Anna hanya melihat Renata, lalu mengambil coffelattenya dan meminumnya, beberapa saat kemudian setelah keheningan di antara mereka memudar, Anna mengambil sebuah undangan dari dalam tas miliknya.
Menyodorkannya ke arah Renata, "Apa ini?" Tanya Renata.
"Itu undangan acara amal perusahaan internasional, Frans akan ada di sana sebagai tamu spesial. Kau bisa pergi dengannya ke pesta itu," Anna mengatakannya kemudian memberikan bolpoin.
"Berhubung itu resmi kau harus tanda tangan di dalam undangan itu." Anna kembali membuat Renata berfikir keras.
Kenapa harus dirinya yang hanya istri ke 4 Frans, Anna lebih berhak datang ke acara itu mendampingi Frans
Di sisi lain Renata juga enggan pergi dengan Frans, ia masih ada tanggung jawab yang besar di butiknya.
"Aku tidak bisa pergi, aku membenci acara seperti itu dan terlalu ramai Anna." Renata menolaknya lalu mengembalikan undangannya, namun sama halnya dengan Anna yang kembali memberikan undangannya.
"Ayolah Renata pernikahanmu dengan frans cukup menoleh perhatian publik, jadi tidak ada salahnya kau pergi ke acara formal dengan Frans." Anna mencoba membujuknya.
"Apa ini alasan kamu menemuiku Anna?" Tanya Rena yang sudah mengerti maksud Anna.
Anna hanya mengangguki pertanyaan Renata. Lalu dirinya kembali memegang tangan Renata. Dan menatapnya dalam-dalam
"Tapi kan-"
Suara dering ponsel menghentikan ucapan Renata, ia melihat ponselnya yang di letakan di samping sikut kanannya itu berbunyi menandakan panggilan masuk. Nama itu tertera dengan jelas jika kakaknya lah yang menelfon.
Renata mengangkat panggilan tersebut, namun sedikit menjauh dari posisi duduknya, "Hallo kak." Ucap Renata saat mendekatkan ponselnya di telinga.
"Neta maafkan Kakak, aku ingin kau membujuk Frans agar kerja sama perusahan swan itu menjadi milik perusahaan keluarga perkins. Biarkan aku yang mengambil alih" Arjan terdengar gelisa saat mengatakan permintaannya kepada sang adik.
Renatan terkejut, bagaimana ia hrus meminta sesuatu yang tidak bisa Renata lakukan pada Frans. Kini Renata memutuskan panggilannya dan kembali ke tampat duduk.
Anna sudah tidak terlihat di tempat, hanya sebuah secarik kertas di atas meja yang di tindih gelas itu dengan pesan singkat dari Anna. 'Renata, aku sungguh minta maaf. Ada hal yang mendesak jadi aku pergi, Renata. Aku tahu hubunganmu belum sempurma dengan Frans tapi aku mohon pergilah dengannya ke pesta.'
Setelah membaca pesan itu Renata kembali ke butik. Harinya di penuhi dengan acara pesta itu dan permintaan aneh kakaknya. Belum selesai dengan urusannya, ia kembali di hubungi Frans. Renata tidak mengangkat panggilan dari Frans.
Renata mencoba melupakan masalahannya untuk sekarang. Namun dering ponselmya terus menggangu ketenangan Renata. Dia mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja beserta tumpukan kertas-kertas lainnya.
"Bisakah kau berhenti mengganguku?" Ucap Renata seketika saat menempelkannga ke telinga.
"Sayang semakin hari suaramu semakin sexy. Aku sangat menyukainya." Suara berat itu berasal dari Frans.
"Frans kenapa kau menelvonku?, Katakan apa maumu?" Ucap Renata yang di sambut tawa ringan dari Frans.
Sebelum Frans berbicara Renata melihat undangan yang dia terima dari Anna, dia langsung ingat jika kakaknya meminta bantuan Rena untuk perusahaan. Apa dia harus menemui Frans untuk bernegosiasi dengannya melalui undangan itu? Atau dia harus melupakan permintaan kakanya itu.
Diam kebisuan Renata membuat Frans terus memanggil Renata, "Sayang. Apa kau masih berada di situ?" Ucap Frans tanpa menyadarkan Renata.
"Baiklah, tunggu aku 1 jam lagi aku akan ke sana." Renata langsung menyetujuinya dan mematikan panggilannya dengam Frans
Frans tidak megatakan apa-apa tentang tujuannya menelvon Renata, Namun Dia sendiri yang menyetujui apa yang tidak Frans katakan. Tetapi sejujurnya memang Frans ingin menyuruh Renata untuk datang ke wine company.
Tok tok
Arin memasuki ruangan Renata, dia duduk di depan Renata yang sedang terlihat bimbang. Melihat ke sekeliling meja Renata memang mengundang perhatian dengan kertas kertas desainnya yang sedikit berantakan. Masalah penjiplakan itu memang sudah teratasi dirinya tinggal menampilkan apa yang seharusnya restyl tampilkan saat fasion show beberapa hari yang lalu.
Arin memberikan sebuah undangan terbuka ke pada Renata. Undangan itu dari salah satu kolega bisnisnya yang sudah bekerja sama dengan Renata semenjak dia merintis karir di dunia tata busana.
"Love Destiny In My Life?" Tanya Renata saat membuka undang itu.
"Apa maksudnya?"
Arin sedikit tersenyum lalu menjelaskan jawaban dari pertanyaan Renata, "Sepertinya Frand kurang membuat pintar kembali Nyonya Rena-"
"Itu dari Selena, dia membuka sebuah party untuk kemajuan bisnisnya dan kau diundang menjadi tamu spesialnya malam ini." Jelas Arin.
"Malam ini?"
"Iya. Apa kau tidak bisa menghadiri itu?" Arin bertanya saat Rena terlihat keraguannya.
"Bukan itu. Aku harus menemui Frans untuk membicarakan sesuatu." Jelas Renata
Arin terbungkam mengerutkan dahinya, dia berjalan ke arah kursi dan duduk di sana. Menempatkan telapak tangannya ke dahi dan sedikit menahan tawanya. Lalu dia kembali melihat ke arah Rena menyuruhnya untuk ikut duduk di depan Arin.
Rena mengikuti perintah Arin dengan duduk di depan Arin. Menyilangkan kedua tangannya yang di ikuti kakinya. Bersender ke kepala kursi.
"Kenapa kau tertawa?" Tanya Renana.
"Kau kehilangan kecerdasanmu Rena. Kenapa kau harus mengambil langkah yang menyulitkan?" Jelas Arin.
"Rin apa yang sedang kau bicarakan?"
"Renata Alvarado kau tinggal satu atap dengannya tapi kenapa kau memikirkan bagaimana kau harus menemuinya, sepenting apa kau harus membicarakan masalah dengan suami yang kau sendiri benci?" Arin memutar kembali apa yang dulu pernah Renata katakan. Rena yang berubah hampir seluruhnya karena semua masalah yang menimpanya.
"Kau selalu membuatku menjelaskan padamu siapa sebenarnya dia." Renata kesal karena Arin selalu mengkaitkan masalah dengan statusnya yang sudah mempunya suami b******k seperti dia.
"Baiklah aku akan hadir ke pesta itu." Lanjut Renata memperjelas dan pergi meninggakan Arin.
"Kau harus hadir dengan Frans." Langkah Renata terhenti saat hendak keluar ruangan saat Arin kembali megangkat suaranya
Menghampiri Arin yang sedang duduk di kursi, Renata ambil duduk di depan Arin. Melihat temannya yang semakin hari semakin gila.
"Apa yang kau lihat?" Arin mejadi salah tingkah saat Renata terus memperhatikannya. Arin melihat tubuhnya sendiri apa ada yang salah.
"Kau! Aku melihatmu. Arin sahabatku yang aku cinta, apa otakmu kini bermasalah? Kenapa kau selalu membawa- bawa Frans?
Arin berhenti. Dan mngikuti gerak Renata yang terus menatapnya, Arin menatap balik Renata dan memajukan tubuhnya hingga lebih mendekat ke arah Renata. Meraih dagu Renata dan menepuk-nepuk pipi Renata.
"Karena aku melihat kau sudah jatuh cinta dengannya." Ujar Arin.
"Kau gila!" Renata menjauhkan Tangan Arin dari dirinya.
"Sudahlah aku akan menemui Frans terlebih dahulu. Sehabis itu aku akan kembali mengajarimu." Ujar Renata lalu meninggalkan Arin sendirian di ruangan kerjanya.
Renata meraih undangan dari Anna dan di masukannya kedalam tas. Renata berniat bernegosiasi dengan Frans menggunakan undangan pesta itu. Berhasil ataupun tidak Renata sudah menyiapkan senjata terakhirnya.
Renata mengendarai mobil miliknya sendiri yang di berikan oleh Frans. Mobil spesial dengan plat yang khusus untuk Renata.
Awalnya Renata enggan menerima pemberian dari Frans tapi Frans mengatakan jika itu bukan darinya melainkan dari orang lain yang jauh daru Frans sebagai hadiap perikahan mereka karena tidak bisa menghadiri pernikahan mereka. Renata sempat bertanya siapa dia. Tetapi Frans hanya mengatakan 'kau pasti akan bertemu dengannya.'
Itu alasan kenapa Renata menerima mobil itu dengan lega. Untuk mencapai perusahaan wine milik Frans. Renata perlu menempuh jarak sekisar 30km.
To be continued
Terimakasih sudah mau membaca cerita aku?