Queen of K-Drama

1273 Words
"Mas ambilin wortelnya dong," pinta Agni padaku yang memang berdiri di depan kulkas. "Ini." Memberikan seplastik wortel segar. Jangan bayangkan kami sedang masak berdua. Tidak. Kami memang berdua tapi aku hanya membantu doa. Aku baru saja selesai membersihkan halaman belakang, lalu mendapati Agni sedang memasak tanpa kerudung dan rambut yang di gulung. Bagiku, saat Agni memasak, dia jauh lebih cantik dari biasanya, atau semua perempuan memang cantik saat sedang memasak. "Mas tuh suka banget sih ngelihatin Agni masak," celotehnya sembari memotong wortel. "Kamu cantik kalau lagi kaya gini," pujiku mendekatinya. "Memang biasanya nggak cantik? Oh,  gitu ya? Cantik kalau pas masak doang, tahu gitu Agni masak terus deh tiap jam biar cantik terus," serbunya memasang muka sebal. Aku hanya tersenyum beberapa detik lalu memeluknya dari belakang, membuat Agni menghentikan aktivitasnya . Kemudian kubenamkan wajah tampanku di sela bahunya.  menegang, aku bisa merasakan itu. Untuk beberapa saat dan aku menikmati posisiku saat ini. Nyaman sekali memeluk istri dan menggunakan bahunya sebagai sandaran. Agni berbalik, terpaksa aku mengangkat kepalaku dari bahunya tetapi tangan tetap melingkar di pinggangnya. Mataku tajam menatapnya, begitupun sebaliknya. Tatapan kami bertemu begitu indah, merantai benang-benang keromantisan. Bibirnya menyimpulkan senyum. "Mas tahun nggak?" tanya Agni yang sekarang sudah melingkarkan tangannya di leherku. Aku mengangkat kedua alis tebalku. "Di drama Korea, hal sederhana yang bisa membuat perempuan melayang itu salah satunya memeluk dari belakang pas lagi masak, terus tanya masak apa hari ini? Agni pikir itu terlalu lebay, tapi, Agni benar-benar melayang barusan," katanya dengan pipi yang memerah. Dia memang sedikit agresif, tapi aku suka. Dan drama terkadang tidak se-membosankan itu. "Masa?" Senyumku melebar. Ah, sudah beberapa Minggu menjadi suami Agni, tetapi masih selalu berdegup kencang saat dia menatap mataku, saat dia menggodaku, dan saat kami saling bertaut mesra. Agni mengangguk kencang. "Apalagi hal sederhana yang bisa membuat perempuan melayang?" tanyaku, mungkin bisa kulakukan sekarang. Mumpung sedang manis-manisnya. "Emm..." Bola mata Agni memutar, menepi ke atas. "Menali sepatu, tidur di sini." Menyentuh lembut d**a kiriku. "Emm... Nemenin belanja, kecupan di ken..." Tanpa perintah yang jelas, aku langsung mengecup kening Agn. Pipinya semakin memerah. Menggemaskan. Apalagi bibir merah mudanya tidak menyusut sama sekali, justru semakin mengembang. "Mas!" Memukul lembut dadaku. Duh, bibir itu menggodaku. Sejujurnya aku ingin menyentuh bibir itu, tapi tahulah sampai saat ini bahkan aku hanya mencium keningnya setiap pagi, memeluknya ketika ada waktu luang dan belum berani lebih dari itu. "Kalau candle light dinner bikin melayang, nggak?" tanyaku, bukan, sebenarnya menawarkan. Tadi aku mendapat brosur resto di Tawangmangu dengan pemandangan romantis kota Karanganyar di malam hari dan makanan yang tak kalah dengan resto bintang lima. Baiklah, aku hanya termakan iklan. "Ah, itu romantis banget," jawab Agni yang kembali memunggungiku. Tanpa membiarkan tanganku lepas dari pinggangnya. Aku kembali menempatkan kepalaku di bahu Agni. Manja. "Em.. mau nggak kalau nanti malam kita dinner?" Agni kembali membalikkan badan. "Mau dinner di mana? Solo? Ramai ah." Berbalik lagi, mengiris wortel. "Di Karanganyar ajalah." Beralih ke samping kiri Agni. "Di mana coba? Nggak ada resto yang romantis di Karanganyar. Ada dua sih yang resto besar, enak, tapi ramainya minta ampun. Mau duduk makan saja harus antri." "Di Tawangmangu kok. Di Karanganyar kota nggak ada apa-apa." Agni menatapku. "Yang resto hotel itu?" "Bukan, beda lagi. Mau ya?" "Em.. bolehlah." "Dandan yang cantik ya." Menoel pipinya. *** Pertanyaan paling mendasar seorang laki-laki adalah kenapa perempuan kalau dandan lama sekali? Bahkan waktunya bisa dipakai untuk umroh. Heran, padahal hanya memakai bedak, lipstik, apalagi? Melukis alis? Apa yang membuatnya lama? Bosan sekali kumenunggu istriku selesai dandan. Rasanya benar-benar ingin terbang ke Mekah dulu lalu kembali dan melihat istriku sudah cantik. Luar biasa memang. "Maaf, Mas, lama," ucap Agni mendekatiku di teras rumah. Aku menyisir setiap inci wajahnya, tidak ada yang berlebihan. Bedak tipis seperti biasanya, lipstik peach yang pas dengan bibirnya, kerudung juga tidak dililit-lilitkan hanya di tekuk biasa, alis Agni juga bukan alis lukisan, asli ciptaan Tuhan. "Kenapa, Mas? Ada yang aneh, ya? Apa sih?" Agni bingung. "Kamu cantik banget kaya biasanya, tapi ya, waktu dandanmu seperti waktu Belanda menjajah Indonesia. Berabad-abad!" keluhku membukakan pintu untuk Agni. "Hehe. Maaf, Mas. Habis bingung mau pakai baju yang mana." "Kebanyakan baju sih" "Hehehe." Perjalanan yang cukup panjang, 45 menit. Melewati tikungan-tikungan tajam khas pegunungan, bertemu dengan bus-bus pariwisata dan bus umum yang kebut-kebutan. Bus di sini punya sopir bernyawa double, di tikungan saja bisa balapan. Aku yakin penumpangnya banyak pahala karena setiap detik mengucap istighfar atau menyebut nama Allah Swt.  "Subhanallah." Agni takjub. Bukan dengan resto yang juga menawarkan suasana romantis, tapi pemandangan kerlip lampu Kabupaten Karanganyar yang sungguh indah dipandang mata. "Ayo masuk." Menggandeng tangannya. "Agni nggak tahu ada resto sekeren ini di sini." "Mas juga baru tahu tadi pagi." Memasuki pintu resto dengan kaca bening. Langsung disambut dua pelayan, salah satu dari mereka membawa pesnananku. Sedikit susah negosiasi pesanan yang satu ini. "Selamat datang, Ibu," sambut salah satu pelayan perempuan. Memberikan sebuket bunga kesukaan Agni yang selalu menghias meja kecil di kamar kami. Mawar merah dan putih di tambah krisantium dengan warna senada. "Terima kasih." "Silakan, Ibu, Bapak." Giliran pelayan laki-laki mengantar kami ke tempat yang sudah kupesan. "Keren, Mas. Makasih, ya." Memelukku sebentar. "Sama-sama, Agni. Bunganya gimana?" tanyaku karena memang Agni tidak membahas bunga dariku. "Bagus, kok pelayanannya luar biasa ya," pujinya. Padahal, jika aku tidak ngotot memesan bunga itu, resto ini tidak akan menyediakan. Menarik kursi mempersilakan Agni duduk. Benar-benar sesuai dengan ekspektasiku, 2 lilin cantik menghias bagian tengah meja, berada di balkon yang cukup luas, hanya berdua, alunan musik lembut, dan cahaya lampu yang tidak begitu terang. Oh, yang paling penting adalah pemandangan yang begitu jelas, tidak terhalang satu pohon atau tiang-tiang listrik. Sayangnya udara dingin merasuk hingga ke tulang. "Dingin, ya?" tanyaku yang seharusnya tidak perlu bertanya, Agni menikmati makanan sambil mengelus bahunya, itu sudah kode. Agni mengangguk. Bangkit mengambil jaket army yang tergeletak di sandaran kursi. Memakaikannya di tubuh Agni. "Makasih, Mas," ucapnya menyentuh jemariku di atas pundaknya. "Sama-sama, Sayang." Akhirnya aku berani memanggil Agni dengan kata "Sayang". Lalu mencium puncak kepalanya dan kembali ke tempatku. Agni menghentikan aktivitasnya, berganti menatapku yang sedang menikmati steak. Membuatku salah tingkah karena senyumnya yang menggoda. "Mas jadi canggung kalau kamu ngeliatin Mas kaya gitu." Menggeser piring ke samping, meraih tangan Agni. "Apa Mas seganteng itu?" Barisan gigi Agni terlihat karena tawanya mengembang. "Masih gantengan Ji Chang Wook dan Lee Min Ho." "Siapa? Artis Korea?" "Iya, Ji Chang Wook yang dramanya kita tonton kemarin." "Kita? Orang Mas ngelihatin kamu, nggak ngelihat dramanya," godaku. "Ishh..." Melempar tanganku. Aku terkekeh. Menikmati malam berdua untuk pertama kalinya setelah menikah. Rasanya sangat menyenangkan. Apalagi sejak hadirnya Bagas, dia selalu mengganggu acara makan malamku dengan Agni sebelum menikah. Saat kami masih berstatus sahabat. Puas menikmati malam di resto. Kami pulang pada pukul 22.01 WIB. Itu pun masih dalam perjalanan. Agni tertidur di sampingku sekarang. Pasti dia kelelahan. Hari ini dan besok dia libur tapi pekerjaan rumah dan kegiatan Persit membuatnya sibuk. Jadi, kubiarkan dia tertidur sebelum kembali menguras tenaganya sendiri. Sampai di rumah, aku yang jadi salah tingkah. Mau aku angkat langsung, ini pertama kalinya. Jantungku juga sudah tidak karuan. Kalau kubangunkan, melihat wajahnya yang lelah membuatku tidak tega. Jadi, aku harus bagaimana? Aku angkat saja lah. "Ehmmm..." Agni membuka matanya tepat saat aku sudah menggendongnya ala bridal style. "Udah sampai rumah, Mas?" tanyanya Aku masih tidak berkutik. Sial, jantungku benar-benar tidak bisa dikondisikan. "Enggg... Aku nggak mau turun," ujarnya langsung mengalungkan kedua tangannya di leherku. Susah payah aku membuka pintu rumah dan membawa Agni yang terus memandangku. Menurunkannya pelan. "Good night, Sayang," ucapku setelah mencium keningnya. Setelah kami sudah sama-sama bersih dan bersiap tidur. "Good night, Mas." Menarik selimutnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD