arwah atau bagaimana?’ “Sayang, tadi kamu bilang berbicara dengan arwah?” Fiona mengangguk mendengar pertanyaan Sean. “Apa maksudmu dengan berbicara dengan arwah?” tanya Sean “Aku bisa berbicara dengan mereka, Sean. Jika kamu lupa, aku memiliki kekuatan dari big three. Itu salah satu kelebihanku yang aku dapat dari Hades” jawab Fiona Sean sadar akan sesuatu membuat matanya membola “Aku tidak pernah melihat kamu menggunakan kekuatanmu dan Kai sudah melihatnya. Aku cemburu padanya” rajuk Sean Fiona tertawa mendengar ucapan Sean. Bagaimana bias lelaki di depannya cemburu hanya karena hal sepele seperti itu. “Kamu cemburu karena Kai sudah melihat kekuatanku?” tanya Fiona terkikik Anggukan Sean membuat Fiona tawa Fiona meledak. Sean yang mendengar tawa matenya hanya mendengus. “Sean kekuatan yang aku gunakan pada Kai adalah kekuatan yang memang seharusnya milikku karena ayahku adalah Poseidon” Mendengar ucapan Fiona, Sean meringis malu. Fiona adalah puteri dari Dewa Poseidon jadi bukan hal baru jika dia bisa menggunakan elemen air. Hanya saja, selama ini Sean hanya melihat Fiona menggunakan keahlian pedangnya tanpa menggunakan kekuatannya. “Tapi kenapa kamu tidak pernah menggunakan kekuatanmu? Jika kamu gunakan, bukankah akan lebih cepat selesai” tanya Sean “Memang benar akan cepat selesai dan cepat juga para musuh menemukan kami. Aku dan Cia hanya menggunakan kekuatan kami jika keadaan mendesak dan mengharuskan membunuh musuh. Jadi kami bisa menggunakan kekuatan kami karena tidak akan ada saksi mata. Kecuali, Krystal dan Aiden yang memang tim kami” jelas Fiona “Dalam artian kamu sering menggunakan kekuatanmu dengan catatan tidak ada satupun orang yang tahu, begitu?” “Benar sekali. Tidak banyak yang tahu tentang kekuatanku. Kecuali, kekuatan mengendalikan air karena itu memang kekuatan yang akan aku peroleh karena aku putri Poseidon. Yang tahu semua kekuatanku hanya timku, Reese dan Olyvia, Ibuku, King Gio dan pastinya ayahku. Para dewa yang lain tidak tahu seberapa kuat aku. Karena daddy sengaja menyembunyikannya. Bahkan Zeus pun tidak tahu” ucap Fiona Panjang lebar Sean yang mendengar hanya bisa membulatkan matanya. Dia berpikir seberapa kuat matenya hingga hanya segelintir orang yang tahu kekuatannya. Sean tidak bisa membayangkan bagaimana usaha keras matenya menekan kekuatan besar dalam dirinya. “The Oracle say if you can control your power when you have mate” “Yes, that’s true. Aku bisa mengontrolnya sekarang saat kamu menandaiku malam itu” “Benarkah?” “Iya Sean” *** Kegiatan di Silvermoon pack kembali seperti sedia kala. Beberapa hari belakangan pack mulai tenang tidak ada p*********n lagi. Begitu juga dengan pack lain. Sean mulai bisa sedikit beristirahat karena tidak ada kerusakan jadi tidak ada complain yang masuk. Bahkan karena p*********n itu Sean harus menunda acara pernikahan mereka. Sean menuju kearah taman belakang dimana biasanya Fiona berada. Sean tersenyum melihat wajah cemberut Fiona. Sean tahu Fiona bosan dengan kegiatannya. Fiona selalu bertarung melawan monster atau berlatih saat berada di camp Halfblood. Tetapi, setibanya di pack Sean melarang Fiona melakukan hal yang biasa dia lakukan. Sean memeluk Fiona dari belakang “Kamu bosan?” “Iya aku bosan. Apa tidak ada laut disini? Paling tidak kolam renang” tanya Fiona “Pack ini jauh dari Laut, sayang. Kenapa kamu mencari sesuatu yang berhubungan dengan air?” tanya Sean heran “Setidaknya aku bisa tenang saat aku menyelam di air dan tidak mati kebosanan seperti ini” jawab Fiona ketus Sean terkekeh ‘Dasar putri Dewa Laut. Selalu saja air dan air yang ada di pikiran mereka. Benar kata Richard jika mereka selalu ingin di dekat laut’ batin Sean “Sean, aku harus pergi ke camp Halfblood. Ada hal yang harus aku tanyakan. Apa boleh?” tanya Fiona sedikit ragu “Ada apa kau harus kesana?” tanya Sean balik “Ada yang harus aku tanyakan. Ada sesuatu yang akan terjadi tapi aku tidak tahu apa dan hanya disana aku bisa menemukan jawabannya” jelas Fiona “Baiklah aku antar kamu kesana” jawab Sean “Tidak perlu Sean. Aku bisa sendiri” “Tidak! Kamu tidak akan kemanapun tanpa aku disisimu” tolak Sean tegas “Tapi..” “Tidak Fiona. Aku akan pergi bersamamu” jawab Final Sean Setelah itu Sean berlalu pergi. Fiona yang melihat kepergian Sean hanya menghela nafas. Fiona tahu jika dia berbicara pada Sean hal ini akan terjadi. Fiona pasrah, lebih baik Sean ikut dari pada dia tidak bisa kembali ke camp Halflood. *** Fiona segera masuk kedalam camp Halfblood. Fiona menyerngit bingung kenapa Sean hanya berdiam diri di depan protection. “Kenapa Sean? Kamu tidak ingin ikut masuk?” tanya Fiona “Aku tidak bisa masuk, sayang. Aku bukan Demigod sepertimu” jawab Sean “Kamu bisa Sean. Darahku sudah bercampur denganmu maka dari itu kau bisa masuk kemari” jawab Fiona Fiona mengulurkan tangannya agar di raih oleh Sean. Sean yang melihat uluran tangan itu ragu untuk menggapainya. Dia mengingat hari dimana dia terpental karena protection di depannya. Sean dengan ragu menerima uluran matenya. Sean membelalakkan matanya saat dia bisa memasuki camp Halfblood tanpa terluka “Sudah aku bilang kamu bisa masuk kemari” decak Fiona Sean hanya tersenyum. Dia mengikuti kemana langkah matenya berjalan. Saat mereka sudah masuk semakin dalam Sean dibuat terkejut. Bagaimana tidak, sepanjang mata Sean memandang banyak sekali arena pelatihan. Dari tempat memanah, tempat berlatih pedang untuk pemula hingga senior lalu berbagai sarana penunjang skill mereka. Bahkan mereka berdua menjadi tontonan para Demigod yang sedang berlatih. Sean sangat terkejut karena disini alat latihan lebih lengkap dari pada di packnya dan ada yang sedikit asing dimatanya, karena peralatan mereka juga berasal dari dunia manusia. Bangsa Immortal jarang bisa ke dunia manusia. Setelah melewati tempat pelatihan Sean mulai melihat pondok yang berjajar. “Di bagian depan ada pondok tempat anak Ares tinggal. Kemudian yang selanjutnya adalah pondok anak Aphrodite tinggal lalu Athena, Arthemis, Apollo, Hermes, Demeter dan yang lainnya” Fiona mulai menjelaskan saat dia melihat wajah Sean yang ingin tahu “Jadi selama ini kamu tinggal di tempat menakjubkan ini mate?” tanya Sean “Ya begitulah” jawab Fiona Mereka kemudian berada di depan pondok yang indah dengan pahatan dunia air di dinding bagian depan dan ukiran kayu di anak tangga yang terkesan cukup unik. Ya, itulah pondok Poseidon. Pondok Poseidon memang paling berbeda dari pondok anak Dewa yang lain. “Ini...” ucapan Sean terhenti saat melihatnya. Bangunan didepannya terlihat sangat unik dan indah. Fiona menarik tangan Sean untuk menaiki anak tangga menuju kedalam. Fiona meletakkan tangannya di depan pintu sehingga pintu itu bersinar kebiruan dan seketika pintu besar di depannya terbuka sendiri. Fiona melangkah masuk diikuti Sean di belakangnya. Saat masuk kedalam Sean dibuat ternganga dengan arsitektur didalamnya. Dimana di setiap bagian dan sudut sangat menggambarkan tentang anak dari Dewa mana mereka. Didalam pondok sangat terlihat jika pondok itu di buat khusus oleh Poseidon untuk putrinya. Saat menuju kearah belakang langsung di sambut oleh lautan lepas. Dimana air lautan itu terlihat sangat bening dan semakin dalam kedalaman laut maka warna biru gelap akan terlihat. Sean dibuat terkejut saat ada seekor Hippocampus yang muncul dari dalam lautan. Hippocampus itu menghampiri Fiona. Fiona sendiri saat melihat Hippocampus itu segera masuk kedalam air untuk menghampirinya. Fiona mengelus kepala Hippocampus itu hingga membuatnya terlihat cukup senang. Saat selesai bercengkrama dengan sang Hippocampus, Fiona berjalan kearah Sean yang sedari tadi hanya melihatnya dari kejauhan. Sean menaikkan alisnya tanda bertanya. “Bisa kau tunggu disini sebentar, Sean?” tanya Fiona “Kamu akan pergi kemana?” tanya Sean balik “Aku harus pergi ke rumah Chiron. Ada yang harus aku tanyakan padanya. Tidak akan lama” Sean mengangguk tanda persetujuan. Fiona kemudian segera bergegas pergi ke rumah Chiron. Sembari menunggu Fiona yang sedang menemui pelatihnya, pria itu memilih berkeliling di dalam pondok Poseidon. Matanya benar-benar di manjakan oleh tempat tinggal Fiona. Sean jadi membayangkan jika di packnya memiliki rumah seperti ini, pasti akan sangat menyenangkan. “Apa aku rubah saja ya mansion di pack seperti ini” ucap Sean *** “Untung aku bertemu denganmu disini. Aku harus menemui Oracle. Ada sesuatu yang mengganjal dan harus segera aku tanyakan” “Baiklah. Ikuti aku” Mereka berdua berjalan kearah rumah Chiron. Setelah sampai Fiona segera menaiki lantai dua untuk bertemu sang Oracle. Lilin langsung menyala satu persatu terlihat asap yang masuk kedalam tengkorak. Seketika tengkorak itu terbangun “Tell me seeker. What you want to ask?” “Ada perasaan yang mengganjal beberapa hari ini dan aku tidak menemukan jawabannya. Kau sempat meramalku beberapa waktu lalu. Tapi kau bilang itu belum semuanya” “Right. Sesuatu yang gelap akan datang, kesakitan tiada tara, perjalanan yang penuh resiko. Gadis dalam ramalan, Daughter of Poseidon akan mendapatkan sesuatu yang tidak dia duga. Perjalanan yang harus di lalui sebelum perang besar terjadi” ramal sang Oracle “Apa maksudmu dengan kesakitan tiada tara?” tanya Fiona “Kamu kemari dengan matemu bukan? Bawa dia kemari ada yang harus aku beritahu padanya” bukannya menjawab pertanyaannya sang Oracle malah menyuruh Fiona membawa Sean. Fiona menyerah sang Oracle selalu memberi ramalan dengan bentuk teka-teki dan Fiona harus memecahkan satu persatu. Fiona kembali ke pondok Poseidon dan memamnggil Sean agar dia mengikuti langkahnya ke rumah Chiron. “Kita akan kemana Fiona?” tanya Sean bingung “Kita akan menemui Oracle. Sepertinya ada ramalan untukmu. Dia menyuruhku untuk membawa mu kesana sekarang juga” jawab Fiona “Oracle? Maksudmu sang peramal dari Dewa Apollo?” Fiona mengangguk membenarkan ucapan Sean. Sean menganga, dia tidak pernah menyangka akan bertemu dengan peramal yang tidak pernah salah. Sean ingin tahu bagaimana wujud sang Oracle Saat tiba di lantai dua rumah Chiron. Sean dibuat terkejut dengan wujud sang Oracle yang mendiami tengkorak. “Berbicaralah. I will leave you with her for a while” Fiona melangkah keluar meninggalkan Sean sendirian disana dengan kebingungan. “Came closer to me Alpha. I need tell you something” sang Oracle berbicara Sean melangkahkan kakinya mendekati sang Oracle “Dark magic, penghianatan, ketidak percayaanmu terhadap Fiona. Itu semua akan menghancurkanmu. Bentengi dirimu jangan sampai terjerumus” Sean keluar dari rumah Chiron dengan wajah bingung. Fiona yang melihat wajah Sean yang kebingungan segera menghampiri Sean. “Sang Oracle selalu memberi ramalan dalam bentuk teka-teki. Kamu akan tahu seiring berjalannya waktu. Apa yang kata yang ditekankan oleh sang Oracle” tanya Fiona “Aku harus membentengi diriku agar tidak terjerumus” “Itu berarti akan ada sesuatu yang buruk terjadi. Jika kau lengah sekali, penyesalan panjang akan menghantuimu Sean” Sean yang mendengar ucapan Fiona mulai merasa risau. Dia harus segera memecahkan ramalan dari sang Oracle. *** To Be Continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD