Entah kerasukan apa Bagas hari ini. Ia lebih banyak diam. Jika orang lain kerasukan begitu ramai dan terkadang anarkis, Bagas justru sebaliknya. Jika ia urakan, bersikap anarkis, banyak tingkah, artinya ia normal. Namun, jika ia banyak diam, itu artinya sedang ada jin yang merasuki tubuhnya. Hari ini lah tepatnya jin itu bersarang di tubuh Bagas. Ia terlihat murung dan terus menerus menempel padaku.
Siang ini, di jam makan siang. Aku sebenarnya ingin pulang, makan di rumah saja meski tak ada Agni. Setelah menikah, rasanya makan siang di rumah itu lebih menyenangkan. Toh, tak butuh waktu lama untuk pulang. Namun kali ini Bagas meminta jam makan siangku.
"Bang?"
"Hemm," balasku sedang menikmati makan siangku di warung kecil dekat batalyon.
"Putus sama pacarmu, ya?" tebak ibu pemilik warung sembari membereskan beberapa mangkuk soto di sampingku. "Diam terus, tang, teng, tang, teng!" Itu karena Bagas tak memakan makanannya, justru memainkan sendok dan piringnya.
Kami diam, menatap Bagas yang mulai berpangku tangan.
"Bang," panggil Bagas lirih.
"Apa?"
"Bang." Bagas memanggil lagi.
"Apa?" Aku mulai bosan.
"Bang." Bagas sudah gila.
"Bodo!"
"Bang, aku putus sama Yana." Menjatuhkan kepalanya ke meja. Sementara aku dan Ibu pemilik warung saling pandang.
Yana adalah pacarnya, yang kutahu dia Kowad dengan pangkat Serda. Kupikir Yana yang terbaik untuk Bagas karena dari hasil pendengaranku, Yana tidak pernah mempermasalahkan perbedaan antara mereka. Akan tetapi, kenapa bisa putus? Aku masih menahan rasa penasaranku. Lebih baik jika menunggu lanjutannya sebelum memberi Bagas solusi atau mungkin hanya bisa mendengarkan saja.
"Abang tahu kan, Yana baru aja masuk tentara? Baru selesai pendidikan infanteri lagi."
Aku mengangguk paham.
"Kemarin aku datang ke pelantikannya. Susah-susah minta izin juga," lanjut Bagas.
Aku masih menunggu karena Bagas terdiam lagi.
"Ada Letda di sana." Memegangi kepalanya. "Dan Letda itulah alasanku putus sama Yana, Bang."
"Kok bisa?" Sedikit memajukan kepalaku.
"Yana, perempuan Bandung yang telah menjadi kekasihku sejak kelas XI SMA, menemaniku berjuang, bahkan tetap memberiku semangat saat gagal masuk Bintara. Dia mau menungguku tanpa kabar berbulan-bulan, lalu sebaliknya, aku menemaninya berjuang masuk Bintara, aku mau menunggunya." Tatapan Bagas tak fokus, aku yakin otaknya sedang memutar film dokumenter dengan Yana. "Jujur, saat menunggunya, aku takut, Bang, takut. Dan ketakutanku terjadi," pungkasnya tertunduk lesu.
"Jadi, Yana pilih si Letda itu? Begitu maksudmu?" Sangat berhati-hati.
Bagas mengangguk pelan.
"Sekarang Allah Swt. sudah menunjukkan mana yang terbaik untukmu, Bagas. Sendiri atau bersama Yana. Orang tuamu atau Yana. Sahabatmu atau Yana. Jawabannya sudah ada." Itu yang bisa kuucapkan.
"Nggak nyangka aja, Bang, tapi ya mau gimana lagi Prada dan Letda beda jauh, jauh sekali."
"Ah, masih banyak perempuan di luar sana selain Yana," hiburku. Padahal aku sudah tidak tahu mau bilang apa, mau menyalahkan Yana? Dia memang salah, tapi tidak untuk menyalahkan Yana di depan Bagas. Itu tidak akan membuat Bagas merasa lebih baik. "Eh.. kamu dengerin Abang, ya. Sekarang cewek mana yang tidak melirik laki-laki berseragam doreng ini?" Menarik sedikit seragamnya.
"Itu perempuan kalau sudah tahu bedanya balok di lengan dan balok di kerah juga bakalan belok, Bang," ujarnya semacam putus asa. "Mereka mencintai seragam dan kepangkatannya."
"Tidak semua perempuan begitu. Kalau kamu pikir semua perempuan seperti Yana, prajurit tamtama nggak akan punya istri!" tekanku. "Eh, apa kamu tidak bangga lagi menjadi seorang Prada?"
"Sepertinya aku kehilangan kebanggaan itu, Bang." Lesu sekali raut wajahnya.
"Hanya karena seorang perempuan? Kamu jadi Prada karena ingin melindungi negaramu, kan? Berada di garda terdepan untuk membela bangsa, kan? Negara masih menghargaimu, negara masih membutuhkanmu dan negara masih bangga dengan putranya. Lalu, kenapa rasa banggamu sebagai prajurit hilang karena perempuan?"
Bagas tertunduk.
Aku tahu siapa yang Bagas butuhkan sekarang. Mungkin nanti sore aku akan membawanya pada seseorang.
"Abang nggak suka kalau punya adik lemah cuma gara-gara perempuan," ucapku langsung berdiri. "Abang yang bayar."
***
"Assalamualaikum." Aku kompak dengan Bagas. Hanya beda semangat saja.
"Wa'alaikumsalam, Masuk, Om Bagas!" Menyunggingkan senyum manisnya. "Lagi ada masalah, ya?" Setelah memerhatikan Bagas dari ujung kepala hingga ujung kakinya. Sudah jelas sekali, bahunya lesu tak ada semangat.
"Gitu lah, Teh." Bagas duduk di sofa tanpa perintah. Sejak Agni dan aku menikah memang Bagas sering ke sini tak jarang suka nyelonong masuk mengambil makanan sendiri di kulkas.
"Putus sama pacar?"
"Iya, Teh. Kok tahu? Dukun ya?"
Agni hanya tersenyum.
"Masa iya dia lebih milih Letda," keluh Bagas lebih semangat daripada saat denganku tadi.
"Hahaha." Agni justru tertawa. "Terus kamu sedih?"
"Iya lah." Bagas berubah kesal.
Tidak menggubris Bagas lagi. Agni berjalan ke arah dapur dan kembali membawa camilan juga minuman dingin kesukaan Bagas. Es s**u cokelat. Agni memang sudah hafal kesukaan Bagas, karena selalu itu yang dia minta ketika datang ke rumah kami.
"Hey, dengar." Agni duduk di sampingku setelah meletakkan semua yang dia bawa di meja. Mendekatkan wajahnya ke arah Bagas duduk menyandar. "Dalam cinta itu tidak ada kepangkatan, kalau dia meninggalkanmu untuk pangkat yang lebih tinggi, berarti dia nggak cinta sama kamu. Simple aja sih. Buktikan kamu bisa dapetin yang lain dengan cepat. Ada kok temen kuliah Teteh, dia sekarang sedang menempuh S2 di Australia dan kamu tahu calon suaminya?"
Bagas menggeleng.
"Pratu TNI AD."
"Nggak mungkin lah!" elak Bagas.
"Nggak percaya ya sudah." Menjauhkan kepalanya. "Melawan pengkhianat negara aja bisa, melawan pengkhianat hati nggak bisa. Jangan cuma bertekad kuat jadi tentara negara, Bagas. Kamu juga harus jadi tentara untuk hatimu sendiri. Kalau negara aman pastikan hatimu juga aman."
"Tahu lah, Teh!"
"Hahaha." Agni kembali tertawa. Mentertawakan Bagas. Aku langsung menyikut lengannya berharap Agni menghentikan tingkahnya. "Apa sih, Mas?"
Mengerutkan dahiku.
"Lagipula, Bagas, kelihatan tangguh pas perang giliran sama perempuan tumbang." Kembali ditutup dengan tawa.
"Sakit tahu, Teh," keluh Bagas.
"Teteh juga tahu, Bagas. Tapi jangan diratapi terus lah, kelihatan kalau kamu lemah tahu, nggak? Sudah lemah, manja lagi, kok ada tentara seperti kamu!"
Aku cukup diam saja. Sudah cukup aku menasihati Bagas di batalyon tadi. Giliran istriku sekarang.
"Tentara juga manusia, Teh, bisa patah hati," bela Bagas untuk dirinya sendiri. "Kalau soal manja, Bagas kan manjanya cuma sama Papa, Mama, Abang sama Teteh."
"Oke, oke, tapi patah hati juga bukan alasan kamu menjadi murung, kan? Apalagi tadi Teteh dengar dari Abang kalau kamu kehilangan kebanggaan sebagai seorang Prada, iya?"
Ya, aku sempat menelpon Agni tadi, menceritakan banyak hal termasuk titik terlemah Bagas.
Bagas memicingkan matanya padaku. Seolah dia ingin membunuh komandan regunya. Aku memang sempat megirim pesan pada Agni tadi siang.
"Kehilangan kebanggaan sebagai prajurit karena seorang perempuan, itu kesalahan terbesar seorang tentara. Bagas, kamu harus tahu kalau negeri ini mencintaimu tanpa alasan, sama seperti papa dan mamamu yang menerima kamu dengan penuh kasih sayang. Lalu, datang seorang perempuan yang bahkan hampir saja menggantikan posisi negara juga posisi orang tua, tapi dia pergi dan seolah kamu kehilangan semuanya. Kembali lah dengan kebanggaanmu. Bangga lah karena berada di garda terdepan untuk mengamankan negara."
"Iya, Teh." Masih cukup lesu.
"Ya, ratapi dulu, sebentar. Tapi Abang tetap tidak mau kamu kehilangan kebanggaan itu, Bagas." Bangkit dan menepuk bahu Bagas, memberinya semangat sebagai komandan regunya juga sebagai kakak untuknya.
"Kamu pikir ulang!" Istriku juga ikut bangkit. Menuju dapur untuk menyelesaikan pekerjaannya. Bagas butuh waktu untuk sendiri.
Lucu sekaligus menyakitkan. Bagaimana bisa seorang perempuan yang menemaninya di akhir cerita justru memilih seorang perwira? Tapi Yana, juga tidak sepenuhnya salah, naluri sebagai seorang perempuan, materi dan pangkat selalu menggiurkan. Ditambah lagi, semenjak Yana diangkat menjadi Serda, ada perbedaan pangkat mencolok antara dia dengan Bagas. Dan pasti juga ada rasa malu dalam diri Bagas, karena perempuan yang dicintainya sekarang satu tingkat lebih tinggi darinya.
***