Chapter 10

1138 Words
*** Renata sudah membagikan tugas kepada mereka secara berbeda-beda dan mereka pun sudah di sibukan dengan pekerjaan mereka, Membuat baju pesta dalam waktu seminggu bukanlah hal yang mudah kau akan butuh beberapa waktu untuk menghias setiap bagiannya. Tetapi ini adalah kesempatan Renata untuk memperbaiki namanya, meski rasa lelah akan semakin menusuk tulangnya, setidaknya setelah masalah ini dirinya akan bernafas secara lega, terkecuali Frans akan terus diam. Saat mereka masih di sibukan dengan pekerjaan tanpa di duga segerombolan laki-laki berjas yang kekar dan di kawal dua perempuan itu memasuki butik. "Siapa kalian?" Tanya salah satu orang di butik. "Di mana w***********g itu?" Sahut Karen yang kini berjalan maju kedepan memimpin laki-laki itu dan di temani Mandy dengan seuntas senyum jahatnya. "Kau paggil Nona Rena." Pinta seorang perempuan yang tengah duduk itu kepada seseorang di sampingnya, lalu berdiri di hadapan dengan tenang. "Ahhn sepertinya aku pernah melihat kalian berdua di acara pesta pernikahan Frans Alvarado. Yang di usir itu!" Arin kembali beragumen sembari mendekati mereka "Kau-" Mandy mencoba mencela namun seketika Karen langsung menahannya "Kenapa?? Apa aku salah?" Potong Arin "Aku tidak peduli dengan kau, sekarang kau panggilkan w***********g itu atau-" karen mecoba mengancam Arinn "Semuanya hancurkan tempat ini," lanjut Karen dengan menyuruh anak buahnya itu untuk menghancurkan seisi butik Renata, lalu menutup mulutnya dan menyodongkan wajahnya ke arah Arin. "Uuppss." Lalu tertawa puas. Anak buahnya itu seketika langsung memporak parikan seisi butik, Arin beserta yang lainya mencoba menghentikan, namun tenaga mereka tidak sekuat laki-laki bertubuh kekar itu. Semuanya berantakan tidak terkendali sedangkan Karen dan Mandy terus tertawa, "BERHENTI!!!" Teriakan seorang perempuan menghentikan mereka, perempuan itu turun dari tangga menghampiri Karen dan Mandy. "Akhirnya kau keluar juga wanita jalan!" Ucap Karen. "Punya Hak apa kau membuat ulah di butikku?" Ucap Renata yang kini sudah berdiri di hadapan mereka. Semuanya terdiam melihat sorot mata mereka yang terus menajam. Perang mungkin akan segera di mulai, Mandy darahnya sudah mendidih dia lngsung meraih baju bagian depan Renata, meremasnya dan melotot ke arah Renata. "Kau pikir Frans akan terus tertarik dengan kau, lihat saja nanti kau akan di buang layaknya sampah, saat Frans sudah bosan. Kau akan menangis meminta cintanya. Jadi jangan kira kau bisa menjadi Nyonya Besar Alvarado." Ujar Mandy Renata yang mendengar itu langsung menampal tangan Mandy dari bajunya, dan langsung membersihkan bajunya yang sudah di pegang mandy. Dengan tanang Renata berjalan perlahan mengitari keduanya, "Ahh aku tahu maksud kalian, jadi ini semua karna Frans, Laki-laki b******k yang kalian puja-puja itu. hahah. Dengar yah aku tidak peduli, tapi apa kalian lupa siapa aku?" Renata menaikan alisnya saat kembali berdiri di hadapan mereka. "Apa maksudmu?!" Karen membuka suaranya "Maksudku Sudah jelas bukan siapa Nyonya besar di keluarga Alvarado? Pesta pernikahan itu, rumah utama itu? Dan apa lagi yah aahhh cinta Frans itu milik siapa?? Kalian tahulah apa maksudku, jadi kalau kalian mau menggunakan kekuasaan Frans untuk mengancamku aku akan ikut memerankan menjadi Nyonya Alvarado-" jelas Renata "KAU!!" Mandy tidak bisa menahan diri tangannya langsung melayang di udara ingin menampar perempuan yang berada di depannya itu, namun Renata langsung menangkis tangan Mandy dan menghempaskannya kencang. Mandy belum merasa puas. Namun karen menahannya dan menggelengkan pelan seakan memberikan sinyal untuk menurunkan niatnya. "Uuppss" Renata menaikan ujung bibirnya, lalu menutup mulutnya sembari sedikit tersenyum. "Istri ke2 apa kau tidak memberitahukan ke istri 3 Frans jika aku bukan orang yang akan tinggal diam." Ujarnya lalu membalikan badan dan pergi meninggalkan mereka. "Kalian telepon polisi kalau mereka masih membuat kerusuhan di butik!" Ujar Renata kepada pekerja butiknya. "Tunggu saja kau. Ini belum selesai!" Ucap karen. Kedua perempuan itu pun akhirnya pergi, di ikuti Renata yang kembali ke ruang kerjanya. Dia duduk dengan kesal, saat tubuhnya hendak bersandar ke kursi terdengar suar tepukan tangan. Prok prok prok Seorang laki-laki masuk, laki-laki itu sangat tidak asing baginya. Meski pakaian yang casual, masih jelas menampakan wajah brengseknya. senyum yang menjadi ciri khasnya itu selalu melekat pada bibir sexynya, dan harum parfum yang sangat dia sukai itu seketika tercium saat Laki-laki melewati pintu dan masuk ke dalam ruangan. Renata sangat terkejut, dirinya langsung menegakan tubuhnya dan memandang lekat ke arah laki-laki itu. "FRANS!!, Kenapa kau disini? Tidak, kapan kau kembali?" Ujar Renata spontan, dia lalu beranjak berdiri. Laki-laki itu kemudian duduk sembari menyilangkan kakinya, diikuti Renata yang duduk di depan Frans. "Kesinilah." Ujar Frans dengan menepuk-nepuk alas duduk di sampingnya Renata hanya menggelengkan kepalanya, "katakan apa yang kau lakukan disini?" Tanya Renata yang melihat lurus ke arah laki-laki pemilik wajah tampan itu. "Merindukanmu." Ujar Frans singkat, lalu bersender "Frans!" Teriaknya membuat Frans sedikit tertawa. "Apa kau melihatnya tadi?" Renata kembali memelankan nadanya dan bertanya secara lembut pada Frans, Renata pikir bertengkar lagi dengannya bukan ide bagus. Tenaganya sudah terkuras abis. "Kau kira?" "FRANS!" Renata menghentakan tangannya di meja, "kau melihat semuanya tapi kau tidak menghentikan mereka? Kau gila. Para istrimu hampir menghancurkan butikku, sedangkan kau mempermainkanku!" Ujarnya dengan emosi lalu tubuhnya beranjak bangkit, Saat dirinya hendak pergi Frans berdiri dan menahan tangannya. Frans membalikan tubuh mungilnya Renata untuk berhadapan dengan dirinya, di lihatnya lekat-lekat pemilik mata coklat muda itu. Matanya yang sudah memberi sinyal lelah dan kesal membuat Frans merasa bersalah. Tangan Frans kini meyentuh kedua pundak Renata, menyondongkan wajahnya lebih dekat ke wajah Renata dan mensejajarkan tingginya. "Apa yang kau lakukan?" Tanyanya lalu mencoba menarik wajahnya agar menjauh dan Frans tetap menahannya. "Siapa yang berani membuat Wanita Frans menderita, tidak akan ada yang berani melukaimu Sayang." Ucapan Frans terlihat meyakinkan. Deg deg deg Suara detak jantung mulai berdegub di balik baju Renata, yang membuatnya sedikit kacau. Renata kini menjauhkan dirinya dari Frans. Membalikan tubuhnya agar tidak berhadapan dengannya, "Sekarang aku sibuk, aku mohon pergilah," ucapnya Tangan Frans langsung menarik Tangan Renata, di dekatkan tubuhnya ke tubuh berototnya itu. Pelukan Frans membuat deguban Jantung Renata semakin kencang dan tidak terkendali. Renata mencoba melepaskan namun sia-sia, pelukan Feans semakin mengencang. Jantungnya seakan tidak berirama, tidak beraturan. Pelukan itu membuat Renata kehilangan kendali waktu sepertu berhenti seketika saat pinggang mungilnya semakin tertarik ke arah Frans. "Aaapa yang akan kau laukan?" Tanya Renata gerogi. Frans tersenyum. Mendekatkan wajahnya agar lebih dekat ke wajah Renata. Renata menahan deru nafasnya agar terlihat normal namun sejujurnya seperti sehabis lari nafas yang terengah-engah. Kini wajah Frans beralih ke samping wajah Renata, "Bernafaslah sayang-" Bisiknya Renata terkejut meski sifat yang di miliki Frans sangat tidak di sukain Renata, tapi pelukannya itu terlihat sangat nyata dari hatinya dan sangat hangat. "Aku merindukanmu Sayang." Frans berbisik di telinga Renata To be continued Haii semuanya, Ayumphii mau berterimakasih ni buat kalian yang sudah setia nunggu Renata Sama Frans?? jangan bosen-bosen sama mereka yah dan nantikan kisah selanjutnya? Oh yahh maafin Ayumphii kalau masih ada typo? saran dari kalian sangat bermanfaat lohh jadi jangan lupa coment sama like yah??
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD