Ruang kerja yang di penuhi kertas berserakan yang mengganggu pemandangan sudah tidak lagi terlihat, beberapa sketsa desain yang terbuang sia-sia karna ketidak puasan Renata dalam membuatnya pun sudah rena singkirkan. Ruangan kerja kembali ke semula.
Lagi-lagi Rena menghentakan pensilnya di atas meja lalu menengkerupkan kepalnya, memejamkan mata berharap masalah ini terlewati.
Suara pintu terbuka menampakan beberapa seorang wanita yang salah satunya membawakan sekotak makanan. sontak Renata langsung menegakan tubuhnya dan besender di kursi.
Dihampirinya Rena yang tengah duduk dengan wajah lesu dan pucat. seuntas senyum Rena coba perlihatkan kepada tiga sahabatnya, "Bagaimana? apa sudah ada peseponsor atau apa mereka mau mengulang fashion week lagi?" Tanya Renata
"Ren berhentilah sok kuat kami tau kau sudah lelah, sudah beberapa hari ini kau tidak pulang tidak makan dan tidur secara teratur. bagaimana jika Tuan Frans sampai mengetahuinya?? lebih baik kau meminta bantuan tuan Frans!" Ucap Arin
"Arin! berhenti yah meyebut nama orang itu! kalian harus tau aku menikah dengannya karna permintaan kak Arjan jadi jangan libatkan dia." Rena sedikit menaikan nadanya.
Dengan kesal karna mendengar namanya lagi perasaannya kembali memburuk, sudah beberapa hari dirinya merasa terbebaskan dari penjara meski di hadapkan setumpuk masalah setidaknya dia tidak milihat wajah tampan yang menjengkelkan itu.
Renata kembali berpikir bagaimana menyelesaikan masalahnya kali ini. tidak menghiraukan sahabatnya.
Perasaan yang kacau dan rasa lelah yang begitu menusuk sangat membebani Renata.
Renata mencoba beberapa kali menghubungi semua penyeponsor namun hasilnya tetap nihil. Semuanya tidak mau mengulangi kerugian yang sama.
"Tenang Ren. Semuanya akan baik-baik saja..hhm percayalah." Ujar Renata pada dirnya sendiri
Tiba-tiba ponsel Renata berdering yang menandakan ada panggilan masuk, di lihatnya siapa yang sedang memanggil dan itu tertulis jelas di layar ponsel, 'Si b******k' dua kata saja sudah membuat Mood Renata seketika hancur berantakan.
Jemarinya tidak menggeser untuk menerima panggilan melainkan tidak menjawab penggilan dari Frans.
Mereka benar jika masalah ini Frans ikut turun tangan pasti akan cepat teratasi tapi itu bukan sifat Renata yang harus berbagi pundak dengan orang lain apa lagi itu Frans, laki-laki yang ingin Renata hindari seumur hidup, tidak ingin terikat dengannya lebih jauh lagi, dan tidak ingin Frans lebih berfikir kalau Renata itu mudah di taklukan hanya dengan segepuk uang.
Selang beberapa Menit Frans mengirim pesan ke pada Renata, awalnya Renata tidak berniat membuka namun dia lebih berfikir ke depannya, mungkin Frans akan lebih meyulitkannya lagi dan lagi.
'From Si b******k.
Sayang apa kau tidak akan menerima panggilanku?? Sepertinya kau sudah belajar banyak saat aku pergi.'
"Khaa dasar b******k!" Umpat Renata sembari membalas pesan dari Frans.
'To Si brengsek
Tuan Frans Alvarado bisakah kau diam saja selagi di london? Kau memang laki-laki b******k yang baru pertama kali aku temui di dunia ini!!!.'
Tanpa ragu dan takut Renata membalas pesannya mengumpat kepada Frans dan itu pasti akan menjadi puncak emosi Frans saat kembali nanti.
Brak
Ponsel itu Sedikit Renata hentakan di atas meja, "Kenapa aku harus terikat dengan orang seperti dia! Mood ku sekarang benar-benar hancur." Ujarnya lirih
***
London
"Hhahaha." Tawa Frans begitu keras hingga nyaring di ruangan.
Rapat yang tadinya tegang berubah dalam sekejap, setiap orang merasa heran? pasalnya seorang Frans Alvarado bisa tertawa seperti itu. karna bagi mereka dia itu adalah sosok yang keras, dingin, dan tidak punya perasaan.
Setelah Frans di sibukan dengan masalah bisnis, Frans kembali ke hotel.
Frans ingin kembali menghubungi Renata untuk memuji keberaniannya, memaki seorang Frans Alvarado raja saham dan wine di Florida. Namun ia urungkan niatnya karena Jim sekertarisnya yang mungkin membawa beberapa informasi.
"Tuan Frans saya menemukan berita ini." Ujarnya sembari memperlihatkan ponsel miliknya
Sontak Frans langsung membanting ponsel milik Jim ke atas ubin, hentakan yang cukup keras yang Frans lakukan membuat ponselnya sedikit retak.
"Bagaimana ini bisa terjadi? Hubungi semua media dan hapus berita tentang Renata yang menjiplak desain orang lain mengerti!! Dan juga siapkan penerbangan untuk siang ini!." Tegas Frans
"Renata Alvarado bagaimana bisa kau diam saja, aku tidak akan biarkan orang lain menyakitimu!" Batin Frans
"Baik Tuan tapi ada hal lain yang ingin saya bicarakan dengan anda tentang informasi yang saya dapatkan, masalah Yang Nyonya Rena hadapi membuat kerugian 2 Miliar dan itu-"
"Cukup saya mengerti, sebaiknya kau hubungi Mr.Smith Borter, Katakan aku akan berbicara dengannya." Potong Frans
Jim sedikit menyela untuk memberikan saran ke Frans, "Tuan kenapa anda tidak memberikan uang saja masalah selesai bukan?"
Frans sedikit mengangkat alisnya dan tersenyum sedikit, lalu laki-laki melihat ke arah jim sembari menyilangkan kedua tangannya, "kau lupa Renata wanita seperti apa? Bagaimana bisa aku menggunakan uang untuk mengontrolnya haha." Tawanya membuat Jim hanya mengedipkan mata sesekali.
"Apa maksud anda Tuan?" Tanya Jim
"Dia itu seperti Angsa yang bulunya basah, kau tidak bisa menggantinya dengan bulu yang baru tapi kau harus menunggunya sampai kering." Frans kembali membuat Jim kehilangan kecerdasannya.
"Dasar kau emang sekertaris yang paling bodoh Jim, Renata itu orang yang mandiri." Jelas Frans sekali lagi
Dan itu membuat Jim sedikit mengerti maksud Frans, Jim mengaggukinya, "Baik Tuan Frans saya akan melakukan seperti yang anda minta." Ujarnya lalu pergi
Frans kembali bersender di kursi, memejamkan mata sebentar sembari mendengarkan alunan musik.
Setenang apapun Frans menghadapi sesuatu tapi jika meyangkut Renata rasanya tidak ada yang membuat Frans tidak Khawatir. Awalnya memang Frans hanya berniat menggoda dan bermain-main dengan Renata namun lambat laun ada sesuatu dari Renata yang membuat Frans tertarik.
Dering ponsel membangunkan Frans dari posisi nyamannya, Frans meraih ponsel yang berada di atas meja dan di lihatnya panggilan masuk bertuliskan 'Annatasya'
"Hallo Frans ini Anna, Apa kau masih di london?" Sapa Anna dari balik ponsel
"Kenapa Anna?" Tanya balik Frans
"Frans kau tahu Bibi Rose? Dia menghembuskan nafas terakhir hari ini. Aku ingin kau dan aku menemui Bibi Rose sampai ke peristirahatannya yang terakhir, kau tidak keberatan bukan?." Ujarnya dan sesekali terdengar suara segukan dari Anna,
Frans terdiam sesaat mengehing dalam sikapnya, "Anna siang ini aku harus kembali ke Florida." Ujarnya
"Frans bukankah kau sangat menghormati Bibi Rose? Apa kau akan melupakan semua jasa-jasanya?" Ucapan Anna membuat Frans sedikit mengepalkan jemarinya, meski Frans Tahu apa yang di katakan Anna ada benarnya juga tapi bagaimana dengan Renata?, Dia tidak ingin membuat wanitannya menanggung masalah itu sendiri.
"Baiklah Anna aku akan menemanimu sampai lusa." Ujar Frans lalu langsung mematikan sambungan panggilannya.
Dirinya kembali memainkan ponsel untuk menghubungi jim, "Halo Jim, batalkan penerbangan siang ini, aku harus berbala sungkawa ke Bibi Rose. Bagaimana dengan smith borter?" ujar Frans
"Baik tuan Frans, saya sudah menghubungi dan mr.Smith akan melakukan penerbangan ke london malam ini dan saya sudah membuat jadwal pertemuan anda dengan mr.smith, dan untuk media sudah saya urus." Jawab Jim dari seberang.
"Bagus." Ujarnya
Setelah mematikan sambungan panggialannya Frans bersiap-siap untuk pergi ke kediaman Bibi Rose.
Untuk masalah Renata ia harus menunggu kabar dari Jim, saat ini mengunjungi bibi Rose untuk yang terakhir kalinya sangatlah penting.
To be continued
Terimakasih semuanya sudah mau mampir ke cerita aku yang masih banyak kekurangan dan berantakan ini.