Keputusanku

1967 Words
Beberapa hari pikiranku berkutat dengan seorang perempuan, di tengah bulan sabit berganti hari menjadi bulan setengah, saat senja berganti dengan matahari terbit, di saat siang berganti dengan malam, malam memeluk pagi. Pikiranku selalu menuju seseorang. Iya atau tidak, dia atau bukan, pilihan-pilihan itu terngiang. Hingga hari ini aku memutuskan untuk menyiapkan segalanya, memilih salah satu di antara dua. Sepanjang hari menyiapkan sesuatu yang akan menentukan hidupku, dibantu beberapa anggota terutama Bagas. Sudah sejak sepanjang hari juga jantungku berdegup kencang. Alih-alih diam dan tenang, degupnya justru meronta, bak tawanan hendak melarikan diri, bak seorang tentara yang hampir mati oleh pelatuk temannya sendiri. Tidak, tidak, tidak seberlebihan itu, yang pasti jantungku tidak terkondisikan. Huftt... Berulang kali menghela napas. "Apa segugup itu, Bang?" tanya Bagas, memandangku dengan tatapan mengejek sembari menggenggam bunga mawar merah dan putih di tangannya. "Nggak tahu, rasanya nggak karuan," jawabku langsung limbung di sebuah kursi. Bagas pergi dengan tetap memandangku geli. Acara penentuan hari ini aku laksanakan dengan begitu romantis di sebuah resto di daerah Solo. Ini semua atas perintah ibuku. Beliau sangat antusias meski hanya dengan memerintahku ini itu. Antusiasmenya terdengar kemarin malam, ketika aku menelepon beliau dan mengatakan niat baikku. "Mandi dulu, Bang. Tinggal nambahin mawar ini sih," usul Bagas masih sibuk dengan mawar yang akan menghiasi setiap sudut resto. "Oke pulang dulu, lah," jawabku bangkit dari kursi. "Eh..." Bagas menghentikan langkahku. Aku menoleh seolah bertanya, "Kenapa?" "Sudah diantarkan jas dan sepatunya ke sini, termasuk cincin. Abang mandi di sini aja. Ini sudah jam..." Melirik jam tangannya. "Tujuh belas tiga lima bentar lagi azan Magrib." Aku ikut menatap jam tanganku. Benar. "Abang-kan kalau mandi lama." Sedikit ada benarnya, dalam beberapa keadaan waktu mandiku bisa lebih lama dari perempuan pada umumnya. "Ya, kan nggak bawa alat mandi, Bagas," tekanku. "Santai dikitlah, Bang. Sudah dibawakan semuanya termasuk minyak wangi yang baunya macam menyan itu." Aku hanya merasa tidak nyaman saja sebenarnya jika harus mandi di kamar mandi resto ini. "Berarti kalian masuk kamarku tanpa izin? Awas ya nanti sampai di markas sikap taubat semua!" bentakku kesal. Maksudku semua adalah prajurit yang berkerjasama dengan Bagas. "Siap salah, Bang." Semua mengakui kesalahannya. "Sampai besok pagi." "Oke oke, Bang. Sikap taubat sampai besok pagi!" Allahuakbar Allahuakbar... Kumandang azan menghentikan kami. *** Setelah menunaikan ibadah salat Magrib, aku mulai bersiap dengan kemeja putihku dan jas abu-abuku. Badanku sudah segar dan wangi, lebih wangi dari biasanya. Terlebih ini amat sangat formal untuk sebuah lamaran. Maklum, aku tidak tahu cara melamar yang bagus semacam apa, hanya mengikuti perintah ibu dan beberapa aba-aba dari anggotaku saja. "Wusss... Keren sudah kau, Bang," puji salah satu prajurit yang membawakan ku pakaian tadi. "Ha-ha." Aku hanya tersipu malu. "Seperti pejabat-pejabat di atas sana," puji yang satunya lagi. "Di atas mana? Atas genting?" Bagas nimbrung. "Iya pokoknya di atas, Ha-ha." Aku terdiam sejenak, lalu berjalan dan duduk di kursi. Dadaku kembali sesak. Gugup sekali rasanya hari ini. Otakku juga sedang sibuk menyusun ulang rencana. Aku berharap apa yang kurencanakan berjalan dengan sempurna. Itu saja. "Apa kurang yakin, Bang?" tanya Bagas duduk di sebelahku. "Gugup doang, sih." Mengelus-elus dadaku. Bagas tertawa mengejekku. "Eh, itu mobilnya Teteh kan, Bang?" tanya Bagas menunjuk sebuah mobil hitam yang baru saja datang. Aku menahan tawa. "Itu mobil pamanku." "Oh..." "Itu ayah dan ibuku." Menunjuk dua orang yang baru saja keluar dari mobil hitam itu. "Nggak lupa, kan?" "Nggak." Ibu yang sudah melihatku rapi dari luar langsung berjalan cepat mendekatiku. Jelas saja beliau akan heboh begitu sampai di hadapanku. "Bagaimana, Bran?" tanya beliau bahkan sebelum sampai dua meter di depanku. "Semua sudah siap, kan? Apa yang kurang?" "Sudah beres, Bu," jawabku. "Duduk dulu, ambil napas." Menarik kursi yang tadi di tempati Bagas. Meminta ibuku untuk duduk mengatur napasnya. "Bagaimana perasaan kamu?" "Gugup, Bu, dag dig dug banget," keluhku. "Ha-ha." Ibu justru mentertawakan aku. "Memang seperti itu, tidak seserem waktu akad nikah kok. Nanti kamu rasain sendirilah." Menepuk bahuku. "Ah, ibu." Tak puas dengan jawaban itu. "Tenanglah!" Tepukan dibahuku berubah menjadi elusan lembut. "Nanti kalau ditolak jangan jodohkan aku, ya, Bu," pintaku. "Kok gitu, sih? Kok nggak yakin bakal diterima." Ibu menatap mataku dalam. "Ya, bagaimana orang tiba-tiba begini?" Aku memang pesimis, aku yakin dengan perasaanku tetapi tidak dengan perasaannya. "Bang, si Mbak udah di parkiran," ujar Cakra yang membuat semua orang panik, termasuk aku, ibu dan Bagas. Hanya ayah yang tenang duduk di singgasananya. "Eh, mana cincinnya?" seruku bertambah panik. "Ini, Bang." Bagas memberikan kotak merah itu di tanganku. "Cakra, hidupkan lilinnya, pasang penutupnya. Chandra, koordinasikan pelayan untuk mematikan lampu!" Bagas memerintah dengan sigap. Aku bergegas menuju panggung di depan meja pesnananku, banyak rias bunga mawar merah putih dan panggung tertutup oleh kain hitam bak tirai, itu yang kini menyembunyikanku bersama Bagas. Banyak pasang mata yang menatap keributan kami. Aku memang memesan resto ini tapi hanya untuk panggung dan ruang utama di depan panggung, sedang di sekitarnya tetap dikunjungi oleh penikmat kuliner. Tepat saat seorang wanita mengenakan gamis merah muda berkerudung bunga-bunga berwarna merah, beserta mama dan papanya sampai di meja pesnananku. Lampu dipadamkan. Aku tidak tahu apa yang terjadi, semuanya gelap. Yang kudengar dari balik tirai hitam hanyalah suara gaduh para pengunjung. "Mohon maaf atas ketidaknyamanannya," ucapku sembari mengetes pengeras suara di tanganku. "Hari ini, tujuh belas Agustus adalah hari ulang tahun sahabatku." Lampu tetap padam dan aku melanjutkan rencana. Semula, suara gaduh dan panik karena padamnya lampu tiba-tiba hilang. Hening menyelimuti seluruh sudut resto yang kebanyakan memang pasangan. "Dia adalah Agni Candrasa Eka Pertiwi." Tirai panggung terbuka dan menampakkan wajah samarku yang diterpa cahaya lilin. "Selamat ulang tahun Agni," seruku, lembut. Aku masih tidak tahu bagaimana ekspresi Agni saat ini. Meski dia berada tepat dua meter di depanku. "Hari ini artinya jatah umurmu untuk hidup di dunia berkurang. Semoga panjang umur dan semakin dekat dengan sang pencipta. Aamiin," ucapku lalu mendekati Agni. Samar-samar kulihat senyumnya mengembang. Aku menarik tangannya untuk mengikutiku naik ke atas panggung. Senyumnya semakin mengembang. "Hari ini adalah hari terakhir kamu menjadi sahabatku," kataku saat kami saling berhadapan di atas panggung. Wajahnya berubah bingung. Penuh tanya juga semburat sedih yang mulai terajut di wajahnya. Dalam hitungan ketiga, layar besar di balik panggung membentang dengan cepat. Proyektor langsung menyala, menampilkan video-video dari pertama kali bertemu hingga beberapa hari lalu saat aku tersenyum bahagia menatap wajahnya, wanita yang baru kusadari bahwa dialah yang aku cari. Agni tersenyum manis padahal masih bingung dengan pernyataanku. Dia memandangku yang diterangi lilin-lilin kecil di atas sebuah kue. "Hampir sepuluh tahun aku menjadi sahabatmu, aku ingin menghentikannya sekarang," ujarku setelah video selesai diputar. Tinggal layar yang menampilkan sebuah tulisan, "Karena." "Aku ingin kamu menjadi istriku, menemani pengabdianku, dan menjadi seseorang yang selalu menungguku," imbuhku. Matanya nampak bersinar dalam gelap. Bibirnya tersenyum tipis malu-malu. Sorakan riuh dari pengunjung lain menyeruak. Menggantikan hening antara aku dan Agni. "Mungkin terlalu mendadak, tapi aku tahu ada perasaan lebih dari seorang sahabat yang aku rasakan untukmu. Entah terlambat atau tidak untuk menyadari itu, tapi aku pastikan belum terlambat untuk mengatakan kebenarannya padamu." Agni mulai salah tingkah di depanku. Sejak aku memilih keputusan untuk menikahi Agni karena ancaman ibu malam itu dan renungan beberapa hari. Aku mulai memahami Agni dan memahami perasaanku sendiri. Kenyataan bahwa aku selalu merasa nyaman di dekatnya, aku selalu tertawa bahagia bersamanya, aku yang selalu merindukan dia ketika jauh, dan dia perempuan yang selalu kuingat. Itu membuatku semakin yakin bahwa Agni akan menjadi pilihan terbaik. Atas penilaianku, Agni memiliki perasaan yang sama. Agni tidak pernah lagi berani membalas tatapan mataku sedalam dulu, dia jauh lebih perhatian denganku sejak beberapa tahun terakhir. Mungkin benar apa yang dikatakan Bagas soal Agni yang menolak banyak laki-laki karena dia sedang menunggu seseorang, itu aku. Entah penilaianku salah atau benar, sebentar lagi akan terjawab. "Jika kamu mau, matikan semua lilin. Jika tidak, kamu boleh meninggalkanku dan duduk di tempat semula," kataku meminta jawaban langsung pada intinya. Agni termenung sesaat. Dalam gelap matanya sungguh indah. Membulat, berkaca, dan bersinar. Sekarang, sinar itu redup karena kelopaknya yang menutup. Bibirnya tersenyum manis. Kemudian membulat tepat saat kedua matanya terbuka. Satu persatu lilin padam, lampunya menyala cepat. Sekarang semua orang yang ada di resto ini dapat melihatku dan Agni malu-malu di atas panggung. Otakku membeku, jantungku berpacu, dan lidahku kelu untuk beberapa saat. Aku terkejut dengan cepatnya Agni menjawab pertanyaanku. Detik ini juga aku yakin Agni mencintaiku selama ini. Aku tidak sanggup mengatakan apapun. Apa karena bahagia atau karena ada yang salah dari keputusanku? Kurasa karena bahagia yang melebihi batasnya. Masih hening, tak satupun orang mengeluarkan suara. Bagas datang dari belakang tubuhku, meminta kue yang ada di tanganku, menggantinya dengan buket bunga mawar merah-putih di tambah beberapa krisantium, bunga kesukaan Agni. Dan tentunya kotak cincin yang sudah aku persiapkan. "Ah," lenguhku saat aku kembali mencair. "Aku sedikit kaget karena jawaban cepatmu. Bahkan tanpa bertanya kenapa tiba-tiba aku ingin menikahimu." Agni tidak berkata apapun, dia tetap konsisten dengan senyumnya. Apa dia juga merasakan yang kurasakan? "Aku tidak bisa menjanjikan banyak hal saat ini, aku hanya bisa menjanjikan negara aman untuk kamu tinggali." Aku berhenti sejenak. Bukan itu kata yang harusnya terucap.. Agni masih saja tersenyum. Itu senyum termanis yang pernah Agni tampilkan. Aku juga melihat jelas pipinya memerah. Dia benar-benar menggemaskan malam ini. Meraih jari-jemari tangan kanannya. Memasangkan satu cincin emas yang telah ibuku pilih ke jari manis Agni. Pas, entah bagaimana ibu memilih ukuran cincin kemarin. "Ini hadiah untukmu, sederhana memang." Memberikan satu buket bunga di tanganku. "Tapi mereka mencerminkan kamu," lanjutku. Aku ingin memeluknya. Ingin sekali tapi tidak, ini belum waktunya. Selama 9 tahun aku tidak pernah memeluknya. Menyentuhnya saja hanya saat berjabat tangan. Bukan apa-apa, aku menganggap Agni adalah perempuan yang tidak bisa kusentuh sembarangan. Karena waktuku sudah habis, bukan, memang kata-kataku saja yang habis. Aku memutuskan untuk menggenggam tangan Agni, mengajaknya ke meja tempat orang tua kami duduk bahagia. Sekarang yang ada di panggung adalah Bagas. Dia yang akan menghibur kami, selain seorang prajurit, dia adalah musisi amatiran. "Ha-ha." Tawa Bagas membuat suasana jadi aneh. "Maaf untuk para pengunjung, saya masih tidak bisa menahan tawa," katanya menutup mulutnya sambil memangku gitar. Aku melempar tatapan akan membunuhnya. "Itu tadi Komandan Regu saya. Dia cuma garang ketika di lapangan ternyata, saat seperti ini, Ha-ha. Memalukan!" ejek Bagas. Pengunjung lain tertawa. Ibuku juga langsung menyenggol bahuku, sementara orang tua Agni dan Agni menahan tawa. Tentu, aku semakin ingin membunuh Bagas. "Siap, salah, Bang!" seru Bagas begitu sadar tatapanku tajam padanya. "Tapi, tadi ada yang lupa, Bang." Apa yang aku lupakan? Apa? "Bukannya rencana awal, Abang minta izin dulu sama papanya Teh Agni, Om Hanung?" Aku melupakan hal penting di sini. Aku terlalu gugup tadi. "Sekarang sebelum saya menghibur dengan sebuah lagu. Silakan Abang minta izin dulu sama papanya Teteh" Bagas masih menahan tawa. Aku salah tingkah lagi. Ibuku juga mencubit-cubit terus lenganku. Mungkin beliau malu. "Maaf, Om." Aku menatap Om Hanung malu. Apalagi Tante Kartika, mama Agni dari tadi menahan tawa. "Gugup ya?" tanya Om Hanung yang membuatku semakin malu. "Iya, Om," jawabku polos. "Em... Jadi bolehkah saya menikahi Agni?" Aku sudah kehabisan kata. "Agni sudah mau, Om bisa apa?" Om Hanung tertawa. Ayah, ibuku dan Tante Kartika juga. "Payah, Bang. Payah!" ejek yang di atas panggung. Diikuti pengunjung lain di tambah anggota satu reguku yang berada di meja belakang. Harga diriku merosot tajam malam ini. "Malu-maluin ibu saja kamu, Bran. Kan ibu sudah bilang siapkan betul-betul dan buat seromantis mungkin," bisik ibuku antara kecewa, malu, dan marah. "Jadi tinggal kapan kalian mau pengajuan dan tentukan tanggal. Kalau bisa secepatnya saja," usul ayahku yang baru bicara sejak tadi. "Betul itu, Pak." Om Hanung menyetujui. "Yang namanya ibadah juga harus disegerakan, sebelum terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan," lanjut beliau. Agni menatapku penuh senyum. Menunggu tindakanku. "Segera, Ayah dan Om," jawabku mantap. "Biar Agni pelajari dulu semua tentang saya." "Aku sudah tahu NRP-mu, riwayat pendidikan, kepangkatan, riwayat tugas. Kurang apalagi?" Agni begitu sigap. Bagaimana bisa aku tidak menyadari perasaannya padaku? Sementara ia terlihat telah lama menyimpan perasannya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD