Entah kenapa setelah mendengar ucapan Frans yang lembut Renata seakan jatuh ke perangkap laki-laki yang selalu ia sebut b******k itu hingga lelap akan pelukan Frans, hatinya tidak benar, sangat tidak benar jika dirinya jatuh kepelukan Seorang laki-laki b******k seperti dia.
Frans mengendorkan pelukannya, dan menatap lurus ke bola mata itu. Dia hendak mencium bibir mungilnya namum justru mendekatkan bibirnya ke samping telinga Renata lagi.
"Bagaimana kalau malam ini kita tidur bareng," ucapan Frans sontak membuat Renata sadar, dan langsung menjauh darinya.
"Frans aku pikir setelah kau pulang otakmu sudah normal ternyata aku salah. Justru kau semakin gila. Sekarang pergi jangan ganggu aku." Ujar Renata.
Frans sedikit tertawa, "Aku cuma bercanda, temani aku makan saja, lihat dirimu. Hanya beberapa hari aku pergi dan kau sudah kurus dan tidak menata gayamu lagi. Bagaimana bisa istri Frans bisa jelek seperti itu?" Gerutu Frans seraya tertawa
"Kau!! Kenapa tidak menceraikan aku saja??" balas Renata yang sedikit kesal, dirinya kembali ke meja kerjanya Dan duduk dengan amat kesal.
"Aku sedang sibuk sekarang frans. Kau pergilah, suruh jim temani kau makan." Ucap Renata lagi tapi kali ini Frans mendekat ke arah Renata.
Dirinya tersenyum, berdiri di hadapan Renata dan menyilangkan kedua tangannya.
"Aku tahu kau lapar," ucapnya percaya diri.
"Aku tidak lapar-".
Kruyukkkk.
Renata menghentikan ucapannya saat suara perutnya terdengar, lisannya boleh berbohong tapi perutnya sungguh pintar memberikan jawaban yang jujur.
Frans kembali terkekeh atas kelakuan Renata yang tiba-tiba salting seraya memegangi perutnya.
Sejujurnya dia laper, bahkan saking lapernya Frans ingin dia makan. Kedua mata Renata menatap tajam ke arah Frans yang sedang asyik dengan tawanya.
"Berhentii tertwa!!"
"Baiklah, sekarang ikut aku makan. Kau akan berjalan sendiri atau aku paksa kau untuk ikut." Tanyanya sekali lagi.
'Males banget makan sama si b******k ini, tapi aku laper.' Dalam hatinya, Renata terus beragumen.
Renata mengangguki permintaan Frans, dan mereka berdua pergi dari butik.
***
Mobil jazz yang di kendarai Frans berhenti tapat di depan Restoran, Vanesh Restaurant. Rentaurant itu sedikit berdesain tua namun banyak yang suka makanan di situ. Dan termasuk salah satu Restauran tekenal di Florida.
Masih berada di ambang pintu masuk, Renata menghentikan langkahnya dan enggan untuk masuk.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Frans
"Kenapa kau bawa aku ke Restauran ini Frans? Kita makan di rumah saja. Aku yang masakin." Pinta Renata.
Frans melepaskan genggamannya dan menatap lurus ke arah Renata yang sedari tadi menyembunyikan kegelisahannya.
"Aku tidak mau." Ucap Frans enteng.
"Frans kau lihat aku tidak berpakaian dengan rapi, aku tidak memoles make up, apa kau ingin aku mempermalukannmu?".
Frans yang mendengar perkataan Renata laggsung terkekeh dan sesekali menutup mulutnya.
"Astaga Sayang sejak kapan kau memperdulikan penampilan? Kau tenang saja tidak akan ada yang melihatmu. Hanya aku yang boleh menatapmu hari ini." Ucappan Frans sukses membuat Renata kesulitan mencernanya, tanpa pikir panjang Frans kembali menarik lengan Renata dan membawanya masuk ke dalam. Dan kali ini langkahnya seakan mengikuti langkah laki-laki itu.
Setelah di anak tangga yang menuju lantai 3, Frans menghentikan langkahnya di anak tangga ke 5, dirinya lalu menoleh ke Renata dan langsung menutup mata Renata dengan seuntas tali yang sudah ia siapkan.
"Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Renata terkejut.
"Diam saja." Suruh Frans.
Ketika mereka tiba di lantai 3, Frans membuka penutup mata yang di kenakan Renata, dirinya merasa kagum tidak percaya. Frans bisa seromantis ini, kini matanya menyusuri dekorasi itu. diimana tempat itu khusus untuk date yang romantis.
seperti kata Frans jika sejak Renata melangkah masuk kedalam Restauran sampai dia duduk di salah satu meja yang sudah di penuhi dengan bunga, lilin beserta alat makan lainnya. Ia tidak melihat satupun pelanggan yang ada di sana.
"Apa kau menyewa tempat ini?" Tanyanya
"Tidak." Ujar Frans sembari menarik kursi Renata, dan menyuruhnya duduk.
Lalu dirinya kembai ke kursinya sendiri,
"Aku membelinya," Lanjut Frans sontak berhasil membuat perempuan di depannya langsung menoleh ke arah Frans, saat Renata sedang asyik menyemat tempat favoritnya dulu.
"Kau gila! Apa kau kekurangan bisnis sampai-sampai kau membeli Restauran ini?" Ujarnya tidak percaya apa yang sudah di lakukan suami gilanya ini.
Sebenarnya itu hal yang mudah untuk Frans, bahkan Frans mampu membeli pulau. Tapi ini hanya Restauran kuno dan tidak bisa di bandingkan dengan bisnis Winenya sendiri.
"Tuan Frans ini surat-suratnya." Ucap salah satu pelayan yang tiba-tiba menghampiri mereka, pelayan itu memberikan sebuah dokumen beserta pena.
Frans meraihnya, "Tanda tangan di atas materai sayang." Ujarnya pada Renata.
Hal gila apa lagi yang mau Frans lakukan, "Apa maksudmu?" Tanyannya.
"Dokumen kepemilikan Restauran, aku membeli ini untuk hadiah pernikahan kita." Ujarnya enteng lalu menyodorkan kertasnya dan pena di hadapan Renata.
"Hadiah?".
"Frans kau sendiri tahu aku punya bisnisku sendiri, bagaimana bisa aku mengelola ini. Aku tidak menerimanya, kalaupun ini hadiah seharusnya kau kembalikan saja perusahaan keluarga Perkins." Tolak Renata
"Sayang, aku bisa saja memberikan perusahaan itu ke kamu, lagian perusahaan keluarga perkins tidak menarik keuntungan yang besar di banding kerja sama wine company dengan yang lainnya-".
"Yah sudah kau kembalikan saja perusahaan papa." Potong Renata
Frans menyenderkan tubuhnya di kursi, lalu menyilangkan kedua tangannya.
'Lalu bagaimana aku bisa mengontrol dirimu.' Batin Frans.
"Setelah kau jatuh cinta padaku, aku akan berikan kepadamu." Ucapan Frans berhasil membuat Renata terdiam.
"Terserah kau sayang, kau mau menandatanganinya atau tidak. Mau kau jual atau kau tutup, aku serahkan kendali Restauran ini padamu." Frans kembali menyuruh Renata untuk tanda tangan.
Sebenarnya Renata enggan untuk tanda tangan tapi, bagaimana jika restauran yang memiliki sejuta kenangan itu di tutup. Banyak hal yang dulu dia lakukan di sini dengan Juan dan orang tuannya.
Sejak orang tuanya meninggal dan Juan pergi, Renata seakan-akan sesak jika masuk ke Vanesh Restaurant, dan ini untuk pertama kalinya dia menginjakan kakinya lagi berkat Frans.
"Baiklah," ucap Renata sembari menanda tanganinya.
"Anak baik." Frans sedikit meledek Renata, lalu dia memanggil Pelayan untuk menyiapkan hidangan.
Selang beberapa menit, hidangan khas Florida itu sudah memenuhi meja. Renata seketika kaget saat pelayan menaruh makanan yang paling ia sukai. Dan hanya Juan yang tahu.
"Ini." Ucapnya mematung.
"Makanlah," ucap Frans lembut, kemudian Frans memotong dagingnya dan mencoba menyuapkannya ke Renata.
"Buka mulutmu, ini kesukaanmu bukan?" Pinta Frans, lalu menyodongkan dagingnnya ke Renata, mencoba menyuapinya.
Mata Renata sudah berkaca-kaca, tetapi ia tidak ingin Frans melihat atau berfikir jika yang di lakukan Frans sekarang membuatnya tersentuh.
Membuka mulut dan menyantap daging yang di berikannya, Bagaimana kau tahu?" Tanyanya dengan Nada tidak teratur karna mulutnya masih menghancurkan dagingnya.
"Tidak ada yang tidak Frans ketahui." Ucapnya.
Renata tertegun, menatap ke arah laki-laki tampan dan berkharisma itu, yang tidak lain adalah suaminya sendiri.
'kenapa dia terlihat begitu hangat'? Ucapnya dalam batin Renata.
"Em jadi Frans apa kau yang menghilangkan berita itu?" Tanya Renata ragu-ragu, lalu menyantap makanannya sendiri
"Kenapa kau diam saja? Kau itu Nyonya Alvarado. Mainkanlah peran yang sudah aku berikan padamu. kau bisa bilang padaku-"
"Aku bisa mengurusnya sendiri, terimaksih untuk masalah berita itu." Potong Renata.
Setelah mereka selesai makan,frans meminta Renata untuk berdansa dengannya.
Frans tidak ingin merubah suasana ini dengan memarahi Renata atau menanyakan masalah Renata. Mood Renata seperti sebuah proyek bernilai milyaran dolar dalam bisnis Frans sehingga tidak boleh Frans menghancurkan mood Renata malam ini.
To Be continued