"Papa," Sahira mencium tangan ayahnya. "Siapa?" ayah Sahira menunjuk dengan ujung matanya. "Rekan kerja Pah." "Owh..." ayah Sahira masuk ke rumah. "Pah, nanti Sahira mau bicara." "Tentang dia?" ayahnya berbalik. Sahira hanya tersenyum. Setelah mandi dan sholat magrib, Sahira makan bersama ayah dan ibunya. "Apa yang ingin kamu bicarakan?" ucap ayahnya di sela makan. "Sahira mau nikah Pa," langsung ke pokok permasalahan. "Ya, memang sudah sepantasnya kamu menikah." "Pa," Sahira berhenti makan, ayahnya menatap dengan serius. "Dia... seorang pengguna kursi roda." Sahira berbicara pelan. "Ting," ayah Sahira meletakan sendok dan garpu yang ia pegang. Menatap Sahira lurus. "Krek," Ayahnya meninggalkan meja makan dalam diam. Ibu Sahira menepuk bahu Sahira pelan, mengusapnya lembut.

