Pertemuan Tidak Sengaja

1824 Words
Sean Gelther. Nama itu mengambang di pikiran Daniel setelah berkenalan dengan pria yang kini bekerja menggantikan posisi Mike di perusahaan Hem&Hem. Perusahaan pakaian ternama tempat Bella pernah bekerja sebagai Supplier. Pria bernama Sean berbeda dengan Mike. Di mata Daniel, Sean terlihat tegas, pintar dan jarang tersenyum.  Walau Sean tidak ada basic sebagai model, tidak seperti Mike yang notabene pernah menjadi model, penampilan Sean rapi walau sederhana.  Mengenakan kemeja putih lengan panjang yang dilipat hingga batas sikut, dipadukan celana bahan drill dan sepatu pantofel, Sean sempurna dan terlihat berwibawa. Meskipun demikian, kehadiran Sean pagi tadi di Departemen Store cukup mengundang perhatian beberapa SPG dan pengunjung wanita. Ia tidak cocok menjadi karyawan perusahaan. Memiliki wajah tampan laksana supermodel dan tubuh terlihat kekar, Sean terlalu sempurna. Kesempurnaan itulah yang membuat Daniel tidak menyetujui Bella kembali bekerja. Ia takut Bella tergoda dengan ketampanan Sean lalu mencampakkannya bersama Tristan.  Bagaimana dengan dirinya yang hampir tergoda pada Erika? Bukankah jika Bella mengetahui, ia akan marah juga? Saling percaya. Dua kata itu kini mengambang di pikiran Daniel.  Selama menjadi suami Bella, seperti menaiki roller coaster yang di depannya sebuah pemandangan penuh dengan hal-hal yang bisa membuat jantungnya seakan berhenti berdetak cepat. Terkadang ia merasakan hal yang sangat membahagiakan bersama Bella, namun tak jarang pesona Bella sanggup memabukkan para pria. Itulah yang Daniel takutkan terjadi pada Sean. Jatuh cinta pada Bella lalu… “Apa yang kau pikirkan?” Ucapan Bella membuyarkan lamunan Daniel yang pandangannya tertuju pada sarapan pagi ini yang berupa semangkuk oats yang di mix potongan pisang, burberry dan cacahan kacang. Daniel terkesiap. “Tidak ada.” Ia menyendok oats itu ke dalam mulut walau melirik Bella yang duduk di samping sambil bertopang dagu menatapnya serius. “Ada apa? Apa ada sesuatu yang aneh di wajahku?” “Ya.” Bella menatapnya datar. “Apa alasanmu tidak mengizinkan aku bekerja lagi?” Tangan Daniel mengangkat sendok yang berisi oats. “Apa merk oats ini? Kenapa rasanya berbeda dari yang biasa ku makan?” Ia sengaja mengalihkan pembicaraan. Mencoba tidak merusak suasana pagi yang cerah hari ini. Melihat Daniel tidak menggubris, Bella bangkit sambil memutarkan bola mata lalu menjawab, “Merk biasa tapi ku beri setetes sianida di dalamnya.” “Apa?!” Oats dalam mulut Daniel tersembur keluar. Ia bergegas mengambil tisu lalu menyeka sambil melihat Bella berjalan menuju kamar Tristan. ❤️❤️❤️ Siang ini cuaca cerah, matahari bersinar hangat menyinari kota Jakarta. Kemacetan tidak terjadi walau hampir memasuki jam makan siang. Itulah pemandangan indah hari ini, tetapi sayangnya tidak pada pemandangan yang Hans lihat. “Kenapa? Kau habis bertengkar dengan Bella?” tebak Hans melihat Daniel duduk bersandar di ruangan meeting. Sementara meeting bersama Team dan Erika sudah berakhir beberapa menit yang lalu. Kini wanita itu sedang berada di ruangan lain, menyelesaikan beberapa urusan. Helaan nafas berat Daniel sudah memberi sebuah jawaban, begitu juga anggukan kepalanya. “Ya. Dia meminta izin untuk bekerja lagi tapi aku--” “Kau cemas dengan pria yang bernama Sean Gelther itu?” tebak Hans, memotong ucapan Daniel. Ia duduk di samping Daniel, membuka kaca matanya lalu mengurut pelan kedua matanya yang lelah. “Tidak.” Daniel mengelak. Ia berusaha menutupi kecemburuannya dari Hans. “Aku hanya mencemaskan Tristan. Seperti yang kau tahu, Tristan berbeda dengan bayi yang lain. Aku takut dia membuat ulah lalu…” Ia mengedikkan bahu. “Seperti kejadian kemarin.” Ucapannya mengarah pada kasus Meg yang viral. “Tristan akan baik-baik saja, Dan,” sela Hans lagi. “Sebaiknya kau dukung Bella bekerja lagi. Jika kau mengkhawatirkan Sean Gelther itu mendekati Bella, bagaimana jika Bella bekerja dengan kita? Apa kau mau menyia-nyiakan kehebatannya dalam bekerja?” ucapnya, yang mengakui kehebatan Bella.  “Tidak, Hans.” Daniel menggeleng lugas. “Aku akui Bella memang hebat dalam bekerja. Tapi aku..takut kehilangan dia.” Mendengar ucapan Daniel, Hans setengah tertawa. Tak menyangka Daniel mengatakan kalimat seperti itu. Seakan tidak mempercayai Bella. “Come on, Daniel...sampai kapan kau berpikiran sempit seperti itu? Jika kau melarangnya bekerja, itu sama saja melepas dia.” Seperti itulah pendapat Hans. Menurutnya, Daniel berpikiran kolot, hanya karena Bella dikelilingi pria tampan, Daniel lebih merelakan Bella di rumah dibandingkan bekerja dan membuktikan kemampuannya sebagai supplier hebat. Atau mungkin Bella bisa lebih dari sekedar menjadi supplier. Mungkin Manajer? Kepala Daniel mendongak menatap langit-langit ruangan, ia menghela nafas lalu membalas ucapan Hans seperti ini, “Aku tidak tahu, Hans. Mungkin aku berlebihan dan sudah cemburu buta tapi melihat Sean, aku yakin..Bella akan banyak menghabiskan waktu dengan pria tampan itu. Aku merasa….” Ia menoleh ke arah Hans. “Dia ancaman. Sean ancaman di hubungan kami.” ❤️❤️❤️ Wanita itu masih memanjangkan rambut hitamnya sebatas punggung, bibirnya yang sensual dilapisi lipstik merah terang dari sebuah brand ternama. Tubuhnya yang sexy dibalut midi dress hitam tanpa lengan, sebuah tas keluaran terbaru yang harganya diatas sembilan digit ia sandang di lengan dan memastikan dirinya tampil optimal di depan kaca. “Wahai, Cermin.” Ia mengangkat dagu melihat pantulan dirinya di depan cermin. “Siapakah wanita yang paling cantik di dunia?” Lalu ia tertawa sebentar. “Tentu saja itu aku bukan?” Ia berbalik lalu menyeringai. “Felly Felicia wanita paling cantik di dunia.” ❤️❤️❤️ “Come on, Bella. Angkatlah..”  Sejak tadi langkah Daniel tidak menentu. Ia mondar mandir tepat di depan mobilnya yang masih berada di pelataran parkir kantor. Sebelah tangannya melekatkan ponsel di telinga, menanti panggilannya diangkat. “Sial! Kau menyebalkan kalau sedang marah, Bell!” umpatnya kesal setelah tiga kali menghubungi, tiga kali juga Bella mereject panggilannya. “Daniel?”  Daniel berbalik mendengar suara panggilan wanita dari arah belakang. “Erika?” Ia terpaksa tersenyum walau hatinya kesal. “Kupikir kau sudah pulang. Apa Hans mempersulit urusanmu?” tanyanya basa basi. Langkah Erika mendekati Daniel lalu menggeleng. “Tidak. Justru dia mempermudah urusan kami. Dia tidak sekaku sikapnya seperti pertama kali kukenal. Ternyata dia pintar bergurau juga,” ucapnya yang masih mengingat jelas gurauan Hans yang sanggup membuatnya tertawa terbahak-bahak. “Hans memang seperti itu. Jika sekali atau dua kali bertemu, sikapnya memang kaku seperti kanebo kering. Tapi dia sebenarnya hobi bergurau, seperti yang kau bilang tadi,” timpal Daniel yang mengakui sikap Hans terhadap wanita memang sedikit aneh. Sama seperti yang pernah Hans lakukan terhadap Bella. Membenci di awal namun mencintainya diam-diam. Erika menyetujui ucapan Daniel. “Ya, kau benar. Dia menyenangkan.” Lalu senyumnya mengembang. “Sepertimu,” “Eh?” Daniel terkejut, namun sekali lagi ia tersenyum paksa. “Kau mau kemana? Mana Asistenmu?” Ia mengalihkan pembicaraan, menyinggung asisten Erika yang bernama Yani tidak terlihat bersamanya. Tangan Erika menunjuk ke arah pintu keluar gedung. “Dia duluan. Ada yang harus ia kerjakan di kantor kami,” sahutnya melihat Daniel memasukkan ponsel ke dalam saku celana. “Mau ku antarkan pulang? Kita satu arah bukan?” tawar Daniel. Sebelum menuju ke apartemennya, ia melewati apartemen mewah yang dihuni kaum ekspatriat. Tempat tinggal Erika. Dengan berat hati Erika menggeleng. “No. Thanks, Dan.” Ia menolak. “Boleh aku memanggilmu ‘Dan’ kan?”  “Tentu.” Daniel mengangguk dan tersenyum tipis. “Kau bebas memanggilku karena sekarang kita berteman bukan?” “Ya. Kau benar.” Erika mengiyakan ucapan Daniel. Teman. Hanya berteman. “Aku belum makan malam. Aku harus mencari restoran, setelah itu aku pulang,” jelasnya, itulah alasan menolak ajakan Daniel. Ia butuh beradaptasi untuk bisa menyantap makanan khas Indonesia. “Bagaimana kalau kita makan bersama?” tawar Daniel lagi. “Kau belum lama tinggal di Jakarta dan belum tahu restoran yang menyediakan makanan lezat bukan? Aku punya rekomendasi restoran yang murah dan ternama lezat masakannya. Masakan Italia, Prancis, Jepang, atau serba Seafood. Kau mau?” Erika berpikir sebentar lalu mengangguk. “Baiklah. Aku ikut denganmu dan aku akan traktirmu malam ini.” Ia tersenyum lebar. "Benarkah?" Daniel menyambut niat baik Erika. "Baiklah aku antarkan kau ke tempat itu sekarang." Ia membuka pintu yang tak lama Erika menaiki dan mengatakan 'thanks'. Daniel melajukan mobilnya yang bermodel SUV pabrikan Jepang. Melihat terdapat Baby car seat di kursi belakang, memicu rasa keingintahuan Erika. Tapi ia teringat ucapan Daniel kemarin, yang mengatakan ia sudah menikah. Dan ia pun yakin Baby car seat itu milik anak Daniel. “Berapa usia anakmu?” Mau tak mau ia menanyakan itu karena terlanjur melihat ke belakang. “Tristan?” Daniel sempat melirik ke kursi belakang. “Dia baru berusia enam bulan. Dia tampan seperti aku.” Tawanya pecah tapi melihat Erika yang terdiam, ia menghentikan tawa dan terheran. “Kenapa? Tidak lucu ya?”  Senyum Erika mengembang. "Tidak. Maksudku..kau tampan," pujinya lalu menggigit bibir bawahnya menatap Daniel yang fokus menatap ke depan. "Thanks." Daniel membalas singkat tanpa meliriknya. Ia tidak mau menghadirkan suasana yang tidak seharusnya terjadi. Setiap di dekat wanita cantik, wajah Bella dan Tristan selalu terlintas di pikirannya. Sebisa mungkin ia menjaga hati sekalipun wanita itu wanita cantik seperti Erika. Melihat respon datar Daniel, Erika tertawa dalam hati. Ia tidak menyangka Daniel menjadi sosok pria yang berusaha menjaga hati. Untuk saat ini. Seketika ia pun penasaran dengan wanita yang beruntung mendapatkan Daniel. Ia pun bertanya lagi, "Apa pekerjaan istrimu?" "Bella?" Daniel melirik Erika sebentar lalu pandangannya fokus ke depan lagi. Erika mengernyit. "Jadi namanya Bella?" Suaranya pelan, seperti bergumam. "Ya." Daniel meliriknya lagi sambil tersenyum. "Dia tidak bekerja. Hanya seorang ibu Rumah Tangga."  "Oh.." Erika mengangkat sebelah sudut bibirnya. Ternyata hanya wanita biasa. Daniel melanjutkan ucapannya lagi. "Kapan-kapan aku akan mengenalkanmu dengan istriku.  "Dia cantik, baik dan--" "By the way, kemana kau akan membawaku, Dan?" sela Erika, merasa tidak tertarik mendengar cerita tentang wanita yang bernama Bella setelah mendengar wanita itu hanya menjadi Ibu Rumah Tangga, bukan wanita karir seperti dirinya. Merasa Erika tidak berminat mendengar ceritanya tentang Bella, Daniel pun menjawab, "Restoran Italia. Kau suka pasta kan?" tebaknya. Setahunya wanita Jerman menyukai makanan Italia. Tidak, lebih tepatnya semua orang menyukai makanan Italia. Spaghetti salah satu contohnya. Makanan Italia. Tentu saja Erika mengangguk setuju. "Tentu. Aku menyukai makanan Italia." Setelah berhasil menerobos kemacetan dan melewati lima belas menit jam makan, akhirnya tibalah mereka di sebuah restoran Italia. Restoran itu bukanlah restoran mewah. Bahkan dekor bangunannya saja terlihat seperti berada di sebuah rumah model klasik. Dengan warna yang di dominan coklat muda, kursi model arm chair, beberapa lukisan terpajang di dinding, lampu gantung berwarna kuning keemasan dan musik berbahasa Sisilia, akan membuat pengunjung jatuh cinta pada pandangan pertama di restoran itu. Saat pertama memasuki restoran itu, aroma oregano menyambut kedatangan Erika dan Daniel yang memaksa mereka menelan ludah. Mereka digiring oleh seorang waiter menuju meja kosong yang berada di dekat kasir. Saat akan duduk, seorang wanita memanggil Daniel lalu berjalan mendekat ke arahnya. Daniel berbalik dan terkejut melihat wanita cantik yang memanggil dan berjalan ke arahnya adalah wanita yang sangat ia kenal. Wanita yang pernah ia cintai dan membuatnya dalam kesulitan. Wanita yang selama beberapa bulan mendekam di penjara namun kini ia bebas.  Wanita itu adalah… "Felly?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD