Urgent

1070 Words
THE LOVERS 2 Beruntung nyawa kedua korban kecelakaan tadi masih bisa diselamatkan. Tidak ada gejala yang menunjukkan jika mereka mengalami luka serius. Sejauh ini masih baik-baik saja. Yoan dan Ruth berhasil menanganinya. Saat ini keduanya telah dipindahkan ke ruangan rawat inap. Setelah mencuci tangan, Ruth tidak langsung kembali ke ruang UGD. Melainkan pergi ke bagian administrasi. Ada satu hal yang perlu ia cari tahu untuk menjawab semua rasa penasarannya selama ini. “Balik duluan aja!” titah Ruth kepada rekan kerjanya. Tanpa menunggu balasan dari mereka, ia segera beranjak pergi meninggalkan lorong. Kebetulan meja administrasi berada tepat di seberang UGD. Semua bagian yang ada di rumah sakit akan selalu siaga kapan pun mereka dibutuhkan. Termasuk staff administrasi sekali pun. “Malam dok!” sapa dua orang staff yang sedang bertugas malam ini. “Malam!” balas Ruth sembari tersenyum tipis. Gadis itu menghampiri meja administrasi. Ia menyandarkan tubuhnya pada benda tersebut. Rasanya ia seperti tidak memiliki tulang lagi untuk berdiri tegak. “Ada yang bisa kami bantu dok?” tawar salah satu staff. “Boleh aku tahu nama kedua pasien tadi?” tanya Ruth dengan ragu. “Maksud dokter, korban kecelakaan tunggal yang baru saja sampai dengan ambulans tadi?” tanya staff itu kembali untuk memastikan. Ruth mengangguk dengan antusias untuk mengiyakan perkataannya barusan. “Kalau begitu, sebentar saya cari terlebih dahulu,” ujarnya. “Baik,” balas Ruth. Ia kira nama pasien tidak boleh diberitahukan, bahkan kepada dokter sekali pun. Ruth takut jika itu melanggar hak privasi. Tapi ternyata tidak sama sekali. Selang beberapa detik kemudian, staff tersebut selesai berkutat dengan komputer miliknya. “Namanya Kirana dan juga Sean,” ujar staff administrasi. Ruth tidak langsung menjawab. Ia tampak sibuk dengan pikirannya sendiri untuk sepersekian detik, sebelum pada akhirnya memberikan respon. “Baiklah, terima kasih banyak!” ucap Ruth sebelum berpamitan. “Sama-sama dok,” balasnya. “Ada yang bisa kami bantu lagi?” tanya staff administrasi untuk memastikan kembali. “Tidak ada, hanya itu saja,” katanya. Ruth segera berpamitan setelah mendapatkan apa yang ia inginkan. Kemudian membiarkan para staff administrasi untuk kembali bekerja. Ia juga harus kembali ke UGD dengan segera, jika tidak Yoan pasti akan mengomelinya. Ternyata dugaan gadis itu selama ini benar. Pasien yang ia tangani barusan adalah Sean. Kakak kelasnya dulu waktu masih duduk di bangku SMA. Mereka juga sempat berada di fakultas yang sama. Namun, setelahnya Ruth tidak pernah mencari tahu lagi soal pria itu. Ruth dan Sean hanya sefalkultas selama satu tahun sebelum gadis itu memutuskan untuk pindah ke Korea Selatan dan melanjutkan pendidikannya. Keduanyanyaris tak pernah bertemu selama bertahun-tahun lamanya. Mereka juga tidak pernah saling berkomunikasi sebelumnya. Ruth terlalu malas untuk memulai hal tersebut, begitu pula sebaliknya. Mengetahui fakta jika Sean tidak menyukainya balik cukup membuat gadis itu merasa terpukul. Ruth pernah terjebak cinta sepihak dengan pria itu. Benar-benar tidak habis pikir saat mengetahui jika merekan akan bertemu kembali. Bukan di tempat umum seperti kebanyakan orang. Melainkan di UGD. “Apa Kak Sean benar-benar menjadi pasienku tadi?” gumam Ruth masih tak percaya. “Lalu, siapa Kirana?” lanjutnya. Otaknya terus menolak untuk percaya meski ia telah berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri soal fakta yang ada. “Dari mana aja?” tanya Yoan. Baru saja sampai di depan pintu masuk, ia sudah disambut oleh pertanyaan itu. Tentu saja Yoan yang akan menginterogasinya kali ini. “Kan aku udah bilang kalau ada urusan tadi,” jawab gadis itu dengan apa adanya. ‘TITT!!!!’ Mendadak seorang pasien membunyikan bel yang terhubung secara langsung ke ruang jaga. Sontak semua orang langsung mengalihkan perhatiannya. Yoan sendiri sampai lupa pada tujuan awalnya untuk menginterogasi gadis itu. “Dari kamar nomer 9A!” seru salah satu perawat. Begitu mendengar kalimat tersebut, Ruth dan Yoan langsung bergegas meninggalkan ruangan. Mereka harus mengecek salah satu pasien yang ada di kamar 9A. Pasti ada sesuatu yang gawat sampai ia membunyikan bel. Ruth mempercepat langkahnya, hampir berlari. Tentu saja untuk mempersingkat waktu perjalanan mereka. Beberapa perawat yang berada di belakang ikut menyusul langkah keduanya. Begitu sampai di dalam kamar, gadis itu terperanjat kaget saat melihat kondisi Kirana yang sudah tidak sadarkan diri. Iya, benar. Yoan baru saja menanganinya tadi. Sekarang kondisinya mendadak berubah buruk. Yoan mengambil alih pasien wanita tersebut untuk diperiksa kondisi organ vitalnya. Apakah masih normal atau malah sebaliknya. “Bagaimana?” tanya Ruth dengan harap-harap cemas. “Detak jantungnya melambat,” ungkap Yoan dengan berat hati. “Lakukan pemindaian angiografi sekarang juga!” titah Ruth. Perawat yang ikut bersama mereka sejak awal langsung mengiyakan perkataan gadis yang telah memiliki jabatan sebagai dokter ahli bedah umum itu. Yoan juga ikut setuju dengan tindakan yang diambil oleh Ruth. Mereka segera memindahkan pasien bersama dengan ranjangnya untuk dibawa ke ruang pemindaian. Kirana harus segera mendapatkan tindakan medis. Kondisinya serius. Baru saja Ruth hendak pergi meninggalkan ruangan itu, tiba-tiba Sean menarik tangan gadis itu untuk mencegahnya pergi kemana-mana. Refleks Ruth langsung menghentikan langkah kakinya tepat pada saat itu juga. Ia berbalik kemudian menatap Sean dengan sorot mata yang sulit untuk dijelaskan. “Apa dia akan baik-baik saja?” tanya Sean dengan suara yang bergetar. Terlihat jelas jika pria itu tengah diambang kepanikan saat ini. Ruth tak ingin membuatnya menjadi semakin cemas. Hal itu bisa mengganggu proses penyembuhannya kelak. “Dia bakalan baik-baik aja,” jawab Ruth dengan tenang. “Aku mohon selamatkan dia selagi masih memungkinkan,” pinta pria itu. Untuk pertama kalinya Sean tampak memelas di depan Ruth. Ini adalah sebuah sejarah dalam hidupnya. “Aku mohon Ruth…” lirihnya. Entah kenapa bulu kuduknya meremang seketika begitu mendengar kalimat tersebut. Padahal tidak ada yang menakutkan sama sekali di sini. Namun entah kenapa Ruth masih merasa tak habis pikir dengan pria itu. Ternyata Sean masih mengingat namanya. Bahkan ia masih mengenali Ruth. Padahal sudah sangat lama sejak mereka terakhir kali bertemu. “Kami akan berusaha sebaik mungkin,” ucap Ruth. Itu adalah kalimat andalannya untuk menenangkan pasien selama ini. Lagi pula, mana mungkin ia akan bermain-main dengan nyawa seseorang. “Apa kakak yang memencet belnya tadi?” tanya Ruth dengan hati-hati. “Iya,” jawab Sean. “Kerja bagus!” balas gadis itu. “semakin cepat ditangani, maka akan semakin besar pula kemungkinannya untuk selamat,” jelas Ruth. “Ruth!” sahut Yoan yang sudah menunggu di ambang pintu. “Aku harus pergi dulu!” pamit gadis itu. Ia segera pergi begitu saja tanpa menunggu balasan dari Sean sama sekali. Tidak ada waktu untuk itu. Kirana jauh lebih pentung untuk saat ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD