Malam ini seperti malam Minggu biasanya ketika aku libur, mencari makan di luar, nongkrong, atau menemui seseorang. Tanpa meminta izin kepada kedua orang tuanya atau menjemputnya di rumah, pertemuan akan berjalan sempurna. Kenapa? Karena sudah biasa semacam itu sejak dulu. Bila aku ada waktu, maka aku akan bertemu dengannya di sebuah kafe di pusat Kabupaten Karanganyar.
Bulan sedang berpola sabit, tersenyum tipis untuk mengiringi malam ini. Jam tidak berhenti berdetik, tetapi aku masih sibuk memilih dan memilah baju yang pas. Seolah kebingungan tampil dengan gaya apa dan tidak mau terlihat buruk. Ini selalu aku alami saat ingin bertemu dengannya, tentu sudah bisa ditebak siapa yang akan kutemui malam ini.
"Bang, Bang," panggil Bagas.
"Ada apa?" tanyaku menoleh ke belakang, megancingkan kancing kemeja biruku.
Bagas berlari mendekatiku. "Izin bertanya. Mau ke mana, Bang?"
"Keluar." Singkat sembari memakai helmku.
"Ikut," ceetuknya dengan nada rengekkan anak kecil yang baru saja bisa menulis.
Aku memicingkan mataku. "Nggak!" Aku menolaknya. Aku rasa dia hanya akan menggangguku.
"Ayolah, Bang. Ikut," rengekannya kian menjadi.
"Nggak!" tegasku.
"Emang mau kencan sama Mbak Agni, ya?" tanyanya dengan wajah semakin memelas. Kontras dengan pakaiannya yang sudah sangat tapi dan terlihat gagah.
"Nggak kencan, tapi memang mau ketemu Agni," jawabku sembari berjalan keluar.
Sedikit banyak, Bagas sudah tahu siapa Agni dan bagaimana perjalanan hidupku bersahabat dengan Agni. Aku terpaksa menceritakan semuanya kepada Bagas karena dia terus merengek ingin tahu. Sejujurnya tidak masalah jika dia tahu, karena hanya dengan Bagas aku menceritakan semuanya.
"Nah, kalau bukan kencan berarti nggak masalah kalau aku ikut." Bagas merubah mimiknya menjadi bahagia dan tanpa perintah dia sudah duduk di jok belakang motorku.
"Turun!" perintahku. Aku mungkin menceritakan banyak hal kepada Bagas tetapi sampai saat ini aku selalu tidak rela jika ada yang ikut denganku saat bertemu Agni. Kecuali orang tuaku atau keluarganya. Kenapa? Aku juga tidak mengerti dengan diriku sendiri.
"Ayolah, Bang. Sekali ini saja." Bagas kembali merengek. Bahkan lebih parah dari sebelumnya, sekarang kedua tangannya memeluk pinggangku dari belakang. Erat sekali.
Aku tidak akan bisa menghentikan rengekannya kali ini. Kalau sudah begini dia akan terus merengek dan itu akan membuang-buang waktuku.
"Ambil helm dulu!" perintahku pada Bagas yang justru semakin erat mengikat tangannya di pinggangku.
Bagas menggeleng.
"Aku nggak akan ninggalin kamu, Bagas. Kamu jadi tentara gitu amat sih, kelihatan manjanya, kok bisa masuk tentara? Apa pengujimu waktu itu salah menilai? Atau kamu..."
Tidak sempat kulanjutkan bicaraku, Bagas sudah berlari ke dalam barak lagi, mengambil helm hitamnya dan kembali duduk di belakangku. "Ayo, Bang," ajak Bagas tidak sabar.
Dia bukan anggota yang mudah menuruti perintahku saat tanpa seragam seperti ini. Tapi aku menyukai sikapnya itu.
***
Perempuan berhijab merah muda duduk sendirian di tengah-tengah kafe, mengangkat ponselnya lalu menaruhnya lagi. Ia pasti menunggu kabar dariku. Aku tersenyum tipis. Benar, perempuan itu Agni. Akibat terlalu lama berdebat dengan Bagas, aku membuatnya menungguku. Sudah lewat 5 menit dari waktu janjian.
"Halo," sapa Bagas yang ternyata sudah mendahuluiku. "Mbak Agni, ya?" tanya Bagas dengan senyum sumringah.
Agni kebingungan. "Emm... iya," jawabnya, menatap ke aranku yang masih terdiam di jarak 3 meter darinya.
Bagas. Anggotaku yang satu itu benar-benar tidak tahu malu, bahkan sekarang ia sudah duduk di kursi sebelah Agni, tanpa ada yang mempersilakannya duduk.
"Lama banget!" protes Agni saat aku hendak duduk di sebelahnya, di depan Bagas yang tersenyum manis tanpa alasan.
"Maaf. Gara-gara anak ini, nih!" Menunjuk Bagas. "Pakai acara ikut segala."
"He-he." Bagas tertawa kaku, malu-malu seolah menyadari kesalahannya, walaupun bukan seluruhnya salah Bagas.
"Ini Bagas kan, ya?" tanya Agni memastikan dugaannya.
"Iya, kok Mbak Agni tahu?" Bagas seolah tidak menyangka.
Agni tersenyum manis, memperlihatkan barisan gigi gingsulnya di sisi kanan, manis. "Gibran sering cerita soal kamu."
"Oh, ya?" Sifat anak kecil Bagas akan terlihat di sini. "Cerita soal apa aja, Mbak?" Antusias sekali.
Agni sepertinya terhibur dengan sikap Bagas. Sejujurnya aku juga terhibur tapi terkadang mengingat kenyataan bahwa dia seorang tentara membuatku muak. Saat seperti ini wibawa tentara yang garang hilang, namun jangan remehkan Bagas saat menjalankan tugasnya. Dia prajurit yang paling garang dan pemberani di reguku.
"Banyak, soal kamu yang asli Bandung sampai kamu yang sering manja sama Gibran," jelas Agni tanpa menciutkan senyumnya 1 milipun.
"Ha-ha." Tertawa malu-malu. "Iya, aku asli Bandung, Mbak. Dan iya, memang manja kalau sama Bang Gibran, soalnya aku anak tunggal, Mbak. Pengen punya kakak tapi nggak punya. Eh, di tempat tugas dapat Kakak ketemu gede." Senyum Bagas membuatku geli kali ini.
Tawa Agni semakin menjadi, nampak terhibur.
"Kamu kan orang Bandung, nih? Boleh dong manggilnya Teteh aja daripada mbak," pinta Agni.
"Lah?" Bagas bingung.
"Agni itu penggila Persib. Bobotoh dia. Jadi dia juga suka hal-hal yang berbau Sunda," jelasku sambil memilih menu yang baru saja pelayan berikan.
"Lah?" Bagas kembali bingung. Ada sesuatu yang disadarinya. "Jankmania." Bagas menunjukku. "Bobotoh." Menunjuk Agni.
Tahulah bagaimana panasnya hubungan antara Jakmaia dan Bobotoh/Viking. Rivalitas keduanya sudah amat sangat melegenda dalam perjalanan sepak bola tanah air.
"Memangnya kenapa?" tanya Agni.
"Bisa, ya, hampir sepuluh tahun barengan sama rival sendiri?" Bagas terheran-heran.
"Rivalitas hanya sembilan puluh menit, selebihnya kita merah putih," balasku. Itulah pedoman yang kami pegang sampai detik ini. Bagi kami beda warna jersei hanya di lapangan liga, di luar itu jersei kami sama, Merah Putih.
"Setuju, Bang. Tapi baru kali ini sih."
Agni tertawa. Sahabatku yang satu ini memang murah senyum juga tawa.
"Tapi, ya, aku nggak nyangka kalau Mbak, eh, Teh Agni suka sepak bola. Lihat!" Menunjuk Agni dari atas sampai bawah. "Feminim banget. Jago masak, kelihatan kalem tapi penggila bola."
"Memangnya ada larangan gitu?" tantang Agni.
"Ya, tidak sih, Teh." Bagas kalah. "Hanya tidak sinkron saja."
"Dia memang kalem saat seperti ini, kamu belum pernah nonton bola aja sama dia. Uhhhh." Aku ikut nimbrung. "Berisik!"
Agni meninju lenganku.
"Tapi kalau nonton langsung di stadion dia tetep pakai rok," lanjutku.
"Bagus itu, Teh," puji Bagas. "Syar'i kok, ya?"
"Ha-ha, iya."
Semuanya terhenti saat ayam geprek dengan sambal yang menggoda, kakap bakar yang masih panas, spaghetti yang lezat juga minuman yang menyegarkan datang. Kami sibuk menikmati makanan kami masing-masing. Terutama aku dan Bagas seperti orang yang seharian tidak makan. Memang tadi siang kami tak sempat makan.
"Tapi, Teh, kenapa Teteh nolak banyak laki-laki padahal mereka yang datang sama teteh bukan orang biasa?" Pertanyaan yang tiba-tiba menghentikan aktivitasku dan Agni terlontar dari mulut Bagas.
Agni memandangku penuh tanya dengan sorot mata membulat tajam. Aku? Jelas aku memandang Bagas dengan picingan mata ingin membunuhnya.
"Maaf, Teh." Bagas salah tingkah setelah membalas pandanganku, tersadar.
"Maaf, aku menceritakannya. Dia sudah seperti adikku sendiri jadi aku pikir tidak masalah mengatakan itu padanya." Aku menatap Agni sejenak lalu menunduk.
Pandangan Agni berubah mematikan.
"Pasti ada laki-laki lain yang sedang ditunggu, ya, Teh?"
Arrgghhh... Tebakan Bagas justru memperkeruh suasana. Semakin mencekam saja rasanya. Salah. Agni justru merubah rautnya, dia salah tingkah.
"Iya kan, Teh?" Bagas lagi.
Itu justru membuat Agni semakin salah tingkah. Tersenyum malu seolah sedang ketahuan rahasianya.
Melihat ekspresi Agni, aku memberanikan diri ikut menggodanya. "Iya, to? Ternyata. Kok nggak pernah bilang?"
"Hahah.. hah." Agni benar-benar salah tingkah. "Nggak kok, nggaklah."
"Siapa?" tanyaku.
"Nggak ada," sanggahnya.
"Siapaaa?" Aku mendekatkan wajahku di depan wajahnya. Melempar tatapanku yang tajam.
Agni hanya membalas tatapanku itu tidak lebih dari 3 detik lalu, bola matanya bergerak ke kanan ke kiri, memutar, tidak berani menatap tepat di bola mataku.
Sekian lama tidak ada jawaban dari Agni. Aku juga tidak berniat menjauhkan wajahku dari depan wajahnya. Bagas? Dia sibuk dengan lidahnya yang hampir terbakar karena sambal, bahkan dia meminta segelas minuman lagi.
"Kamu." Dia menangkup pipiku dengan kedua tangan lembutnya. Menyeringai lalu menjauhkan wajahnya dari wajahku.
Aku terpaku. Deg, deg, deg, desiran hebat menyeruak kasar di balik d**a bidangku. Bagas yang baru saja ingin ikut nimbrung juga terpaku. Hanya saja dia tersenyum. Tidak sepertiku yang benar-benar terpaku kaku.
"Bang!" bentak Bagas membuatku kembali melemas.
Apa yang baru saja terjadi? Tidak, tidak. Ekspresi Agni menunjukkan bahwa ia sedang bercanda seperti biasanya. Itu penilaianku sejauh ini.
***
Tidak, tidak. Dia hanya bercanda. Aku meyakinkan diriku sendiri sepanjang perjalanan kembali ke barak. Sejak kejadian tadi dadaku rasanya sesak, detaknya bergejolak, menjadikanku kurang tenang.
"Bang," panggil Bagas dari jok belakang.
Aku diam tidak menjawab. Pikiranku masih belum kembali normal.
"Bang." Suaranya mengeras.
"Kenapa?" balasku, kesal.
"Aku yakin tadi Teh Agni nggak bercanda," tebak Bagas sambil mendekatkan kepalanya di sisi kanan kepalaku. Mulutnya dekat dengan telingaku yang tertutup helm.
"Ha-ha." Aku tertawa kaku. "Itu tadi cuma bercanda. Agni sering begitu."
Sudah biasa memang kami bercanda, sudah biasa saling melempar godaan. Tetapi biasanya aku tidak secanggung ini.
"Ah, aku makin yakin ini. Abang saja yang tidak peka."
"Apaan sih?"
"Bang, 9 tahun hampir 10 tahun barengan terus. Tidak ada persahabatan antara laki-laki dan perempuan selama itu yang murni persahabatan. Pasti ada rasa di antara kalian tapi kalian tidak menyadarinya." Dugaan Bagas yang membuat dadaku kian sesak.
"Kenyataannya tidak ada perasaan apa-apa antara kita, Bagas!" tekanku.
"Masa?" Bagas tidak percaya. "Tadi saja waktu Teh Agni megang pipi Abang, Abang langsung kaku, salah tingkah dan..." Tangan Bagas tiba-tiba sudah berada di d**a kiriku. Menempelkan telapaknya di sana. "Abang deg-degan," lanjutnya.
Aku kibaskan tangan Bagas cepat. Geli. "A... a... Ah pelecehan seksual ini!" Ada kata yang tertahan.
"Ah, aku mah yakin ini." Nada Bagas memang terdengar yakin.
"Cakra!" sapa anggota provost yang berjaga.
Aku menundukkan kepalaku diikuti Bagas.
Sampai di depan barak. "Pikirkan dulu, Bang." Bagas meninggalkanku sendirian.
Aku mencoba mencari-cari apa yang sedari tadi seperti menggangguku.
Kling... kling... kling...
Bunyi ponselku menghentikan pencarianku.
"Assalamualaikum, Bu," sapaku sopan.
Ibuku yang menelepon. Sepertinya ada hal buruk yang akan segera aku terima.
"Wa'alaikumsalam!" jawab ibu, ketus.
"Kamu harus segera menikah Gibran! mau sampai kapan ibu harus menunggu? Ibu pengen punya menantu juga pengen punya cucu." Nada beliau terdengar marah. "Panjangnya umur nggak ada yang tahu lho, ya!"
Aku menunduk, bergidik ngeri juga mendengar kalimat ibu.
"Nanti dululah, Bu. Segeralah pokoknya," jawabku berusaha berani.
"Ya nantinya kapan?" tantang ibuku.
"Ya..." Aku bingung.
"Kamu kan tinggal pilih. Mau Agni, Nesha, Tika, atau kowad yang tiba-tiba kemarin datang ke rumah. Kamu tinggal pilih salah satu dari mereka." Ibuku semakin kalap. Ini tandanya beliau benar-benar ingin.
Semua yang beliau sebutkan memang wanita yang berada di dekatku. Tidak terpikirkan salah satu dari mereka akan kunikahi.
"Atau mau ibu jodohin?"
Aku tersentak. "Ibu ini hidup di zaman apa lho, ya,? Masa masih dijodoh-jodohin?"
"Ibu nggak peduli!" tegasnya.
"Sama siapa coba?"
"Ada kemarin polwan dari tempat tugas ayah, dia cantik, baik, ramah, cocoklah sama ibu." Terdengar begitu bersemangat. "Tapi tetap lebih cocok Agni," imbuhnya lirih namun tetap terdengar jelas oleh telingaku.
Deg... Ada yang menyentak dadaku setelah ucapan lirih ibu. Apalagi ini?
"Pokoknya ibu kasih waktu kamu malam ini, pilih salah satu perempuan yang dekat sama kamu atau ibu jodohin sama polwan tadi!" ancam beliau.
"Tapi Bu..."
Belum sempat kuselesaikan bicaraku. Ibu sudah menutup teleponnya. Ibu semakin membuatku galau malam ini. Belum selesai soal degupan kencang di dadaku, ditambah lagi dengan ancaman ibu yang akan menjodohkanku. Menarik.