Chapter 12

1196 Words
*** Aroma pagi hari sudah tercium segar, cahaya yang masuk dari sela-sela jendela kini mulai menusuk ke mata ngantuknya. Tidur di atas ranjang yang lembut dan besar memang sangatlah nyaman, bahkan kau enggan untuk bangun. Renata yang masih meringkup di balik selimut itu, mencoba menutup matanya dengan tangan untuk menghindari silau. Tangan satunya meraba meja di samping tempat tidur, mencoba mencari ponsel miliknya. Di dapatinya ponsel itu dan saat melihat angka jam yang terpapar jelas, membuat Renata berguman. "Ah kenapa cepat sekali jam 08:00, aku terlalu menikmati tidurku. Sudah beberapa hari terakhir aku tidak sesegar pagi ini." Ujarnya lirih lalu bangkit dari posisi nyamannya, dan mengambil posisi duduk. Menarik nafas panjang, lalu melentangkan kedua tangannya, "good Morning Rena." Ucapnya pada diri sendiri. Renata terdiam saat tangan kanannya merasakan sentuhan yang hangat, ia sedikit meraba mencoba mencari tahu apa itu, "hangat dan berambut tipis." Batin Renata Ia menoleh ke arah kanan dan di dapati tubuh laki-laki yang tertidur pulas di sampingnya. Mata Renata seketika melotot, tangannya berada di atas d**a laki-laki itu. Rasanya ingin berteriak tapi Frans terlihat pulas tidurnya. Renata berfikir saat Frans tertidur, dirinya terlihat sangat berbeda. Garis wajahnya tidak menampakan sifat brengseknya itu. Renata mengamati setiap lekuk ototnya. Dari bawah dagu hingga pusarnya. Sayangnya ia tidak mampu untuk melihat ke zona bahaya yang berada di balik selimut itu, selimut bernuansa abu muda itu menutup setengah badanya yang indah. Saat Renata hendak pergi, tangannya tertahan oleh tangan Frans. Lalu menarik tubuhnya hingga berbaring di samping Frans. "Temani aku." Ujar Frans sembari memeluk Renata. "Frans aku harus ke butik, aku tidak punya banyak waktu sekarang. Bisakah kau bersikap baik, sekali saja." Pintanya lalu mencoba melepaskan pelukan Frans. Akhirnya Renata bebas, dan langsung mengambil posisi duduk. "Baiklah. Aku lepaskan kau kali ini " Frans membuka suarnya yang tidak terdengar keras, rasa ngantuk memang masih mengganjal di matanya itu. Renata kini bergegas siap-siap untuk pergi ke butinya. Dan meninggalkan Frans yang masih meringkup di balik selimutnya itu. Saat Renata berdiri. Renata kembali menoleh ke arah Frans, "Frans aku akan menyiapkan breakfast untukmu. Turun dan makanlah." Ujar Renata lalu meninggalkan Frans Frans langsung terbangun merasa heran dengan sikap Renata yang tiba-tiba membuat paginya begitu menyenangkan. Frans langsung meraih piyamanya dan mengambil langkah selanjutnya dengan membersihkan badannya. Renata sibuk dengan hidangan paginya yang ia lakukan untuk Frans, hanya roti panggang, salad, s**u dan buah sudah berada di atas meja makan. "Ada apa denganmu?" Ucap Frans saat menghampiri Renata lalu memeluknya dari belakang. "Apa yang sedang kau lakukan Frans?" Renata mencoba melepaskanya. Frans melepaskan pelukanya dan duduk di kursi, "Kau temani aku makan." Renata duduk dan mengambil saladnya. Tidak menghiraukan Frans. Renata asik dengan makanannya sendiri. Saat Renata melihat ke arahnya Frans sedang meatap Renata dengan seuntas senyumnya. "Apa yang salah denganmu? Apa kau sudah jatuh cinta denganku?" Tanya Frans lalu mengankat satu alisnya. "Berhenti bercanda. Aku melakukan ini untuk berterimakasih untuk semuanya." Jawab Renata singkat. Mereka menikmati paginya untuk pertama kali. Dan lambat laun perasaan yang tidak tahu arah itu akan menemukan tujuannya. *** Setelah selesai dengan Frans, Renata kembali ke butiknya. "Arin bagaimana apa semuanya sudah selesai?" Tanya Renata saat masuk ke butik dan di dapati Arin sedang berada di lantai bawah. "Semuanya sudah ok, tinggal melengkapi saja." Ujar Arin. Renata terlihat senang, "ohh Nyonya Alvarado kau terlihat segar pagi ini? Apa semalam Frans membuat wajahmu berseri?" Ledek Arin yang kini mendekat ke arah Renata. "Kau ini." Mendengar Renata langsung merubah ritme wajahnya membuat tawa tidak bisa Arin simpan lagi. Mereka berdua langsung pergi ke lantai 3, dimana Ruangan Kerja Renata berada. Renata menaruh mantel beserta tasnya di tempat biasa, kemudian dirinya mulai memasangkan renda dan manik-manik untuk gaun miliknya. "Arin sini coba deh liat" pinta Renata, Arin yang mendengar Rena memanggilnya langsung menghampiri dirinya. "Bagamana kalau kita rubah bagian bawahnya, ini terlalu casual menurutku, dan jika kita padukan dengan Renda swedian ini kurang cocok." Ucapnya sembari memberitahu bagiannya ke Arin. Arin hanya mengagguki ucapan Renata, karna baginya Renata lebih tahu untuk hal ini. Matahari kini sudah menampakan dirinya di tengan-tengah langit, salju pun sudah mencair. Ting ting Suara bel butik berbunyi yang menadakan ada pelanggan masuk ke butik, seorang perempuan kini masuk berpakaian layakanya sosialita namun tidak terlalu mewah. Pakaian soft itu saakan menandakan sifatnya yang lembut, dengan seuntas senyum ia meyapa pelayan butik. "Selamat siang, apa Nona Renata ada di dalam?" Tanyanya dengan lembut. Di balas senyuman oleh salah satu pelayan butik, dengan ramah ia mengantarnya pergi ke ruang kerjanya Renata. Tok tok, Ketukan pintu berulang kali, dan pada ketukan ke empat pintu terbuka. Berdirilah Renata di ambang pintu. "Anna," ucap Renata saat melihat perempuan yang mencarinya. Seketika senyum manis terlontar dari bibir wanita yang tengah berdiri di ambang pintu, "Apa Aku mengganggu waktumu Rena?" Tanya Anna. "Tidak, kita keluar bagaimana?" Tanyanya balik. Mereka berdua pergi keluar butik, untuk ke cafe seberang jalan dari butiknya itu tidak memakan waktu lama. Ia hanya menunggu lampu khusus pejalan kaki berwarna hijau. Saat mereka sudah berada di depan Cafe, mata mereka tertuju pada sebuah meja kosong yang berada di smping dinding paling ujung. Terlihat sangat jelas dari balik kaca besar yang menjadi penutup cafe mewah itu. Memasuki cafe, mereka duduk di meja kosong dekat dinding yang cukup jauh dari pintu masuk, karna hanya meja itu yang kosong. Saat pesanan sudah ia pesan, Anna terus memperlihatkan garis senyumnya yang terlihat hangat itu, "Bagaimana kabarmu? Aku melihat berita itu beberapa hari. Jadi aku putuskan pulang hari ini untuk melihatmu." Ucap Anna "Semuanya sudah baik-baik saja Anna, beberapa hari yang lalu memang seperti aku tercebur ke galian lubang yang sangat dalam. Tapi untungnya aku bisa naik lagi." Balas Renata seraya sedikit tertawa yang di ikuti Anna. "Apa itu Frans yang menghilangkan beritanya? Frans sudah luluh padamu?" Renata terdiam, benaknya memutar beberapa pertanyaan. Dari pertanyaan itu memang tidak ada yang salah namun Renata merasa ada sesuatu yang terselip dari pertanyaan Anna untuknya. Renata tidak ingin berfikir buruk tentangnya. Meskipun dia sama-sama istri Frans tapi Anna dangat berbeda dari ke 2 istri Frans lainnya yang mencerna sifatnya bikin sakit kepala. Sebelum menjawab pertanyaan itu, seorang pelayan datang sembari membawa pesanan mereka, Renata tersenyum tipis. "Dia masih saja b******k haha." Renata mencoba berfikir positif. Renata mencoba mengubah topik pembicaraanya agar Anna tidak terus mendesaknya dengan pertanyaan tetang Frans. "Kapan kau pulang ke Florida." Tanya Renata 'kau mengalihkan pertanyaanku Renata.' batin Anna lalu tersenyum dan meyentuh tangan Renata. "Tidak penting kapan aku pulang Rena. Setelah mendengar kabarmu aku khawatir tetapi Saat itu Bibi Rose meninggal dan itu membuat aku menunda kepulanganku." Jelas Anna "Bibi Rose?" Tanya Renata. "Iyah dia yang selama ini sudah membantu Frans." Renata membalas sentuhan Anna, dan tersenyum lalu mengatakan ikut berbala sungkawa dan meminta maaf tidak bisa menghadiri pemakamannya. Anna mengangguki Renata. "Ada alasan lain juga kenapa aku meminta bertemu denganmu." Lanjut Anna To be continued Haii semuanya, Ayumphii mau berterimakasih ni buat kalian yang sudah setia nunggu Renata Sama Frans?? jangan bosen-bosen sama mereka yah dan nantikan kisah selanjutnya? Oh yahh maafin Ayumphii kalau masih ada typo? saran dari kalian sangat bermanfaat lohh jadi jangan lupa coment sama like yah??
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD