Gabriel selamat, dia berhasil melewati masa kritisnya lagi. Adara begitu lega begitu mendengar penuturan Claretta dan Milla. Separuh ketakutan yang bersarang dalam hatinya perlahan terangkat seiring dengan nafas teratur yang mulai tampak dari lelaki itu. Air mata yang sebelumnya banjir tak terkendali kini mulai surut, hanya tersisa setitik yang berada di ujung mata. Adara menarik ujung bibirnya sesaat sebelum menggenggam tangan Gabriel lagi seraya berbisik. “Gabriel ... kau tahu ... kau membuatku takut. Jangan begitu lagi ya? Boleh saja kalau kau masih ingin beristirahat. Tapi jangan seperti itu lagi. jangan membuat kami semua terkejut dan ketakutan.” Iris mata Adara kembali bergulir, menatap wajah Gabriel yang terpapar beberapa goresan, lalu beralih ke arah tangan lelaki itu yang

