Chapter 9

1136 Words
Sudah di puncaknya Renata benar-benar kehilangan ketenangannya, sudah beberapa hari berlalu namun belum menemukan jalan keluarnya. "Apa aku akan kehilangan harga diriiku? Demi menyelamatkan Butik ini?" Batin Rena Setelah Renata merapikan ruangannya, ia berniat untuk pulang membersihkan diri. Dan Saat Renata hendak pergi Arin, Janne dan Adelia langsung ke ruangan sembari memperlihatkan wajah riangnya. "Rena apa kau tahu berita tentang kau yang menjiplak itu?, Sekarang hilang dari media." Adelia membuka obrolan itu sembari menunjukan ponsel miliknya kepada Renata. Renata meraih ponselnya dan melihat, benar apa yang di katakan Adelia semua berita buruk tentang dirinya menghilang seakan tidak pernah terjadi apa-apa. Sedikit heran bagaimana bisa kecuali ada orang yang turun tangan. Tapi siapa? "Bagaimana ini bisa terjadi?" Tanya Renata "Mungkin Frans yang melakukannya." Jawab Arin "Frans?" Batin Rena terus bertanya tanya Mereka ada benarnya juga. Tapi itu tidak mungkin? Jika benar apa maksud Frans melakukanya?, Apa dia percaya kalau dirinya itu memang tidak melakukan kecurangan? Atau itu hanya untuk senjata agar Dirinya harus membalas budi pada Frans dengan menjual diri? Semua pertanyaan buruk tentang Frans mengisi Otak Renata, ia tidak bisa beragumen sendiri tanpa jawaban, akan lebih baik jika ia tanyakan langsung padanya nanti. "Rena kau lihat sendiri kan Frans begitu perhatian denganmu, kenapa kita tidak minta tolong saja pada Frans?" Pinta Arin lagi-lagi menyuruh Renata untuk menyerah. "Arin please yah jangan bahas itu lagi, aku sudah pernah bilang aku tidak ingin berhutang budi sama Frans. Oke jika memang Frans yang sudah menghilangkan berita buruk tentang aku. Aku pasti akan berterimakasih padanya tapi bukan berati aku akan menyerah dan minta tolong sama Frans!!" Renata kembali menolak keras saran Arin dan kedua sahabatnya. "Rena kenapa kau begitu keras kepala?" Sambung Janne "Aku akan pulang untuk mandi dan ganti pakaian. Kalian tolong urus butik sebentar." Ujarnya lalu meninggalakan mereka bertiga di ruangan. Renata melajukan Mobilnya dengan perasaan bimbang. Sehingga membuat konsentrasi menyetirnya sedikit terganggu, rasanya memang melelahkan sangat melelahkan, ingin memutar balikan waktu dan tidak ingin berada di situasi sekarang. Bukan masalah dia yang di tuduh menjiplak tapi kenapa Frans Harus berada di hidupnya?, Dirinya hanya takut jika Frans benar-benar ikut campur tangan dalam masalah pribadinya, Renata takut hatinya akan goyah. Sesampainya di rumah utama milik Frans Alvarado, Rumah itu memang sangat besar bak istana tak berpenghuni. Namun suasananya yang tergambarkan begitu dingin dan tidak ada kebahgiaan yang tertanam. Rena memasuki rumah itu dengan perasaan resah, setiap langkah demi langkah sorot mata dan sikap para pelayan begitu menghormati dirinya, dia seakan benar-benar terjun ke dalam dongeng sinderella. Setelah Renata mebersihkan diri dan berganti pakaian, salah satu pelayan menghampirinya dan menundukan badan, "Nyonya sarapan sudah Saya siapakan." Ujarnya sopan "Aku akan langsung kembali ke Butik." Ujar Renata yang di angguki Pelayan itu. Ia kembali meninggalkan rumah itu dan bergegas ke butik. . *** Waktu terus berjalan sesuai detiknya, mentari selalu menyambut Renata di setiap paginya, sepasang bola mata yang sudah sembab dan layu akan rasa lelah yang menyelimuti dirinya. Riasan wajah yang tidak lagi terlukis di wajah cantiknya itu dan pakaian yang sama terus Renata kenakan. Pukul sudah menunjukan jam 08:00 dan hari ini turun salju, "Sudah seminggu Frans pergi, kenapa dia belum kembali? Dan bahkan dia sudah tidak menggangguku lagi? Apa terjadi apa-apa dengan dia?" Gerutu Renata sembari membuka gorden dan membiarkan cahaya itu masuk memenuhi ruangan, meski kaca jendela yang sudah tertutupi embun, jemarinya menyentuk kaca jendela dan di rasakan hawa dingin yang menyengat. Renata mencari ponselnya dan mencoba mengecek apa ada panggilan masuk atau pesan masuk dari Frans, dia tersadar akan sesuatu. saat melihat nama kontak Frans yang bertuliskan dengan jelas 'Si b******k' Seketika Renata langsung berdecak terkejut, "Astaga Rena bagaimana bisa kau memikirkan Si b******k itu?" Ujarnya sembari kembali duduk di kursi Tring tring tring Dering telepon itu berbunyi, seketika Renata langsung meraih gagang teleponnya dan menempelkan pada telinga. "Hallo ini dengan Ms. Renata?" Tanya seorang wanita dari seberang "Benar saya Renata." Ujar Renata "Hallo ms.Renata saya sekertaris mr.smith borter ingin menyampaikan pesan dari mr.smith jika anda di undang untuk mengikuti acara fashion Week lagi tapi dia memberikan waktu seminggu untuk anda membuat rancangan terbaru anda." Ujarnya seketika langsung memberikan semangat pada Renata "Lalu bagaimana dengan uang ganti rugi itu?" Tanya Rena " Maaf ms. Renata Masalah itu anda bisa bicaraka langsung kepada mr.smith. terimakasih."ucapnya dan langsung memutuskan panggilannya. Khhhaaaaaa Teriakan Renata pecah mengisi ruangan, sehingga membuat Arin dan kedua temannya yang sudah dari pagi berada di butik terkejut, mereka langsung menghampiri Renata. Mereka bertiga saling memandang saat meihat tingkah laku Renata sedikit aneh. Renata yang melihat kehadiran mereka, langsung memeluk ketiga sahabatnya, "Arin, Janne, Adelia apa kalian tahu berita baik apa pagi ini?" Ujarnya sembari melepaskan pelukannya. "Apa maksudmu?" Tanya Arin "Mr.smith ingin memberikan kesempatan untukku dia menyuruh aku untuk mengikuti acara fashion week lagi hanya saja aku hanya punya waktu seminggu." Ujanya girang dan melemas saat kata terakhir itu terucap. "Benarkah??" Janne menyahut dan kembali memeluk sahabatnya itu lalu melepaskanya "Tenang saja ada kita Rena, bukankah kau punya beberapa racangan dulu, kau tinggal merubahnya saja. Bagaimana?" Ujar Arin Janne dan Adelia sebenarnya tidak bekerja bersama Renata di butik tapi mereka tetap bisa membatu sebisa mereka. Renata menggaguki saran dari Arin, Setelah menerima kabar baik itu Renata meminta semua pekerja di butiknya untuk melakukan meeting. " Semuanya kalian tahu kan apa yang sedang terjadi dengan butik kita sekarang? Tapi kita sudah menemukan jalan keluarnya maka dari itu saya Renata ingin meminta bantuan kalian semua untuk bekerja sama melawati ini." Ujaranya kepada semua pekerjannya dan meraka langsung bertepuk tangan dan menggaguki ucapan Renata. Dan kini Renata di sibukan dengan rancangan barunya itu. Hari terus berjalan, dan Renata sama sekali tidak tahu kabar Frans. Kapan ia akan kembali ke Florida?, Sebenarnya Renata senang tapi tidak seperti biasanya Frans tidak mengganggu Renata, apa Frans marah soal terakhir kali? atau dia memang sibuk di london? *** Terlihat seorang perempuan yang bepakaian mewah itu tengah duduk di kursi restoran ternama di Florida, ketika terlihat lagi seorang wanita lebih muda itu masuk dari pintu depan menggunakan pakaian yang mewah itu saling meyapa. "Mandy disini." Ujar karen perempuan yang tengah duduk tadi "Kak Karen apa sudah menunggu lama?" Ujarnya sembari duduk di hadapn Karen "Tidak. Ada berita apa kau ingin menemuiku disini? Bukankah kita bisa bertemu di rumah?" Ujar Karen yang melihat Mandy dengan senyum sinisnya "Ayolah kak, karna ini sangat penting dan saat kau megetahuinya kau pasti akan sangat tertarik bukan?" Jawab mandy sembari memberikan sebuah ponsel yang berisikan video. Karen langsung meraihnya dan melihat isi video itu, seketika matanya langsung terbelalak lebar dan senyum sinisnya menghiasi bibir merah merona itu. "Bagus bagus sekali Mandy, tamat kau w***********g-" Ujarnya sembari melihat ke arah mandy, "dimana butik wanita jalan itu?" Lanjut Karen To be continued Thanks semuanya sudah mau mampir ke cerita aku
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD