THE LOVERS 3
Diketahui terjadi pendarahan di bagian kepala gadis itu setelah melakukan pemindaian tadi. Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan Kirana adalah operasi. Tidak ada pilihan lain. Yoan sama sekali tidak menyadari hal tersebut. Beruntung Kirana langsung memberikan gejala, sehingga tim medis bisa mengambil tindakan lebih cepat. Jika tidak, nyawanya yang akan terancam.
“Siapkan ruangan operasinya! Kita akan mulai sebentar lagi,” perintah Yoan.
“Kalian berdua hubungi pihak administrasi untuk mengusur surat persetujuan dari walinya. Kemudian cari wali pasien yang paling terdekat,” jelasnya dengan panjang lebar kemudian.
“Baik dok!” balas ketiganya secara bersamaan.
Tepat setelah para perawat pergi, Yoan langsung memerintahkan gadis itu untuk menghubungi Dokter Rian dari departmen bedah syaraf. Pria itu tak bisa membantu apa pun lagi kini. Saatnya bagi Yoan untuk melimpahkan semua rasa percayanya kepada Rian. Mereka berdua yakin jika Rian bisa membuat operasi kali ini sukses.
“Sebentar lagi Dokter Rian akan ke sini,” ujar Ruth.
“Bagus!” balasnya.
“Kalau begitu, aku akan bersiap dulu,” pamit gadis itu sebelum benar-benar pergi meninggalkan ruangan.
Ternyata Dokter Rian sudah sampai terlebih dahulu dari pada Ruth. Mereka harus mensterilkan diri terlebih dahulu sebelum masuk ke ruangan operasi.
“Kau akan ikut ambil alih dalam operasi kali ini?” tanya pria itu tanpa memalingkan pandangannya sama sekali.
“Iya,” jawab Ruth dengan singkat.
“Aku dengar, pasienmu memiliki hubungan masa lalu denganmu,” ungkap Dokter Rian.
“Ku harap hal itu tidak mengganggu konsentrasimu saat operasi berlangsung nanti,” tukasnya.
Sontak kedua bola mata gadis itu langsung membulat dengan sempurna. Bagaimana bisa ia mengetahui segalanya.
“Bagaimana kau tahu?” tanya Ruth secara tiba-tiba.
Dokter Rian menghela napasnya dengan kasar, kemudian berbalik. Padahal langkahnya sudah hampir mencapai ambang pintu tadi.
“Kirana adalah adikku,” ungkapnya secara terang-terangan.
Untuk yang kesekian kalinya Ruth kembali terperanjat kaget.
“Aku juga baru mendapat kabar jika ia mengalami kecelakaan dan dibawa ke rumah sakit tempatku bekerja. Dia kecelakaan saat pulang makan malam bersama tunangannya,” jelas pria itu dengan panjang lebar.
“Tunangan?” gumam Ruth.
Ia tidak tahu harus bereaksi bagaimana lagi. Rasanya ia senang sekaligus bahagia. Bahkan Ruth sendiri tidak tahu apakah rasa itu masih tetap sama seperti beberapa tahun lalu atau bahkan sudah menghilang begitu saja. Ia hampir terlarut dalam lamunannya jika Rian tidak menyadarkan gadis itu. Mereka harus segera memulai operasi. Tidak ada waktu lagi untuk melamunkan hal konyol seperti itu.
***
Singkat cerita, operasi berjalan dengan lancar dan Ruth berhasil diselamatkan. Gadis itu telah dipindahkan ke ruang pemulihan.
“Bisa kita bicara sebentar setelah ini?” tanya Rian.
“Tentu,” balas Ruth.
“Aku pergi dulu!” pamit gadis itu.
Mereka harus kembali membersihkan diri setelah melakukan operasi. Ada rasa lega yang terselip di hatinya begitu mengetahui jika operasi kali ini lancar. Tapi, Ruth masih tak habis pikir jika Sean merupakan tunangan Kirana. Entah sejak kapan mereka menjalin hubungan. Pantas saja Sean tadi sampai memohon kepada Ruth untuk melakukan yang terbaik. Ia tentu tak ingin jika smapai ada sesuuatu yang buruk menimpa pujaan hatinya itu.
Begitu keluar dari ruang ganti, gadis itu sudah disambut oleh Rian yang ternyata sudah menunggunya sejak tadi. Hampir saja mereka bertabrakan jika Ruth tidak mengerem mendadak.
“Kau mengejutkanku saja,” cicit Ruth.
“Sudah selesai?” tanya Rian.
Gadis itu hanya mengangguk untuk mengiyakan perkataan Rian barusan. Pria itu mengajaknya ke salah satu koridor yang mengarah langsung ke UGD. Jadi, jika ada apa-apa Ruth bisa langsung ke sana. Mereka duduk di salah satu kursi panjang yang tersedia. Berhubung ini sudah hampir pagi, jadi suasananya tidak seseram itu. Sekarang sudah pukul tiga lewat. Beberapa petugas medis tampak mondar-mandir. Mereka mulai sibuk.
“Mau bicara apa?” tanya Ruth yang memutuskan untuk membuka obrolan lebih dulu.
“Ini soal Kirana,” ujarnya.
Gadis itu mengangguk paham. Ia mulai terbawa suasana, karena memang wajah Rian tampak serius sejak tadi.
“Seperti yang ku katakan tadi kalau Kirana dan-“
“Iya, aku tahu!”
Ruth langsung memotong kalimat pria itu begitu saja. Ia tak ingin membuang terlalu banyak waktu hanya dengan mengulang kalimat yang sama. Lebih baik langsung ke intinya saja. Jangan bertele-tele.
“Ada apa tentang mereka berdua?” tanya Ruth.
“Aku tahu jika kau pernah memiliki hubungan masa lalu dengan Sean. Tapi, sekarang mereka telah bertunangan,” beber Rian.
“Apa kau berpikir jika aku akan merebut Sean dari adikmu?” simpul gadis itu.
“Aku tidak mengatakan hal itu sama sekali,” bantah Rian.
Ruth menghela napasnya dengan kasar. Badannya ia senderkan ke dinding yang menyalurkan rasa dingin hingga ke tulang punggungnya. Gadis itu sudah bisa menebak kemana Rian akan membawa pembicaraan ini.
“Aku hanya ingin agar kita tetap merahasiakan hal ini bersama,” ujarnya.
“Rahasia soal apa?” tanya Ruth.
“Soal hubungan masa lalumu dengan Sean,” jelasnya.
Ruth berdecak sebal begitu mendengar kalimat Sean barusan.
“Asal kau tahu jika aku tidak pernah memliki hubungan apa pun dengan pria itu selain sebagai kakak kelas serta kakak tingkat!” tegas gadis itu.
Entah sampai berapa kali lagi ia harus mengatakan hal tersebut. Tampaknya Sean begitu yakin jika mereka berdua memiliki hubungan spesial yang lebih dari itu sebelumnya. Padahal tidak sama sekali. Semakin ke sini, Rian semakin menyebalkan di mata Ruth. Pria itu berlagak menjadi orang yang paling tahu soal masa lalunya. Padahal, mereka saling mengenal saja tidak. Jangankan itu, mereka sama sekali tidak pernah bertemu sebelumnya. Tidak sampai keduanya menjadi rekan kerja di rumah sakit.
“Sebaiknya aku kembali ke pos jaga sekarang,” pamit Ruth yang bahkan sudah tidak tertarik lagi dengan topik pembicaraan mereka kali ini.
“Tunggu!” cegah pria itu.
“Ada apa lagi?” tanya Ruth.
“Bukankah kau pengagum rahasianya dulu?” tanya Rian balik.
Gadis itu tidak langsung menjawab pertanyaan dari Rian barusan. Bagaimana bisa pria itu mengetahui segalanya tentang Ruth. Padahal mereka tidak pernah memiliki hubungan apa pun sebelumnya. Tidak lebih dari rekan kerja satu sama lain.
Ruth mulai menaruh rasa curiga kepada pria itu. dari mana pria itu mendapatkan informasi sebanyakitu. Tidak mungkin jika Sean yang menceritakannya. Lagi pula apa urusannya dengan Ruth. Kejadian itu sudah berlangsung bertahun-tahun yang lalu. Bahkan gadis ini nyaris melupakannya begitu saja.
Ia memilih untuk tidak menggubris perkataan pria itu tadi. Ruth tidak ingin masalahnya menjadi semakin panjang. Ia memutuskan untuk langsung pergi tanpa berpamitan sama sekali.
Rian berhasil merusak suasana hatinya. Ia menjadi tidak semangat untuk melakukan apa pun jika sudah begini. Entah kenapa orang-orang selalu terobsesi untuk mengurusi kehidupan orang lain. Padahal ada banyak hal yang perlu ia perhatikan dalam kehidupannya sendiri.