***
Sebelum memasuki perusahaan milik Frans, Renata menghentikan langkah kakinya dan memutar tubuhnya hingga menghadap ke arah kanan. Dia melihat kakaknya, Arjan yang sedang berbincang dengan Anna. Mereka seolah-olah sudah saling mengenal.
Renata berniat menghampiri mereka namun mengurungkan niatnya karena ponsel milik dia yang terus berdering. Dan ternyata itu dari sekertaris Jim.
"Halo Jim." Sapa Renata pada Jim.
"Halo Nyonya Rena, tuan Frans berpesan jika anda ingin menemuinya anda harus menunggu di kantornya dulu. Karena tuan Frans harus menghadiri rapat." Ujar Jim.
"Rapat? Rapat apa maksudmu Jim? Aku sudah berada di depan Wine Company." Tanya Renata namun masih dengan tatapan yang terus mengarahkannya ke Arjan dan Anna.
"Kerjasama dengan Perusahaan Swan." Ucapan Jim berhasil mengalihkan pandangan Renata. Dirinya langsung terfokus dengan tujuan utamanya. Tidak memperdulikan kenapa Arjan dan Anna berada disana.
"Perusahaan Swan. Jim tolong katakan ke Frans tunggu aku sebentar. Aku akan naik ada hal penting yang harus aku katakan dengannya." Renata menyuruh Jim untuk menyampaikan pesannya. Dan saat Rena kembali untuk melihat Arjan. Mereka sudah tidak ada ditempat.
Rena tidak memperdulikan itu dirinya langsung bergegas masuk dan saat sudah berada di dalam. Salah satu resepsionis menghentikan langkah Renata dan menyuruh untuk memberitahukan tujuannya itu berada di perusahaan Wine. Karena tidak bisa semua orang yang tidak punya janji bisa keluar masuk Perusahaan milik Frans.
"Maaf Nona anda ingin bertemu dengan siapa?" Tanya Resepsionis itu.
"Frans Alvarado apa dia masih di ruang kerjanya?" Jawab Renata tanpa memperkenalkan diri jika dirinya adalah Nyonya Alvarado.
"Apa Nona sudah membuat janji dengan Tuan Alvarado?" Resepsionis itu masih terus menyita waktu Renata.
"Aku buru-buru jadi aku akan kembali untuk menjawab pertanyaanmu itu." Renata mencoba langsung meninggalkan resepsionis rese itu. Tapi dirinya lagi-lagi di tahan olehnya.
"Nona berhenti." Teriak Resepsionis dan mengejar Renata.
"Anda seharusnya mengerti ketentuan perusahaan Wine. Jika anda tidak ada janji anda boleh menunggu atau membuat janji terlebih dahulu."
Renata menghampiri Resepsionis rese itu lalu meunjukan jemari tangannya. Sebuah cincin berlian yang melingkar di jari manisnya itu membuat Resepsionis hanya mengedipkan matanya.
"Aku tidak perlu membuat janji untuk bertemu dengan suamiku sendiri bukan?, Aku bebas menemui dia kapanpun aku mau. Karena aku istrinya. Kau boleh menyuruh Jim untuk kesini dan meminta penjelasannya." Jelas Renata.
Resepsionis langsung menelfon bagian informasi khusus CEO. Menanyakan siapa sebenarnya wanita yang bernama 'Renata Perkins'. Setelah mendengar jawaban. Sang Resepsionis langsung mematikan sambungan panggilannya dan meminta maaf kepada Renata karena sudah bersikap kurang ajar.
Renata hanya terseyum tanpa mengatakan apapun lalu pergi meninggalakan dia.
'untung aku pakai cincin nikah dari Frans buat jaga-jaga.' karena sebelumnya Renata tahu jika Wine company bukanlah perusahaan yang mudah. Jika kau ingin masuk dengan hormat maka harus ada status yang tinggi. Dengan berperan menjadi Nyonya Alvarado Renata berfikir akan mudah. Dan itu sangat bekerja.
Renata buru-buru langsung ke atas menemui Frans. Dan saat sampai di depan ruangan Frans, Renata hampir terlambat beberapa menit saja jika Dia masih meladeni Resepsionis itu. Frans dan Jim beserta beberapa orang itu hendak pergi. Renata mencegah mereka.
"Tunggu Frans, bukankah aku memintamu untuk menungguku?" Ujar Renata terengah-engah.
"Kau terlambat Sayang. Aku membenci orang yang terlambat." Jawab Frans lalu mencoba meninggalkan Renata.
Renata menahan Tangan Frans saat Frans mencoba melewati tubuh Renata. Untuk pertama kalinya Renata yang memegang tangan Frans. Membuat Frans berhenti dan menoleh ke tangan Renata. Renata yang tanpa sengaja memegang tangan Frans langsung melepaskannya.
Frans melihat cincin berlian itu melingkar di jari manisnya. Membuat dirinya sedikit tersipu. 'kau memakai cincin itu juga Renata Alvarado.' batin Frans
"Apa yang kau inginkan." Tanya Frans seolah-olah tidak mengetahui tujuan Renata.
"Aku ingin bernegosiasi denganmu?" Jawaban Renata membuat Jim dan lainnya saling memandang. Karena baru kali ini ada Wanita yang membuat Frans terdiam oleh tingkah orang itu kecuali Anna.
"Jim tunda rapat 30 menit lagi. Kalian boleh pergi." Ujar Frans kepada mereka.
Frans langsung menarik tangannya dan membawa Renata masuk ke ruangan.
***
"Anna terimakasih." Ujar Arjan lalu memeluk Anna.
Anna membalas pelukan Arjan. Tersenyum padanya lalu melepaskan pelukan mereka. Dan Anna pergi meninggalkan Arjan.
Anna tidak masuk ke dalam perusahaan melainkan pergi ke suatu tempat. Sedangkan Arjan masih berdiri di tempatnya dan melihat kepergian Anna.
***
Renata dan Frans duduk berhadapan. Renata langsung mengeluarkan undangan yang dia terima dari Anna. Saat undangan itu sudah berada di hadapan Frans. Undangan itu sudah di tanda tangani oleh Renata.
"Aku akan menghadiri acara tersebut denganmu tapi dengan satu syarat. Aku ingin Perusahaan Keluarga perkins yang mengambil alih kerjasama dengan perusahaan Swan." Ujar Renata to the point
Frans terkekeh lalu mengambil undangn itu, di bukanya dan memang sudah tertera nama Renata dan Tanda tangannya di sana, "Dari mana kau mendapatkan ini?" Tanya Frans.
"Anna yang memberikannya padaku. Jawab saja apa kau bersedia?" Tanya balik Renata.
"Sayang kau terlalu percaya diri. Aku tidak memintamu untuk menemaniku ke acara itu. Aku bisa datang dengan wanitaku yang lain. Lagian kerjasama ini sangat menguntungkan untuk wine company lantas dengan alasan apa aku harus menyerahkan kerja sama itu dengan Perusahaan kecil milik keluargamu?" Frans memperjelas membuat Renata merasa geram. Dia terlihat jelas menahan amarahnya yang semakin memuncak.
"Kau pembohong. Anna bilang kau hanya datang sama Anna tidak akam datamg dengan wanita lain." Bisik Renata
"Apa yang kau katakan?" Ucap Frans karena mendegar gerutu dari Renata.
Renata menggelengkan kepala, berfikir sejenak. Jika undang itu tidak bisa di terima Frans. Hanya ada satu cara untuk membujuknya. Hanya dengan berkata lembut dan memanjakan Frans, Frans mungkin akan sedikit luluh.
Tetapi Renata enggan karena jika itu terjadi berati dirinya menurunkan harga dirinya serendah itu. Itu seperti sama saja Renata menerima jika Frans memang suaminya.
Renata beranjak pergi tidak ingin bernegosiasi lagi dengan laki-laki tampan itu. Namun hanya berjarak 2 meter dari Frans dirinya menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Frans, "baik aku akan menerimanya." Ujar Frans.
Frans selalu memberikan jawaban di setiap akhir negosiasi. Kenapa dia selalu membuat Renata tertegun. Frans berdiri dan mendekati Renata, berdiri di depannya dengan membawa undangan yang Renata berikan.
"Aku menerima Syarat darimu Nyonya Alvarado. Tapi dengan satu syarat." Ucap Frans.
"Satu syarat." Renata terkejut, menaikkan alisnya dan mengerutkan dahinya.
"Kenapa aku tidak bisa? Kaupun bisa mengajukan satu syarat. Bagaimana?" Tanya Frans lalu seperti biasanya menarik tubuh Renata hingga ke pelukannya.
Tubuh Renata langsung merespon untuk memundurkan langkahnya agar terlepas dari Frans. Menyuruh Frans untuk tetap di tempatnya.
Renata berjalan ke arah kursi lagi dan duduk bersender di kursi yang di ikuti Frans. Tetapi kali ini Frans duduk di samping Renata. Renata lagi-lagi merespon dan bergeser. Frans yang melihat tingkah Renata seakan Renata sedang salah tingkah itu membuat Frans sedikit terkekeh, yang membuat Frans ingin menggodanya lagi.
"Sayang apa kau malu?" Tanya Frans.
"Khaa malu?" Renata tertegun. Mengambil tempat duduk yang jauh dari Frans.
"Aku akan menyerahkan kontrak kerja sama itu ke perusahaan perkins asal kau mau makan malam bersamaku malam ini, bagaimana?" Tanya Frans.
To Be Continued