Haira menyilangkan tangannya di d**a dan duduk berseberangan dari Giyan.
Ia ingin mengusir Giyan namun tahu pasti orang tuanya tidak akan senang jika ia mengusir tunangannya sendiri.
"Haira,kenapa nggak duduk di sini aja?"Giyan dengan lembut bertutur sambil menepuk sofa disebelahnya.
Haira dengan wajah cemberut dan mata sembabnya masih memandang Giyan dengan kesal."Masih pantas kamu ngomong!"
"Udah dong marahnya,maafin aku ya.Yuk kita jalan aja ke mall."
"KAMU!"Haira meninggikan suaranya karena Giyan terlalu enteng minta maaf.
Giyan berpindah tempat lalu duduk disamping Haira.
"Nih,pukul aja aku."Giyan menyodorkan wajahnya jikalau Haira ingin membuat cap tangan disana.
"Kamu jahat!"Haira memilih memukul badan Giyan walau tidak kuat untuk melapiaskan kekesalannya.
Haira lalu tanpa sadar menangis sambil menumpahkan kekesalannya.
Giyan merangkul Haira dengan penuh kasih sayang."Udah,maaf ya.Aku nggak bakal kelewatan lagi kok."
Haira sudah lebih tenang dan menangis dalam pelukan Giyan.
Ayah dan ibu Haira tersenyum dari jauh,mereka senang karena akhirnya benin cinta sudah tumbuh di antara keduanya sehingga tidak terbebani dengan pernikahan kelak.
****
Giyan memandang Haira yang pertama kali ia ajak jalan di mobilnya.Giyan tersenyum bahagia walau Haira masih cemberut dan mendinginkannya.
Sebenarnya Haira enggan keluar karena takut di pergoki oleh teman temannya,tapi ayah dan ibunya memaksa Haira harus tetap pergi.
Jadilah Haira dengan mode terpaksa sekarang.
"Haira,mau ke loundry dulu nggak?"
"Ngapain!"
"Tuh,setrika muka kamu yang kusut."
Haira menatap Giyan yang sekarang nyengir kepadanya.
"Kekebun binatang aja kita."
"Ngapai Hai?Kan tutup?"
"Balikin kamu ke kandang!"Balas Haira dongkol.
Giyan harus terima saja demi pujaaan hatinya ini walau akan mengesalkan sepanjang perjalanan.
"Mau apa kita?Nonton,makan atau kamu mau aku temanin shopping?"
Haira langsung melirik."Kamu ajak aku ngedate?"
"Iyappzz."
"Tapi kan kita nggak pacaran?"
"Lah,kita udah tunangan bahkan mau nikah.Sama aja kan?"
"Memangnya aku udah bilang suka sama kamu juga?"
Giyan tersenyum santai."Nggak,aku kan udah bilang aku nggak nuntut.Perasaan aku mau kamu balas sekarang atau nggak.Kalau nanti kamu nyaman baru bilang i love you ke aku.Seenggaknya kita pdkt lah,kita mau nikah masa juga nggak nikmatin pendekatan dulu."
'Aku masih bingung sama perasaan aku.Kadang kamu kayak bohong deh sama aku tapi kadang kamu tulus banget.Setelah lebih dekat,aku malah ngerasa ada yang spesial buat kamu.Cuma aku juga belum yakin.Maaf semua harus gantung dulu Giyan.'
Haira lalu diam tanpa bahasa.Ia masih bingung akan menjawab apa.
"Giyan,kamu pernah pacaran?"Haira mulai buka suara lagi.
"Pernah."
"Sama siapa terus berapa kali?"
"Kamu semangat banget ngulik masa lalu aku."Giyan agak geli karena sekarang Haira menginterogasinya.
"Hmm berapa ya,2 atau 3 kali gitu lah.Nggak ada yang serius kok."
"Bohong!"Haira mulai cemberut dan tidak percaya.
"Benaran dong,kalau nggak,aku nggak akan tunangan sama kamu."
"Eh iya,benar juga."
"Jadi siapa mantan yang paling kamu sayang?"
"Emmm."Giyan berpikir sejenak."Kakaknya Karin."
"Kakaknya Karin?"
Giyan mengangguk."Namanya Kanza,kakak tirinya Karin.Aku putus sama dia karena Karena Karin ternyata suka sama aku.Dia nggak mau Karin sedih.Tapi Karin malah benci ke dia.Ngerasa kakaknya sok baik dan kasihanin dia.Karin juga buat Kanza sama mamanya di usir dari rumah.Dia minta papanya cerai sama mama Kanza."
"Terus?"
"Aku kesal lah,aku marah sama Karin,aku juga kecewa sama Kanza.Tapi aku hormatin kemauan dia.Ya udah,kita sekarang temanana aja.Mamanya juga udah nikah lagi dan papa barunya sayang sama dia.Dia lagi kuliah di Jerman sekarang."
"Kamu masih sering kabar kabaran sama dia?"
Giyan mengangguk."Kayak teman lama aja aku sama dia sekarang."
'Kok hati aku panas ya,agak geregetan juga aku jadinya!'Haira malah kesal sendiri karena ulahnya.
"Kenapa nggak balikan aja?Kamu kayaknya masih sayang sama dia."Haira menjadi semakin ketus pada Giyan.
"Nggak dong,kan aku sukanya sama kamu."
Haira memandang Giyan yang santai sekali.'Kamu tuh serius nggak sih?Kok aku jadi galau gini.Suami bukan,pacar juga belum tapi kok....'Haira sudah serba salah dengan dirinya sendiri.
***
Haira dan Giyan sudah sampai di Mall,Giyan kekeuh ingin menghibur Haira.
Walau dengan susah payah akhirnya Haira tersenyum.
Haira dan Giyan lalu makan bersama di restoran cepat saji.
"Bibir kamu tuh."Haira terganggu melihat bibir Giyan yang belepotan terkena saos.
"Kenapa?"Mulut Giyan masih mengunyah dan penuh dengan makanan.
"Itu saos."Haira menunjuk bibir Giyan lagi.
"Lap dong,tolong."Giyan mulai bermanja pada Haira.
Haira memberanikan diri mengambil tisu lalu mulai membersihkan saos di pinggiran bibir Giyan.
Giyan tersentuh dengan adegan kecil itu.'Haira,kamu bisa manis juga ternyata.'
"Apa aku olesin saos ke muka aku aja ya biar kamu mau so sweet gini ke aku."
"Iya,boleh aja.Ntar aku lap pakai lap kotor punya mba mba cleaning service."Haira geli juga karena candaan Giyan.
"Ihhh ogah,memangnya muka aku kaca kotor."
"Berani kotor itu baik Giyan."
Haira dan Giyan lalu tertawa bersama.
***
Giyan mengantar Haira pulang setelah kencan mereka.Giyan dengan gentle turun membukakam Haira pintu mobil.
"Makasih."
"Iya sama sama,kamu masuk gih.Udah malem."
"Iya."
Walau berkata demikian,Haira dan Giyan malah saling memandang seakan enggan berpisah.
"Aku boleh cium kening kamu?"
"Deg!"Haira berdebar.
"Emm,iya boleh."Haira memberanikan diri membuka diri karena ia tahu,Giyan adalah orang spesial baginya sekarang.
"Tapi jangan tempelin apa apa lagi ya!"Haira masih ingat perbuatan jahil Giyan.
"Hahah,iya."
Giyan mulai mendekat dan memegang wajah Haira,saat itulah ia mulai mendaratkan kecupan hangat di dahi Haira.
Haira menyesapi sambil memejamkan matanya.
Giyan melepas kecupannya dan masih memandang Haira.
Tanpa aba aba,Giyan menempelkan bibirnya pada bibir Haira.
Haira kaget dan sontak membuka matanya.Ia melihat jelas wajag Giyan didepan wajahnya dan merasakan betul bibir Giyan menempel di bibirnya.
'Udah lama banget aku pengen lakuin ini Haira.'Giyan memberanikan diri melakukan hal nekad ini dan bersiap dengan apapun konsekuensinya.
****
'Haira?Dia???'Raya rupanya memergoki Haira dan Giyan.
Raya berada tidak jauh dari kedunya.,ia menyembunyikan diri agar tidak ketahuan.
Niat hati ia ingin menghibur Haira tapi semua di luar dugaan.
Raya memilih menjauh lalu pergi.Raya menagis dan kelihatan amat sedih.
****
Haira menyelimuti diri dikamarnya.Ia tersenyum malu dan bahagia.
Setelah berciuman tadi,Haira masuk kerumahnya sambil berlari tanpa kata kata.
Giyan tidak menerima penolakan atau makian dari Haira.
"Aaaaaaaaa..."Haira menendang nendang selimutnya kegirangan.
Begitu juga Giyan yang terus tersenyum sepanjang jalan sambil menyetir mobil.
"Yeshhhhh!"Giyan senang karena misinya sukses.
Sedikit demi sedikit ia mulai bisa membuka celah hati Haira.
****
Saat di sekolah keesokan harinya,Giyan dan Haira saling memandang saat berpapasan di lorong sekolah.
Keduanya sama sama tersenyum satu sama lain.
"Haira,aku ada yang mau di omongin sama kamu."Raya yang di sebelah Haira mengajak Haira bicara setelah Giyan berlalu.
"Eh iya,ada apa Raya?"
"Kita duduk di perpus dulu ya."
"Oke."Haira mangut saja dengan kemauan Raya sampai ia shock berat saat mendengar apa yang Raya katakan.
"Sebenarnya aku mau bilang kalau aku suka sama Giyan.Kamu mau kan bantu aku dekat sama Giyan?Biarpun kalian sering nggak akur,tapi Giyan sama kamu sering komunikasi kan?"
"Apa?"Haira benar benar kaget.'Kamu suka sama Giyan!What!Tapi aku baru aja dekat sama dia!Aku bahkan udah tunangan sama dia!Kenapa harus Giyan sih Raya!'Haira mengepalkan tangannya menahan emosi.Tapi ia juga tidak enak hati dengan sahabat satu satunya ini.
"Kamu kenapa Haira?"
"Eh nggak,nggak apa apa."Haira masih serba salah dengan pengakuan Raya."Kamu suka sama Giyan?Sejak kapan?"Haira tetap mencoba bertanya.
"Udah lama,aku suka dia dari masuk SMA ini.Tapi aku malu,aku juga takut dia nggak suka sama aku.Tapi kan ada kamu,aku rasa kamu pasti bisa bantu aku.Iya kan Haira?"Raya pura pura bodoh,padahal jelas tahu jika Giyan dan Haira sedang dekat.'Maaf Haira!Tapi kamu kejam!Kamu juga harus sakit!Aku udah lama mendam suka sama Giyan diam diam!Aku iri kamu bisa dekat sama dia!Giyan nggak akan aku biarin jadi milik kamu kalaupun nggak bisa sama aku!Kamu juga nggak cerita kalau kamu dekat sama dia!.Maaf aku egois!'Damn!!Ternyata Raya sama seperti Karin,ia menyukai Giyan diam diam sejak dulu.Pantas saja ia sering curi pandang melihat Giyan.
"Aku nggak tahu nih bisa bantu atau nggak.Soalnya aku sama Giyan juga paling dekat kalau ribut aja.Aku nggak bisa jamin bisa comblangin kamu sama dia."
"Jadi kamu nggak mau bantu aku?"
"Eh enggak,bukan gitu."Haira mulai panik."Cuman...."
"Nggak apa apa Haira,aku bakalan usaha juga kok,yang penting kamu dukung aku kan?"
Lebih menusuk lagi jawaban Raya.Haira hanya bisa terdiam dengan anggukan pasrah.
Tapi saat itu ternyata ada teman Giyan yang menguping tanpa sengaja pembicaraan mereka.
Langsung saja ia melapor pada Giyan dikelasnya.
Giyan mendengar dengan seksama.Ia sejujurnya kesal karena Haira di buat seperti itu.
****
"Brukk."
"Hati hati dong Haira."
"Maaf ya.Maaf."Haira jadi linglung,saat pulang sekolah ia tidak konsen berjalan dan menabrak orang lain dengan pandangan kosong dan pikiran kacau balaunya.
Giyan berjalan tepat di belakang Haira memantau Haira.Ia tahu betul jika Haira tidak akan bisa menghadapi dirinya saat ini.
"Hai Giyan."
Giyan menoleh dan melihat Raya yang menyapanya.
Giyan hanya menatap datar sekilas lalu pergi.
'Kenapa kamu nggak pernah lihat aku walau cuma sekali sih Giyan?Padahal aku nggak kalah apapun dari Haira.Selalu hanya dia yang ada di mata kamu.Seenggaknya beri aku kesempatan buat ngomong sama kamu.'
Raya menelan pil pahit kekecewaan.Ia lalu memikirkan rencana licik lainnya agar bisa bicara dengan Giyan.