UGD
THE LOVERS 1
Sejak kemarin rumah sakit sedang sepi-sepinya. Ini adalah sebuah kesempatan bagus bagi para tenaga medis untuk beristirahat seeanak. Bahkan meski hanya satu tarikan napas saja. hal itu sudah jauh lebih dari cukup. Pasalnya, mereka terus bekerja tanpa henti. Lebih mementingkan kesehatan orang lain dari pada kesehatan diri sendiri.
Suasana UGD benar-benar sunyi dan hening. Tidak ada satu pun yang ingin buka suara, meski ada beberapa dokter jaga serta perawat yang berada di sana. Mereka akan tetap berada di sana sampai jam jaga selesai. Kemudian digantikan dengan tim yang lainnya.
23.12
Ruth dan yang lainnya mendapatkan giliran untuk jaga malam di UGD. Jadi, mau tak mau ia harus merelakan jam tidurnya malam ini. Mengingat jika mereka harus siap sedia kapan saja saat sedang dibutuhkan. Sejauh ini belum ada pertanda sama sekali jika mereka akan kedatangan pasien. Semoga tidak ada hal buruk yang terjadi malam ini.
Ada dua dokter dan tiga perawat yang sedang berjaga di sana malam itu. satu di antaranya adalah dokter umum dan yang satunya lagi merupakan dokter bedah umum.
Jam jaga mereka semua barusaja dimulai, tapi sudah ada yang menguap. Beberapa di antaranya tampak sudah mengantuk. Mata mereka tak bisa lagi terbuka dengan sempurna. Yang benar saja. Mereka tak akan bisa menangani pasien gawat darurat nantinya jika masih terjebak di antara dua dimensi.
Salah satu dokter umum bernama Yoan berinisiatif untuk membelikan para rekan kerjanya itu kopi. Sedikit asupan kafein akan membuat mereka tetap terjaga setidaknya sampai beberapa jam lagi.
“Aku akan pergi ke kantin dulu untuk membeli kopi,” pamit Yoan sekaligus memecah keheningan suasana.
“Iya,” balas salah satu perawat.
Mereka sebenarnya sudah saling mengenal antara satu sama lain. Tapi, malam ini mereka memilih untuk diam. Terjabak dalam keheningan yang semakin mencekam. Bukan tidak ingin bercengkrama. Tapi, sayangnya mereka harus menyimpan energi untuk hal yang jauh lebih penting dari pada itu.
Tak lama kemudian, Yoan datang dengan lima cup kopi yang dijadikan satu dalam sebuah wadak khusus. Tentu agar ia tidak perlu kerepotan pada saat membawanya. Semua mata mengarah kepada pria itu saat ia datang secara mengejutkan. Mereka kira entah siapa yang tiba-tiba masuk ke dalam.
“Kok banyak banget?” tanya Ruth.
“Iya, sekalian aku beliin untuk kalian semua,” katanya.
“Bias enggak pada ngantuk,” tukas pria itu.
Satu-persatu cup kopi mulai diambil oleh sang empunya. Mereka memutuskan untuk meminum sedikit kopi agar bisa tetap terjaga. Membuka mata sampai larut malam adalah hal yang paling dibenci oleh Ruth sebenarnya. Meskipun dulu saat menjadi mahasiswa kedokteran ia begadang nyaris setiap hari. Gadis itu menghentikan kebiasaan buruknya sejak tahu jika kesehatannya semakin tak baik-baik saja.
“Kalau kamu sakit, lantas siapa yang mau ngobati orang yang sakit nanti?”
Kata-kata dari salah satu sahabatnya itu masih terngiang dengan jelas di dalam kepalanya. Mereka masih bersama sampai saat ini. Sudah lebih dari lima tahun keduanya menjalin hubungan persahabatan. Tunggu dulu. Buukan hanya berdua saja. Melainkan bertiga. Ruth, Nadira dan Yuri sudah bersahabat sejak masih duduk di bangku SMA. Bahkan mereka masih tetap bersama hingga hari ini meski memiliki kesibukan masing-masing.
Dua tahun yang lalu Ruth diterima sebagai dokter ahli bedah umum di salah satu rumah sakit swasta setelah selesai berkuliah di Korea. Ia bahkan tak sempat menganggur. Gadis itu merupakan salah satu lulusan dari jurusan kedokteran Universitas Nasional Seoul. Dan yang lebih hebatnya lagi adalah, dia mendapatkan beasiswa pemerintah untuk berkuliah di sana. Tentu Ruth tidak akan melewatkan kesempatan tersebut. Mengingat, orang tuanya tidak akan pernah mendukung cita-citanya yang satu itu karena alasan biaya.
Ayah Ruth hanya seorang mekanik dan ibunya bahkan tidak bekerja. Gadis itu tak pernah mendapatkan dukungan emosional dari siapa pun. Sampai ia begitu terbiasa untuk melakukan semuanya sendiri. Ruth jauh lebih suka untuk menyusahkan dirinya sendiri dari pada orang lain. Tapi, beruntungnya ia memiliki Nadira dan Yuri yang bisa membuatnya tersenyum lagi. Setidaknya Ruth memiliki alasan untuk hidup sampai hari ini karena mereka. Gadis itu jauh lebih percaya kepada kedua sahabatnya itu dari pada orang tuanya sendiri.
Besok malam adalah acara pertunangan Nadira. Mau tak mau, ia harus meluangkan waktunya untuk hadir ke sana. Ia tidak ingin melewatkan kesempatan sekali seumur hidup.
***
00.24
Sekarang sudah lewat dari tengah malam. Sejauh ini sama sekali belum ada pertanda apa-apa. Semoga situasinya akan tetap sama sampai besok pagi. Mereka tentu akan kerepotan jika kedatangan pasien pada jam segini.
“Huh! Sepi banget dari tadi,” ucap Yoan secara gamblang.
Sontak semua mata langsung tertuju ke arahnya. Tentu bukan dengan perasaan senang. Bagaimana bisa pria itu mengucapkan kalimat demikian di rumah sakit. Menurut cerita yang beredar, itu adalah kalimat keramat. Barang siapa yang menyebutkan hal serupa, maka rumah sakit pasti akan kedatangan banyak pasien tak lama setelahnya. Jelas hal itu membuat para petugas medis keteteran untuk menanganinya.
“Apa yang baru saja kau ucapkan?!” seru Ruth dengan sorot mata yang tidak bisa dijelaskan.
“Ayolah dokter! Apa kau sengaja ingin membuat kami kerepotan?!” timpal salah satu perawat.
Yang benar saja, tak lama kemudian terdengar suara sirine ambulans dari kejauhan. Entah sejak kapan mobil itu berangkat dari rumah sakit. Pasti sedang ada pasien yang gawat kondisinya. Ini semua karena Yoan. Kutukan itu benar terjadi.
Ruth menghela napasnya dengan kasar. Sudah tidak ada lagi waktu untuk bersantai. Ia dan yang lainnya beranjak dari tempat duduk mereka masing-masing untuk pergi ke depan ruang UGD. Sebentar lagi ambulansnya akan tiba dilokasi.
Beberapa orang keluar dari pos jaga mereka masing-masing karena mendengar suara ambulans tersebut. Sementara itu, Ruth dan yang lainnya sudah siap di tempat. Gadis itu melemparkan pandangannya kea rah Yoan dengan sinis. Tidak ada alasan untuk bersikap baik kepada pria itu malam ini.
Selang beberapa saat kemudian, ambulans tersebut telah sampai di lokasi. Ada dua orang pasien yang keluar dari dalam.
“Cepat bawa mereka masuk!” perintah Yoan.
“Ada apa yang terjadi?” tanya Ruth kepada petugas ambulans.
“Mereka mengalami kecelakaan tunggal di jalan raya dan menghantam pembatas jalan. Keduanya duduk di kursi paling depat, sehingga resiko cideranya kemungkinan tinggi,” jelas pria tersebut. Kemudian ia memberikan rekaman medisnya kepada Ruth.
Tak ingin buang-buang waktu lebih banyak lagi, gadis itu segera masuk ke dalam untuk menyusul Yoan.
“Mereka korban kecelakaan tunggal!” ucap Ruth.
“Apa kondisi mereka serius?” tanya gadis itu. Ia kemudian menghampiri salah satu pasien.
Sepertinya mereka berdua adalah sepasang kekasih.
“Hanya luka ringan dan beberapa cedera lain yang masih bisa kita tangani. Tidak ada yang perlu dicemaskan,” jelas Yoan.
“Apa kau yakin?!” tanya Ruth dengan nada serius.
Melihat pasien wanita telah ditangani oleh Yoan, membuat Ruth mau tak mau harus ambil alih atas pasien yang satunya lagi. Hal yang pertama kali menarik perhatian gadis itu adalah luka robek yang ada di bagian lengan kanan.
“Ambilkan alkohol untuk membersihkan luka serta Hecting!” perintah Ruth.
Kemudian fokusnya teralihkan pada wajah pasien yang sedang meringis kesakitan ini. Sepertinya pria itu tampak tak asing lagi baginya. Ruth sangat yakin jika mereka pernah bertemu sebelumnya.